NovelToon NovelToon
Kebangkitan Permaisuri Yang Terbuang

Kebangkitan Permaisuri Yang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ryn Bluetherine

Shen Ran adalah definisi dari kesialan. Sebagai Permaisuri dari Kekaisaran Yan, ia memiliki segalanya di atas kertas, namun tidak di dunia nyata. Dikhianati oleh keluarga sendiri, diabaikan oleh Kaisar yang kejam, dan menjadi bahan tertawaan para selir di Istana Belakang. Puncaknya, ia dijebak dan dibiarkan membeku hingga tewas di Istana Dingin yang terpencil.

Namun, takdir memiliki selera humor yang gelap. Saat mata itu terbuka kembali, tubuh rapuh Shen Ran telah diambil alih oleh Clara, seorang pengacara korporat jenius sekaligus ahli strategi perang bisnis dari abad ke-21. Clara tidak tahu apa itu tunduk, dalam kamus hidupnya tidak mengenal kata tunduk dan mengalah.

"Kalian menginginkan boneka yang bisa diinjak? Maaf, kalian salah membangunkan jiwa."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ryn Bluetherine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Delapan

Setelah Lian'er dan Mei'er menyelesaikan tugas mereka dengan sigap, keheningan yang mewah kembali menyelimuti kamar utama Istana Phoenix. Uap hangat dari bak mandi beraroma kelopak mawar perlahan memudar, digantikan oleh wangi teh krisan yang mengepul di atas meja kayu cendana.

Shen Ran duduk di depan meja riasnya, mengenakan jubah tidur sutra putih longgar yang nyaman. Ia membiarkan rambut hitamnya terurai bebas tanpa perhiasan berat yang biasanya menyiksa kepala.

Wusss.

Aliran udara di dalam kamar mendadak berubah. Tirai sutra tipis yang memisahkan ranjang dan meja rias berdesir pelan, seiring dengan munculnya sesosok bayangan hitam tinggi dari balik kegelapan sudut ruangan.

Pangeran Feng Muye melangkah maju. Malam ini, ia tidak mengenakan topeng peraknya. Wajahnya yang tegas dan luar biasa tampan terpahat sempurna di bawah temaram cahaya lilin, namun sepasang matanya tetap memancarkan aura pemberontak yang berbahaya.

"Selamat atas kepulangan agung Anda, Permaisuri Shen," puji Feng Muye, sebuah senyuman tipis dan penuh arti terukir di bibirnya.

Shen Ran berjalan mendekat dan dengan santai menduduki tepi meja rias Shen Ran, menatap wanita itu dari jarak dekat. "Dari Istana Dingin yang bobrok langsung menuju Istana Phoenix dalam waktu kurang dari satu hari. Kau benar-benar tahu cara menembus batas."

Shen Ran bahkan tidak menoleh. Ia hanya melirik pantulan pria itu dari cermin perunggu di hadapannya. "Di dunia tempatku berasal, ini disebut dengan karier, Pangeran. Dan aku tidak punya waktu untuk berjalan lambat."

Shen Ran memutar kursinya, menghadap langsung ke arah Feng Muye. Jarak mereka begitu dekat hingga aroma maskulin bercampur angin malam dari tubuh sang pangeran tercium jelas.

"Bagaimana dengan perbatasan barat? Apakah tikus-tikus klan Chu sudah mulai berhamburan setelah penangkapan di ibu kota?" tanya Shen Ran langsung pada intinya, matanya berkilat penuh kalkulasi

Feng Muye terkekeh rendah, ada nada kekaguman yang jujur dalam suaranya. "Persis seperti analisismu. Begitu kabar penangkapan klan Chu sampai ke perbatasan tadi siang, moral para jenderal mereka langsung runtuh. Logistik mereka lumpuh total karena jalur dana rahasia telah kita potong. Pasukanku akan mengambil alih seluruh wilayah barat dalam waktu tiga minggu tanpa perlu menumpahkan banyak darah."

Pangeran itu memajukan tubuhnya sedikit, menatap lekat-lekat ke dalam sepasang manik mata hitam Shen Ran yang sedingin es. "Kaisar bodoh itu mengira dia telah menenangkanmu dengan mengembalikan mahkota dan istana ini. Dia tidak tahu bahwa kau baru saja memasang jaring yang jauh lebih besar untuk menjerat lehernya."

Shen Ran tersenyum miring, sebuah senyuman yang tampak begitu memikat namun mematikan di wajahnya yang jelita. "Long Tianqi mengira kekaisaran ini adalah papan catur miliknya, dan aku hanyalah sebuah pion yang bisa ia buang dan ambil sesuka hati untuk memuaskan egonya."

bisik Shen Ran, suaranya rendah namun sarat akan otoritas yang mutlak. "Dia tidak sadar... bahwa sejak aku membuka mata di Istana Dingin, akulah yang memegang papan caturnya. Dan dalam permainan ini, aku tidak berniat menyisakan satu pun pion miliknya, termasuk dirinya sendiri."

Feng Muye terpaku sejenak, menatap wanita di hadapannya dengan debaran aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Wanita ini bukan lagi umpan peluru atau figuran tak berdaya dalam novel ini. Dia adalah badai yang akan menyapu bersih Kekaisaran Yan.

"Kalau begitu," Feng Muye mengulurkan tangannya, menyentuh seuntai rambut hitam Shen Ran dengan lembut namun posesif, "katakan padaku, permaisuri yang cantik... apa langkah hukum kekaisaran berikutnya yang akan kita hancurkan?"

Shen Ran tidak menjauhkan diri saat jemari Feng Muye menyentuh rambutnya. Ia justru menatap tangan pria itu dengan pandangan sedatar pengacara yang sedang memeriksa draf kontrak, lalu dengan pelan namun tegas, menepis tangan sang pangeran menggunakan ujung jemarinya.

"Pertama, batasan profesional, Pangeran Feng," ujar Shen Ran dengan nada memperingatkan yang elegan. "Kedua, langkah selanjutnya bukan menghancurkan hukum, melainkan memanfaatkannya sampai memeras habis kekuatan Kaisar."

Shen Ran berdiri, berjalan menuju meja kayu cendana, dan menuangkan secangkir teh krisan yang mulai mendingin. Ia menyesapnya sedikit sebelum kembali berbicara. "Penangkapan klan Chu akan meninggalkan lubang besar di sektor finansial dan militer kekaisaran. Long Tianqi saat ini pasti sedang pusing tujuh keliling mencari cara untuk mengisi kekosongan kas negara yang dikorupsi oleh keluarga Chu. Dan di sinilah kita akan masuk."

Feng Muye menurunkan kakinya dari meja rias, ketertarikannya beralih sepenuhnya pada otak brilian wanita di hadapannya. "Kau ingin menawarkan bantuan dana? Dari mana kau mendapatkan uang sebanyak itu untuk menarik perhatian Kaisar?"

Shen Ran meletakkan cangkir tehnya, lalu tersenyum misterius. "Apakah Anda lupa dengan mahar rahasia mendiang Ibu Suri yang saya ambil dari Istana Dingin? Itu baru sebagian kecil. Bagian terbesarnya adalah... hak pengelolaan tambang garam di wilayah selatan yang secara hukum tertulis atas nama ibu kandung Shen Ran. Selama ini, keluarga Chu menyembunyikan dokumen itu dan mengklaim hasilnya secara ilegal."

Clara mengingat detail ini dari bab pertengahan novel yang pernah ia baca. Penulis aslinya membuat plot ini sebagai harta karun tersembunyi yang nantinya akan ditemukan oleh Selir Agung Chu untuk memperkaya dirinya. Tapi sekarang? Hak itu kembali ke pemilik aslinya.

"Aku akan menyerahkan hak pengelolaan tambang garam itu kembali kepada Kaisar besok pagi sebagai bentuk kesetiaan Permaisuri yang baru kembali," lanjut Shen Ran.

Feng Muye mengernyitkan dahi, tidak setuju. "Kau memberikan aset sebesar itu pada Long Tianqi? Bukankah itu justru memperkuat posisinya?"

"Memperkuat posisinya? Tentu tidak," Shen Ran terkekeh, matanya berkilat licik. "Tambang garam itu berbatasan langsung dengan wilayah kekuasaan pasukan Anda, Pangeran. Saat Kaisar mengirimkan pejabat kepercayaannya untuk mengelola tambang itu, pasukanku di dalam istana akan memanipulasi pembukuan internal mereka, sementara pasukan Anda di luar akan mencegat distribusinya."

Shen Ran memajukan tubuhnya, menatap lurus ke dalam manik mata Feng Muye yang kini melebar menyadari rencana iblis tersebut. "Long Tianqi akan mengira dia mendapatkan sumber emas baru, padahal dia sedang mengirim orang-orang terbaiknya masuk ke dalam perangkap kita. Kita akan menguras habis harta bendanya, membuatnya membayar upah pekerja tambang dengan kas negara yang menipis, sementara hasil garamnya... jatuh ke tangan Anda. Itu yang dinamakan menguras modal lawan menggunakan fasilitas lawan."

Feng Muye terdiam selama beberapa detik, sebelum akhirnya tawa rendah dan puas lolos dari tenggorokannya. Ia menatap Shen Ran dengan tatapan murni penuh kekaguman. Wanita ini benar-benar monster strategi. Jika dia lahir sebagai seorang pria dan memimpin pasukan, seluruh daratan ini pasti sudah bertekuk lutut di bawah kakinya.

"Mengagumkan, Kekaisaran Yan benar-benar salah karena telah membuangmu ke Istana Dingin. Mereka menukar seekor kelinci dengan seekor naga berdarah dingin," bisik Feng Muye, menjatuhkan diri berlutut dengan satu kaki di hadapan Shen Ran secara formal, bukan sebagai tanda tunduk, melainkan sebagai tanda hormat tertinggi antar sesama penguasa.

"Naga atau bukan, aku hanya memastikan investasiku kembali dengan keuntungan berkali-kali lipat. Sekarang, kembalilah Pangeran. Besok pagi, Istana Phoenix akan kedatangan tamu agung pertamanya, sang Kaisar yang sedang putus asa," sahut Shen Ran dingin.

Feng Muye berdiri perlahan, senyum miring masih terpatri di wajah tampannya. Tanpa sepatah kata lagi, ia mundur satu langkah ke dalam kegelapan tirai. Gerakannya begitu halus, seolah-olah ia melebur bersama angin malam. Detik berikutnya, atmosfer kamar kembali normal, menyisakan Shen Ran seorang diri dengan keheningan Istana Phoenix.

Shen Ran berjalan menuju ranjangnya yang luas dan empuk. Ia merebahkan tubuhnya, memejamkan mata, dan tertidur dengan sangat nyenyak. Di dunia modern, tidur yang cukup adalah kunci utama sebelum menghadapi negosiasi besar di ruang sidang. Dan besok, ruang sidangnya adalah aula Istana Phoenix.

1
Emily
keren ceritamu thour
Fajar Fathur rizky
cepat bantai long tianqi
Fajar Fathur rizky
bikin shen ran sendiri yang membunuh long tianqi
Fajar Fathur rizky
tidak sabar long tianqi mati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!