Bara, pelaut rasional, terdampar tanpa koordinat setelah badai brutal. Menjadi Musafir yang Terdampar, ia diuji oleh Syeikh Tua yang misterius: "Kau simpan laut di dadamu."
Bara menulis Janji Terpahit di Buku Doa Musafir, memprioritaskan penyembuhan Luka Sunyi keluarganya. Ribuan kilometer jauhnya, Rina merasakan Divine Echo, termasuk Mukjizat Kata "Ayah" dari putranya.
Bara pulang trauma. Tubuh ditemukan, jiwa terdampar. Dapatkah Buku Doa, yang mengungkap kecocokan kronologi doa dengan keajaiban di rumah, menyembuhkan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 Kembali ke Rumah: Bukti Trauma yang Dibawa Laut
Mobil hitam yang membawa Bara memasuki gang sempit menuju rumah mereka. Bagi orang lain, deru mesin mobil itu adalah suara biasa, namun bagi Bara, itu adalah gemuruh yang memekakkan telinga. Ia duduk di kursi belakang, merapat ke pintu, dengan tangan yang terus meremas kain celananya sendiri. Setiap kali ban mobil melindas polisi tidur, Bara tersentak, bahunya mengeras seolah-olah ia sedang bersiap menghadapi hantaman ombak besar di lambung kapal kargo KM Harapan Jaya yang dulu hancur berkeping-keping.
"Bara, kita sudah sampai di depan rumah," bisik Rina lembut, mencoba meraih tangan suaminya.
Bara tidak menjawab. Matanya menatap nanar ke arah pagar besi yang catnya mulai mengelupas. Rumah itu—tempat yang ia tangisi dalam sujud-sujud panjangnya di atas Cadas Sunyi—kini berdiri di depannya. Namun, bukannya rasa lega yang muncul, melainkan sebuah kengerian yang mencekik. Rumah itu tampak terlalu padat, terlalu banyak warna, dan terlalu bising dengan suara tetangga yang mulai berbisik-bisik di kejauhan.
"Ibu, kenapa Ayah diam saja? Ayah tidak mau turun?" tanya Mala dengan suara riang yang justru membuat Bara memejamkan mata rapat-rapat.
"Ayah hanya butuh waktu, Mala. Ayo, bantu Ibu bawa tas kecil ini," jawab Rina, berusaha menjaga nada suaranya tetap stabil meski dadanya sesak melihat kondisi suaminya yang seperti orang asing di tanah sendiri.
Bara melangkah keluar dari mobil dengan kaki gemetar. Begitu telapak kakinya yang kini dibungkus sandal jepit menyentuh ubin teras yang halus dan dingin, ia kehilangan keseimbangan. Ia terbiasa dengan tekstur pasir yang kasar atau akar bakau gergasi yang menonjol; ubin rumah yang datar justru membuatnya merasa seolah-olah lantai itu bergerak.
"Hati-hati, Bara!" Rina dengan sigap menangkap lengan suaminya.
"Lantainya... kenapa tidak diam, Rina?" gumam Bara dengan suara yang sangat tipis. "Kenapa semuanya terasa goyang?"
"Ini hanya karena kamu masih lelah. Ayo, masuk ke dalam. Di kamar akan lebih tenang," Rina memapah Bara melewati pintu depan.
Begitu melewati ambang pintu, serangan sensorik itu memuncak. Detak jam dinding di ruang tamu terdengar seperti dentuman palu godam. Suara kulkas yang berdengung di dapur terasa seperti mesin kapal yang hendak meledak. Bara terengah-engah, dadanya naik turun dengan cepat. Ia melepaskan pegangan Rina dan mundur hingga punggungnya membentur tembok.
Labirin Suara di Ruang Tamu
Mala berlari menuju kamarnya dan kembali dengan membawa boneka kain kesayangannya. "Ayah! Lihat, Mala masih simpan boneka ini. Ayah bilang dulu mau belikan yang baru kalau Ayah pulang, kan?"
"Mala, jangan sekarang! Suaranya pelan-pelan saja," tegur Rina, namun terlambat.
Bara menutup telinganya dengan kedua tangan. Suara Mala yang melengking tinggi memicu kilatan memori tentang burung-burung laut yang menjerit di atas kepalanya saat ia sedang menderita dehidrasi hebat. Ia meluncur turun ke lantai, meringkuk di pojok ruangan, tepat di samping rak buku kayu yang sudah berdebu.
"Bara! Tenang, ini Mala, anakmu!" Rina berlutut di depan Bara, mencoba menurunkan tangan suaminya dari telinga.
"Terlalu bising, Rina... tolong matikan suaranya! Suruh mereka diam!" rintih Bara. Napasnya pendek-pendek, tanda serangan panik yang hebat sedang menguasai sistem sarafnya.
Arka, yang baru saja masuk ke dalam rumah, berjalan melewati keributan itu dengan ketenangan yang aneh. Ia tidak tampak terganggu oleh kepanikan ayahnya. Arka justru berjalan menuju saklar lampu dan mematikan lampu ruang tamu, menyisakan cahaya remang-remang dari jendela. Seketika, ketegangan di wajah Bara sedikit mengendur.
"Lihat, Rina. Arka tahu apa yang Ayah butuhkan," bisik Rina pada dirinya sendiri.
Arka mendekati Bara yang masih meringkuk. Ia tidak memeluk, tidak juga bicara. Arka hanya duduk bersila di depan ayahnya, menciptakan "gelembung keheningan" yang selama ini menjadi dunianya. Arka menatap lurus ke arah Bara, memberikan frekuensi ketenangan yang sama seperti yang mereka bagi di ruang rawat rumah sakit sebelumnya.
"Arka..." Bara membuka matanya perlahan. Dalam keremangan itu, ia melihat putranya sebagai satu-satunya jangkar yang bisa ia pahami di rumah ini.
"Yah... yah..." Arka menunjuk ke arah rak buku di samping Bara.
Bara meraba-raba rak kayu itu dengan jari-jemarinya yang kasar. Tiba-tiba, ia tersentak. Di salah satu papan kayu rak tersebut, terdapat sebuah noda air yang membentuk pola melingkar, seolah-olah ada benda basah dari laut yang pernah diletakkan di sana. Bara menatap noda itu dengan bingung. Ia merasa seolah-olah rumah ini pun ikut menanggung beban perjalanannya.
"Mana tas hitamku? Rina! Mana buku doaku?" tanya Bara tiba-tiba dengan nada menuntut. Suaranya kembali keras, dipenuhi kecemasan.
Rina terdiam sejenak. Ia teringat tas hitam kusam yang berisi Buku Doa Musafir itu. Ia sengaja menyimpannya di dalam lemari kamar utama karena ia tidak ingin noda darah dan bau amis di buku itu membuat anak-anak ketakutan, atau lebih jauh lagi, ia ingin membacanya sendiri untuk mencari jawaban atas semua Divine Echo yang ia rasakan selama ini.
"Tasnya ada, Bara. Aku simpan supaya tidak kotor. Kamu harus istirahat dulu," jawab Rina, mencoba mengalihkan perhatian.
"Tidak! Aku butuh buku itu! Itu jangkarku! Tanpa buku itu, aku tidak tahu aku ini nyata atau masih bermimpi di pulau!" Bara mencoba berdiri, namun kakinya kembali lemas.
Dilema di Balik Lembar yang Hilang
Rina memegang pundak Bara, menekan suaminya agar tetap duduk di lantai. "Bara, lihat aku. Kamu nyata. Ini rumah kita. Buku itu tidak akan ke mana-mana. Tapi sekarang, tubuhmu butuh makan dan mandi. Kamu bau laut, Bara. Bau yang membuatku ingat betapa hancurnya aku setahun ini."
Bara menatap Rina, dan untuk pertama kalinya sejak ia tiba di rumah, ia melihat luka di mata istrinya. Ia teringat bagaimana Rina harus menghadapi Bunda Ida yang terus mendesak untuk menjual aset, atau bagaimana Rina harus menghadapi Bapak Harjo yang memberikan ultimatum asuransi yang kejam. Kesadaran itu menghantamnya; ia bukan satu-satunya yang menderita.
"Maafkan aku, Rina. Aku hanya... aku merasa hilang tanpa buku itu," suara Bara melunak, meski matanya masih melirik liar ke sekeliling ruangan.
"Aku tahu. Tapi biarkan aku menjaganya untukmu malam ini. Aku akan membawakanmu makan, lalu kita akan tidur. Besok pagi, semuanya akan terasa lebih masuk akal," ucap Rina dengan nada memohon.
Mala mendekat perlahan, kali ini dengan suara yang lebih lembut. "Ayah, Mala boleh duduk di sini juga? Mala janji tidak bising."
Bara menatap putri kecilnya. Ia teringat halaman khusus dalam bukunya yang ia tulis dengan tinta darah, memohon agar luka batin Mala sebagai anak yang merasa tidak dianggap penting bisa disembuhkan. Ia mengulurkan tangannya yang gemetar, menyentuh rambut Mala.
"Boleh, Mala. Sini... duduk dekat Ayah," ucap Bara.
Meskipun tangannya masih kasar dan gerakannya kaku, sentuhan itu menjadi komunikasi pertama yang normal antara mereka di rumah ini. Namun, di luar rumah, suara riuh rendah mulai terdengar. Ibu Siti, tetangga mereka yang dikenal suka bergosip, berdiri di depan pagar bersama beberapa warga lainnya. Mereka membawa kamera ponsel, mencoba mengintip ke dalam melalui celah gorden.
"Ibu Rina! Apa Pak Bara benar sudah pulang? Kami mau kasih selamat!" teriak Ibu Siti dari luar.
Bara kembali tersentak. Suara itu terasa seperti serangan fisik baginya. Ia menatap pintu depan dengan ketakutan yang murni, seolah-olah kerumunan orang di luar sana adalah badai yang akan menyeretnya kembali ke laut lepas.
"Rina, siapa mereka? Kenapa mereka berteriak?" tanya Bara dengan napas yang kembali memburu.
"Hanya tetangga, Bara. Jangan khawatir, aku akan mengurusnya," jawab Rina, meski ia sendiri merasa muak dengan keingintahuan publik yang tidak mengenal batas itu.
Rina berdiri, merapikan jilbabnya, dan berjalan menuju pintu depan dengan rahang yang mengeras. Ia harus menjadi benteng terakhir bagi suaminya yang masih rapuh, menjaga martabat rumah tangganya dari fitnah dunia yang mulai merayap masuk.
Rina membuka pintu depan hanya sedikit, cukup untuk menunjukkan wajahnya yang lelah namun tegas kepada kerumunan kecil di depan pagar. Ibu Siti berdiri paling depan, lehernya memanjang mencoba mengintip ke dalam ruang tamu yang remang-remang. Di belakangnya, beberapa warga lain berbisik-bisik sambil memegang ponsel yang layarnya masih menyala, menampilkan cuplikan video satelit yang viral itu.
"Ibu Rina, syukurlah kalau Pak Bara sudah sampai. Kami semua di sini ingin melihat, apa benar beliau sehat-sehat saja? Katanya beliau sekarang punya... kelebihan?" tanya Ibu Siti dengan nada bicara yang dibuat-buat ramah namun penuh selidik.
"Suami saya butuh istirahat, Bu Siti. Beliau baru saja menempuh perjalanan yang sangat berat. Tolong hargai privasi kami malam ini," jawab Rina, suaranya dingin dan datar.
"Lho, kami kan cuma mau silaturahmi, Jeng. Apalagi video di internet itu... itu benar Pak Bara, kan? Yang jalan di atas air itu? Wah, kalau benar, kampung kita bisa jadi berkah," sahut warga lain yang berdiri di samping Ibu Siti.
Rina merasakan amarah yang mulai mendidih di dadanya. "Apa pun yang ada di internet, itu bukan urusan Bapak dan Ibu. Suami saya bukan tontonan. Mohon maaf, saya harus kembali ke dalam."
Rina menutup pintu dengan bantingan yang cukup keras, mengunci slotnya dengan tangan yang gemetar. Ia bersandar di balik pintu, mendengarkan gumaman kecewa dari luar yang perlahan menjauh. Di dalam, suasana masih tegang. Bara masih duduk di lantai, namun kini ia memeluk lututnya, menatap lurus ke arah Arka yang masih setia menemaninya dalam diam.
Fragmen Memori di Kamar Utama
"Ayo, Bara. Kita ke kamar. Di sana tidak akan ada suara orang-orang itu," ajak Rina sambil membantu suaminya berdiri.
Bara berjalan terseok-seok menuju kamar utama. Saat pintu kamar dibuka, aroma bedak Arka dan parfum melati milik Rina yang samar menyambutnya. Bagi orang lain, ini adalah bau rumah yang nyaman, namun bagi Bara, ini adalah aroma kehidupan yang telah lama ia tinggalkan hingga terasa asing. Ia duduk di pinggir ranjang, meraba sprei katun yang halus.
"Kenapa tempat tidur ini begitu empuk, Rina? Di pulau, aku tidur di atas pasir yang dingin dan keras. Punggungku... punggungku tidak kenal dengan ini," gumam Bara, wajahnya tampak bingung.
"Kamu harus terbiasa lagi, Bara. Ini milikmu. Ini hakmu untuk istirahat dengan layak," jawab Rina sambil mulai membuka lemari, mencari tas hitam kusam yang ia simpan tadi.
Bara melihat tas itu dikeluarkan dari lemari. Matanya langsung berkilat penuh harap. Ia meraih tas itu dengan kasar, membukanya dengan jari-jemari yang masih kaku. Di dalamnya, Buku Doa Musafir itu masih ada, terbungkus plastik yang sudah robek di beberapa bagian.
"Ini dia... ini satu-satunya yang membuktikan kalau aku tidak gila," bisik Bara sambil membelai sampul buku yang hancur karena air garam.
"Bara, aku ingin bertanya sesuatu," ucap Rina perlahan, ia duduk di samping suaminya. "Noda darah di halaman terakhir itu... itu saat kamu menulis doa untuk Mala, kan?"
Bara tertegun. Ia menatap Rina dengan pandangan yang dalam. "Kamu sudah membacanya?"
"Belum semuanya. Hanya sekilas saat di rumah sakit. Aku merasakan getarannya, Bara. Saat kamu menulis itu, aku di sini merasa dadaku sesak luar biasa, seperti ada yang menarik jantungku ke arah laut," ungkap Rina jujur.
"Itu adalah tinta terakhirku, Rina. Penaku habis, tenagaku habis. Aku hanya punya darah untuk memberitahu Allah betapa aku mencintai kalian. Aku takut mati tanpa meninggalkan bukti kalau aku berjuang untuk pulang," suara Bara mulai serak oleh tangis yang tertahan.
Mala mengintip dari balik pintu kamar, matanya besar menatap buku tua itu. "Ayah, apa di buku itu ada namaku juga?"
Bara tersenyum lemah, sebuah senyuman yang tampak sangat pedih di wajahnya yang penuh kerutan prematur. "Banyak sekali namamu di sini, Mala. Setiap hari, namamu adalah satu-satunya kata yang membuat Ayah berani minum air payau agar tetap hidup."
Sujud yang Berbeda
Malam kian larut, namun Bara menolak untuk tidur di atas ranjang. Ia justru menggelar sajadah lusuh miliknya di atas lantai ubin kamar. Baginya, ketinggian ranjang membuatnya merasa tidak aman, seolah-olah ia bisa terjatuh ke dalam jurang cermin yang dulu ia lihat di pulau.
"Bara, tidurlah di kasur. Tubuhmu butuh pemulihan," bujuk Rina.
"Biarkan aku di sini, Rina. Aku ingin bersujud. Di rumah ini, sujudku terasa berbeda. Tidak ada angin kencang yang mengganggu, tidak ada pasir yang masuk ke mata. Tapi hatiku... hatiku masih tertinggal di sana," jawab Bara.
Bara memulai salatnya. Rina memperhatikan dari kejauhan, hatinya hancur melihat punggung suaminya yang kini sangat bungkuk dan kurus. Saat Bara bersujud, sujudnya berlangsung sangat lama. Begitu lama hingga Rina sempat khawatir Bara pingsan. Namun, Arka tiba-tiba mendekat dan ikut bersujud di samping ayahnya tanpa diperintah.
Pemandangan itu menciptakan sebuah resonansi emosional yang luar biasa kuat di dalam kamar tersebut. Dua orang manusia—yang satu terluka secara mental karena trauma laut, yang satu terkunci dalam dunianya sendiri karena ASD—kini menyatu dalam satu frekuensi sujud yang sama.
"Ibu, Ayah sedang bicara sama Allah ya?" bisik Mala sambil memegang tangan Rina.
"Iya, Mala. Ayah sedang berterima kasih karena sudah diizinkan pulang," jawab Rina dengan air mata yang mengalir deras.
Setelah selesai, Bara tidak langsung berdiri. Ia tetap duduk di atas sajadah, meraba-raba dadanya. "Rina, kenapa rumah ini terasa sangat bising bahkan saat semua orang diam? Aku masih mendengar suara ombak itu. Suara itu tidak mau pergi dari telingaku."
"Itu karena jiwamu belum sepenuhnya mendarat, Bara. Berikan waktu. Kita akan lalui ini pelan-pelan," Rina mendekat dan memeluk bahu suaminya dari belakang.
Namun, ketenangan itu kembali terusik. Dari arah ruang tamu, terdengar suara benda jatuh yang cukup keras, diikuti oleh suara langkah kaki yang terburu-buru. Rina segera berdiri, waspada. Ia keluar ke ruang tamu dan menemukan sebuah batu besar tergeletak di lantai, memecahkan vas bunga kecil di dekat jendela. Ada kertas yang melilit batu itu.
Rina memungut kertas tersebut dan membacanya di bawah lampu yang remang. Tulisan di dalamnya kasar dan penuh kebencian: 'Jangan bawa sihir ke kampung kami! Wali palsu tidak diterima di sini!'
Rina meremas kertas itu hingga hancur. Fitnah dunia yang dibawa oleh viralitas video satelit itu ternyata jauh lebih kejam dari yang ia bayangkan. Ia berbalik dan melihat Bara berdiri di ambang pintu kamar, wajahnya kembali pucat pasi.
"Siapa yang melempar itu, Rina?" tanya Bara dengan nada ketakutan.
"Hanya orang iseng, Bara. Jangan dipikirkan," Rina mencoba berbohong, namun ia tahu bahwa mulai malam ini, rumah mereka bukan lagi pelabuhan yang tenang, melainkan medan pertempuran baru yang harus mereka hadapi bersama.
Bara berjalan menuju jendela, menatap ke arah luar yang gelap. Di sana, di antara bayang-bayang pohon mangga milik tetangga, ia seolah melihat Syeikh Tua berdiri diam, menunjuk ke arah Buku Doa Musafir yang tergeletak di atas sajadah. Pesannya jelas: Ujianmu bukan lagi tentang bertahan hidup dari alam, tapi bertahan hidup dari hati manusia yang kotor.