NovelToon NovelToon
Karma Datang Dalam Wujudmu

Karma Datang Dalam Wujudmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / CEO / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta pada Pandangan Pertama / Teman lama bertemu kembali / Office Romance
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: diamora_

Cayra Astagina, sudah terlalu sering patah hati. Setiap hubungan yang ia jalani selalu berakhir dengan diselingkuhi.
Saat ia hampir menyerah pada cinta, seorang peramal mengatakan bahwa Cayra sedang menerima karma dari masa lalunya karena pernah meninggalkan seorang cowok kutu buku saat SMA tanpa penjelasan.

Cayra tidak percaya, sampai semesta mempertemukan mereka kembali.

Cowok itu kini bukan lagi si kutu buku pemalu. Ia kembali sebagai tetangga barunya, klien terpenting di kantor Cayra, dan seseorang yang perlahan membuka kembali rahasia yang dulu ia sembunyikan.

Takdir memaksa mereka berhadapan dengan masa lalu yang belum selesai. Dan Cayra sadar bahwa karma tidak selalu datang untuk menghukum.
Kadang, karma hadir dalam wujud seseorang yang menunggu jawaban yang tak pernah ia dapatkan.

Kisah tentang kesempatan kedua, kejujuran yang tertunda, dan cinta yang menolak untuk hilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diamora_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30. Luka yang Tidak Pernah Dipahami

Beberapa luka tidak berdarah. Tapi terasa membunuh dari dalam.

...Happy Reading!...

...*****...

Bekerja adalah salah satu hal paling melelahkan di dunia. Tapi pulang kerja, itu kenikmatan sejati. Setiap orang pasti menantikannya.

Biasanya, aku juga begitu. Tapi entah kenapa, pulang kerja hari ini terasa agak berbeda. Padahal ya, sebenarnya sama saja.

Aku pulang lebih awal dari kantor Nebula Creatives. Mbak Rania yang menyuruh. Katanya urusan kerjaanku sudah selesai. Jadi ya, aku manut saja.

Aku naik ojol untuk pulang. Tidak ada pilihan lain. Masa iya aku nebeng Saka lagi? Dia masih ada urusan dengan Mbak Rania. Lagipula, aku juga tidak ingin satu mobil berdua dengannya lagi. Takut suasana sangat canggung.

Baru membuka pintu rumah, aku langsung melihat Mama dan Papa sedang duduk di sofa ruang tamu. Wajah mereka serius. Terlalu serius. Seperti ada sesuatu yang besar sedang terjadi.

Aku melangkah pelan, ingin masuk ke dalam rumah tanpa menoleh ke arah mereka. Rasanya malas ikut campur. Hari ini aku capek. Lelah lahir batin.

Tapi baru saja hendak menghindar, suara Mama menahan langkahku.

"Ca, sini dulu. Mama ingin bicara."

Aku berhenti. Jantungku berdetak tak karuan. Ada apa? Jangan-jangan...

Aku menarik napas dalam-dalam sebelum menghampiri mereka. Duduk di sofa paling dekat. "Ada apa?" tanyaku pelan.

Sejujurnya, hubungan antara aku dan Mama masih belum pulih sepenuhnya sejak kejadian aku memutuskan pertunangan itu.

Mama diam sejenak, lalu menghela napas. "Tadi... Mama ketemu Bima. Waktu Mama rapat sekolah di luar."

Deg.

Aku membeku. Nama itu muncul lagi. Bima. Mantan tunanganku. Ya, Bima yang ternyata sudah punya tunangan lain. Kalau lupa, silakan baca ulang Bab 3A dan 3B.

Aku sempat menatap wajah Mama. Ada lelah di sana, tapi bukan lelah karena rindu, melainkan karena ekspektasi.

Aku masih diam. Tidak tahu harus bilang apa. Takut salah bicara dan malah memperkeruh suasana.

"Bima cerita yang sebenarnya tentang alasan kalian putus."

Aku langsung panik. Semoga dia tidak memutarbalikkan fakta. Semoga dia tidak membuat cerita baru.

"Kata Bima, kamu memutuskan pertunangan karena tunangannya mengaku hamil."

Mama menatapku dalam.

"Itu benar, Ca?"

Aku menatap lantai. Mengangguk pelan. "Iya, Ma. Caca gak mau jadi orang yang merusak hubungan orang lain."

Mama terlihat semakin serius.

"Bima bilang, itu semua bohong. Perempuan itu pura-pura. Mereka memang dijodohkan, karena keluarga Bima punya utang ke keluarganya. Tapi dia tidak hamil. Dia hanya memanipulasi semuanya supaya kamu meninggalkan Bima."

"Dan Bima bilang, dia sebenarnya hanya mencintai kamu."

Aku membeku. Rasanya seperti dilempar batu di tengah jalan pulang kerja.

Jadi, dia tidak benar-benar selingkuh?

Tapi...kenapa harus begini?

Kepalaku pusing. Baru beberapa hari lalu disambut tamparan. Sekarang disambut kabar soal masa lalu yang belum sepenuhnya sembuh.

Aku menarik napas panjang. "Terus... maksud Mama aku harus kembali ke Bima?"

Mama cepat-cepat menggeleng. "Bukan itu. Mama hanya ingin kamu tahu. Dan... Mama minta maaf karena waktu itu sempat menampar kamu."

"Waktu Mama telepon Bima untuk mengajaknya makan malam, dan dia bilang kamu memutuskan pertunangan, Mama syok. Makanya Mama marah."

Aku menunduk. "Caca udah maafin Mama. Caca juga minta maaf karena gak bilang alasan sebenarnya."

Mama mengangguk. "Kalau begitu, kamu sudah memaafkan Bima?"

Aku mengangguk kecil, meski hati masih ragu. "Caca anggap itu bagian dari takdir hidup yang harus dijalani."

Mama tersenyum tipis. "Bagus. Artinya, kamu juga bisa membuka hati untuk pria lain, kan?"

Hah?

Aku langsung mengerutkan dahi. "Maksud Mama?"

"Mama ingin menjodohkan kamu dengan anak teman Mama."

Bruk.

Aku refleks memukul meja, lalu berdiri. "Caca gak mau! Caca belum siap untuk hubungan baru!"

Papa dan Mama ikut berdiri.

"Kamu bisa mulai dari berteman dulu. Gak harus langsung jadi pasangan," balas Mama pelan.

Aku menatap Mama. "Caca pikir Mama minta maaf tadi karena ingin memberi Caca ruang untuk bahagia. Tapi ternyata... ada maksud lain."

"Ca, Mama hanya ingin yang terbaik untuk kamu. Suatu hari nanti, Mama dan Papa mungkin tidak bisa selalu menemani. Kami ingin kamu punya pasangan yang bisa ada untuk kamu."

Aku memejamkan mata, mencoba menahan emosi. "Caca sudah cukup mengalah, Ma. Sudah cukup mimpi Caca tidak tercapai. Jangan sampai cinta Caca juga ikut dikorbankan."

Aku masih ingat jelas kenapa impianku terkubur. Dan setiap kali mengingatnya, hatiku kembali terasa sakit. Luka itu belum sembuh.

Papa ikut bicara. "Kami minta maaf soal mimpi kamu yang dulu itu."

Aku tersenyum getir. "Gak apa-apa, Pa. Tapi tolong, soal cinta... biarkan Caca memilih sendiri."

Mama tidak menyerah. "Mimpi kamu itu tidak ada hubungannya dengan perjodohan ini. Anak teman Mama itu baik. Mama yakin dia bisa buat kamu bahagia."

"Justru ada hubungannya. Caca cuma ingin sekali saja bahagia dari pilihan Caca sendiri."

Mama menatapku dengan mata tajam tapi lembut. "Ca, kamu anak Mama. Kami ikut campur karena kami ingin yang terbaik untuk kamu. Buktinya, walaupun impian kamu pupus, kamu tetap dapat pekerjaan yang layak."

"Mama bilangnya 'pupus'? Mama gak tahu rasanya melihat impian yang sudah kita inginkan sejak lama hancur begitu saja."

"Kamu terlalu dramatis. Lagipula, impian itu kamu kejar untuk dapat gaji besar, kan? Sekarang kamu dapat itu juga."

"Ma, impianku bukan soal gaji. Tapi soal perasaan. Tentang keinginan yang begitu aku dambakan. Bayangkan kalau impian Mama sendiri harus dikubur karena alasan yang bukan kesalahan Mama. Sakit, kan?"

Mama terdiam sesaat, lalu berkata pelan. "Mama tahu rasanya. Tapi apa gunanya terus mengingat masa lalu?"

Suaraku meninggi. "Karena itu terlalu sakit untuk dilupakan!"

Mama juga mulai naik nada. "Terus Mama harus apa? Itu memang takdir kamu!"

"Gak perlu apa-apa, Ma. Cukup jangan ikut campur. Jangan menjodohkan aku dengan orang yang bahkan tidak aku kenal!"

"Apa salahnya mencoba dulu? Siapa tahu dia jodoh kamu."

"Enggak, Ma. Caca ingin menemukan takdir cinta Caca sendiri. Tanpa bantuan siapa-siapa."

Aku pun melangkah pergi meninggalkan ruang tamu. Takut kalau perdebatan kami makin besar dan didengar tetangga.

Di ruang tengah, aku sempat melihat kakakku sedang duduk. Aku hanya menatapnya sekilas sebelum naik ke kamar.

Begitu sampai di kamar, aku langsung menangis. Melepaskan semua yang tadi kutahan di depan Mama dan Papa.

Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada melihat keluarga yang kita cintai tidak memahami luka terdalam kita.

Mungkin begini rasanya menjadi anak yang selalu di antara ingin dimengerti, tapi malah harus mengerti duluan.

Impian itu sudah aku kubur. Tapi luka dari pemakamannya, masih terasa sampai hari ini. Dan hari ini, rasa itu kembali. Seolah-olah tak pernah benar-benar pergi.

Beberapa luka tidak berdarah. Tapi terasa membunuh dari dalam. Dan tak semua luka bisa disembuhkan oleh waktu, apalagi oleh orang tua yang lupa cara memahami.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!