---
Nirmala hampir saja dijual oleh ibu tirinya sendiri, Melisa, yang terkenal kejam dan hanya memikirkan keuntungan. Di saat Mala tidak punya tempat lari, seorang pria asing bernama Daren muncul dan menyelamatkannya. membuat mereka terjerat dalam hubungan semalam yang tidak direncanakan. Dari kejadian itu, mala meminta daren menikahi nya karena mala sedikit tau siapa daren mala butuh seseorang untuk perlindungan dari kejahatan ibu tiri nya melisa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30
Pukul sembilan malam, angin desa bertiup lebih kencang dari biasanya. Langit gelap tanpa bintang, seolah ikut menegangkan suasana yang sebentar lagi memuncak. Di markasnya, Melisa melangkah cepat—hampir berlari. Wajahnya kusut, mata merah penuh dendam, dan tangan kanan menggenggam sebuah pistol otomatis.
Hari itu, semua batas kewarasan tampaknya sudah hilang.
“Aku habisi sendiri!” gumamnya dengan suara gemetar marah.
Ia tak membawa mobil. Ia memilih berjalan melintasi kebun teh yang gelap, tanpa takut. Tanpa rencana detail. Hanya satu tujuan: membunuh Mala.
Dan ia pergi seorang diri tanpa mengindahkan siapapun.
---
Tim Hacker Mendeteksi Pergerakan
Di rumah Mala, ruang kerja bagian belakang dipenuhi layar monitor. Jason—hacker utama yang direkrut Daren—menatap layar sambil mengetik cepat.
“Ada pergerakan tak biasa,” ucapnya cepat.
Reyhan yang berada di sampingnya langsung menoleh. “Siapa?”
Jason memperbesar gambar CCTV jalur kebun teh.
“Melisa. Sendirian. Bawa senjata api.”
Reyhan langsung menelan ludah. “Astaga… cewek itu udah hilang akal.”
Jason menekan tombol alarm internal.
Dalam hitungan detik, kode warna merah muncul di seluruh layar rumah.
// ALERT LEVEL 5 — TARGET ARMED, APPROACHING FROM SOUTH ROUTE //
---
Semua Pasukan Bersiap
Alarm senyap berbunyi di seluruh penjaga yang bertugas di luar rumah. Tak ada suara keras, hanya getaran pendek di headset masing-masing. Para bodyguard yang sebelumnya tampak santai langsung berdiri dalam mode tempur penuh.
Lima pengawal luar menempati posisi di balik kayu-kayu besar dan pagar beton.
Tim Sniper 1 — Nina dan Andre sudah berada di atas pohon besar menghadap pintu utama. Pohon itu tinggi, rimbun, dan menjadi titik pengintaian terbaik.
Tim Sniper 2 — Arsha dan Dilan sudah standby di lantai dua rumah Mala, mengintai lewat jendela yang sengaja dibuka sedikit.
Penempatan pasukan benar-benar seperti markas militer.
Cahaya lampu rumah diredupkan.
---
Di Dalam Rumah: Ketegangan Meninggi
Di ruang tamu, para perempuan sudah berkumpul. Nyonya Maya berdiri dengan tatapan tajam, Aurelia duduk sambil menggenggam taser kecil pemberian Nina, sementara Kayla—
Kayla tepuk tangan keras.
“Huaaa… aku suka adegan beginian! Fix aku udah sah jadi artis action!”
Aurelia memukul kening sendiri. “Kay, ini nggak lucu. Ini beneran.”
“Tapi seru! Aduh adrenalinku meningkat!”
Nyonya Maya menggeleng sambil tersenyum miring. “Anak ini harus kubawa latihan mental.”
Mala yang sedang hamil hanya bisa menghela napas sambil memegang lengan Daren.
“Aku kok jadi pusat masalah ya?” katanya lirih.
Daren berdiri di sampingnya, wajah tak bisa disembunyikan tegangnya.
“Kamu bukan masalah,” ucap Daren. “Kamu adalah prioritas.”
Pak Wira berdiri tak jauh. Ia menggeleng sambil bergumam lirih.
“Kenapa Melisa bisa senekad ini… sudah gila benar orang itu.”
---
Kode dari Tuan Armand
Di ruangan pusat monitor, Tuan Armand berdiri tegap sambil memantau layar besar.
“Seluruh tim, dengarkan.”
Suaranya tenang namun tegas.
“Target mendekat lima puluh meter. Posisi tetap. Jangan bertindak sampai saya beri instruksi.”
Semua penjaga menjawab serentak melalui headset.
“SIAP.”
Tuan Armand mengangkat tangan. Perintah utama pun keluar.
“Kode: SIAP.”
Seluruh pasukan di halaman menjawab dalam satu komando keras:
“SIAP LAKSANAKAN!”
Kayla dari dalam rumah bersorak.
“Wooooh! Serius ini kayak film Hollywood! Aku merinding, sumpah!”
Daren menoleh dan menatap Kayla dengan wajah datar.
“Lama-lama aku jodohkan kau dengan Reyhan.”
Kayla langsung tersentak. “Hah?! Kenapa Reyhan?!”
“Karena kalian berdua sama-sama absurd,” timpal Nyonya Maya tanpa menoleh.
Reyhan yang dengar dari ruangan monitor mengaduh. “Bu… jangan saya juga please.”
Semua deg-degan, tapi tingkah mereka membuat suasana sedikit hangat.
---
Melisa Semakin Dekat…
Melisa mendekati rumah sambil menodongkan pistol ke depan. Nafasnya naik turun.
“Keluar kau, Mala! Aku tahu kau di dalam!”
Langkahnya berat namun cepat. Setiap kali ranting patah di bawah kakinya, para sniper sudah mengunci target ke kepala dan dadanya.
Nina di atas pohon berbicara pelan.
“Target masuk zona tembak.”
Andre mengangguk. “Instruksi?”
Tuan Armand menjawab dari headset:
“Jangan tembak sebelum dia melepaskan peluru pertama. Kita butuh bukti serangan klarifikasi.”
Melisa berhenti tepat di depan pagar rumah. Ia mengangkat pistol tinggi-tinggi.
“MAAALAAA!!”
Ia berteriak histeris.
Aurelia memeluk Mala erat dari belakang.
“Mala jangan keluar! Jangan keluar!”
Mala menatap ke depan, suaranya gemetar namun ia mencoba tenang. “Aku nggak akan.”
Daren meraih tangan istrinya.
“Aku di sini. Tenang.”
---
Peluru Pertama Meluncur
Melisa menarik napas panjang.
Wajahnya penuh benci.
“Jika dunia berpihak pada dia, aku sendiri yang akan mengubahnya!”
Dan…
DOR!!!
Peluru pertama ditembakkan ke arah jendela rumah Mala.
Begitu suara tembakan terdengar—
Tuan Armand mengangkat tangan.
“SEMUA UNIT! IZIN TEMBAK!”
Suara headset meledak serempak:
“IZIN DITERIMA!”
---
Serangan Balasan
DOR! DOR! DOR!
Para sniper langsung menembak akurat ke arah tanah dekat kaki Melisa, memaksa wanita itu jatuh terduduk. Senjata terlepas dari tangannya.
Dua pengawal dari sisi pagar bergerak cepat.
Satu menjatuhkan Melisa dengan kuncian bahu.
Satu lagi menendang senjata jauh ke rumput.
Melisa berteriak seperti orang kesurupan.
“LEPASKAN!!! KALIAN TIDAK TAU APA APA!! DIA HARUS MATI!! SEMUA HARUS MATI! MALA! DAR—”
Mala menutup telinga.
Nyonya Maya menariknya dalam pelukan.
Kayla memekik.
“Ya Tuhan! Drama banget! Tapi keren banget! Gila aku makin pengen ikut pasukan!”
Penjagaan semakin ketat ketika tiga pengawal mengikat tangan Melisa dan menutup mulutnya dengan kain khusus.
Tuan Armand masuk ke halaman.
Ia menatap Melisa dari dekat—dingin, tanpa ragu.
“Permainanmu selesai, Melisa.”
---
Akhir dari Malam Paling Gila
Melisa akhirnya berhasil diamankan ke ruang bawah tanah sementara untuk proses hukum lebih lanjut. Semua pengawal kembali ke posisi masing-masing untuk berjaga-jaga kalau ada sekutu Melisa yang datang menyusul.
Mala duduk sambil memegang perutnya.
“Bang… aku takut tadi,” bisiknya.
Daren memeluk kepalanya lembut.
“Aku di sini. Aku nggak akan biarkan apa pun terjadi.”
Kayla masih melongo.
“Aku sumpah… ini malam paling gila dalam hidupku! Dan aku suka!”
Reyhan menepuk kepala Kayla dari belakang.
“Jangan bikin masalah, kamu.”
“Eh tapi Reyhan… kalau kita dijodohin beneran gimana?”
Reyhan langsung mematung.
Aurelia meledak tertawa.
Daren dan Mala saling pandang dan akhirnya ikut tersenyum. Meski situasi tegang, rumah tetap terasa hangat.
Malam itu menjadi malam yang tak akan dilupakan siapa pun.
Assalamualaikum selamat pagi....