My bad story
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NonaLebah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
"KENAPA DIAM AJA!" bentaknya, suaranya menggelegar memantul di dinding kaca.
"SIAL!" raung Renzi. Emosinya yang selama ini tersimpan rapi di balik topeng kesantunan, meledak dengan brutal. Tanpa pikir panjang,
Napas Renzi tersengal-sengal, dadanya naik turun tak beraturan. Kegeniusannya dalam mengontrol segalanya runtuh oleh sebuah informasi yang terlambat.
Yanto, dengan sisa keberanian, mencoba meredakan. "Maaf, Pak. Tapi kami sudah mencari penggantinya." Dia menunjuk seorang wanita muda yang berdiri gemetar di samping filing cabinet. "Ini, Pita, sekretaris Bapak yang baru. Mbak Karmel sudah mentraining dia sebulan ini di sini."
Pita itu cantik, dengan wajah yang masih segar dan polos, lebih muda dari Karmel. Tapi di mata Renzi, dia hanyalah sebuah siluet kosong, sebuah pengganti yang sama sekali tidak mampu menyaingi pesona, kecerdasan, dan daya magnet Karmel.
"Pak Yanto!" Renzi menggertakkan giginya, berusaha menekan gelombang amarah yang hampir membuatnya kehilangan akal sehat. Suaranya rendah, berbahaya. "Apa Bapak nggak merasa aneh? Seorang sekretaris, ditraining di ruang HRD, selama sebulan, tanpa sepengetahuan atasannya langsung?"
Yanto berkeringat dingin. "Saya... saya sudah tanyakan sebelumnya mengenai itu, Pak, ke Mbak Karmel. Mbak Karmel bilang... itu perintah dari Pak Renzi langsung."
"Fano! Antar saya ke apartemen Karmel!" perintah Renzi, suaranya masih kasar.
"Siap, Pak!" Fano buru-buru melompat keluar, wajahnya masih pucat sejak insiden di kantor.
, seorang resepsionis ber-seragam rapi bergegas menghampiri.
"Pak Renzi!" panggilnya dengan sopan.
Renzi menahan pintu lift, wajahnya tidak sabar. "Iya?" balasnya, berusaha tenang.
"Ibu Karmel meminta saya untuk mengembalikan kunci master unitnya pada Bapak." Resepsionis itu mengulurkan sebuah kartu akses. "Ibu Karmel sudah pindah sejak seminggu yang lalu."
Mata Renzi membelalak. "APA?!" teriaknya, membuat beberapa orang di lobi menoleh. "KENAPA KAMU NGGAK SEGERA HUBUNGI SAYA?!"
Resepsionis itu tertegun, ketakutan. "Maaf, Pak. Ibu Karmel sendiri yang bilang kalau sudah memberitahu Bapak. Saya... saya hanya diminta menyerahkan kunci masternya pada Bapak jika bapak sedang berkunjung kesini."
Dia membeku.
***
"Seenggaknya sakit hati gue kebayar dengan rumah impian gue ini," gumamnya lirih pada diri sendiri. Sebuah senyum getir menghiasi bibirnya. Setiap perhiasan, tas mewah, dan barang-barang mahal pemberian Renzi telah ia jual. Uangnya ia gunakan untuk membeli tempat tinggal ini, sebuah pengganti nyata atas cinta semu yang ia tinggalkan.
Seorang wanita renta dengan rambut sebening perak berjalan pelan menghampiri, duduk di sampingnya. Nani, ibunya, meletakkan tangan keriputnya di atas paha Karmel.
"Nak, kok Renzi nggak pernah main lagi?" tanya Nani, suaranya lemah penuh kerinduan. Ibunya selalu menyukai Renzi, terpesona oleh sikapnya yang selalu manis dan murah hati di depannya.
Karmel menatap lembut mata ibunya yang mulai buram. "Bu, Karmel sama Renzi udah putus. Jadi jangan tanya-tanya soal Renzi lagi, ya." Ucapannya halus tapi tegas.
Wajah Nani berkerut layaknya kertas yang diremas. "Padahal Renzi baik lho, Nak. Kok bisa kalian putus?"
Karmel menarik napas dalam. Dia tak ingin ibunya, yang hidupnya sudah dipenuhi banyak kepahitan, harus menanggung lara pengkhianatan yang ia alami. "Yang terlihat baik, nggak selalu baik buat kita, Bu," ujarnya, berusaha mencari kata-kata yang paling tidak menyakitkan.
"Maksudnya?" tanya Nani, masih bingung.
"Kita cuma nggak jodoh, Bu. Itu aja." Karmel kemudian merangkul tubuh renta ibunya, mencium aroma khas bedak talc yang selalu melekat pada wanita itu. "Doain aja Karmel dapet jodoh yang terbaik."
Nani membalas pelukan itu, tangannya yang ringkih menepuk-nepuk punggung putri semata wayangnya. "Aamiin," bisiknya lirih, suara penuh doa dan harapan yang terdengar jelas di telinga Karmel. Dalam pelukan itu, Karmel merasakan sebuah keteguhan. Dia telah memilih untuk melindungi hati ibunya, sama seperti dia telah memilih untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
lanjut Thor plissssss🙏🙏🙏