Sekar, seorang buruh penimbang paku di sebuah toko grosir bahan bangunan. Hidupnya hanya tentang bertahan hidup dari hari ke hari, hingga sebuah malam kelam dia harus terjebak malam kelam bersama atasannya sendiri, Mas Danu.
Danu bukan CEO dengan jet pribadi. Ia hanyalah pria berusia 32 tahun yang ulet, pemilik toko bangunan warisan orang tuanya yang sukses. Ia tampan dan sangat berwibawa .
Saat Sekar mengetahui dirinya hamil, ia memilih bungkam. Ia sadar posisi ia hanya orang kecil, sementara Danu sudah memiliki kekasih bernama Lidya, wanita kota yang cantik, berpendidikan tinggi, dan setara secara sosial.
Namun, rahasia tak bisa selamanya disimpan. Saat Danu tahu, ia memutuskan untuk bertanggung jawab dan menikahi Sekar, dan memutuskan hubungannya dengan Lidya.
Lalu apa Sekar bisa hidup bahagia dengan pernikahannya, sedangkan yang ia tau Danu terpaksa memutuskan hubungannya dengan Lidya, karena harus bertanggung jawab kepdanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji di kontrakan kumuh
"Hmm!!"
Sekar tersentak karena suara itu. Suara yang paling membuatnya ketakutan di rumah milik keluarga Subroto.
"I-ibu" Sudah dua bulan Sekar tinggal di rumah keluarga Subroto, namun rasa takut masih saja ada ketika harus berhadapan dengan Nyonya rumah itu.
"Lebih baik masak daripada ngalamun kaya gitu!" Bu Broto tampak melirik Sekar dengan sinis.
"Baik Bu"
Dari awal Sekara melangkahkan kakinya masuk ke rumah dengan lantai marmer itu, Sekar tidak pernah mendapatkan sambutan hangat dari Ibu mertuanya.
Bu Broto memang menerima pernikahan mereka. Tapi, itu hanya sebatas untuk membersihkan namanya yang sempat tercoreng dengan kejadian di gudang toko bangunan malam itu. Bukan karena dia menerima Sekar dengan ikhlas menjadi menantunya.
Selain itu, Sekar yang hanya buruh penimbang paku, tidak akan mungkin bisa diterima oleh Bu Broto yang kaya raya dan terpandang di kecamatan sekecamatan.
🏵️🏵️🏵️
Hujan tak pernah berhenti di kota kecil itu. Suaranya yang ritmis menghantam atap seng kontrakan Sekar yang bocor di tiga titik. Di dalam ruangan sempit berukuran tiga kali empat meter itu, Sekar duduk meringkuk di atas dipan kayu tipis, memegangi selembar kertas hasil laboratorium dari puskesmas kecamatan. Dua garis merah itu terasa seperti vonis mati, bukan anugerah.
Ia tidak punya siapa-siapa lagi untuk mengadu. Ibunya sudah meninggal lima tahun lalu karena kelelahan dan asma yang tak terobati, sementara ayahnya hanyalah sosok bayangan yang pergi meninggalkan mereka sejak Sekar masih balita untuk mengadu nasib di Malaysia dan tak pernah kembali. Sekar sendirian. Ia hanyalah wanita yang menyambung hidup dengan menjadi tukang cuci baju tetangga di pagi hari dan menjadi buruh penimbang paku serta semen di toko bangunan Sumber Rejeki milik keluarga Danu di sore hari.
Suara ketukan di pintu kayu yang sudah lapuk itu mengejutkannya. Sekar buru-buru menyembunyikan kertas itu di bawah bantal.
"Sekar? Ini aku, Danu"
Jantung Sekar seakan berhenti. Ia membuka pintu dengan tangan gemetar. Di sana berdiri Danu, basah kuyup dengan jaket parasut yang meneteskan air, namun sorot matanya tajam dan penuh determinasi.
"Mas Danu, ke-kenapa ke sini? Malam-malam, hujan..."
"Aku tahu, Sekar. Aku sudah tahu!" Potong Danu. Suaranya rendah tapi berat, menembus deru hujan di belakangnya.
"Kenapa kamu nggak bilang langsung ke aku? Kenapa aku harus dengar dari Bu Bidan kalau ada karyawanku yang datang periksa dengan wajah pucat pasi?"
Sekar menunduk, air matanya jatuh tanpa permisi.
"Ini salah saya, Mas. Saya yang tidak tahu diri malam itu. Mas sedang mabuk karena sedih bertengkar dengan Mbak Lidya, harusnya saya tidak membiarkan Mas..." Sekar tampak berhenti sejenak, seperti sedang meralat kata yang ingin keluar dari bibirnya.
"Saya harusnya berusaha lebih keras lagi untuk mendorong Mas Danu. Saya harusnya bisa lari saat itu. Saya tahu posisi saya, Mas. Saya tidak akan menuntut apa-apa"
Danu melangkah masuk ke dalam kontrakan yang sempit itu tanpa dipersilakan. Ruangan itu pengap, berbau sabun cuci murah dan kemiskinan yang nyata. Pemandangan itu seolah menampar wajah Danu. Pria berusia tiga puluh dua tahun itu menghela napas panjang, lalu duduk di kursi plastik satu-satunya di sana.
"Kita menikah minggu depan!" Ucap Danu datar.
Sekar tersentak. Dia jelas sekali menghindari ikatan yang ingin dibuat oleh Danu, makanya dia berusaha menyembunyikan kehamilannya sampai Danu akhirnya mendengar dari Bu Bidan.
"Nggak bisa, Mas! Mas punya Mbak Lidya. Dia cantik, dia sarjana, dia anak orang terpandang di kota. Kalau Mas nikah sama saya, apa kata orang tua Mas? Apa kata orang pasar? Saya cuma buruh penimbang paku, Mas. Saya tidak selevel dengan Mas Danu"
Danu menatapnya lama. Tatapan itu sulit dibaca tapi jelas ada rasa bersalah, ada kewajiban, tapi tak ada ledakan emosi.
"Ibu sudah tahu. Aku sudah bicara semuanya tadi sore!"
Mendengar itu, tubuh Sekar lemas. Ibu Danu, Bu Subroto, adalah sosok yang disegani di pasar. Wanita itu selalu memakai perhiasan emas yang mencolok dan sangat bangga pada Danu, putra tunggalnya yang sukses mengelola usaha keluarga.
"Pasti pasti Bu Broto marah besar" bisik Sekar.
"Ibu kecewa. Itu wajar" jawab Danu jujur, kejujuran yang justru menyayat hati Sekar.
"Tapi beliau lebih kecewa kalau punya anak laki-laki pengecut yang membiarkan darah dagingnya tumbuh tanpa nama ayah. Ibu setuju, Sekar. Tapi dengan syarat, pernikahan ini dilakukan secara sederhana, hanya di KUA dan syukuran kecil di rumah. Tidak ada pesta"
Sekar menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ia bisa membayangkan betapa hinanya ia di mata keluarga Danu. Sebuah kecelakaan yang harus dibersihkan.
"Mas Danu, kita tidak saling mencintai" Sekar berujar di balik jemarinya.
"Mas hanya kasihan dan merasa bersalah. Mas mengorbankan masa depan Mas bersama Mbak Lidya hanya karena tanggung jawab. Mas akan membenciku seumur hidup jika kita meneruskan ini"
Danu bangkit, melangkah mendekati Sekar hingga aroma hujan dan kayu putih dari tubuhnya tercium jelas. Ia memegang kedua lengan Sekar, memaksanya untuk mendongak.
"Dengarkan aku, Sekar. Aku bukan pria yang suka mengumbar janji manis. Aku memang nggak bisa memberikanmu pesta mewah atau pernyataan cinta yang berapi-api sekarang. Tapi aku janji, selama kamu menjadi istriku, nggak akan ada orang yang boleh menghinamu. Kamu nggak perlu lagi mencuci baju orang lain sampai tanganmu pecah-pecah, kamu juga nggak perlu lagi menimbang paku sampai larut malam. Kamu akan tinggal di rumahku, makan apa yang aku makan, dan anak itu... dia akan punya namaku di akta kelahirannya"
"Tapi Mbak Lidya..."
"Lidya sudah selesai" Potong Danu cepat, ada nada pahit yang terselip di sana.
"Dia tidak bisa menerima ini. Dan itu wajar. Aku yang brengsek di sini, bukan kamu. Jadi, berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Pokoknya Minggu depan kita menikah!"
🏵️🏵️🏵️
Pernikahan itu akhirnya terjadi tepat tujuh hari kemudian. Benar kata Danu, itu sangat sunyi. Tidak ada janur kuning yang melengkung di depan toko Sumber Rejeki. Hanya ada ijab kabul di kantor KUA yang dingin, disaksikan oleh Pak RT dan dua kerabat jauh Danu.
Tidak ada kerabat Sekar sama sekali karena sekarang memang sengaja tidak memberitahu Pakdenya di Desa. Dia tidak mau karena aibnya akan membuat Pakdenya malu. Hanya ada Ibas, teman yang juga bekerja di toko bangunan sebagai saksi untuknya.
Bu Subroto hadir dengan kebaya cokelat tua. Sepanjang acara, wanita itu tidak pernah benar-benar menatap mata Sekar. Saat Sekar mencium tangannya setelah sah menjadi menantu, tangan tua itu terasa kaku dan dingin.
"Sudah jadi garis tanganmu, Sekar" Ucap Bu Subroto lirih, nadanya tidak kasar, tapi penuh dengan nada pasrah yang menyakitkan.
"Jaga anakmu baik-baik. Jangan buat malu Danu lebih dari ini. Dia sudah mengorbankan banyak hal untukmu"
Kalimat itu menjadi hantu bagi Sekar. Mengorbankan banyak hal.
Setelah sah, Danu memboyongnya ke rumah besar di belakang toko. Rumah itu sangat jauh lebih layak dari kontrakannya, tapi bagi Sekar, setiap sudut rumah itu terasa seperti pengingat bahwa ia adalah penyusup.
Malam pertama mereka dilewati tanpa banyak kata. Danu tidur di sisi ranjang yang sama, namun mereka tidak bersentuhan. Danu hanya menyelimuti Sekar sebelum mematikan lampu.
"Tidurlah. Besok hidupmu sudah berbeda" hanya Itu yang Danu katakan saat malam pertama mereka.
Kini, Sekar menatap susu yang sudah telanjur dingin pemberian Danu tadi, Sekar menyadari satu hal. Danu memang menepati janjinya. Ia memberikan perlindungan, ia memberikan kecukupan, ia bahkan memberikan kelembutan yang tak terduga. Namun, di balik semua kebaikan itu, Sekar merasa Danu sedang membangun benteng tinggi.
Pria itu memperlakukannya seperti porselen retak yang harus dijaga agar tidak semakin hancur, bukan seperti wanita yang ia cintai. Dan fakta bahwa Danu memutuskan hubungan dengan Lidya, wanita yang begitu sempurna, hanya demi dirinya, membuat Sekar merasa berutang nyawa seumur hidup.
Ia sering bertanya-tanya dalam diam, jika malam itu tidak pernah terjadi, apakah Mas Danu akan pernah melirik wanita seperti dirinya? Jawabannya selalu sama dan selalu menyakitkan, TIDAK.
Sekar menghabiskan susunya, sebelum Bu Broto menegurnya lagi. Ia harus mulai terbiasa dengan rasa pahit di balik manisnya perlakuan Danu. Di kota kecil ini, rahasia mungkin bisa disimpan di bawah atap, tapi rasa rendah diri Sekar sudah mengakar lebih dalam dari fondasi rumah manapun yang pernah dibangun Danu.