Nadia tak menyangka takdir akan membawanya menjadi ibu tiri dari pria tiga anak. Ibunya memaksanya untuk menikahi laki-laki yang sudah punya anak. Menggantikan adiknya yang menolak lamaran tersebut, lantaran dia sudah memiliki pacar tentara dan sudah sarjana.
Nadia merasa seolah takdir mempermainkannya, apa salahnya jika dirinya memilih jalan hidup sendiri. menolak perjodohan ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
Keesokan paginya, suasana di meja makan terasa sangat canggung dan dingin. Pelayan rumah sudah menyiapkan menu sarapan lengkap di atas meja, namun tak ada satu pun dari mereka yang benar-benar menikmati makanan tersebut.
Jovan sudah berada di sana, duduk mematung menatap piringnya. Wajahnya terlihat pucat dengan kantung mata yang menghitam, memperlihatkan jelas bahwa ia tak bisa tidur nyenyak setelah pulang semalam. Bekas merah di pipinya akibat tamparan kemarin pun masih sedikit berbekas.
Arvin yang duduk di ujung meja menghentikan suapannya. Pria itu menatap Jovan dengan raut wajah yang sulit diartikan.
“Jam berapa kamu pulang semalam, Jovan?” tanya Arvin membuka suara.
Jovan tidak langsung menjawab. Ia hanya mengaduk-aduk nasi di piringnya tanpa niat memakannya, lalu menjawab dingin tanpa mengalihkan pandangan.
“Jam tiga.”
Arvin menghela napas panjang, menahan emosi yang hampir kembali tersulut. “Kamu itu masih kelas satu SMP, Jovan. Keluyuran sampai jam tiga pagi pakai motor, mau jadi apa kamu?”
“Kan Papa sendiri yang bikin Jovan malas di rumah,” sahut Jovan.
Arvin mengepalkan tangannya di atas meja, menahan gejolak amarah yang mendadak kembali membakar dadanya. Namun, melihat sorot mata Jovan yang terluka dan penuh penentangan, lidah Arvin mendadak kelu. Kalimat makian yang sudah di ujung lidahnya menguap begitu saja, berganti menjadi rasa bersalah yang menghantam ulu hati.
“Papa tampar kamu semalam karena kamu bicara tidak sopan,” kata Arvin dengan suara berat, mencoba menurunkan intonasinya walau terdengar kaku. “Tapi keluyuran sampai subuh bukan cara menyelesaikan masalah, Jovan.”
Jovan tertawa hambar, sebuah tawa tanpa rasa humor sama sekali. Ia mendorong piringnya yang masih utuh ke depan.
“Cara menyelesaikan masalah?” usik Jovan, menatap sang papa lurus-lurus.
“Masalah di rumah ini nggak bakal pernah selesai, Pa. Karena buat Papa, cuma Kenzo yang harus dilindungi, dan cuma kita berdua yang selalu salah.”
“Jovan, cukup,” sela Damian.
“Makan makanannya.”
“Nggak sudi,” gumam Jovan. Ia langsung bangkit berdiri, menyambar tas sekolahnya yang tergeletak di kursi sebelah, lalu melangkah lebar keluar dari ruang makan tanpa pamit.
Selesai sarapan yang terasa hampa itu, Arvin menyapu pandangannya pada meja makan. Pria itu menghela napas panjang, lalu bangkit dari kursinya seraya merapikan jas kantor yang ia kenakan.
"Kenzo, cepat dihabiskan sarapannya," ucap Arvin dengan nada datar.
"Pak Adam sudah menunggu di depan untuk mengantarmu ke sekolah."
Kenzo mengangguk pelan sambil menyapu sisa roti di mulutnya. "Iya, Pa..." jawabnya lirih dengan suara cadel khas anak TK.
Melihat Arvin bergerak menjauh, Damian ikut bangkit dari duduknya. Ia menyambar tas sekolah yang bersandar di kaki kursi, lalu menatap sang papa sekilas.
Matahari siang terasa begitu terik saat bel pulang sekolah Kenzo berbunyi. Anak laki-laki berusia lima tahun itu berjalan pelan menuju gerbang sekolah dengan tas punggung besar yang hampir menenggelamkan tubuh kecilnya.
Ia celingukan menatap jalanan yang ramai oleh kendaraan, mencari mobil Pak Adam. Namun, hingga area depan sekolah mulai sepi dari jemputan murid-murid lain, sosok sopir pribadinya itu belum juga kelihatan.
Merasa gerah dan lelah berdiri, mata bulat Kenzo beralih menatap bangunan serba pastel di seberang jalan. Toko kue beraroma vanila yang selalu menjadi tempat favoritnya. Tanpa ragu, Kenzo melangkahkan kaki kecilnya menyeberang jalan secara hati-hati, menuju tempat biasa ia menunggu Pak Adam jika terlambat menjemput.
"Halo, Kenzo. Kok jam segini belum dijemput?"
Seorang wanita muda berparas manis dengan apron krem melilit pinggangnya langsung menyambut Kenzo dengan senyuman hangat dari balik konter. Tatapannya begitu lembut.
"Tante... Pak Adam belum sampai," adu Kenzo dengan suara polosnya.
Nadia berlutut di hadapan Kenzo, merapikan poni si kecil yang sedikit berantakan. Senyum lembutnya yang seperti biasa selalu mampu menenangkan Kenzo
"Kenzo mau makan kue strawberry favorit Kenzo dulu, atau mau minum susu?" tanya Nadia lembut.
Kenzo menggeleng pelan. Ia menunduk, jemari kecilnya meremas ujung seragam TK-nya yang berwarna putih biru.
"Tante Nadia..." panggil Kenzo lirih.
"Iya, Sayang? Kenapa, hm? Lututnya kenapa itu ada plesternya?" tanya Nadia cemas begitu menyadari plester yang menempel di lutut Kenzo.
Mata bulat Kenzo mendadak berkaca-kaca. Pertanyaan penuh perhatian dari Nadia seolah membuka pintu bendungan air matanya yang sejak semalam ia tahan. Tanpa bisa dibendung lagi, tangis kecilnya pecah.
"Semalam... semalam Papa marah-marah lagi sama Bang Damian dan Bang Jovan..." adu Kenzo sesenggukan. "Kenzo jatuh pas main, terus Papa bentak Bang Damian sama Bang Jovan karena nggak jagain Kenzo..."
Nadia mengelus bahu kecil Kenzo yang berguncang, mendengarkan dengan penuh kesabaran tanpa memotong cerita si kecil.
"Bang Jovan marah sekali, Tante... Bang Jovan bilang... Kenzo ini anak pembawa sial..." air mata Kenzo menetes makin deras membasahi pipinya. "Kata Bang Jovan, gara-gara Kenzo lahir, Mama jadi meninggal... Bang Jovan sama Bang Damian jadi nggak punya Mama lagi..."
Nadia tertegun. Hatinya mencelos mendengar kata-kata yang begitu berat diucapkan oleh anak seumuran Kenzo. Ia bisa merasakan betapa dalamnya luka dan rasa bersalah yang terpatri di dada mungil anak lima tahun ini.
"Terus... Papa nampar Bang Jovan, Tante... Plak! kencang sekali..." Kenzo meragakan dengan tangan kecilnya yang gemetar.
"Kenzo udah berlutut di kaki Papa, Kenzo minta maaf... Kenzo janji mau jadi anak baik biar Papa nggak pukul Bang Jovan lagi... Tapi Bang Jovan tetap marah, terus pergi naik motor malam-malam..."
Nadia mengusap-usap punggung Kenzo yang masih naik turun karena sisa isakannya. Ia mengurai pelukan itu perlahan, merangkul kedua bahu kecil Kenzo, lalu menatap lurus ke dalam mata bulat si kecil yang sembap.
“Dengar Tante ya, Kenzo,” ucap Nadia.
“Kenzo bukan anak pembawa sial. Sama sekali bukan. Kenzo itu anugerah indah yang dititipkan buat Papa, Bang Damian, dan Bang Jovan.”
Kenzo menatap Nadia ragu, menyapu air matanya dengan punggung tangan. “Tapi kata Bang Jovan...”
“Bang Jovan cuma lagi sedih dan kangen sama Mama, Sayang,” potong Nadia cepat.
“Kadang, orang kalau lagi sangat sedih dan bingung, suka tidak sengaja mengucapkan kata-kata yang menyakiti orang lain. Tapi itu bukan salah Kenzo. Kelahiran Kenzo adalah hal yang membahagiakan.”
“Sekarang, Kenzo duduk dulu di sini ya. Tante ambilkan susu cokelat hangat sama kue favorit Kenzo,” ujar Nadia sambil mengusap kepala Kenzo gemas.
Saat Nadia berdiri hendak menuju konter, suara klakson mobil terdengar dari luar. Sebuah mobil hitam berhenti di depan toko kue. Pak Adam, sopir keluarga Arvin, keluar dengan wajah panik dan terburu-buru mendorong pintu kaca toko.
“Aduh, Den Kenzo! Maaf ya, Pak Adam terlambat! Tadi jalanan macet parah karena ada perbaikan jalan,” ucap Pak Adam napasnya memburu, lega begitu melihat Kenzo duduk selamat di dalam toko.
Nadia tersenyum menatap Pak Adam. “Tidak apa-apa, Pak Adam. Kenzo aman kok di sini sama saya.”
“Terima kasih banyak ya, Mbak Nadia. Selalu merepotkan Mbak kalau saya terlambat jemput,” kata Pak Adam penuh rasa terima kasih.
Kenzo berdiri, memegangi tali tasnya. Sebelum melangkah keluar, ia menengadah menatap Nadia.
“Tante Nadia... besok Kenzo boleh ke sini lagi?”
Nadia berlutut sebentar, memeluk Kenzo sekali lagi dengan erat. “Boleh banget, jagoan. Pintu toko Tante selalu terbuka buat Kenzo.”