NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Jenius Di Rahim Ibu Angkat

Reinkarnasi Jenius Di Rahim Ibu Angkat

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Wanita / Anak Genius
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rina ylna

**Alya** adalah gadis yatim piatu yang bekerja keras demi bertahan hidup. Namun, sebuah kesalahan fatal di satu malam—akibat salah memasuki kamar hotel—mengubah takdirnya. Ia terbangun di samping **Devan Dirgantara**, CEO dingin nan kejam dari Dirgantara Group yang sangat membenci skandal.

Alya memilih melarikan diri dan merahasiakan malam itu. Namun takdir berkata lain, beberapa minggu kemudian ia dinyatakan hamil. Di sinilah keajaiban dimulai. Janin di dalam kandungan Alya ternyata bukanlah janin biasa. Sejak usia beberapa minggu, janin tersebut bisa berkomunikasi secara telepatis hanya dengan Alya!

Si "janin ajaib" ini memiliki kecerdasan luar biasa, indra keenam, dan bahkan bisa mendeteksi niat buruk orang-orang di sekitar ibunya.

Saat ibu tiri Alya mencoba meracuninya, si janin memberi peringatan. Saat Devan akhirnya mengetahui kehamilan Alya dan berniat merebut bayinya dengan kontrak dingin, si janin justru mendiktekan syarat-syarat kontrak tandingan yang membuat sang CEO jeni

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina ylna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 14

Kehangatan pelukan Devan semalam menyisakan rasa nyaman yang membekas hingga keesokan paginya. Untuk pertama kalinya sejak Alya tinggal di penthouse mewah ini, ia terbangun tanpa rasa mual yang menyiksa. Sinar matahari pagi yang lembut menerobos celah gorden, menyinari sebagian ranjang *king size* yang kini sudah kosong di sisi sebelahnya.

Alya menyentuh bantal di sampingnya yang masih menyisakan kehangatan samar dan aroma khas tubuh Devan. Tanpa sadar, sudut bibirnya melengkung membentuk senyuman manis.

> *[Selamat pagi, Ibu! Tidur semalam benar-benar sangat berkualitas. Berkat pelukan Ayah, semua sel sarafku berkembang dengan kecepatan luar biasa. Lihatlah, Ibu, pagi ini perutmu sangat tenang, bukan?]*

Suara Baby El yang ceria dan penuh energi langsung menyapa benak Alya, membuatnya terkekeh pelan.

"Pagi, El. Kamu benar, hari ini Ibu merasa sangat segar," batin Alya menjawab seraya mendudukkan diri di tepi ranjang.

Setelah membasuh wajah dan merapikan penampilannya dengan kaos putih bersih serta celana denim kasual yang sangat disukainya, Alya melangkah keluar kamar. Ia mengira Devan sudah berangkat ke kantor, mengingat jam dinding di ruang tamu telah menunjukkan pukul setengah sembilan pagi. Biasanya, sang CEO berdisiplin tinggi itu sudah duduk di ruang rapat Dirgantara Group sejak pukul delapan.

Namun, begitu melintasi koridor menuju area dapur dan ruang makan, langkah kaki Alya mendadak terhenti.

Dari arah dapur, terdengar suara denting pelat besi yang beradu dengan spatula, diikuti oleh aroma harum mentega cair dan bawang putih yang ditumis. Itu bukan aroma masakan Bibi Nunung yang biasanya sangat tradisional dan kental akan rempah nusantara. Ini adalah aroma masakan barat yang sangat khas.

Alya mengintip perlahan dari balik pilar marmer ruang makan. Matanya seketika membelalak lebar, mengira matanya sedang salah melihat akibat sisa kantuk.

Di sana, di balik meja bar dapur yang super modern, berdiri Devan Dirgantara. Pria yang biasanya mengenakan setelan jas formal rancangan desainer Italia seharga ratusan juta rupiah itu, kini hanya mengenakan kaos katun polos hitam dan celemek abu-abu gelap yang melingkar di pinggangnya. Lengan kaosnya digulung hingga memperlihatkan otot lengannya yang kokoh dan urat-urat tangan yang menonjol saat ia dengan cekatan membalikkan *omelette* di atas wajan anti lengket.

"T-Tuan Devan?" panggil Alya ragu-ragu, melangkah mendekat dengan perlahan.

Devan menghentikan gerakannya sejenak, menoleh ke arah Alya. Tidak ada ekspresi terkejut di wajah tampannya, hanya anggukan datar yang biasa ia tunjukkan. "Kamu sudah bangun. Duduklah."

"Anda... Anda memasak?" tanya Alya, masih tidak bisa menyembunyikan rasa takjubnya. Ia duduk di salah satu kursi tinggi di depan meja bar dapur.

"Bibi Nunung sedang pulang ke kampung halamannya untuk menjenguk cucunya yang sakit. Aku memberinya izin libur tiga hari," jawab Devan seraya mematikan kompor. Dengan gerakan yang sangat telaten, ia memindahkan *omelette* gulung yang terlihat sangat sempurna, sosis panggang, dan beberapa potong tomat ceri ke atas piring porselen putih.

Ia menyodorkan piring tersebut ke hadapan Alya, lengkap dengan segelas susu hangat khusus ibu hamil rasa vanila.

"Makanlah. Ini resep khusus rendah lemak dan tanpa bawang bombay. Aku sudah berkonsultasi dengan ahli gizi keluarga pagi ini untuk memastikan hidangan ini tidak akan memicu mualmu," ucap Devan, lalu melepas celemeknya dan duduk di kursi sebelah Alya.

Alya menatap hidangan di depannya dengan perasaan campur aduk. Seorang Devan Dirgantara, kaisar bisnis dingin yang ditakuti oleh ribuan pengusaha di seluruh negeri, sengaja meluangkan waktu paginya untuk memasak sarapan dan mengonsultasikannya dengan ahli gizi demi dirinya?

> *[Wah! Ayah benar-benar luar biasa! Omelette ini terbuat dari telur organik kualitas terbaik yang kaya akan kolin untuk perkembangan otakku. Ibu, cepat makan! Ini adalah bukti nyata bahwa hati batu Ayah sudah mulai meleleh sepenuhnya oleh kehangatan kita.]*

"Terima kasih, Tuan Devan. Ini... terlihat sangat cantik," ujar Alya tulus.

Ia mengambil garpu, memotong sebagian kecil *omelette* yang sangat lembut itu lalu memasukkannya ke dalam mulut. Rasa gurih yang pas, tekstur telur yang lumer di lidah, serta kesegaran mentega langsung menyatu dengan sempurna. Perut Alya sama sekali tidak menolak. Sebaliknya, lambungnya terasa sangat hangat dan nyaman.

"Bagaimana? Apa rasanya aneh?" tanya Devan, matanya menatap Alya dengan lekat. Ada sedikit gurat kecemasan yang sangat tipis di balik tatapan abu-abunya yang biasanya sedingin es.

"Sangat enak!" puji Alya dengan mata berbinar-binar gembira. "Bahkan jauh lebih enak dari masakan restoran bintang lima yang pernah kucoba. Anda sangat pandai memasak."

Mendengar pujian tulus yang mengalir dari bibir ranum Alya, Devan tertegun sesaat. Dada bidangnya mendadak bergemuruh oleh perasaan asing yang sangat menyenangkan. Ia berdeham pelan, memalingkan wajahnya sedikit untuk menyembunyikan semburat merah tipis yang tiba-tiba menghiasi daun telinganya.

"Aku sempat mengambil kursus kuliner privat saat menempuh pendidikan master di London dulu. Hanya untuk bertahan hidup karena aku tidak suka ada orang asing berkeliaran di apartemen pribadiku," sahut Devan dingin, mencoba menjaga wibawanya yang mendadak runtuh hanya karena pujian sarapan pagi.

Alya tersenyum geli melihat sisi lain Devan yang ternyata sangat menggemaskan saat sedang canggung. "Meskipun begitu, ini tetap luar biasa. Saya merasa sangat beruntung."

Sambil menikmati sarapannya, Alya memperhatikan Devan yang kini sedang meminum kopi hitamnya dengan tenang. Keheningan di antara mereka pagi ini tidak lagi terasa canggung atau menekan, melainkan dipenuhi oleh kedamaian domestik yang sangat hangat.

"Tuan Devan," panggil Alya setelah menyelesaikan suapan terakhirnya dan meminum susu hamilnya hingga tandas.

"Hmm?"

"Mengenai cincin ini..." Alya mengangkat tangan kanannya, memperlihatkan cincin giok besar pemberian Tuan Besar Abraham yang melingkar di jari manisnya. "Apakah tidak apa-apa jika saya menyimpannya saja di dalam kotak perhiasan? Ukurannya terlalu besar, saya takut cincin ini tidak sengaja terjatuh saat saya beraktivitas."

Devan menatap cincin tersebut, lalu beralih menatap jemari Alya yang putih bersih dan lentik. "Kakek memberikan itu sebagai simbol bahwa kamu adalah Nyonya Muda Dirgantara yang sah. Jika kamu tidak memakainya, orang-orang di luar sana—termasuk keluarga Alexander—akan berpikir bahwa posisi kita tidak solid."

Devan berdiri dari kursinya, berjalan mendekati Alya. Ia meraih tangan kanan Alya yang mungil ke dalam genggamannya yang besar dan hangat. "Tunggu di sini."

Pria itu melangkah masuk ke dalam ruang kerjanya sejenak, dan kembali dengan membawa sebuah kotak beludru hitam kecil. Ketika membukanya, di dalamnya terdapat sebuah cincin platinum polos dengan berlian solitaire kecil yang sangat indah dan elegan di tengahnya.

"Ini cincin pernikahan kita yang sebenarnya. Aku menyuruh Yudha mengambilnya dari butik perhiasan kemarin," ucap Devan datar.

Ia mengambil cincin platinum tersebut, lalu menyusupkannya ke jari manis kanan Alya. Cincin itu masuk dengan sangat pas, seolah-olah memang diciptakan khusus untuk melingkari jari manis Alya. Setelah itu, Devan mengambil cincin giok besar dari jari Alya dan memasangnya di ibu jari Alya sebagai ganti, namun kemudian ia menggeleng pelan.

"Pakai cincin platinum ini untuk sehari-hari. Cincin giok dari Kakek bisa kita ubah ukurannya nanti di pengrajin resmi keluarga," putus Devan, suaranya terdengar sangat protektif.

Alya menatap cincin berlian yang kini berkilau indah di jari manisnya. Dadanya bergemuruh hebat. Pernikahan kontrak yang awalnya ia kira hanya sebatas dokumen di atas kertas hitam putih, kini perlahan-lahan mulai terasa begitu nyata dan mengikat seluruh jiwanya.

> *[Cincin yang sangat indah, Ibu! Logam platinum itu murni, melambangkan perlindungan yang tak tergoyahkan. Ayah benar-benar tipe pria yang tidak banyak bicara, namun semua tindakannya selalu langsung tepat sasaran. Aku sangat puas dengan perkembangannya!]*

"Terima kasih banyak, Tuan Devan. Ini... sangat indah," bisik Alya, menatap Devan dengan mata yang berbinar penuh kebahagiaan.

Devan tidak melepaskan genggaman tangannya pada jemari Alya. Ibu jarinya perlahan mengusap punggung tangan Alya dengan kelembutan yang membuat bulu kuduk Alya meremang halus karena sensasi hangat yang menyenangkan.

"Mulai hari ini, panggil aku Devan saat kita hanya berdua," ucap Devan tiba-tiba, matanya mengunci pandangan Alya dengan intensitas yang begitu dalam. "Tidak perlu ada batasan formal 'Tuan' lagi di antara kita."

Alya tertegun, jantungnya berdegup sangat kencang hingga ia merasa Devan bisa mendengarnya dari jarak sedekat ini. Dengan wajah yang merona merah padam, ia mengangguk pelan. "Baik... Devan."

Mendengar namanya disebut oleh suara lembut Alya, sebuah senyuman tipis yang sangat menawan akhirnya terukir di bibir Devan. Di bawah sinar matahari pagi yang cerah di Penthouse Lavender, dua hati yang awalnya asing itu kini telah melangkah jauh melintasi batas kontrak mereka, bersiap untuk merajut takdir baru yang jauh lebih indah dari yang pernah mereka bayangkan.

1
beybi T.Halim
keren ceritanya,gak menye menya,gas poll👍
Ariany Sudjana
haha dasar pelacur murahan kamu itu Mita, suami yang kamu banggakan, ternyata kalah jauh dibanding Devan Dirgantara 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
bagus Devan, orang sombong dari masa lalu Alya, memang harus dibungkam
Miu Miu 🍄🐰
seru ceritanya 😍
Ariany Sudjana
hahaha bangkrut keluarga Alexander, kalian salah cari lawan 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
harusnya dua tikus itu dibunuh saja
Ariany Sudjana
Alya gitu lho 😂😂
Ariany Sudjana
hahaha mampus kamu Tiffany 🤣🤣😂😂
Rina ylna
buat kalian yang emang bener² suka sama ceritanya, pliss kasih like, vote dan komen lanjut Thor biar aku makin semangat nulisnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!