NovelToon NovelToon
The Cleaner

The Cleaner

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:35
Nilai: 5
Nama Author: Adrina salsabila Alkhadafi

Di Chicago modern, kekuasaan bukan lagi soal siapa yang paling banyak menembak. Tapi siapa yang paling bersih menutupinya.
​Kenalan dengan Luca Rossi, si Cleaner. Dia bukan tukang bersih-bersih biasa, tapi Consigliere dingin yang jadi otak di balik organisasi mafia Moretti. Dinding kantornya rapi, suit-nya mahal, tapi tangannya berlumur semua dirty work Keluarga—dari pembukuan yang dimanipulasi sampai menghilangkan jejak kejahatan.
​Masalahnya, kini Keluarga Moretti di ambang collapse. Bos lama sekarat. Kekuasaan jatuh ke tangan Marco, si pewaris baru yang psikopat, ceroboh, dan hobi bikin drama. Marco melanggar semua aturan, dan Luca tahu: kalau dia diam, seluruh empire mereka hancur. Dengan bantuan Sofia, istri Bos yang terlihat polos tapi menyimpan banyak kartu, Luca memutuskan satu hal brutal: Ia harus mengkhianati bos barunya sendiri.
​Di tengah rencana kotornya, Luca bertemu Isabella. Dia cantik, pintar, dan vibe-nya langsung nyambung sama Luca yang kaku. Luca akhirnya merasakan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adrina salsabila Alkhadafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: THE CRACK IN THE FOUNDATION

2 tahun sebelum luca mencapai kejayaan, sebelum luca dinyatakan meninggal dan menghilang dari peredaran mafia Chicago.

​Chicago di musim gugur selalu terasa seperti medan perang yang sedang beristirahat. Angin dingin dari Danau Michigan membawa aroma aspal basah dan logam, sebuah kombinasi yang selalu mengingatkan Luca Rossi pada bau peluru yang baru ditembakkan. Di lantai teratas Moretti Tower, Luca duduk di depan layar monitor yang melengkung, memandangi grafik algoritma pembersihan datanya.

​Selama bertahun-tahun, sistem ini tidak pernah gagal. Isabella telah merancangnya sedemikian rupa sehingga setiap kali ada transaksi mencurigakan yang mencoba menghubungkan dana The Elena Foundation dengan rekening-rekening lama Moretti di Cayman, sistem akan segera melakukan "pengalihan digital".

​Namun, pagi ini, pukul 04:15, sistem itu memberikan peringatan merah yang tidak biasa. Bukan serangan dari luar. Bukan peretasan dari FBI atau tim siber Rusia. Peringatan itu datang dari dalam.

​"Seseorang telah mengakses Server 7," gumam Luca, suaranya serak karena kurang tidur.

​Server 7 adalah jantung dari segala rahasia. Di sanalah daftar asli para informan, daftar "aset" yang pernah dibersihkan Luca, dan catatan pengiriman barang ilegal dari masa lalu disimpan. Akses ke server itu membutuhkan dua kunci fisik dan satu biometrik yang hanya dimiliki oleh Luca dan Vito.

​Luca segera menekan tombol interkom. "Vito, ke ruang kontrol sekarang. Jangan bawa siapapun."

​Lima menit kemudian, Vito masuk. Wajahnya yang tua tampak tegang. Dia tahu bahwa jika Luca memanggilnya pada jam seperti ini, artinya perisai mereka sedang retak.

​"Apa yang terjadi, Luca?"

​"Seseorang menyalin data dari Server 7 malam ini, pukul 02:00 pagi. Kau di mana jam itu?"

​Vito terdiam, matanya membelalak. "Aku di dermaga, mengawasi pengiriman legal untuk yayasan. Kunciku ada di brankas rumah. Tidak ada yang tahu kombinasinya selain aku."

​Luca menatap Vito dengan tatapan The Ghost yang dingin. Selama sepuluh tahun, Vito adalah tangan kanannya. Jika Vito berkhianat, maka seluruh kekaisaran ini sudah runtuh sejak lama. Namun, jika bukan Vito, maka ada orang ketiga yang telah berhasil menembus keamanan fisik paling ketat di Chicago.

​"Kita punya tikus, Vito," desis Luca. "Dan tikus ini tahu persis bagaimana cara bergerak di dalam kegelapan kita."

​Langkah pertama dalam "pembersihan" bukanlah membunuh, melainkan mengisolasi. Luca segera memerintahkan penguncian total (lockdown) digital. Seluruh staf IT The Elena Foundation dilarang meninggalkan gedung.

​Luca dan Vito bergerak menuju ruang server yang terletak jauh di bawah tanah, melewati tiga lapis pintu baja yang hanya bisa dibuka dengan otorisasi tingkat tinggi. Di sana, Isabella (melalui koneksi terenkripsi dari Berlin) sudah menunggu.

​"Luca, aku sudah melihat log-nya," suara Isabella bergema melalui speaker kecil di dinding. "Pencurinya tidak menggunakan peretasan jarak jauh. Dia masuk secara fisik. Dia memiliki sidik jari Vito dan replika kunci fisiknya."

​"Bagaimana mungkin?" tanya Vito, tangannya meraba saku jasnya.

​"Sederhana," jawab Isabella dingin. "Seseorang menggunakan teknologi pemindaian 3D untuk menyalin kuncimu saat kau tidur atau sedang berada di tempat umum. Dan sidik jarimu? Itu bisa diambil dari gelas wiski atau gagang pintu mana pun."

​Isabella menampilkan rekaman CCTV yang telah disunting oleh sang pencuri. Meskipun pencuri itu sangat ahli dalam menghindari kamera, Isabella berhasil menangkap satu detail kecil: Bayangan sepatu.

​"Sepatu itu," kata Luca, menunjuk ke layar. "Itu bukan sepatu standar penjaga keamanan. Itu adalah Handmade Oxford, model khusus yang hanya dijual di satu butik di pusat kota Chicago."

​Luca mulai memetakan siapa saja di organisasinya yang memiliki akses ke gedung ini dan mampu membeli sepatu seharga lima ribu dolar tersebut. Daftar itu pendek. Hanya ada empat orang: Manajer Finansial Yayasan, Kepala Logistik Baru, Pengacara Utama Moretti Corp, dan keponakan jauh dari mendiang Don Moretti yang baru saja bergabung dua tahun lalu, Enzo Moretti.

​"Enzo," gumam Vito. "Dia anak yang rajin. Dia selalu ingin membuktikan dirinya."

​"Anak yang rajin seringkali adalah anak yang paling berbahaya," balas Luca. "Mereka memiliki motivasi untuk naik lebih cepat daripada yang diizinkan oleh sistem."

​Malam itu, Elena mengadakan jamuan makan malam kecil untuk para donatur besar yayasan di kediaman pribadinya. Luca menggunakan kesempatan ini untuk mengamati para tersangka dalam jarak dekat.

​Luca berdiri di sudut ruangan, memegang segelas mineral, matanya menyapu ruangan seperti predator yang sedang mengintai. Ia melihat Enzo Moretti sedang tertawa bersama seorang senator muda. Enzo tampak percaya diri, mengenakan jas Italia yang sempurna. Dan di kakinya, ia mengenakan sepatu Oxford yang sama dengan yang ada di rekaman CCTV.

​"Dia terlalu tenang," bisik Isabella di telinga Luca melalui earpiece miniatur. "Dia tahu kau sedang mencarinya, tapi dia merasa sudah menang."

​"Dia merasa menang karena dia merasa memiliki asuransi," jawab Luca dalam hati.

​Luca mendekati Enzo. "Malam yang indah, Enzo. Kau tampak sangat sibuk belakangan ini."

​Enzo berbalik, memberikan senyum yang tampak tulus namun dipenuhi dengan arogansi yang terselubung. "Hanya mencoba memastikan warisan paman saya tetap terjaga, Tuan Rossi. Anda tahu, kadang saya merasa kita terlalu... bersih. Paman saya dulu percaya bahwa sedikit kotoran diperlukan untuk membuat roda tetap berputar."

​Itu adalah sebuah tantangan. Enzo secara terang-terangan menghina filosofi "pembersihan" Luca.

​"Kotoran hanya akan merusak mesin jika tidak dikelola dengan benar, Enzo," kata Luca, suaranya sangat tenang namun mengandung ancaman yang mematikan. "Dan tugas saya adalah memastikan tidak ada setitik debu pun yang mengganggu mesin ini."

​"Tentu saja," jawab Enzo, menyesap anggurnya. "Tapi apa yang akan Anda lakukan jika debu itu sudah masuk ke dalam piston?"

​"Saya akan membongkar seluruh mesinnya dan membuang bagian yang rusak," jawab Luca sebelum berbalik pergi.

​Kembali ke ruang kontrol, Isabella menemukan sesuatu yang mengejutkan. "Luca, data dari Server 7 tidak sedang disimpan untuk pemerasan. Data itu sedang ditawarkan di pasar gelap kepada keluarga Falcone yang masih tersisa di Sisilia."

​Luca mengepalkan tangannya. Falcone. Mereka adalah musuh yang ia pikir sudah habis. Ternyata, sisa-sisa keluarga itu sedang mencoba melakukan comeback dengan menggunakan bantuan pengkhianat dari dalam Moretti sendiri.

​"Mereka ingin menghancurkan Elena tepat sebelum pemilihan gubernur bulan depan," kata Isabella. "Jika data ini bocor, tidak akan ada jumlah 'pembersihan' yang bisa menyelamatkan karirnya."

​"Berapa banyak data yang sudah berpindah?"

​"Sekitar 40%. Enzo sedang menunggu pembayaran termin kedua sebelum ia mengirimkan sisanya. Transaksi itu akan dilakukan di sebuah klub malam eksklusif di South Side, jam 01:00 pagi nanti."

​Luca menatap Vito. "Siapkan tim kecil. Kita tidak akan menggunakan orang-orang dari yayasan. Gunakan tentara bayaran lama dari masa Palermo. Aku ingin ini ditangani secara fisik, bukan digital."

​Klub malam The Velvet Room adalah tempat yang bising dengan musik tekno dan cahaya neon yang menyilaukan. Di lantai atas, di ruang VIP yang gelap, Enzo Moretti sedang duduk menunggu. Di hadapannya ada sebuah laptop dan seorang pria dengan aksen Sisilia yang kental—perwakilan dari keluarga Falcone.

​"Uangnya sudah masuk ke rekening penampungan di Swiss," kata pria Sisilia itu. "Sekarang, berikan kami file sisanya."

​Enzo tersenyum, jarinya berada di atas tombol Enter. "Dengan senang hati. Chicago akan terbakar besok pagi, dan aku akan menjadi orang yang membangunnya kembali dari abu."

​Tepat saat ia akan menekan tombol tersebut, seluruh lampu di ruangan itu padam. Musik berhenti seketika, digantikan oleh suara hening yang mencekam.

​Pintu ruangan itu didobrak. Bukan oleh polisi, melainkan oleh dua pria bertopeng dengan senjata berperedam. Dalam hitungan detik, pengawal Enzo jatuh ke lantai tanpa sempat mengeluarkan senjata.

​Luca Rossi masuk ke dalam ruangan, diterangi oleh cahaya bulan yang masuk dari jendela besar. Ia tidak mengenakan topeng. Ia ingin Enzo melihat wajahnya.

​"Permainan berakhir, Enzo," kata Luca.

​Enzo gemetar, wajahnya pucat pasi. "Luca... ini hanya bisnis. Aku bisa membagi uangnya denganmu! Falcone berjanji akan mengembalikan Moretti ke masa kejayaannya!"

​"Moretti sudah mencapai kejayaannya lewat Elena," jawab Luca, mendekati meja. Ia mengambil laptop Enzo dan menyerahkannya kepada Vito. "Kau hanyalah parasit yang mencoba memakan inangnya sendiri."

​"Kau tidak bisa membunuhku! Aku adalah Moretti! Darah paman saya mengalir di nadiku!" teriak Enzo dengan putus asa.

​"Pamanmu adalah pria yang tahu kapan harus berhenti," kata Luca. "Kau? Kau adalah kesalahan yang harus dibersihkan."

​Luca tidak menembak Enzo. Ia memiliki cara yang lebih efisien. Ia memberikan kode kepada Isabella. "Hapus dia secara digital."

​Dalam sekejap, seluruh identitas Enzo Moretti menghilang. Rekening banknya dikosongkan, paspornya dinyatakan palsu di database internasional, dan namanya dihapus dari silsilah keluarga Moretti. Di mata dunia, Enzo Moretti tidak pernah ada.

​"Sekarang," kata Luca kepada timnya. "Bawa dia ke gudang. Aku ingin tahu siapa lagi yang membantunya di Sisilia."

​Pagi harinya, Elena Moretti sarapan di teras rumahnya, membaca koran pagi. Berita utama adalah tentang kesuksesan penggalangan dana yayasan. Tidak ada berita tentang Enzo Moretti yang menghilang. Tidak ada berita tentang transaksi di The Velvet Room.

​Luca berdiri di sampingnya, menuangkan kopi.

​"Di mana Enzo?" tanya Elena tiba-tiba. "Aku tidak melihatnya di jamuan semalam setelah kau bicara dengannya."

​"Enzo memutuskan untuk melakukan perjalanan panjang ke Eropa untuk urusan keluarga," jawab Luca dengan nada datar yang sempurna. "Dia merasa Chicago sudah tidak cocok lagi untuknya."

​Elena menatap Luca, matanya mencari kebenaran di balik topeng tenang pria itu. Dia tahu ada sesuatu yang terjadi, tetapi dia juga tahu bahwa bertanya lebih jauh hanya akan merusak perisai yang selama ini melindunginya.

​"Begitu ya," kata Elena, kembali ke korannya. "Pastikan saja dia tidak melakukan kesalahan di sana."

​"Jangan khawatir, Elena," jawab Luca. "Segalanya sudah dibersihkan."

​Di lantai bawah tanah Moretti Tower, Isabella sedang melakukan deep sweep terakhir. Ia memastikan bahwa data yang sempat dicuri Enzo telah dihancurkan dari server Falcone melalui virus yang ia tanam di laptop Enzo semalam.

​"Selesai, Luca," suara Isabella terdengar di ponsel Luca. "Pondasi kembali kokoh."

​"Untuk saat ini," jawab Luca, menatap langit Chicago yang abu-abu. Ia tahu bahwa selama ia berada di puncak, retakan-retakan baru akan selalu muncul. Dan tugasnya sebagai The Cleaner tidak akan pernah benar-benar berakhir.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!