NovelToon NovelToon
Pacar Gamerku Ternyata Bosku

Pacar Gamerku Ternyata Bosku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:591
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​Suara riuh rendah khas jam kosong di kelas 10-MIPA 3 selalu didominasi oleh dua hal: gosip hangat di pojok belakang, atau teriakan frustrasi dari gerombolan siswa di baris tengah. Bagi Naomy, suara yang kedua jauh lebih mengganggu sekaligus memicu rasa penasarannya belakangan ini.

​"Kiri, kiri! Woy, lindungi gue! Ah, telat lo, mati kan gue!"

​"Sabar, cooldown skill gue masih jalan! Mundur dulu, mundur!"

​Naomy menghentikan goresan pulpennya di atas buku catatan Biologi. Ia menoleh ke arah meja milik Tasya dan sisa gengnya. Tiga gadis yang biasanya sibuk membahas drama Korea atau warna lipstik terbaru itu kini tengah menunduk dalam-dalam, menatap layar ponsel masing-masing dengan posisi lanskap. Ibu jari mereka bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal, sementara wajah mereka tampak sangat tegang, seolah-olah masa depan bangsa sedang dipertaruhkan di dalam layar berukuran enam inci tersebut.

​Rasa asing itu mulai merayap di dada Naomy. Fear of Missing Out. FOMO. Istilah yang

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak Yang Terlewat Dan Awal Yang Baru

​Dua minggu telah berlalu bagaikan mimpi buruk yang panjang bagi Raka.

​Pria itu kehilangan fokusnya. Rapat-rapat penting perusahaan ia lalui dengan tatapan kosong, dan kehadiran Valerie di dekatnya kini hanya dianggap sebagai angin lalu yang menjengkelkan. Raka telah mengerahkan orang-orang kepercayaannya untuk melacak daftar penumpang travel malam itu, mengecek stasiun, hingga menyewa penyelidik swasta. Namun, karena Naomy menggunakan travel pelat hitam informal yang dipesan mendadak melalui sepupunya, pencarian Raka menemui jalan buntu.

​Di tengah keputusasaannya, Raka melupakan satu hal penting. Ia terlalu fokus mencari Naomy di luar sana, hingga ia lupa bahwa di dalam kantornya sendiri—tepatnya di divisi kreatif—ada Tasya. Tasya adalah sahabat sekaligus rekan satu meja Naomy yang tahu hampir segala hal tentang gadis itu. Kebodohan Raka yang mengabaikan detail kecil ini membuat Naomy selangkah lebih maju untuk menyembunyikan diri.

​Sementara itu, ratusan kilometer jauhnya dari hiruk-pikuk ibu kota, suasana pagi terasa begitu menyejukkan. Udara bersih khas pedesaan menyapa Naomy saat ia melangkah memasuki gerbang sebuah SMK Swasta.

​Mengenakan pakaian batik yang rapi dengan rambut yang diikat setengah, Naomy tampak sangat anggun dan segar. Hari ini adalah minggu keduanya bekerja sebagai guru seni rupa di sana. Di sini, tidak ada ketakutan akan gosip kantor, tidak ada tekanan dari bayang-bayang seorang CEO, dan yang terpenting: tidak ada Raka.

​Anak-anak murid di kelas menyambutnya dengan hangat. Kepolosan dan antusiasme mereka saat belajar menggambar perlahan-lahan mulai menambal lubang besar di hati Naomy yang sempat hancur.

​Setelah bel istirahat berbunyi, Naomy duduk di ruang guru yang tenang. Ia menyalakan ponsel barunya—yang nomornya hanya diketahui oleh keluarga dekat dan satu orang luar saja.

​Ia membuka aplikasi pesan dan mengetikkan sesuatu untuk Tasya.

​Naomy: Sya, gimana keadaan di kantor? Aman kan? Anak-anak murid aku di sini lucu-lucu banget tahu, mereka antusias banget pas aku ajarin teknik arsir tadi.

​Tidak butuh waktu lama, ponsel Naomy bergetar menerima balasan dari seberang sana.

​Tasya: Nom!!! Akhirnya kamu nge-chat juga! Di sini aman sih, tapi asli deh... Pak Raka kayak mayat hidup jalan tahu gak. Dia nyariin kamu kayak orang kesurupan. Kemarin dia bahkan nanya-nanya ke HRD lagi soal berkas kamu, tapi untung alamat domisili di berkas kamu kan masih alamat kosan lama. Dia belum nanya ke aku sih, kayaknya dia lupa kalau kita sedekat ini. Kamu beneran gak mau kasih tahu dia posisi kamu sekarang?

​Naomy menatap layar ponselnya cukup lama. Sudut hatinya kembali berdenyut perih saat membaca nama Raka. Namun, ia menarik napas dalam-dalam dan mengetikkan balasannya dengan mantap.

​Naomy: Nggak, Sya. Tolong rahasiauin ini rapat-rapat ya, jangan sampai Raka tahu dari kamu. Aku udah tenang di sini. Aku cuma mau fokus ngajar dan menata hidup aku lagi.

​Kepergian Naomy yang mendadak meninggalkan riak gosip yang tak berkesudahan di koridor kantor Andandra Group. Namun, Raka benar-benar menutup telinganya. Ia tidak peduli lagi pada kasak-kusuk karyawan tentang hubungannya dengan Valerie, tidak peduli pada pandangan miring orang-orang, bahkan tidak peduli pada tuntutan Papanya. Fokus hidupnya telah terenggut sepenuhnya bersama koper besar yang dibawa Naomy malam itu.

​Melihat keputusasaan Raka yang begitu nyata hingga membuat sang CEO tampak seperti raga tanpa jiwa, Tasya akhirnya tidak bisa menahan rasa penasarannya lagi. Melalui pesan singkat rahasia tempo hari, Tasya sempat menuntut penjelasan langsung dari Naomy di desa.

​Dari seberang sana, barulah Naomy menceritakan semuanya dengan jujur—tentang status hubungan mereka yang sebenarnya sudah berjalan, tentang janji Raka di dalam game malam itu, hingga bagaimana hancurnya perasaan Naomy saat melihat Raka menggandeng Valerie sebagai calon tunangan keesokan paginya.

​Mendengar kebenaran itu, Tasya akhirnya paham mengapa Raka sampai sefrustrasi ini. Pria itu tidak sedang mempermainkan Naomy; ia sedang terjebak dalam perangkap bisnis keluarganya sendiri dan kehilangan satu-satunya orang yang ia cintai karena keterlambatannya bertindak.

​Siang ini, cuaca cukup terik. Tasya memilih untuk beristirahat sejenak di balkon samping divisinya yang biasanya sepi. Ia duduk di kursi kayu panjang sambil menyesap kopi hangatnya, mencoba menjernihkan pikiran dari tumpukan pekerjaan.

​Tap. Tap.

​Suara langkah sepatu pantofel yang tegas mendekat memecah keheningan balkon. Tasya menoleh dan seketika hampir tersedak kopinya saat melihat sosok tinggi Raka sudah berdiri di sana. Wajah pria itu tampak kuyu, dengan lingkaran hitam samar di bawah matanya yang biasanya tajam.

​"Tasya, bisa kita bicara sebentar?" suara bariton Raka terdengar rendah, namun ada nada memohon yang terselip di sana. Ia melirik sekeliling balkon yang mulai dilewati satu-dua karyawan. "Tolong ikuti saya ke ruangan."

​Tasya terdiam sejenak. Ia meletakkan cup kopinya ke atas meja kayu dengan perlahan. Mengingat janji setianya pada Naomy untuk menjaga rahasia, jantung Tasya mulai berdegup kencang. Namun, melihat sorot mata sang bos yang tampak begitu rapuh, Tasya akhirnya mengangguk pelan.

​"Baik, Pak," jawab Tasya formal.

​Ia berdiri dan berjalan mengekor di belakang Raka, bersiap menghadapi interogasi dari pria yang sedang melacak keberadaan sahabatnya dengan sisa-sisa kewarasannya.

1
dinda.glow
haloo izin mampir ya... saling mampir yuk
bsjelfjbrndsabdvr
nyimak😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!