---
Nirmala hampir saja dijual oleh ibu tirinya sendiri, Melisa, yang terkenal kejam dan hanya memikirkan keuntungan. Di saat Mala tidak punya tempat lari, seorang pria asing bernama Daren muncul dan menyelamatkannya. membuat mereka terjerat dalam hubungan semalam yang tidak direncanakan. Dari kejadian itu, mala meminta daren menikahi nya karena mala sedikit tau siapa daren mala butuh seseorang untuk perlindungan dari kejahatan ibu tiri nya melisa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Malam penangkapan Melisa belum benar-benar berakhir. Meski wanita itu sudah disekap di ruang bawah tanah dengan penjagaan tingkat paling tinggi, ketegangan tidak mereda sedikit pun. Justru, suasana semakin mendidih.
Karena bagi para sekutu Melisa, penangkapan pemimpin mereka bukanlah kekalahan.
Melainkan pemicu balas dendam.
Dan yang paling berbahaya di antara mereka adalah Roy—pria hidung belang yang dulu ingin “membeli” Mala, namun berakhir disekap dan dipermalukan oleh Rayhan. Luka harga diri itu membuatnya menyimpan dendam yang belum pernah padam.
---
Roy Menyusun Serangan
Di sebuah bangunan tua dekat pinggir hutan, Roy berdiri dikelilingi empat orang mantan preman kota. Matanya merah, senyum menusuk.
“Melisa ditangkap,” ujar salah satu anak buahnya dengan suara takut.
Roy malah tertawa kecil. “Justru itu kesempatan. Dengan hilangnya kepala, kita bisa serang langsung tanpa aturan.”
Ia melempar foto Mala ke meja.
“Target utama tetap perempuan itu. Tapi…” Roy meremas foto Daren yang lain.
“Aku mau Daren merasakan sakit… sebelum dia mati.”
Semua orang yang ada di ruangan merinding.
---
Tim Hacker Mendeteksi Gerakan Tak Biasa
Di ruang monitor rumah Mala, Jason mengetik dengan cepat setelah alarm kecil menyala.
“Ada enam kendaraan mencurigakan bergerak menuju kebun teh dari arah utara,” katanya cepat.
Reyhan langsung berdiri dan memaki pelan.
“Roy brengsek. Dia datang.”
Tuan Armand masuk dengan wajah penuh kewaspadaan.
“Siapkan semua unit. Jangan beri mereka mendekat ke rumah.”
Jason menambahkan, “Mereka bawa senjata lengkap. Ada setidaknya dua sniper tambahan. Polanya… serangan besar.”
Tuan Armand menatap layar dengan sorot mata yang berubah tajam.
“Akhirnya pasukan Melisa keluar dari sarangnya.”
---
Desa Dikondisikan
Telepon langsung diarahkan ke setiap kepala pekerja di kebun teh.
Pak Wira keluar ke halaman depan dan bertemu para pekerja yang kebetulan masih berada di area pondok.
“Hari ini kalian kami liburkan dulu,” kata Pak Wira tegas. “Silakan pulang, jaga keluarga masing-masing. Ini uang biaya harian kalian, sampai situasi aman.”
Para pekerja saling pandang, bingung namun patuh. Tidak ada yang komplain. Semua tahu situasi desa sedang genting sejak Melisa hilang kendali.
“Pak, hati-hati,” ucap salah satu pekerja.
Pak Wira hanya tersenyum kecil. “Kami sudah siap.”
---
Persiapan Tempur
Di lapangan belakang rumah, lima mobil tempur milik Tuan Armand sudah disusun rapi. Para bodyguard berpakaian hitam keluar dengan senjata lengkap.
Daren berdiri di tengah, memberi instruksi:
“Sniper 1 ambil posisi di pohon-pohon barat. Sniper 2 ke bukit kecil sebelah utara. Unit jarak dekat, jaga perimeter kebun teh.”
Reyhan menambahkan cepat:
“Tim A dengan saya, kita hadang dari jalur kendaraan. Tim B bersama Andre, fokus ke penyusup hutan.”
Nina menghampiri Mala yang berdiri di teras bersama Nyonya Maya dan Aurelia.
“Nyonya, nona Mala, nona Aurelia. Tetap di dalam. Pasukan dalam kondisi siap tempur penuh.”
Kayla yang tadinya semangat mendadak pucat.
“Kok ini terasa lebih serem dari tadi malam…?”
Nyonya Maya hanya menepuk bahunya.
“Kau yang tadi ingin jadi artis action.”
“A-aku bercanda waktu itu…”
---
Serangan Dimulai
Empat puluh menit setelah pergerakan terdeteksi, suara mobil terdengar dari arah utara kebun teh.
Vroooommmm—
Enam kendaraan off-road muncul dari balik kabut tebal. Lampu sorot mereka menembus gelap, mengarah ke jalur setapak yang mengarah ke rumah Mala.
Roy turun dari kendaraan pertama sambil membawa senjata panjang.
“Cari mereka! Habisi semua kalau perlu!”
Laki-laki itu berteriak seperti orang kesurupan.
Lima orang anak buahnya langsung menyebar ke semak-semak.
Namun—
BUM! BUM! BUM!
Granat asap ditembakkan oleh pasukan Armand dari kejauhan. Sekejap, seluruh jalur diselimuti asap putih tebal.
Roy memaki keras. “SIAL! Mereka sudah siap!”
Belum sempat bergerak, sniper Tuan Armand menembak ban mobil mereka, membuat dua kendaraan terguling ke samping.
DOR! DOR! DOR!
Balasan dari pihak Roy datang cepat. Baku tembak pun meledak di tengah kebun teh yang seharusnya damai.
---
Pertempuran Besar di Kebun Teh
Pasukan Tuan Armand menyebar rapi, formasi yang sangat disiplin. Mereka tidak memberi ruang sedikit pun pada para penyerang.
Suara senjata saling sahut.
“Position secure!”
“Musuh di kiri!”
“Sniper 2, tembak kaki target keempat!”
Mala yang berada di dalam rumah hanya bisa menggenggam tangan Daren erat-erat. Ia gemetar, meski mencoba tegar.
“Bang… mereka benar-benar datang untuk membunuhku…”
Daren mencium puncak kepalanya.
“Aku janji, tak satu pun akan menyentuhmu.”
Aurelia ikut menggenggam tangan Mala.
“Dan aku yang akan merobek mulut ibuku kalau dia mendekat.”
Nyonya Maya mendengar itu dan mengangguk bangga. “Itu baru perempuan kuat.”
Kayla mengintip dari jendela dan langsung menjerit kecil.
“Ya ampun itu Roy! Mukanya jelek banget kalau marah! Serem sumpah!”
---
Roy Ditangkap
Tuan Armand memberi sinyal pada Reyhan untuk mengambil peluang. Ketika Roy berlari ke samping bukit kecil untuk mencari posisi yang lebih tinggi—
Reyhan muncul dari balik pohon besar.
“Roy, permainan selesai.”
Roy menoleh cepat, menodongkan senjata.
Namun Reyhan sudah lebih dulu menyerang.
Dengan satu tendangan keras ke bahu Roy, senjata pria itu terlempar. Reyhan menarik Roy ke tanah dan mengikat kedua tangannya dengan kecepatan profesional.
Roy berteriak seperti binatang terluka.
“KALIAN SEMUA MATI! MELISA TIDAK AKAN DIAM!”
Reyhan menepuk kepala Roy keras.
“Melisa udah di bawah tanah sini. Kamu mau nyusul?”
Roy terdiam, wajahnya pucat.
---
Semua Sekutu Melisa Tumbang
Dalam waktu kurang dari dua jam, seluruh pasukan Roy berhasil dilumpuhkan. Ada yang kabur, tapi langsung tertangkap oleh sniper yang berjaga di area luar.
Jason mengumumkan lewat headset:
“Seluruh sekutu terdeteksi. Lokasi aman. Tidak ada pasukan tambahan.”
Daren mengatur napas panjang.
“Bagus. Bersihkan area.”
Tuan Armand turun dari mobil komando, melihat keadaan sekitar.
“Ini harus menjadi akhir dari semua ancaman luar.”
Pak Wira mendekat.
“Terima kasih… terima kasih semuanya.”
Tuan Armand menepuk bahunya.
“Kita keluarga sekarang. Tidak akan ada yang menyentuh anak atau cucu saya lagi.”
Mala yang mendengar itu langsung meneteskan air mata kecil.
Daren memeluknya.
“Kita aman sekarang.”
Assalamualaikum selamat sore
Jangan lupa like komen nya ya...