NovelToon NovelToon
The Secret Girl

The Secret Girl

Status: sedang berlangsung
Genre:Vampir / Fantasi Isekai
Popularitas:822
Nilai: 5
Nama Author: Kanken

Takamiya Nia, wanita berusia 42 tahun yang bekerja di Perusahaan Fasde tiba-tiba meninggal dalam kondisi tidur di apartemennya tanpa diketahui oleh siapapun.

Begitu Nia terbangun, ia mendapati dirinya menjadi bayi sepasang kekasih di keluarga kerajaan sebagai pewaris tahta kerajaan berikutnya, Kerajaan Thijam.

Dengan pengetahuan ala otaku di masa lalunya dan beberapa pengalaman yang ia miliki bersama kedua orangtuanya, Nia memutuskan untuk memperoleh kesempatan kedua untuk menjalani hidup sesuai dengan keinginannya tanpa ada paksaan maupun umpatan yang memenuhi hati dan pikirannya.

(Peringatan: Karya ini mengandung Dark Shoujo jadi siapkan mental kalian, oke?)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanken, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 8: Latihan Fisik

Alice POV

"Alice-sama... bangun... ini sudah pagi... Alice-sama... Alice-sama...."

Entah mengapa aku merasa seseorang menggerakkan tubuhku, suaranya lembut yang dapat terdengar di telingaku secara samar-samar.

"Alice-sama... ini sudah fajar... bangunlah..."

Sesaat, mataku terbuka.

Dari penglihatan ku, secara samar-samar selagi mataku masih mengantuk, aku melihat wanita yang memiliki rambut blunt bob sebahu berwarna pirang yang lebih muda daripada mencolok, sepasang mata berwarna perak, berparas cantik meskipun wajahnya datar tanpa emosi dan bertubuh ideal mulai dari; tinggi sekitar 166 cm, pinggang ramping, dada berukuran B Cup, dan pinggul yang terlihat biasa saja tanpa terlalu menonjol dibalik pakaian maid miliknya yang berwarna hitam dan celemek putih.

Sesaat kemudian, aku menutup mataku karena masih mengantuk.

"Alice-sama, bangunlah... ini sudah fajar... bukankah anda mengatakan kalau anda ingin joging?"

Mendengar perkataan yang terdengar khawatir, aku segera terbangun langsung duduk, menyadari kalau aku hampir membuat kesalahan.

Sial. Bagaimana bisa aku lupa atas pembicaraan semalam?

"Syukurlah anda bangun, Alice-sama."

"Terimakasih banyak, Anna."

"Ya. Tolong jangan dipaksakan, Alice-sama."

"Ya."

Segera berganti pakaianku dari piyama ke dress putih yang sepanjang bawah lutut, aku segera keluar dari kamarku untuk melakukan joging diluar istana.

•••••

Melewati lorong panjang berisikan kamar penginapan para bangsawan, Alice segera menuruni tangga melingkar menuju ke lantai dasar, dimana di sana ia melihat ketiga ksatria yang berpatroli sedang berdiri di kedua sisi lobby.

"Ah, ini akan rumit."

Tidak ingin mengambil jalan memutar karena terlalu lama, dengan terpaksa Alice mendekati para ksatria yang semalam ia temui.

"Alice-sama, kenapa anda bangun sepagi ini?"

"Apakah ada alasannya?"

"Sepertinya aku harus menjelaskannya dalam satu kali pembicaraan."

Helaan nafas panjang terdengar dari Alice, ia menduga kalau menghadapi pertanyaan dari para ksatria akan rumit daripada melakukan olahraga pagi.

"Maaf, aku ingin pergi melakukan joging."

"Melakukan joging?"

"Sepagi ini, Alice-sama?"

"Ya, begitulah. Itu sebabnya aku ingin kalian tidak memberitahu siapapun karena aku ingin melatih diriku untuk tetap bugar dan sehat."

Ketiga ksatria itu terdiam, mereka saling bertukar pandang dengan wajah bingung lalu menatap ke Alice.

"Kalau anda berkenan, bisakah saya menemani anda la–"

"Tidak perlu," sela Alice yang mengangkat tangannya dengan ekspresi datar selagi tersenyum paksa pada mereka.

"Tapi, saya khawatir kalau anda kelelahan yang dapat membuat anda jatuh pingsan."

"Mengenai itu jangan khawatir, aku takkan pingsan karena aku memahami kondisi tubuhku."

Ketiga ksatria kembali terdiam, mereka bertukar pandang dengan wajah memahami perkataan Alice.

Bagi mereka, mereka tidak bisa mengatakan apapun lagi karena mereka tahu jikalau mereka memaksakan pengawalan pada Alice disaat Alice tidak menginginkannya, mereka mungkin akan dimarahi olehnya.

Itu sebabnya mereka tidak mengatakan apapun melainkan bertukar pandang sambil mengangguk lalu menatap kembali ke Alice.

"Dimengerti. Kalau begitu, silahkan nikmati waktu olahraga anda, Alice-sama."

"Ya, terimakasih banyak."

Dibukakan pintu ganda untuk membiarkan Alice keluar oleh kedua ksatria, salah satu ksatria mempersilahkan Alice untuk keluar dengan gerakan yang sopan, dimana tangan kanannya terulur ke depan selagi tubuhnya sedikit membungkuk dan kepalanya yang menunduk.

Alice yang keluar dari dalam lobby, ia menghirup udara segar diwaktu fajar.

Dimana suasana masih terlihat seperti malam hari namun dengan udara sejuk yang dapat dirasakan oleh Alice, membuat Alice tahu kalau ia dapat melakukan joging didekat air mancur yang tidak jauh dari halaman depan yang disekitar air mancur tersebut terdapat berbagai macam bunga, dan jalan setapak dari jalan yang berwarna putih.

"Sip. Kurasa sekarang waktunya untuk melakukan pemanasan terlebih dahulu."

Seingat Alice, sebelum melakukan joging ia melakukan pemanasan seperti meregangkan otot-otot kaki dan tangannya agar terhindar dari keram yang dapat menyebabkan cidera saat berlari nanti.

Beberapa menit kemudian, tubuhnya yang mulai merasa lebih baik, ia memutari sekitar air mancur yang jarak lingkarannya lebih kecil, cocok untuknya untuk berlari disitu ketimbang memutari istana.

Satu putaran dilakukan oleh Alice dengan lari ringan seperti joging, ia belum kelelahan karena putaran dari air mancur jaraknya sangat sedikit memudahkan ia melakukannya.

Putaran kedua sampai tiga dilakukan, nafasnya sedikit tersengal-sengal namun kakinya masih kuat melakukannya.

Disaat putaran kelima, kakinya yang sudah kelelahan dengan nafasnya tersengal-sengal, Alice memutuskan untuk berhenti sejenak selagi mengatur nafasnya tahu kalau ia paksakan maka ia akan semakin lelah yang bisa berakibat pingsan nanti karena ia belum mengganjal apapun di perutnya selama joging

Tidak jauh dari sana terdapat kursi taman, Alice mendekati kursi panjang dari kayu dan besi berwarna coklat pada kayu dan besi berwarna hitam, ia duduk selagi mengistirahatkan tubuhnya.

•••••

Alice POV

Sial. Tubuhku lebih lemah dari tubuh lamaku.

Padahal putaran disekitar air mancur yang dibuat dari marmer putih dengan kolam jernih terbilang kecil, aku bisa melakukan putaran sebanyak sepuluh putaran jikalau aku menggunakan tubuh lamaku.

Tak hanya itu, tubuh lamaku juga bisa menahan kelelahan dan kelemahan dari kerja lembur membuatku bangga atas ketahanan yang dimiliki oleh tubuhku usai lembur berkali-kali tiap kerja.

"Apakah ini akan berhasil?"

Ada keraguan di wajahku, membuatku kurang yakin apakah usahaku ini bisa membuahkan hasil atau tidak nanti.

Setelah melakukan joging, sebelum sarapan pagi aku harus melakukan olahraga ringan seperti sit-up, squad jump, dan push-up, masing-masing dari mereka tidak harus dipatok untuk mencapai diangka tertentu melainkan sekuat tenagaku.

Ini lebih mirip seperti neraka untukku.

Andaikan aku terlahir sebagai keturunan dari pahlawan atau dewa maupun dewi, mungkin saja usahaku tidak perlu sejauh ini untuk bisa menjadi lebih kuat karena aku langsung kuat berdasarkan keturunan dari ayah dan ibuku.

Yah, aku rasa mengeluh tidak ada gunanya.

Daripada mengeluh, aku memilih untuk istirahat selagi menunggu keringat di tubuhku menghilang karena udara segar.

•••••

Di pukul 06.00 pagi, Alice yang melihat jam kayu di dinding kamarnya menduga kalau ia harus melakukan olahraga ringan seperti; sit-up, squad jump, dan push-up.

Meskipun Alice ragu untuk melakukan semuanya tanpa ada paksaan dengan hitungan tertentu, ia merasa kalau ia hanya perlu melakukan sebisanya tanpa ada paksaan melalui hitungan tertentu agar ia tidak cepat kelelahan yang dapat berakhir tertidur usai melakukan olahraga.

"Itu artinya aku harus lakukan sit-up dulu ya."

Memikirkan apa yang ada di jadwal yang dituliskan olehnya, seingat Alice ada tulisan sit-up di daftar kedua setelah melakukan joging.

"Sip. Mari lakukan."

Berbaring di lantai dengan posisi menghadap ke langit-langit kamar, Alice menekuk kakinya sedikit selagi telapak kakinya memijak lantai yang dipijaknya, ia mempersiapkan diri untuk mengetahui sejauh mana ia bisa berusaha.

"Satu...."

Satu kali tubuhnya terangkat dari berbaring dengan perutnya ke lutut, ia kembali berbaring dengan perutnya yang terasa sedikit sakit.

"Dua...."

Kedua kalinya, tubuhnya terangkat dari berbaring dengan perutnya ke lutut. Kali ini, ada rasa sakit yang perlahan-lahan dirasakan oleh perutnya.

"Ti-tiga...."

Sebelum dapat perutnya mencapai lutut, rasa sakit semakin dirasakan oleh perut Alice membuatnya berbaring selagi nafasnya tersengal-sengal tidak sanggup untuk melanjutkannya karena ia sudah mencapai batasannya.

"Sial... hanya segini... batasan ku...."

Tetap berbaring selagi menghadap langit-langit kamarnya, keringat terlihat diwajahnya selagi merenung dalam diam.

Ia tidak tahu sampai kapan neraka ini tetap menyiksanya saat ini hingga ke depannya nanti, tapi harapannya adalah usahanya bisa membuahkan hasil agar ia tidak menjadi gadis lemah yang dianggap tidak mampu memimpin kerajaan ini sebagai ratu mereka tidak seperti kakeknya, Arga yang mampu melakukannya.

Sekitar 5 menit berlalu, Alice yang berdiri memutuskan untuk melakukan squad jump.

Ia berdiri dengan kedua tangannya diletakkan dibelakang kepalanya yang saling menggenggam jari-jemarinya, ia menghela nafas sejenak lalu mulai melakukan squad jump.

"Satu...."

Satu kali dilakukannya, ia dalam posisi seperti duduk namun tanpa ada kursi lalu berdiri kembali.

"Dua...."

Dua kali dilakukannya, ada rasa sakit yang dapat terasa di pahanya membuatnya tahu kalau ia memaksakan ketiga kalinya maka ia akan kesulitan untuk bangun, bahkan pahanya akan nyeri karena rasa sakit sehabis squad jump.

"Ah, lelahnya..."

Berbaring di kasur dengan keringat yang mengalir diwajahnya, tidak disangka kalau squad jump merupakan olahraga ringan yang lebih melelahkan ketimbang sit-up dan push-up.

"Jika aku lanjutkan setelah ini dengan push-up, aku tidak bisa membantu mereka."

Menatap ke jam kayu yang ada di dinding yang dekat dengan langit-langit kamarnya yang memperlihatkan kalau waktu berjalan dari pukul 06.00 ke 06.15 pagi, Alice tidak ingin kesepakatan dengan Annastasia sia-sia karena ia sudah memantapkan diri untuk saling menguntungkan satu sama lain.

"Kalau begitu, aku akan menundanya nanti."

Dengan terpaksa, Alice mengubah schedule push-up dari pukul 06:00 ke pukul 10:00 agar ia tidak berakhir tidur setelah sarapan pagi agar tidak membuat siapapun berpikir kalau ia diam-diam melakukan olahraga ringan, termasuk ibunya karena yang tahu ini hanya ayahnya seorang, Ren.

Tidak jauh dari sana, disepanjang lorong terlihat Gerald, pria berambut mohawk berwarna hijau tua, sepasang mata berwarna azure, memiliki paras tampan dengan postur tubuh yang ideal mulai dari; tinggi sekitar 174 cm, bertubuh sedang dengan postur tubuh yang tegap, tidak memiliki otot tangan dan kaki dibalik seragamnya berwarna biru tua dan hitam, ia berjalan selagi mengingat atas apa yang dilihatnya di waktu fajar.

"Gadis itu... ia tidak seperti gadis kecil pada umumnya...."

Saat waktu fajar, Gerald menatap melalui jendela disepanjang lorong mengetahui kalau gadis kecil berambut butterfly haircut berwarna pirang dan sepasang mata berwarna crimson, Alice, tidak melakukan tindakan yang sama seperti gadis kecil pada umumnya, ia malah melakukan joging disekitar air mancur dihalaman depan.

Awalnya Gerald bingung kenapa Alice melakukan hal tersebut, tapi setelah melihat tekadnya melalui sorot matanya Gerald menyadari kalau Alice memiliki maksud dari tindakannya meskipun ia tidak tahu apa maksudnya.

Menyudahi ingatannya di waktu fajar, Gerald menghela nafas panjang lalu melanjutkan langkah kakinya di sepanjang lorong.

"Aku menantikan perjuanganmu, Nona."

Harapannya adalah ia bisa melihat perkembangan Alice sejauh mana keberhasilannya, berharap gadis itu tidak mudah menyerah dan putus asa untuk mencapai tujuannya.

•••••

Lisa POV

"Ibu, aku memiliki informasi penting padamu."

"Ya. Silahkan jelaskan padaku, Sayang."

"Baik."

Dijelaskan oleh putriku kalau Alice, putri dari Luna membuat permohonan pada ayahnya, Ren untuk diajari latihan fisik yang membuatku tidak menyangka akan hal ini.

Gadis itu... dia benar-benar berbeda dari Luna yang kukenal.

"Hahaha... ini benar-benar menarik."

"Menarik? Apa maksudmu, Bu?"

Ah, tidak. Aku tidak bisa mengatakan apapun pada putriku saat ini karena ia terlalu polos, mustahil untukku mengatakan padanya kalau aku memikirkan sesuatu yang licik untuk mengetahui apakah gadis itu benar-benar reincarnator atau tidak.

Jika ia memang reincarnator, aku ingin tahu apa yang ditujunya saat ini.

"Tidak, Ibu hanya penasaran atas apa yang dilakukan oleh gadis itu."

"Begitu ya."

Ara... sepertinya aku malah membuat putriku khawatir kalau aku tidak perhatian padanya lagi.

Yah, ini tidak bisa dibiarkan.

Jika aku tetap memperhatikan putri Luna, ada kemungkinan kalau putriku akan cemburu atas perhatian yang kuberikan pada putri Luna ketimbang putriku yang bisa berakibat fatal untuk putriku membenciku bahkan membenci putrinya Luna.

"Tolong tetap awasi gadis itu, pastikan untuk melaporkan pada Ibu ya, Sayangku."

"Ya."

Kira-kira apa yang akan kamu lakukan berikutnya, Alice-sama? Apakah kamu benar-benar melatih fisikmu seperti yang kamu inginkan ataukah kamu langsung menyerah?

Aku benar-benar menantikan perkembangan itu darimu.

1
Enjel
seru novelnya
Kanken0: Terimakasih telah berkunjung dan ikuti cerita ini.

Semoga betah sampai akhir closure nanti :)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!