NovelToon NovelToon
Mate Takdir Sang Werewolf

Mate Takdir Sang Werewolf

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Misteri
Popularitas:227
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

[SEASON 2]

Sekuel kedua dari cerita 'Pegasus From Diamond Planet'

"Aroma jiwamu sudah menyatu dengan kegelapanku. Aku akan menjemputmu saat rembulan memerah."
Sebuah mawar hitam misterius di atas meja akademi menghancurkan penyamaran gender White. Gadis berambut putih perak itu mengira ia hanyalah manusia biasa, sampai takdir menyeretnya ke dalam pusaran cinta posesif Ethan, calon Alpha serigala cahaya (Werewolf), dan kerajaan obsesif Aslan Dexter, sang raja iblis (Demon).
Di balik wajah sucinya, ada rahasia mengerikan: White terlahir dari sebuah kristal misterius yang jatuh dari langit, membawa esensi jiwa parasit masa lalu yang di cari oleh seluruh klan imortal.
Saat kutukan darah mulai bangkit dan aliansi antarras terancam pecah, White di hadapkan pada dua pilihan: menyerah pada kegelapan masa lalu, atau bertahan di bawah perlindungan pelukan sang Alpha?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1. Ledakan Di Tengah Hutan

Terasing dari hiruk-pikuk teknologi, berdirilah sebuah kota kecil bernama Arcania. Kota ini seolah tenggelam dalam ketenangan masa lalu; dikelilingi hamparan perkebunan hijau, dan dibentengi oleh hutan lebat purba yang menyimpan misteri.

Di tepian bukit yang berbatasan langsung dengan hutan tersebut, sebuah rumah kayu sederhana berlantai dua berdiri dengan kokoh. Di sanalah Lucas dan Sarah, sepasang suami istri petani, menghabiskan hari-hari mereka.

"Sayang, istirahatlah dulu. Matahari sudah tepat di atas kepala, ayo makan siang!" seru Sarah dari bawah naungan sebatang pohon maple tua yang rindang.

Lucas mendongak dan tersenyum lebar. Meskipun pernikahan mereka telah menginjak usia lima belas tahun, kehangatan di antara keduanya tidak pernah memudar. Namun, di balik tawa mereka, ada satu ruang sunyi yang tak pernah benar-benar terisi. Lima belas tahun tanpa tangisan bayi di rumah mereka yang sepi.

Usai menyantap bekal, Lucas kembali mengayunkan sekopnya ke dalam tanah gembur.

Namun, saat ujung besi sekopnya menghantam lapisan tanah yang lebih dalam, ia mendadak membeku. Dari telapak tangannya, ia merasakan sebuah getaran halus yang berasal dari dalam dada bumi. Angin yang semula berembus sepoi-sepoi tiba-tiba berubah menjadi pusaran kasar.

"Sarah... apa kau merasakannya?" bisik Lucas, matanya menyipit menatap lurus ke arah vegetasi hutan lebat di perbatasan ladang mereka.

Pohon-pohon raksasa di dalam hutan itu mulai bergoyang hebat, seolah ada sesuatu yang besar sedang menerobos dari atas angkasa.

Sarah yang sedang memasukkan kentang ke dalam karung goni menghentikan kegiatannya. Wajahnya seketika pias melihat debu-debu ladang mulai beterbangan membentuk pusaran kecil.

"Ya Tuhan, Lucas... apa ini? Apa akan ada badai besar? Langit mendadak menjadi sangat gelap."

"Ini bukan badai biasa," Lucas melemparkan sekopnya ke tanah. Instingnya sebagai pria yang hidup dekat dengan alam mendadak berteriak bahaya. "Kita harus pergi dari sini sekarang. Tinggalkan semuanya, Sarah!"

"Tapi bagaimana dengan karung-karung kentang ini? Ini hasil kerja keras kita seminggu ini!" bantah Sarah, mencoba menarik karung goni yang berat itu dengan panik.

"Persetan dengan kentang, Sarah! Keselamatan kita jauh lebih penting!" bentak Lucas, suaranya meninggi akibat kepanikan yang kian mencengkeram dada.

Lucas menyambar pergelangan tangan istrinya dengan erat, menarik wanita itu untuk berlari meninggalkan area ladang menuju bukit tempat rumah mereka berada.

BOOM!

Belum sempat kaki mereka menapak ke pekarangan rumah, sebuah dentuman supranatural memekakkan telinga merobek langit Arcania. Suara itu begitu dahsyat, bukan seperti petir, melainkan seperti sebuah ledakan meriam raksasa yang dijatuhkan dari atmosfer.

Tekanan udaranya bahkan membuat Lucas dan Sarah terdorong ke depan, nyaris jatuh tersungkur di atas jalan setapak berbatu.

Keduanya menoleh ke belakang serentak dengan napas memburu. Dari arah jantung hutan lebat di dekat ladang mereka, sebuah gelombang kejut menyapu dahan-dahan pohon, disusul oleh kilatan cahaya putih benderang yang sempat membutakan mata selama beberapa detik sebelum akhirnya menyusut menjadi kepulan asap kelabu yang membubung tinggi ke angkasa.

"Suara apa itu, Lucas? Demi Tuhan, tempat jatuh itu... itu sangat dekat dengan ladang kita!" jerit Sarah, tubuhnya gemetar hebat dalam dekapan Lucas.

"Aku tidak tahu, Sarah... aku tidak tahu," gumam Lucas dengan tatapan terpaku pada asap yang terus menggulung di atas pucuk pepohonan.

"Ayo, masuk ke rumah dulu!"

Mereka berlari sekuat tenaga meniti anak tangga, membuka pintu kayu rumah mereka dengan tergesa-gesa, lalu menguncinya dari dalam dari balik jeruji slot besi. Keduanya bersandar pada pintu, mencoba menenangkan detak jantung yang berpacu liar layaknya genderang perang.

Setelah beberapa menit berlalu dalam keheningan yang mencekam, Lucas memberanikan diri berjalan mendekati jendela kaca besar yang menghadap langsung ke arah hutan. Ia menyibak sedikit tirai kain kumal milik mereka.

"Bagaimana di luar, Lucas? Apakah badainya sudah reda?" tanya Sarah yang mengekor di belakang, mencengkeram ujung kemeja suaminya.

"Aneh sekali... anginnya lenyap total dalam sekejap," jawab Lucas dengan kening berkerut dalam. "Lihat itu, Sarah. Tidak ada tanda-tanda kerusakan akibat angin badai di sekitar rumah kita. Tapi asap di tengah hutan itu... warnanya tidak hitam seperti kebakaran hutan biasa. Asap itu berwarna perak redup."

Sarah ikut mengintip dari balik bahu suaminya. Matanya menyipit melihat kepulan asap misterius yang perlahan mulai menipis di balik lebatnya vegetasi Arcania.

"Apa mungkin ada meteor jatuh? Atau... pesawat yang celaka?"

Lucas menggeleng pelan, rasa penasaran yang teramat besar perlahan-lahan mulai mengikis rasa takut di dalam diri pria itu.

"Bagaimana kalau kita pergi ke sana untuk memastikannya? Siapa tahu ada orang yang membutuhkan pertolongan di dalam sana."

Mendengar itu, Sarah langsung mundur selangkah dan melayangkan pelototan tajam. Wajahnya mengeras dengan kedua tangan tersemat di pinggang.

"Apa kau sudah kehilangan akal sehatmu, Lucas?! Aku tidak akan membiarkanmu masuk ke hutan terkutuk itu! Kau tahu sendiri cerita-cerita dari tetua desa, hutan itu penuh dengan binatang buas dan hal-hal mistis yang tidak bisa dijelaskan! Tak ada satu pun warga Arcania yang berani menginjakkan kaki ke sana setelah matahari melewati ubun-ubun!"

"Tenanglah, Sarah. Jangan marah dulu, aku hanya berasumsi," ucap Lucas defensif, seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal untuk meredakan ketegangan istrinya.

Sarah tidak menyahut lagi. Dia mengembuskan napas panjang dengan gusar, membalikkan badan, lalu melangkah menuju kamar mandi di lantai bawah untuk membasuh wajahnya yang kotor oleh debu ladang.

Melihat istrinya telah menghilang di balik pintu kamar mandi, Lucas kembali menatap jendela. Di kejauhan, asap keperakan itu mulai menipis, menyisakan pendaran cahaya redup yang seolah memanggil-manggil jiwanya.

Rasa penasaran pria itu telah mencapai puncaknya, mengalahkan segala logikanya sebagai petani biasa. Jika ada seseorang—atau sesuatu—yang celaka di dalam sana akibat kecelakaan aneh tadi, dia tidak akan bisa tidur tenang seumur hidup karena mengabaikannya.

Dengan langkah yang sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara di atas lantai kayu, Lucas mengendap-endap menuju pintu depan. Dia memutar kunci dengan perlahan, membuka celah pintu sekadar cukup untuk tubuhnya lolos, lalu menutupnya kembali tanpa suara.

Begitu kakinya menyentuh rumput pekarangan, Lucas berlari kecil memotong jalur ladang, langsung menerobos masuk ke dalam kegelapan Hutan Arcania yang ditakuti.

Suasana di dalam hutan terasa sangat asing pasca-ledakan tadi. Burung-burung tidak lagi berkicau, dan hewan-hewan liar tampaknya telah melarikan diri jauh-jauh karena ketakutan. Lucas membelah semak-semak berduri, melompati akar-akar pohon purba yang melintang, mengikuti arah pendaran cahaya yang kian jelas di depan mata.

Setelah lima belas menit berjalan menembus keheningan yang mencekam, Lucas akhirnya tiba di sebuah area terbuka di tengah hutan. Langkah kakinya mendadak terhenti di balik sebuah pohon besar. Matanya membelalak takjub.

"Asapnya sudah hilang... tapi, apa ini?" gumamnya lirih dengan suara bergetar.

Di depannya, hamparan tanah hutan telah ambles ke dalam, membentuk sebuah kawah melingkar yang luas namun tidak terlalu dalam—persis seperti bekas hantaman benda ruang angkasa. Namun, tidak ada batu meteor hitam atau puing logam pesawat di sana. Di dasar kawah tersebut, terdapat sebuah objek asing yang memancarkan pendaran cahaya keperakan yang silau namun menenangkan.

Didorong rasa penasaran yang memuncak, Lucas turun meniti lereng cekungan kawah yang licin, mendekati objek misterius tersebut.

Saat jaraknya tinggal selangkah, Lucas harus menyipitkan mata menahan kilau pendarannya.

Objek itu berbentuk bulat lonjong besar, bertekstur halus seperti pualam dengan gurat-gurat keemasan samar di permukaannya. Tampak sangat kokoh, namun memancarkan kehangatan yang aneh.

"Apa ini... telur raksasa?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!