Ozaki Rika atau dulunya Ozaki Ryu adalah manusia buatan dari era moderen dan secara tiba-tiba muncul di abad pertengahan yang menjadi wilayah iblis, ia ada di sana karena upacara pemanggilan yang dilakukan oleh Zarathos sang raja Iblis kecil di wilayah itu, Rika dinikahi karena sang Raja Iblis tidak ingin manusia itu disakiti bawahannya, ia memikirkan kegunaan gadis yang terpanggil olehnya karena ia tidak pernah menyangka akan memanggil manusia, karena dalam upacara itu harusnya yang terpanggil adalah monster kuat dari dimensi lain untuk membantunya perang melawan manusia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azai Nagamasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Suamiku adalah Raja Iblis Bab 30
Rika pun membuka kotak hitam tersebut dan isinya adalah liontin kristal hitam, "Ini adalah simbol Aliansi kita berempat, aku ingin kalian memakainya ketika kita sudah benar-benar beraliansi," ujar Rika sembari memberikan mereka masing-masing satu liontin kristal hitam dan terlihat Rika langsung memakai Liontin terakhir di dalam kotaknya lalu pergi meninggalkan mereka bertiga.
Setelah meninggalkan ketiga ratu iblis yang ada di tempat tadi, nampak Rika langsung pergi dari sana, ia seperti tidak tertarik untuk mendekati istri-istri Raja Iblis yang lainnya.
"Apa Kanjeng Ratu tak ingin ngobrol dengan Ratu iblis lain?" tanya Mary sedikit penasaran sembari mengikuti Rika hingga akhirnya mereka berdua berada di luar gedung pertemuan dan menatap indahnya halaman gedung pertemuan yang hiasi berbagai macam bunga dan tanaman lain di sana.
"Tidak, bagiku mereka bertiga saja sudah cukup ... sekutu yang terlalu banyak akan sangat menyulitkan, apalagi kita belum bisa saling percaya. Memang benar jika kita punya banyak aliansi maka akan semakin membuat kita aman, tapi akan sulit untuk mengetahui siapa penghianat jika secara tiba-tiba ada sesuatu yang tidak beres, karena kita harus memeriksa tiap tindakan para anggota. Dan itu membutuhkan banyak mata-mata dan akan mengurangi kekuatan tempur markas, berbeda jika kita hanya beraliansi dengan dua kerajaan, maka kita hanya perlu mengirim dua iblis bayangan untuk mengawasi gerak-gerik kerajaan yang menjalin kerja sama dengan kita, dengan begitu kita bisa tahu siapa yang berkhianat dengan cepat," balas Rika sembari menatap datar bunga hitam berduri di halaman gedung pertemuan tersebut.
"Tapi kelemahannya kekuatan tempur kita tidak akan terlalu kuat, karena jujur saja, meskipun Kerajaan Leviathan memiliki prajurit-prajurit yang super kuat dan banyak, mereka tidak mungkin mau mengirim bantuan yang banyak, mereka mungkin hanya mengirim 50 prajurit biasa untuk membantu dan itu adalah jumlah terbanyak yang bisa ia kirim pada setiap kerajaan yang beraliansi dengannya. Sedangkan Lucifer, kau tahu sendiri bagaimana hubungan dia dengan Zarathos, hal ini membuatku tidak yakin kalau Lucifer akan menerima kerja sama atau Aliansi yang ditawarkan kedua istrinya jika kerja samanya pada kerajaan kita," ujar Mary memberikan pendapatnya.
Rika yang mendengar pendapat Mary hanya tersenyum lembut ke arah Dark Elf itu, lalu ia menatap langit hitam tanpa bintang dengan bulan merah yang menghiasinya.
"Langit malam yang indah dihiasi oleh bulan merah, meski tak ada bintang tapi cahaya merah dari rembulan sudah cukup. Marry, kadang sesuatu yang kau anggap tidak berguna atau sia-sia kadang memiliki manfaat kecil yang hampir tak bisa di sadari, meskipun ini seperti kita sedang melakukan taruhan, tapi aku yakin dengan tindakanku. Mari kita lihat siapa yang akan datang menemui kita nantinya," tanggap Rika sembari tersenyum manis seolah ia bisa melihat apa yang ia dapatkan di masa depan.
"Apakah Kanjeng Ratu berpikir untuk mengontrol kerajaan iblis lain melalui dalih aliansi?" tanya Mary.
Rika tersenyum kecil mendengar hal itu sejujurnya ia tak pernah memikirkan untuk mengendalikan orang-orang yang beraliansi dengannya atau bersekutu dengannya.
"Sejujurnya, Mary ... aku sudah sering bermimpi buruk, aku takut mimpi itu menjadi nyata, maka dari itu aku ketika aku melihat wajah ketiga Ratu Iblis itu, aku pikir mereka cukup menjanjikan untuk membantuku. Makannya aku berusaha membuat mereka menjadi sekutuku, aku ingin ketika sesuatu di dalam mimpiku terjadi mereka bisa membantuku untuk lepas dari takdir buruk yang akan menimpaku," jawab Rika sembari mengelus kepala Mary.
"Mimpi buruk seperti apa yang membuat Kanjeng Ratu sampai merasa setakut ini?" tanya Mary penasaran.
Rika yang ditanyai mengenai mimpi buruknya, hanya bisa tersenyum tipis mendengarnya, ia pun berhenti mengelus kepala Mary dan berkata, "Aku bermimpi kalau ada sekumpulan pria berjirah datang dan menyeretku ke suatu tempat yang dipenuhi lelaki gemuk berperawakan buruk dan mereka memperebutkan tubuhku layaknya para babi jantan yang menggilir betinanya, lalu yang lebih parah aku melihat Zarathos menatapku ketika diperkosa puluhan lelaki, aku tidak bisa membiarkan hal buruk itu terjadi, bagaimanapun caranya aku harus mencegahnya," ungkap Rika dengan air mata yang secara tidak sadar menetes keluar.
Mary yang mendengar jawaban Rika, tanpa sadar air matanya ikut menetes, ya memang benar, mana ada seorang wanita yang rela tubuhnya disentuh banyak pria apalagi hal itu dilakukan dihadapan suaminya, ini akan membuat hati siapapun hancur dan Mary tentu tidak ingin hal itu terjadi pada Ratu yang ada di kerajaannya.
Dengan cepat Mary memeluk Rika dan berkata, "Jangan khawatir, kami tidak akan membiarkan hal semacam itu terjadi kepadamu Ratu dari kerajaan kami. Kami akan melakukan apa saja agar Kanjeng Ratu selamat dan bebas dari takdir buruk yang tergambar di mimpi Kanjeng Ratu," ucap Mary menenangkan Rika sembari memeluknya dengan erat dan mengelus punggung Ratunya dengan pelan.
"Terima kasih Mary, kau adalah sosok yang paling mengerti diriku, aku juga akan berusaha untuk melupakan mimpi buruk itu agar bisa fokus mengurus kerajaan dengan baik," gumam Rika sembari tersenyum lembut dan membalas pelukan pelayan pribadinya itu.
Satu jam kemudian.
Terlihat Rika dan Mary berbincang-bincang di kursi halaman gedung pertemuan, menunggu Zarathos keluar dari gedung itu.
Tak lama pintu gedung pun terbuka dan menampakan Zarathos dan beberapa Raja Iblis lain termasuk Bellzebub yang ketakutan ketika melihat Rika menatap tajam ke arahnya.
"Rika, ayo kita pulang," ajak Zarathos pada Rika. Rika hanya mengangguk mengiyakan dan menyambut uluran tangan suaminya lalu pergi meninggalkan Mary yang tersenyum lembut ke arahnya.
"Nampaknya Raja kita sudah benar-benar mencintai Nyonya Rika, kalau seperti ini aku rasa aku juga harus menerimanya sebagai Ratu kita yang sah," tanggap Zanki sembari tersenyum dari belakang mengawasi Rika dan tanpa sadar tangannya menyentuh bahu Mary pelayan pribadi Rika dari ras Dark Elf. Dan hal itu dilihat oleh Enja Jendral pelindung Gerbang Api, dan terlihat Enja menatap tak suka ke arah Zanki dan menebarkan aura membunuhnya hingga membuat tempat di sekitarnya menjadi panas.
"Ya, aku sangat senang melihat Kanjeng Ratu bahagia bersama, Yang Mulia Raja," tanggap Mary sembari tersenyum pahit ketika mengingat pirasat buruk Rika. Ya meski hanya pirasat, Mary sudah tidak ingin menghiraukan perkataan buruk Rika, karena pirasat Rika sudah pernah hampir terjadi dan hal itu membuat Rika hampir mati untuk mencegahnya.
"Ehem! Zanki, aku harap kau sadar dengan perbuatanmu, kau telah memancing api cemburu adikku tahu," ujar Suija menegur Zanki yang tangannya masih menempel di bahu Mary sembari menunjuk ke arah belakang dan menampakkan Enja yang sedang komat kamit tak jelas dan tubuh yang mengeluarkan aura api yang semakin lama semakin panas.
Zanki yang melihat kejadian itu langsung melepaskan tangannya dari bahu Rika dan pergi menjauh, "Kalau begitu aku pergi dulu untuk mengawal Kanjeng Ratu, ahahahahaha!"
Mary yang tak paham apa yang terjadi hanya bisa menatap bingung Zanki yang kabur dan heran dengan Enja yang tiba-tiba terlihat seperti sedang menahan amarah.
"Jendral Enja, ada apa kenapa kau terlihat kesal?" tanya Mary dengan hati-hati, jujur ia tak pernah sekalipun berkomunikasi dengan Jendral api yang menjadi kepercayaan Rika dan Zarathos dalam menjalani urusan pertarungan.
"Aku pergi duluan," ujar Suija yang tiba-tiba menghilang menjadi pecahan gelembung sabun yang menyebar kemana-mana.
Enja yang mendengar pertanyaan dari Mary langsung terdiam di tempat lalu menatap Mary dengan serius, "Ano!"
"Ya?"
"Maukah kau berjalan bersamaku mengelilingi kota?" ajak Enja pada Mary.
"Eh?" terlihat Mary kaget dengan ajakan iblis api itu, tapi Enja tak kehabisan kata-kata ia langsung memberikan penjelasan.
"Ano, aku ingin membicarakan banyak hal padamu, ini mengenai Kanjeng Ratu," ucap Enja sembari mengalihkan pandangan, 'Sial kenapa aku malah mengatakan hal ini? Harusnya aku mengajaknya untuk kencan!' keluh Enja dalam hatinya.
"Oh baiklah, ayo!" jawab Mary dengan semangat, Enja yang melihat hal itu hanya tersenyum dan menggenggam lengan Mary lalu membawanya berjalan bersama, sementara Mary wajahnya tiba-tiba bersemu merah ketika Enja menggenggam lengannya, ia bingung kenapa Enja terlihat begitu perhatian padanya, padahal dari wajahnya Enja terlihat seperti iblis yang mengerikan hingga membuat siapa saja yang menatapnya ketakutan.
Sementara itu di tempatnya Rika dan Zarathos.
Terlihat pasangan suami istri itu mengitari pasar malam yang ada di kota Gremory, salah satu Ibu kota yang dipimpin oleh Maou Lucifer. Rika dan Zarathos nampak berjalan santai sembari memperhatikan sekitar.
"Rika, bagaimana menurutmu pemandangannya?" tanya Zarathos pada istrinya.
Rika yang ditanyai hal yang demikian oleh Zarathos langsung menatap pemandangannya sekali lagi dan setelah cukup lama mengamati pemandangan yang ada di sekitarnya Rika pun hanya tersenyum tipis, "Kota ini sangat indah dalam penentuan tata letaknya, penduduk yang banyak membuat suasana menjadi lebih hidup, serta banyaknya pedagang yang menawarkan barang dagangan mereka memperlengkap keindahan kota ini. Namun, meski begitu tetap saja tak ada sesuatu yang sempurna, jika kita mencari kekurangannya, maka hal itu bisa dilakukan seharian penuh."
Mendengar jawaban panjang dari Rika membuat Zarathos yang berharap kejadian romantis terjadi langsung memasang wajah kecewa dengan jawaban Rika.
"Hei, kenapa kau terlihat cemberut seperti itu sialan?" tanya Rika pada Zarathos yang terlihat kecewa dan prustasi ketika mendengar jawaban panjang darinya.
"B-bukan apa-apa, s-sudahlah lupakan saja!" tanggap Zarathos sembari memalingkan wajahnya dari Rika.
"Apa terjadi sesuatu di pertemuan?" tanya Rika sedikit khawatir dengan tingkah suaminya itu.
"Tidak ada sesuatu yang spesial, hanya ada pembahasan mengenai soal gerak-gerik manusia dan para dewa yang semakin gencar menginvasi dan menyerang wilayah para iblis lemah, dan para Raja Iblis berdiskusi mengenai cara untuk melindungi wilayah-wilayah kecil mereka," tanggap Zarathos dengan santainya.
"Aku yakin masih ada hal lain yang kau sembunyikan dariku, jadi sebaiknya kau memberitahuku sekarang sebelum, aku mencaritahu sendiri," ancam Rika pada Zarathos.
"Kenapa kau begitu bersih keras ingin tahu Rika?" tanya Zarathos yang tak habis pikir dengan Rika yang malah mengancamnya.
"Aku sudah bilang, jangan ada kebohongan diantara kita, aku benci jika orang yang aku percaya atau orang terdekatku menyembunyikan sesuatu dariku mengerti!" tekan Rika memberikan penegasan pada Zarathos.
Zarathos langsung menghela nafasnya saat itu dan menatap ke arah Rika dan berkata, "Mereka juga membahas mengenai gadis yang diramalkan gadis yang akan melahirkan keturunan untuk siapa saja yang berhasil menikahinya. Hal ini membuat para Raja Iblis berpikir untuk mencari gadis itu dan mencoba membunuhnya sebelum ia ditemukan manusia dan akhirnya melahirkan anak dari mereka," jawab Zarathos sembari menatap khawatir ke arah istrinya.
Rika yang mendengar hal itu sedikit kaget dibuatnya. Namun ia tidak terlalu memikirkannya dan kembali bertanya, "Apakah kau khawatir kalau aku adalah gadis itu?" tanya Rika.
Zarathos pun mengangguk dengan pertanyaan Rika itu, Rika kemudian terdiam dan ia malah teringat dengan mimpi buruknya yang selalu terjadi tiap malam saat ia dihukum oleh Zarathos untuk menunggunya di hutan.
"Rika ada apa, kau seperti sedang khawatir?" tanya Zarathos pada Rika sembari menatap tubuh Rika yang bergetar hebat.
"M-maaf aku perlu waktu untuk membicarakannya, saat ini kita berada di tempat ramai, aku tak bisa membicarakan rasa khawatir yang sedang aku rasakan. Aku tidak mau membicarakannya di sini," tanggap Rika yang wajahnya semakin pucat, ia juga nampak pusing dan hampir pingsan.
"Rika!" seru Zarathos sembari memeluk istrinya dengan erat demi menenangkan pikiran Rika, ia tidak ingin Rika menjadi stres karena hal itu, "Tenangkan dirimu istriku, aku pasti akan melindungimu dari siapapun yang akan menyerangmu," ujar Zarathos yang terus mengeratkan pelukannya pada Rika.
Rika pun mulai tenang dan membalas pelukan erat suaminya dengan pelukan ringan, 'Yang membuatku takut bukanlah kematian, tapi aku takut ternodai oleh lelaki lain di hadapanmu aku tidak mau menjadi istri yang buruk. Satu-satunya alasan kenapa aku terus menjalani hidupku adalah cintamu yang tulus kepadaku. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan kau rasakan saat melihatku diperlakukan seperti budak pemuas nafsu, di depan matamu seperti yang ada di mimpiku,' batin Rika yang terus menangis di pelukan Zarathos dengan tangisan tanpa suara karena tak ingin menarik perhatian orang.
"Tenanglah sayang aku selalu berada di sisimu, tak peduli apapun yang terjadi, aku tak ingin kau mengalami hal buruk," gumam Zarathos sembari mengelus rambut hitam panjang Rika. Rika hanya mengangguk dan berkata lembut.
"Bisakah kita terus seperti ini untuk 30 detik?" tanya Rika di dalam pelukan Zarathos dengan pipi merahnya.
"Tentu saja," jawab Zarathos sembari tersenyum lembut. Tiga puluh detik akhirnya berlalu dengan cepat akhirnya Rika melepaskan pelukannya, dan Zarathos melihat wajah sembab Rika karena terlalu lama mengeluarkan air mata.
"Kau menangis?"
"Diam, aku tidak mau membicarakannya!" seru Rika cemberut, jujur ini pertama kalinya ia merasa malu di depan Zarathos karena menangis.
"Tak apa, wajar jika kau ingin menangis, aku selalu akan berada di sisimu baik susah ataupun senang, kau juga bisa menangis seperti ini untuk melepaskan stresmu, aku malah senang kau mau berbagi kesedihan padaku," ungkap Zarathos sembari mengelus lembut kepala Rika.
Rika hanya diam dengan wajah yang bersemu merah, meski tipis itu tetap terlihat dan Zarathos sedikit senang dengan hal itu, 'Meski tidak pernah mengatakan hal romantis, Rika tetap punya sisi imutnya sendiri,' batin Zarathos.
^^^Bersambung^^^