"Aku butuh seorang istri. Hanya selama satu tahun."
Nadira Pramesti tak pernah membayangkan akan menerima tawaran seaneh itu. Namun, demi menyelamatkan toko buku peninggalan ayahnya, ia menyetujui pernikahan kontrak dengan Arga Wijaya, pewaris Wijaya Group yang harus menikah untuk memenuhi syarat dalam surat wasiat keluarganya. Mereka sepakat untuk tidak saling mencintai dan berencana berpisah setelah kontrak berakhir.
Ketika sebuah buku catatan peninggalan ayah Nadira justru membuka jalan menuju rahasia lama yang selama dua puluh lima tahun disembunyikan keluarga Wijaya. Di tengah ancaman, kebohongan, dan seseorang yang rela melakukan apa saja demi menutup kebenaran, Arga dan Nadira mulai mempertanyakan satu hal: apakah hati mereka masih sanggup berpegang pada isi kontrak ketika cinta datang lebih dulu?
Karena terkadang, yang paling sulit bukanlah menikah dengan orang asing, melainkan berpisah dengan seseorang yang telah menjadi rumah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosealyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. Malam Yang Tidak Tenang
Nadira bangun lebih awal dari biasanya. Meski sempat mencoba mengalihkan pikirannya, bayangan buku catatan peninggalan ayahnya terus memenuhi kepalanya. Tulisan tentang Proyek Aurora dan beberapa halaman yang hilang membuat rasa penasarannya justru semakin besar.
Saat hendak berangkat, Nadira membuka kembali map usang berisi dokumen-dokumen milik ayahnya. Pandangannya beralih ke arah kamar, lalu ke lorong rumah yang mulai ramai oleh para asisten rumah tangga yang sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Entah mengapa, ia merasa kurang tenang jika menyimpan dokumen itu di rumah.
Rumah sebesar ini memang aman. Namun, terlalu banyak orang yang bisa keluar masuk tanpa ia sadari.
"Aku bawa saja ke toko," gumamnya pelan.
Dengan hati-hati, ia memasukkan buku catatan, beberapa lembar dokumen, dan map tua itu ke dalam tas kerjanya. Setelah memastikan semuanya lengkap, barulah ia turun ke lantai bawah.
Toko Buku Senja masih sepi ketika Nadira tiba. Seperti biasa, aroma buku-buku lama langsung menyambutnya. Suasana tenang itu sedikit membuat pikirannya lebih rileks.
Ia membuka laci meja kasir yang bisa dikunci, lalu menyimpan map tersebut di dalamnya.
Tak lama kemudian Maya datang sambil membawa segelas kopi. "Pagi, Mbak."
"Pagi."
Maya memperhatikan Nadira yang buru-buru mengunci laci. "Rahasia banget, sih? Isinya apa?"
Nadira spontan menoleh, lalu tersenyum kecil. "Dokumen toko."
"Oh... kirain nyimpen emas."
Nadira hanya tertawa pelan. Ia memilih tidak menceritakan apa pun. Bahkan ia sendiri belum benar-benar mengerti apa yang sedang dipegangnya.
Hari itu berlalu seperti biasa. Beberapa pelanggan datang silih berganti. Nadira beberapa kali hampir membuka kembali map tersebut, tetapi selalu mengurungkan niat karena toko sedang ramai.
Menjelang malam, Maya mulai merapikan rak buku sebelum pamit pulang.
"Aku duluan ya, Mbak."
"Iya. Hati-hati."
Setelah Maya pergi, Nadira memeriksa seluruh toko seorang diri. Lampu-lampu yang tidak digunakan dimatikan, jendela dipastikan tertutup rapat, alarm diaktifkan, lalu rolling door diturunkan perlahan.
Sebelum benar-benar pulang, ia kembali membuka laci kasir. Map itu masih ada. Entah kenapa, ia berubah pikiran. Lebih baik dibawa pulang saja.
Nadira memasukkan kembali seluruh dokumen ke dalam tasnya, lalu mengunci toko seperti biasa sebelum pulang.
Ia sama sekali tidak tahu bahwa keputusan kecil itu akan menyelamatkan satu-satunya petunjuk yang dimiliki ayahnya.
Di tengah malam, kawasan tempat Toko Buku Senja berdiri mulai lengang. Lampu-lampu pertokoan telah padam satu per satu. Hanya cahaya temaram lampu jalan yang menerangi trotoar, sementara sesekali terdengar suara kendaraan melintas dari jalan utama.
Beberapa menit setelah keadaan benar-benar sepi, sebuah sedan hitam berhenti di gang sempit di belakang toko. Lampunya dimatikan. Seorang pria berpakaian serba hitam turun perlahan. Topi dan masker menutupi hampir seluruh wajahnya, menyisakan sepasang mata yang terus mengawasi keadaan sekitar.
Ia memastikan tidak ada orang yang memperhatikannya sebelum melangkah menuju jendela gudang di sisi belakang bangunan.
Dari saku jaketnya, pria itu mengeluarkan sebuah alat kecil berbahan logam. Dengan gerakan yang sudah sangat terlatih, ia menyelipkan alat itu ke sela-sela pengunci jendela.
Klik.
Suara pengunci yang terlepas hampir tak terdengar.
Jendela berhasil terbuka tanpa perlu memecahkan kaca.
Pria itu masuk dengan lincah, mendarat pelan di lantai gudang yang dipenuhi kardus-kardus lama. Ia menyalakan senter kecil yang hanya memancarkan cahaya redup agar tidak menarik perhatian dari luar.
Tatapannya menyapu seluruh ruangan.
Tanpa membuang waktu, ia mulai membuka satu per satu kardus yang tersusun di rak kayu. Buku-buku lama dikeluarkan begitu saja. Beberapa map dibuka sekilas sebelum dilempar kembali ke lantai.
Ia berpindah ke rak berikutnya.
Lalu ke lemari arsip.
Semua diperiksa dengan cepat, tetapi teliti.
Napasnya mulai terdengar sedikit berat ketika benda yang dicarinya belum juga ditemukan.
Pria itu kemudian berjalan menuju area kasir. Dengan obeng pipih, ia mencongkel laci yang terkunci. Isi laci diacak tanpa ragu.
Uang tunai masih tersimpan di dalamnya.
Laptop kasir tetap berada di tempat.
Bahkan beberapa barang elektronik yang nilainya cukup mahal sama sekali tidak disentuh.
Seolah-olah semua itu memang bukan tujuannya.
Ia hanya mencari sesuatu.
Sesuatu yang berbentuk dokumen.
Setelah memastikan seluruh laci kosong, pria itu kembali membuka beberapa map yang tersimpan di bawah meja. Wajahnya mulai menunjukkan kekesalan.
"Tidak ada..."
Gumamannya nyaris tak terdengar.
Ia kembali ke gudang, membongkar beberapa kardus terakhir dengan gerakan yang kini lebih kasar. Tumpukan buku berjatuhan memenuhi lantai. Debu beterbangan di udara, tetapi benda yang dicarinya tetap tidak ditemukan.
Untuk beberapa detik, ia berdiri diam sambil mengepalkan tangan.
Kemudian ia mengeluarkan ponsel dari saku.
"Lapor."
Suara dari seberang terdengar pelan, tidak jelas.
Pria itu menjawab singkat.
"Dokumennya sudah tidak ada."
Hening sejenak.
"Baik. Saya mengerti."
Sambungan telepon langsung terputus.
Tanpa meninggalkan jejak lebih banyak, pria itu mematikan senter, keluar melalui jendela yang sama, lalu menghilang ke dalam sedan hitam yang sejak tadi menunggu dalam gelap.
Tak lama kemudian, mobil itu melaju perlahan meninggalkan kawasan Toko Buku Senja.
Di dalam toko yang kini berantakan, tak ada seorang pun yang menyadari bahwa malam itu bukan telah terjadi pencurian.
Melainkan sebuah pencarian.
Keesokan paginya, ponsel Nadira berdering ketika ia baru saja selesai sarapan. Nomor yang tidak dikenal.
"Halo?"
"Selamat pagi. Apa benar ini Ibu Nadira Pramesti, pemilik Toko Buku Senja?"
"Iya, benar."
"Saya dari Polsek. Kami menerima laporan dari warga sekitar bahwa toko Ibu diduga dibobol tadi malam. Mohon segera datang ke lokasi."
Wajah Nadira langsung pucat. "Apa?"
Arga yang sedang mengenakan jas langsung menoleh. "Kenapa?"
Nadira menurunkan ponselnya perlahan. "Toko... katanya dibobol."
Tanpa banyak bicara, Arga langsung mengambil kunci mobil. "Ayo. Kita berangkat."
Sesampainya di sana, beberapa petugas polisi sudah berada di depan toko. Rolling door terbuka, sementara bagian dalam toko terlihat berantakan.
Rak buku bergeser dari tempatnya. Kardus-kardus di gudang berserakan. Laci kasir terbuka lebar.
Seorang petugas menghampiri mereka. "Pelakunya sepertinya masuk lewat belakang. Tapi aneh, Bu. Uang kas tidak diambil. Laptop juga masih ada."
Nadira langsung terdiam. Refleks ia memegang tas yang sejak tadi dibawanya. Jantungnya berdegup lebih cepat.
Dengan tangan sedikit gemetar, ia membuka resleting tas.
Map tua itu masih ada. Buku catatan ayahnya juga masih tersimpan rapi. Napas Nadira langsung terembus lega.
"Syukurlah..."
Arga memperhatikan perubahan ekspresi istrinya. "Kamu lega karena apa?"
Nadira menatap map di tangannya beberapa detik sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang.
"Aku belum sempat cerita."
Arga menunggu. "Ayahku... ternyata dulu pernah bekerja di Wijaya Group."
Kalimat itu membuat Arga mengernyit. Nadira mengeluarkan surat pengangkatan kerja yang ditemukannya sehari sebelumnya.
"Dulu aku cuma tahu Ayah kerja sebagai auditor di salah satu kantor cabang. Beliau nggak pernah cerita kalau perusahaan itu ternyata Wijaya Group."
Ia tersenyum tipis, tetapi senyumnya terasa pahit.
"Lucu ya... baru sekarang aku sadar. Aku malah menikah dengan pewaris perusahaan tempat Ayah pernah menghabiskan sebagian besar hidupnya."
Arga menerima dokumen itu dan membacanya dengan saksama.
"Beliau memang ditempatkan di kantor cabang," lanjut Nadira pelan. "Tapi dari catatan yang kutemukan, ternyata Ayah juga menangani data audit yang dikirim ke kantor pusat. Ada banyak laporan proyek besar ... termasuk Proyek Aurora."
Arga kembali teringat sedan hitam yang mengikuti mobil mereka beberapa hari lalu. Lalu toko yang dibobol semalam. Dan kini, dokumen peninggalan Hendra Pramesti.
Semua kejadian itu terasa saling berhubungan. Ia menatap Nadira cukup lama, lalu berkata pelan,
"Nad, sepertinya kita harus mulai lebih berhati-hati."
"Kenapa?"
Arga mengembuskan napas pelan. "Karena sekarang aku yakin... orang yang membobol toko itu bukan sedang mencari uang." Tatapannya jatuh pada map tua di tangan Nadira.
"Mereka sedang mencari peninggalan ayahmu."