"Aduh.... sakit woi! turun ga kamu!" ucap seorang gadis cantik dengan pakaian sederhana dan tingkah yang bar bar nya, menghadang seorang pengendara motor yang baru saja menyerempet nya hingga jatuh ke sawah.
"Sorry." ucap seorang pria dengan wajah yang tertutup helm mahal, dan mengeluarkan suara yang membuat gadis itu tertegun.
wajah nya yang kotor, akibat terjatuh di sawah, membuat nya seakan lupa, bahwa dia baru saja di senggol oleh orang di depan nya. tapi gadis itu malah melamun dan tak sadar untuk bersikap tegas.
Pria itu menatap heran, dan langsung pergi tanpa berkat apa apa lagi, sepertinya memang pria itu memiliki urusan yang lebih penting saat itu.
"Aisshh, dasar goblok, apa yang kamu pikirkan Selin, dia yang nabrak kamu, malah dia yang pergi. woi, liat ya kalau kamu balik lagi, tak cincang kamu jadi gulai!" pekik nya yang mencak mencak seperti seekor monyet. untung saja kondisi di sawah begitu sepi, dan kebetulan saat itu tengah hari, jadi aman tak membuat Selina malu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putrinw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.33 pulang bersama
keduanya pulang bersama saat ini. Menggunakan sepeda motor sambil mengitari desa teluk kerang. keduanya juga belum ada yang mengobrol secara langsung. Masih sama sama terdiam. Aksa yang merasa gugup mencoba memberanikan diri untuk bertanya dengan gadis itu.
"Apa kamu mau jalan jalan sebentar mengitari desa ini?" tanya Aksa dengan suara berat nya membuat Selin yang berada di belakang langsung tersentak kaget
"Kamu bilang apa mas? Maaf ga kedengaran tadi." ucap Selin yang sedikit kaku sebab karena sedang diam sambil menikmati angin sepoi-sepoi, membuat Selin tak fokus.
"Aku bilang, apa kamu mau jalan jalan terlebih dahulu, sebelum pulang?" ucap Aksa yang berharap gadis itu mau di ajak jalan jalan sore.
"Boleh. Kebetulan di rumah juga sepi. Buna sama ayah lagi ada kegiatan di luar."ucap nya yang merasa sangat bosan saat berada di rumah. Itu lah sebab nya, dia pergi ke rumah si Mbah untuk menghilangkan rasa bosen nya, yang sendirian di rumah.
"okey." ucap nya singkat dan langsung membelokan motor nya ke arah taman desa.
Di sana banyak para pedagang keliling yang sudah mangkal sejak beberapa jam yang lalu, kebetulan setiap sore pasti selalu ramai pengunjung yang datang. Baik dalam kalangan muda mudi, Sampai yang tua juga ikut meramaikan taman desa itu.
"Wow, aku udah lama banget ga kesini mas." ucap nya dengan berbinar saat melihat beberapa pedagang keliling yang sudah mangkal di sana. apalagi ada makanan favoritnya yaitu cilok dan beberapa jajanan tradisional lainnya.
"Ayo kita beli apa yang kamu mau." ucap nya yang tanpa sadar menggandeng tangan Selin
Gadis itu langsung tersentak kaget, ekspresi nya langsung melongo tak percaya, dan jantung nya berdetak dua kali lebih cepat.
"Mas, maaf tangan kamu." ucap nya singkat yang merasa kaku dan risih saat tangan nya di genggam oleh pria asing
"Eh, maaf.... soalnya situasi nya saat ini sangat ramai, aku tak ingin kamu hilang di kerumunan nanti nya." ucap Aksa dengan spontan agar gadis itu tak berpikiran aneh. padahal itu cuman akal akalan Aksa saja, supaya bisa menggandeng tangan gadis itu yang terlihat sangat lembut di genggam.
"Tapi, apa harus gandengan tangan segala?" ucap nya pelan, dan itu terdengar langsung oleh Aksa.
Pria itu tak perduli, dan langsung menggandeng tangan Selin seperti sepasang kekasih saat ini.
sepanjang jalan, Aksa menawarkan beberapa makanan yang di jual, sehingga membuat Selin merasa bingung.
"Ada apa dengan pria dingin ini, kenapa sikap nya berubah secara tiba tiba? gumam nya dengan pandangan heran nya.
"Mas, ada cilok. Aku mau itu mas." ucap nya dengan raut wajah berbinar saat melihat jajanan kesukaan nya. yang menunjukan salah satu pedagang cilok yang kebetulan hanya ada 1 pelanggan saja. Jadi tidak mengantri panjang.
"Ayo." ajak Aksa dengan suara beratt nya.
tanpa sadar, seseorang memperhatikan kedua nya dari kejauhan. siapa lagi kalau bukan Yeyen. Gadis itu mengepalkan tangan nya, dan diam diam merencanakan hal yang buruk
"Berani nya kamu deketin mas Aksa. sebentar lagi,citra kamu akan buruk!" gumam Yeyen yang begitu emosi dan cemburu saat ini.
Aksa yang menyadari ada seseorang yang seakan mengawasi nya, langsung menoleh ke belakang. tapi tak melihat siapapun di sana. Yeyen langsung bersembunyi saat Aksa hampir melihat nya menatap ke arah mereka. jangan sampai ketahuan, bisa bisa rencana nya akan gagal nanti
"huft,...untung saja aku bisa bersembunyi dari sana. kalau tidakk mas Aksa pasti mengenali ku." gumam nya dengan bernafas lega.
"Sebelum nya, kamu tak ada masalah dengan kau Selin, tapi kali ini, citra kamu akan buruk." gumam nya dengan tersenyum smirk.
"Hum... Enakk banget mas. kamu mau cobain ga? ucap nya sambil sibuk mengunyah makanan kesukaannya itu.
"hmm.'ucap Aksa yang penasaran dengan rasanya. Sebab pria itu tak pernah makan makanan pinggir jalan seperti ini.
semenjak tinggal di desa, Aksa mulai menyukai makanan yang dijual di pinggir jalan. rasanya juga tak terlalu buruk,sebab selama ini dia hanya makan makanan dari restoran terkenal saja. untung saja lidah nya tak pilih pilih soal makanan.
Selin langsung menyuapkan satu cilok ke dalam mulut pria itu, dan tanpa sadar, keduanya saling menatap.
genggaman tangan Yeyen semakin kuat, dan tatapan nya ke arah Selin juga berubah menjadi begitu benci.
Setelah puas jajan dan jalan jalan mengitari desa, kedua nya langsung pulang. karena Aksa belum berpamitan kepada ayah gadis itu. apalagi Aksa tau, bahwa Selin anak kesayangan Dimas, tentu saja dia akan minta izin terlebih dahulu nanti nya.
Setelah sampai, Aksa ikut turun menuju ke dalam rumah gadis itu, dan itu membuat Selin kaget.
"Mas, kamu kok ikut turun?"
"Aku ingin berpamitan dengan ayah kamu."
"Eh, gpp mas, nanti ayah marah, jadi kamu pulang aja ya. Aku bisa kasih alasan kok nanti sama ayah." ucap Selin yang khawatir ayah nya akan murka kalau dia pergi sama dengan seorang pria tanpa izin terlebih dahulu.
tak lama kemudian, Dimas keluar dari dalam rumah dengan tatapan datar dan juga sikap nya langsung berubah menjadi begitu dingin. Apalgi memandang Aksa dengan raut wajah yang tak suka.