NovelToon NovelToon
Rahasia Dibalik Menikahi Musuh Kakakku

Rahasia Dibalik Menikahi Musuh Kakakku

Status: tamat
Genre:CEO / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nourayl

"Kalau bukan karena Ayah, aku tidak akan pernah menikah dengan pria sepertimu."

Ayla Pradana terpaksa menerima perjodohan demi menyelamatkan perusahaan keluarganya yang hampir bangkrut. Masalahnya, pria yang harus ia nikahi adalah Arsen Wijaya—musuh bebuyutan kakaknya, Gavin.

Selama bertahun-tahun, Gavin selalu mengatakan bahwa Arsen adalah pria licik yang menghancurkan hidupnya. Ayla pun membencinya tanpa pernah mengenalnya lebih dalam.

Namun, setelah menikah, Ayla justru menemukan sisi Arsen yang sama sekali berbeda. Di balik sikap dingin dan tatapannya yang tajam, ada rahasia besar yang sengaja disembunyikan dari keluarganya.

Semakin dekat dengannya, semakin Ayla sadar...

Mungkin selama ini orang yang ia percaya bukanlah pihak yang benar.

Dan ketika kebenaran terungkap, ia harus memilih:
keluarganya... atau pria yang kini menjadi suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nourayl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Masih berlanjut | Kebenaran Yang Berdarah

Angin malam berembus kencang, menggoyangkan ranting-ranting pohon di taman yang mulai sepi.

Ayla berdiri mematung.

Kotak kayu berisi kalung bulan sabit masih berada di tangannya, sementara secarik kertas yang baru saja dibacanya perlahan terjatuh ke tanah.

"...temui kakakmu sebelum semuanya terlambat."

Belum sempat ia mencerna arti kalimat itu...

Dua pria bertopeng telah melangkah semakin dekat.

Langkah mereka tenang.

Tidak terburu-buru.

Seolah mereka tahu Ayla tidak memiliki jalan untuk melarikan diri.

"Nona Ayla."

Suara salah satu pria terdengar datar.

"Ikutlah bersama kami."

Ayla mundur satu langkah.

"Siapa kalian?"

Tak ada jawaban.

Mereka terus mendekat.

Jantung Ayla berdetak semakin cepat. Matanya mencari jalan keluar, tetapi taman itu sudah nyaris kosong. Hanya suara dedaunan yang saling bergesekan diterpa angin.

"Aku tidak akan ikut."

Salah satu pria menghela napas.

"Maaf."

"Kalau begitu kami terpaksa menggunakan cara lain."

Baru saja pria itu hendak meraih pergelangan tangan Ayla—

Ciiiittttt!

Suara decitan ban memecah kesunyian.

Sebuah sedan hitam berhenti tepat di depan taman.

Pintu mobil terbuka bahkan sebelum kendaraan itu berhenti sempurna.

Arsen turun dengan langkah cepat.

Tatapannya tajam.

Wajahnya yang biasanya tenang kini dipenuhi kemarahan yang selama ini selalu ia sembunyikan.

"Lepaskan dia."

Nada suaranya rendah.

Namun mampu membuat kedua pria itu menghentikan langkah.

Salah seorang dari mereka tertawa kecil.

"Akhirnya Anda datang juga, Tuan Arsen."

Arsen berdiri tepat di depan Ayla.

Tanpa menoleh sedikit pun, ia berkata pelan,

"Masuk ke belakangku."

Ayla ingin membantah.

Namun melihat bahu Arsen yang menegang, ia memilih menurut.

Untuk pertama kalinya...

Ia benar-benar merasa aman berada di belakang pria itu.

__________________________________________

"Tuan meminta kami membawa Nona Ayla."

"Kalau kami pulang tanpa dia..."

"...kami akan mendapat masalah."

Arsen tersenyum tipis.

Namun senyum itu sama sekali tidak mengandung kehangatan.

"Itu bukan urusanku."

Keheningan sesaat menyelimuti taman.

Lalu...

Pria bertopeng yang lebih tinggi mengeluarkan tongkat besi dari balik jaketnya.

"Kalau begitu..."

"...jangan salahkan kami."

Brak!

Tongkat itu diayunkan ke arah Arsen.

Namun dengan sigap Arsen menghindar.

Pukulan pertama meleset.

Pukulan kedua berhasil ia tangkis dengan lengan kirinya.

Rasa nyeri menjalar hingga ke bahu.

Tetapi Arsen tidak bergeming.

Selama bertahun-tahun memimpin Mahendra Group, ia memang jarang terlibat perkelahian.

Namun bukan berarti ia tidak mampu membela diri.

Satu pukulan keras mendarat tepat di wajah lawannya.

Pria itu terhuyung beberapa langkah.

"Pak Arsen!"

Ayla berteriak panik.

Belum sempat Arsen berbalik...

Pria kedua sudah menyerangnya dari belakang.

"Awas!"

Refleks.

Arsen langsung memutar tubuhnya dan mendorong Ayla menjauh.

Tongkat besi itu menghantam bahu kanannya.

Buk!

Suara benturan terdengar begitu keras.

Arsen meringis.

Tetapi...

Ia tetap berdiri.

Mata Ayla membelalak.

"Kenapa..."

"Kenapa Bapak melindungi saya?"

Arsen mengusap darah tipis di sudut bibirnya.

Lalu menatap Ayla.

Karena...

Aku sudah gagal melindungimu sekali.

Aku tidak akan mengulanginya lagi.

Kalimat itu hanya bergema di dalam pikirannya.

Yang keluar dari bibirnya justru jauh lebih sederhana.

"Karena kamu istriku."

Empat kata.

Namun cukup membuat Ayla kehilangan seluruh keberaniannya.

Air mata perlahan memenuhi pelupuk matanya.

________________________________________

Tiba-tiba...

Suara sirene polisi terdengar dari kejauhan.

Kedua pria bertopeng saling berpandangan.

"Sial."

"Seseorang membocorkan lokasi."

Mereka segera mundur.

Namun sebelum pergi, salah seorang melemparkan sebuah map cokelat ke arah Arsen.

"Baca itu."

"Kalau masih menganggap keluarga Mahendra tidak bersalah..."

"...berarti kau sama bodohnya seperti ayahmu."

Mereka berlari menuju mobil hitam yang telah menunggu di ujung jalan.

Dalam hitungan detik...

Mobil itu menghilang di balik gelapnya malam.

__________________________________________

Keheningan kembali menyelimuti taman.

Ayla segera menghampiri Arsen.

"Pak..."

"Bahu Bapak berdarah."

"Aku tidak apa-apa."

"Bohong."

Tanpa sadar, Ayla meraih lengan Arsen.

Tangannya gemetar saat melihat darah mulai membasahi kemeja putih pria itu.

Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah...

Ayla benar-benar takut kehilangan Arsen.

Tak lagi karena status mereka sebagai suami istri di atas kertas.

Melainkan...

Karena hatinya mulai mengakui sesuatu yang selama ini ia sangkal.

________________________________________

Beberapa menit kemudian.

Raka tiba bersama tim keamanan.

"Pak!"

"Syukurlah Bapak tidak apa-apa."

Arsen menyerahkan map cokelat yang dilemparkan pria bertopeng tadi.

"Cek isinya."

Raka membuka map tersebut.

Wajahnya langsung berubah.

"Pak..."

"Ini..."

Di dalam map terdapat puluhan dokumen lama.

Laporan kepolisian.

Foto-foto kecelakaan.

Dan...

Satu akta kelahiran.

Atas nama...

Rafael Mahendra.

Ayla mengernyit.

"Rafael?"

Arsen membeku.

Nama itu...

Sudah bertahun-tahun tidak pernah ia dengar.

Raka menelan ludah.

"Pak..."

"Kalau dokumen ini asli..."

"...berarti Tuan Rafael masih hidup."

Dunia Ayla seolah berhenti berputar.

Arsen perlahan mengepalkan tangannya.

Tatapannya kosong.

Karena Rafael...

Bukan sekadar anggota keluarga Mahendra.

Dia adalah kakak kandung Arsen.

Pria yang selama tujuh tahun dinyatakan meninggal setelah tragedi tahun 2019.

Dan di sudut paling bawah map itu...

Terdapat sebuah foto.

Foto seorang pria bertopeng yang sedang berdiri membelakangi kamera.

Namun kali ini...

Sedikit bagian wajahnya terlihat melalui pantulan kaca mobil.

Mata Arsen membelalak.

Bibirnya bergerak pelan.

Tidak mungkin..."

"Kalau ini benar..."

"...berarti selama ini..."

"...Rafael masih hidup."

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!