Marsya adalah seorang dokter umum yang memiliki masa lalu kelam. Bahkan akibat kejadian masa lalu, Marsya memiliki trauma akan ketakutannya kepada pria tua.
Hingga suatu malam, Marsya mendapatkan pasien yang memaksa masuk ke dalam kliniknya dengan luka tembak di tangannya. Marsya tidak tahu jika pria itu adalah ketua mafia yang paling kejam.
Marsya tidak menyangka jika pertemuan mereka adalah awal dari perjalanan baru Marsya. Dan yang lebih mengejutkan lagi, ternyata ketua mafia yang bernama King itu ada kaitannya dengan masa lalu Marsya.
Akankan Marsya bisa membalaskan dendam masa lalunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30 Melarikan Diri
Di luar sana, Andrew mencari keberadaan orang yang tadi mengantar Tessa. Hingga dari kejauhan, Andrew melihat orang itu sedang duduk santai sembari ngopi di depan kolam renang bersama rekannya yang lain. Bergegas Andrew menghampiri orang itu dan mencengkram bajunya.
"Ada apa ini?" kesalnya.
"Tadi kamu antar Nyonya Tessa ke mana?" tanya Andrew.
Orang yang bernama Edi itu menghempaskan tangan Andrew. "Apa urusannya denganmu? itu urusan Nyonya mau ke mana juga dan kamu tidak berhak tanya-tanya," sinis Edi.
"Kurang ajar." Andrew pun memukul Edi sampai Edi tersungkur ke lantai.
Teman Edi dengan sigap menahan tubuh Andrew berniat ingin melerai mereka namun kekuatan mereka tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Andrew. Andrew secepat kilat memukuli semuanya sampai mereka semua tumbang. "Cepat katakan, tadi kamu mengantar Nyonya Tessa ke mana? atau saya habisi kalian semua!" bentak Andrew.
Akhirnya dengan terpaksa Edi pun memberitahukan ke mana Tessa pergi. Andrew sangat terkejut dengan jawaban Edi, ternyata dugaan dia selama ini benar. Sudah lama Andrew mencium ada sesuatu yang mencurigakan antara Tessa dan Raja.
"Ternyata dugaan saya benar, mereka ada hubungan di belakang Tuan King," batin Andrew.
Setelah mengetahui jawabannya, Andrew pun segera menuju hotel yang disebutkan oleh Edi. Dia ingin mencari bukti supaya King percaya akan ucapannya. Andrew Sampai di hotel, dia menunggu di seberang hotel karena dia menduga kalau Raja dan Tessa akan pulang ke rumah namun di jam tengah malam.
Di sisi lain, King mencoba memaksa Marsya. Marsya tentu saja melawan namun dia tidak bisa maksimal karena tangannya masih sakit jadi tidak hanya bisa melawan semampunya saja. "Tuan, lepaskan aku!" ucap Marsya dengan deraian air matanya.
"Kenapa kamu tidak datang, Tessa? apa kamu sudah tidak mencintaiku lagi? sepertinya malam ini aku harus memaksamu supaya kamu sadar jika cintaku ini sangat besar untukmu," ucap King.
"Tuan, aku Marsya bukan Tessa!" teriak Marsya.
"Kamu kira aku bodoh, aku bisa membedakan mana wanita lain dan mana kamu," sahut King.
King memang sudah mabuk berat, otaknya sudah tidak berjalan lagi. King terus memaksa dan Marsya terus melawan tapi tenaga King sangat kuat, dia mencengkram lengan Marsya yang masih terluka membuat Marsya menjerit kesakitan dan darah seketika keluar dari lengan Marsya. "Lepaskan aku, Tuan!" teriak Marsya.
King tidak memperdulikan teriakan Marsya, dia pun terus memaksa Marsya hingga Marsya pun lemas dan hanya bisa pasrah. Marsya sudah tidak punya tenaga lagi untuk melawan King, malam itu Marsya hanya bisa menangis menerima perlakuan dari King. Bahkan, keringat sudah memenuhi wajah Marsya, ingatan masa lalu kembali masuk ke dalam otak Marsya.
"Aku mohon, hentikan Tuan," lirih Marsya dengan deraian air matanya.
King memang tidak punya hati, dia sangat menikmati apa yang dia lakukan kepada Marsya berbeda dengan Marsya yang merasakan sakit yang sangat luar biasa. Dua kali dia dinodai oleh pria yang berbeda. Cukup lama King melakukannya, hingga akhirnya King puas dan menjatuhkan tubuhnya di samping Marsya.
Marsya bangkit dan menutup tubuhnya dengan selimut. Marsya menangis, memegang lengannya yang masih terus mengeluarkan darah. Dengan tertatih-tatih, Marsya berdiri lalu mengambil obat dari dalam tasnya dan susah payah dia mengobati lengannya sendiri namun sangat sulit, hingga dia pun pasrah duduk di lantai dengan tubuh yang masih terbalut selimut.
"Aku benci sama kamu, Tuan King," batin Marsya sembari mengepalkan tangannya.
Setelah menunggu beberapa jam, akhirnya Raja dan Tessa pun keluar. Andrew yang sudah lama menunggu tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengambil foto dan video mereka berdua. "Tuan King pasti akan marah besar jika mengetahui ini semua," gumam Andrew.
Tiba-tiba Andrew teringat sesuatu. "Astaga, tadi Tuan King bilang jika dia akan memberi hukuman kepada Nyonya Tessa sedangkan Nyonya Tessa tidak ada di rumah. Wah, bahaya takutnya dia melukai dirinya sendiri," gumam Andrew panik.
Andrew pun bergegas memutar balik dan segera pulang menuju rumah. Sesampainya di rumah King, Andrew dengan cepat masuk dan berlari menuju kamar King. Namun pada saat melewati kamar Marsya, Andrew mendengar suara tangisan dari Marsya.
"Apa Dr.Marsya sedang menangis?" batin Andrew.
Perlahan Andrew membuka pintu kamar Marsya, terlihat Marsya terduduk lemas di lantai dengan lengan yang masih mengeluarkan darah. "Astaga, Bu dokter kenapa?" tanya Andrew sembari menghampiri Marsya.
Tapi belum juga Andrew mendekati Marsya, Andrew membelalakkan matanya kala melihat King tertidur di kasur Marsya tanpa baju sama sekali. Andrew beralih melihat ke arah Marsya yang hanya diam sembari menangis. Andrew terkejut, dia tahu apa yang sudah King lakukan kepada Marsya.
Meskipun tidak percaya dengan apa yang dilakukan bosnya, Andrew pun segera menghampiri Marsya dan mengobati lengan Marsya. Sedangkan Marsya hanya bisa memegang erat selimut yang melekat di tubuhnya karena dia sama sekali belum sempat memakai baju.
"Kenapa ini bisa terjadi?" tanya Andrew.
Marsya menatap Andrew dengan tatapan bengis. "Tanyakan kepada bos kamu itu, kenapa sampai melakukan ini kepadaku? dia marah kepada Nyonya Tessa, tapi aku yang harus menanggungnya?" teriak Marsya dengan deraian air matanya.
Andrew merasa sangat kasihan kepada Marsya, seharusnya Marsya tidak masuk ke dalam dunia King. "Apa kamu mau keluar dari rumah ini? saya bisa membantu kamu untuk keluar dari sini," ucap Andrew.
Marsya menatap Andrew tidak percaya, dia tidak menyangka jika pria dingin di hadapannya mau membantunya. "Jangan bohong kamu, aku tidak akan percaya dengan ucapan kamu," sahut Marsya.
"Aku tidak pernah berbohong, dan malam ini waktu yang tepat jika kamu mau kabur dari sini. Pengawalan malam ini sedikit longgar dan saya bisa membantu kamu," ucap Andrew sembari fokus mengobati lengan Marsya.
Andrew bangkit. "Bersiap-siaplah, saya tunggu kamu di bawah," ucap Andrew.
Tanpa banyak basa-basi, Andrew pun keluar dari dalam kamar Marsya. Sekuat tenaga Marsya bangkit, lalu dia segera mengambil baju dan memakainya. Ucapan Andrew bagaikan angin segar buat Marsya.
Setelah selesai memakai baju, Marsya pun mengambil tas kecil yang berisi baju dia sebagian. Dia memutuskan tidak membawa bajunya semua karena terlalu ribet. Sebelum pergi, dia menoleh ke arah King yang masih terlelap dalam tidurnya.
"Sampai kapan pun aku tidak akan pernah melupakan perlakuanmu ini, dan aku putuskan akan membalaskan dendam aku kepada si tua bangka meskipun tanpa bantuan darimu," batin Marsya.
Marsya pun bergegas turun, Andrew sudah menyiapkan topi dan jas untuk Marsya pakai. "Pakailah, dan sembunyikan rambut panjangmu supaya tidak ada yang curiga kepadamu," titah Andrew.
Marsya pun menuruti apa yang dikatakan Andrew. "Saya sudah periksa halaman belakang, tidak ada siapa-siapa di sana. Kamu lewat sana, di samping kolam ada pintu yang waktu itu kamu mau kabur. Kamu keluar lewat sana, saya sudah membuka kuncinya nanti saya tunggu kamu di ujung jalan sana," ucap Andrew.
"Baiklah."
Marsya pun segera menuju halaman belakang dan keluar lewat pintu rahasia. Sedangkan Andrew keluar dengan mengendarai mobilnya. Tidak ada yang curiga kepada Andrew karena Andrew merupakan kaki tangannya bos mereka.