Satu tahun menikah, tapi Sekar (Eka) tak pernah disentuh suaminya, Adit. Hingga suatu malam, sebuah pesan mengundangnya ke hotel—dan di sanalah hidupnya berubah. Ia terjebak dalam permainan kejam Adit, tetapi justru terjatuh ke pelukan pria lain—Kaisar Harjuno, CEO dingin yang mengira dirinya hanya wanita bayaran.
Saat kebenaran terungkap, Eka tak tinggal diam. Dendamnya membara, dan ia tahu satu cara untuk membalas, menikahi lelaki yang bahkan tak percaya pada pernikahan.
"Benihmu sudah tertanam di rahamiku. Jadi kamu hanya punya dua pilihan—terima atau hadapi akibatnya."
Antara kebencian dan ketertarikan, siapa yang akhirnya akan menyerah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Eka mengeratkan genggaman tangannya, tatapannya kosong, tertuju ke lantai. Pikirannya terus berputar, mencari celah untuk menyangkal apa yang baru saja dikatakan Rendi. Tapi tidak ada. Tidak ada satu alasan pun yang bisa ia temukan untuk meredakan rasa bersalah yang kini mencengkeram dadanya.
"Kamu nggak percaya?" Rendi menatapnya tajam, frustrasi jelas tergambar di sorot matanya. "Pak Kai bukan tipe orang yang gampang ngorbanin waktunya buat siapa pun. Bahkan buat dirinya sendiri pun dia jarang kasih jeda. Tapi demi kamu, dia ngelakuin semua itu tanpa mikir dua kali. Dan kamu malah…" Rendi menggeleng, mengembuskan napas kasar. "Malah ingin pergi begitu saja setelah memanfaatkan dia."
Eka tetap diam.
"Satu lagi, Eka." Suara Rendi lebih pelan tapi sarat emosi. "Mungkin kamu udah tahu dari Ita, waktu sebulan lalu kamu hampir dijual Adit, dia benar-benar panik. Dia mau langsung nyari kamu. Dan selama kamu menghilang tanpa kabar, dia terus nanyain keadaanmu."
Eka menahan napas.
"Yang mungkin kamu nggak tahu," lanjut Rendi, "dia sempat berjaga beberapa hari di bawah apartemen ini. Cuma buat pastiin kamu aman. Baru setelah dia yakin Adit nggak bakal ganggu kamu lagi, dia bisa tenang dan balik kerja."
Eka membeku. Dadanya terasa sesak. Semua yang baru saja ia dengar berputar-putar di kepalanya. Tapi kalau memang Kai seperti itu, kenapa waktu mereka bertemu beberapa hari yang lalu—saat ia mengatakan bahwa dirinya mengandung anak mereka—pria itu justru terlihat menolaknya?
Kenapa?
Bayangan Kai di dalam mobil muncul dalam benaknya—pria itu menggenggam kemudi dengan ekspresi kosong. Apa saat itu Kai sebenarnya menunggu penjelasan darinya? Apa dia berharap Eka akan mengatakan sesuatu?
Sial.
Kenapa semuanya terasa lebih berat sekarang?
Eka meraih tasnya tanpa berkata apa-apa, lalu bergegas menuju pintu. Ita berdiri, seakan ingin menahannya, tapi Eka hanya tersenyum tipis.
"Aku harus pergi."
"Ke mana?" Rendi bertanya, nadanya masih tajam.
"Menemuinya," jawab Eka singkat.
Tanpa menunggu reaksi mereka, ia keluar dari apartemen. Udara malam yang dingin menusuk kulitnya, tapi ia tidak peduli. Yang ada dalam pikirannya saat ini hanya satu hal—Kai.
Beberapa saat berlalu, Kai menghentikan mobilnya di depan rumah. Ia tidak langsung turun, hanya duduk diam, membiarkan keheningan membungkusnya. Dada dan pikirannya terasa berat. Seolah semua yang telah ia perjuangkan lenyap begitu saja.
Kemudian, matanya menangkap sosok seseorang berdiri di depan gerbang rumahnya.
Eka.
Wanita itu memeluk dirinya sendiri, berusaha menahan dingin. Ekspresinya sulit terbaca dalam redupnya lampu jalan, tapi ada sesuatu dalam tatapan itu yang membuat hati Kai mencelos.
Kai menghela napas panjang, tangannya melemas di atas kemudi. Ia tidak tahu harus merasa lega atau semakin marah. Tapi sebelum pikirannya bisa menyusun jawaban, tubuhnya sudah lebih dulu bergerak—keluar dari mobil dan berjalan mendekati Eka.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanyanya, suaranya dingin.
Eka menatapnya, lalu tersenyum kecil. Senyum yang terlihat lelah.
"Aku menunggumu."
Kai tertawa kecil—tawa tanpa keceriaan. "Kenapa?"
Eka menggigit bibirnya, ragu. Tidak ada kata-kata yang cukup untuk menjelaskan semuanya. Tapi di antara kebingungannya, ada satu hal yang kini ia sadari.
Ia tidak ingin kehilangan Kai.
"Aku… salah." Suaranya nyaris seperti bisikan. "Dan aku tahu mungkin ini sudah terlambat. Tapi kalau kamu masih mau mendengar, aku ingin menjelaskan semuanya."
Kai menatapnya lama, seakan mencoba mencari kebenaran di dalam kata-katanya.
***
Di sisi lain, Rina berjalan mondar-mandir di kamarnya, jemarinya tanpa sadar menggigiti ujung kukunya yang mulai rapuh. Pikirannya penuh dengan kecemasan. Jantungnya berdegup cepat seiring dengan pikirannya yang berputar tak tentu arah.
Ia sudah mempertimbangkan semuanya, menimbang baik dan buruknya, dan akhirnya memutuskan untuk mengikuti keinginan Eka—Nadin harus pergi dari keluarga ini.
Tapi bagaimana?
Wanita itu sedang mengandung anak kakaknya. Dan yang lebih buruk lagi, sang kakak begitu menyayanginya. Itu membuat segalanya menjadi lebih rumit, lebih sulit.
"Apa yang harus aku lakukan?" gumamnya pelan, nyaris tanpa suara.
Rina mengerjapkan mata, menahan napas. Pikirannya berputar semakin liar, mencoba mencari celah, mencari cara.
Saat itu juga, suara ibunya, Yuli, menghentikan langkahnya.
"Kamu kenapa mondar-mandir seperti itu?" suara ibunya terdengar tajam, sedikit kesal. Yuli berdiri di ambang pintu, tangan bertumpu di pinggangnya yang mulai melebar karena usia. "Kalau gak ada kerjaan, mending bantu Ibu urus nenek. Sudah malam masih saja merepotkan."
Rina menoleh sekilas, ragu-ragu, lalu mendekat. Ada sesuatu yang membuat dadanya sesak, namun ia harus bicara.
"Bu…" suaranya lirih, nyaris seperti bisikan. "Kalau ada orang yang mau kita singkirkan, tapi kita gak bisa melakukannya secara langsung, harus bagaimana?"
Mata Yuli menyipit, menatap putrinya dengan penuh selidik. "Maksudmu siapa?"
Rina menelan ludah. Ini adalah batas. Jika ia mengatakannya, maka tidak akan ada jalan kembali. Tapi jika ia tidak mengatakannya, mereka akan terus hidup dalam kesulitan.
"Nadin," jawabnya akhirnya.
Sejenak, Yuli hanya diam. Rina menahan napas, menunggu reaksi ibunya. Hingga akhirnya, sudut bibir wanita itu terangkat tipis.
"Kamu ingin dia pergi?"
Rina mengangguk, meskipun hatinya masih sedikit ragu. "Tadi aku bertemu dengan Eka. Dia bilang akan membantu keuangan keluarga kita, tapi… Kak Nadin harus keluar dari rumah ini."
Yuli menatap putrinya tajam. "Apa kamu gila? Dari mana Eka bisa dapat uang untuk membantu kita?"
"Bu, Eka sekarang sudah berubah. Dia punya segalanya. Dia pegang kartu hitam, bisa beli apa saja yang dia mau. Dia bilang, sejak dijual Kak Adit, dia menemukan sponsor yang lebih kaya."
Wajah Yuli mengeras. Ada sesuatu di balik kata-kata itu yang membuatnya merinding. "Tapi…"
"Bu, dengarkan aku!" suara Rina meninggi, penuh desakan. "Eka ada benarnya. Sejak Kak Nadin datang, hidup kita semakin sulit. Dia itu seperti beban, jadi gak ada salahnya kita ikuti kata Eka. Kita harus buat dia pergi."
Hening.
Yuli menatap putrinya, seolah mencoba mencari keraguan di wajahnya. Namun, yang ia lihat hanyalah keyakinan yang dipaksakan. Sebuah tekad yang lahir dari keputusasaan.
Lalu, perlahan, Yuli terkekeh kecil. Suaranya rendah, nyaris mengintimidasi. Ia melipat tangannya di depan dada, memandang Rina dengan tatapan penuh perhitungan.
"Memang perempuan itu sudah terlalu nyaman di rumah ini," gumamnya. "Tapi dia sedang mengandung. Kalau terjadi sesuatu padanya, orang-orang pasti bakal curiga, terlebih kakakmu."
Rina menggigit bibirnya. "Itu dia, Bu. Aku gak tahu harus gimana."
Yuli berpikir sejenak, lalu menyeringai tipis. "Mungkin kita gak perlu melakukan apa pun secara langsung. Kita hanya perlu membuatnya merasa bahwa tempat ini bukan lagi tempat yang aman buat dia."
Mata Rina membulat. "Maksud Ibu?"
"Buat dia merasa tertekan. Buat dia merasa tidak diinginkan. Kita pelan-pelan dorong dia sampai dia sendiri yang memutuskan pergi," Yuli berkata dengan tenang, seolah yang mereka rencanakan hanyalah hal biasa.
Jantung Rina berdetak cepat. Ada sesuatu yang dingin merayapi punggungnya, namun ia tidak mengelak.
"Tapi… gimana caranya?"
Yuli tersenyum tipis, lalu meraih ponselnya. Jemarinya dengan santai menggulir daftar kontak, sebelum akhirnya berhenti pada satu nama.
Rina menegang saat melihatnya. Orang itu—seseorang yang tidak akan segan melakukan apa pun jika ada keuntungan baginya. Dan jika mereka bisa bekerja sama… Nadin tidak akan bertahan lama di keluarga ini.