NovelToon NovelToon
ISTRI PENGGANTI

ISTRI PENGGANTI

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Anak Genius / Penyesalan Suami
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: Binar jingga08

ADELIA YHOSEP yang memiliki wajah yang sangat mirip dengan kakanya ADELIN YHOSEP yang seorang model papan atas. Wajah mereka bak pinang dibelah dua tapi nasip mereka berdua sangatlah jauh berbeda bagaikan langit dan bumi, Adelia selalu jadi nomor dua. Semua orang hanya memuji kakaknya, Adelin—padahal Adelin yang jahat dan sering bikin masalah, tapi Adelia yang harus menanggung salahnya. Saat hari pernikahan Adelin dengan Gyantara—pria paling tampan, kaya, dan terkenal sangat mencintai kakaknya—Adelin malah kabur. Agar keluarga tidak malu, Adelia dipaksa menggantikan posisi kakaknya. Dia harus menikah dengan pria yang hatinya milik orang lain. Bisakah dia menyembunyikan kebenaran selamanya? Dan mungkinkah hati Gyantara yang dingin perlahan berubah pada dirinya? ---

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Binar jingga08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

.

Rama Febrian adalah orang yang paling tahu seluk-beluk kehidupan Gyantara, sekaligus orang yang paling teliti memperhatikan setiap detail kecil yang sering luput dari pandangan orang lain. Ia sudah bekerja bersama Gyantara selama tujuh tahun, dan mengenal Adelin bahkan sejak gadis itu masih sering datang ke kantor bersama orang tuanya. Ia tahu betul bagaimana cara Adelin berjalan, cara ia tersenyum, cara ia memanggil nama majikannya, hingga hal-hal paling sepele seperti cara ia membalikkan halaman buku atau cara ia menyesap teh.

Sejak hari pernikahan, kecurigaan itu sudah tertanam di benaknya. Namun ia sengaja menunggu, mengamati dari jarak aman, mengumpulkan potongan-potongan bukti kecil tanpa terburu-buru menuduh atau bertanya langsung. Ia tahu Gyantara sangat mencintai Adelin, dan ia takut jika salah bicara justru akan menyakiti hati tuannya.

Pagi itu, Rama datang ke kediaman pribadi Gyantara untuk membawa berkas pekerjaan yang harus ditandatangani. Ia berjalan tenang menuju ruang tengah, dan dari kejauhan ia melihat sosok Adelin sedang duduk di kursi teras belakang, ditemani secangkir teh hangat dan sebuah buku tebal di pangkuannya.

Langkah Rama terhenti sejenak. Cahaya matahari pagi menyinari wajah gadis itu, membuatnya tampak begitu tenang dan damai—sikap yang belum pernah ia lihat sebelumnya pada Adelin. Adelin yang ia kenal tak pernah bisa diam lebih dari sepuluh menit. Ia selalu sibuk memainkan ponsel, memanggil pelayan, atau mengeluh bosan jika harus duduk diam membaca buku.

Dengan langkah pelan, Rama mendekat. "Selamat pagi, Nona. Maaf mengganggu waktu istirahat Anda."

Adelia menoleh kaget, lalu segera menutup buku dengan rapi dan berdiri sopan. "Selamat pagi, Mas Rama. Tidak apa-apa, silakan duduk."

Rama mengangguk, lalu duduk di kursi seberang sambil meletakkan map berkas di meja. Matanya tak lepas dari wajah gadis itu, memperhatikan setiap gerak-geriknya dengan seksama.

"Nona sedang membaca buku apa?" tanyanya santai. "Bukankah Nona pernah bilang kalau membaca buku tebal itu membosankan dan menyakitkan mata?"

Pipi Adelia perlahan memerah. Ia menatap sampul buku di pangkuannya sejenak, lalu tersenyum tipis. "Aku... aku hanya ingin mencoba hal baru saja. Buku ini ceritanya bagus kok."

"Begitu ya," jawab Rama lembut, tapi matanya menyiratkan pertanyaan yang lebih dalam. "Dan teh yang Nona minum hari ini... itu teh melati hangat tanpa gula. Padahal biasanya Nona hanya minum minuman manis, bahkan sering meminta tambah gula dua kali lipat."

Adelia tertegun sejenak. Ia tidak menyangka hal sekecil itu pun diperhatikan. "Aku sedang menjaga kesehatan saja," jawabnya pelan.

Rama tersenyum tipis. Senyum yang tidak menuduh, tapi membuat Adelia merasa seolah-olah semua kebohongannya sudah terbaca jelas di matanya. "Nona benar-benar berubah banyak. Perubahannya sangat... terasa."

Saat itu Gyantara keluar dari dalam rumah, berjalan mendekati mereka dengan senyum hangat. "Sudah lama menunggu, Rama? Maaf tadi aku sedang menelepon klien."

"Tidak apa-apa, Tuan," jawab Rama sambil berdiri. "Saya baru saja berbincang sebentar dengan Nona. Saya hanya merasa Nona terlihat lebih segar dan tenang akhir-akhir ini. Sangat berbeda dari biasanya."

Gyantara menatap Adelia, lalu tersenyum sambil merangkul bahu gadis itu erat. "Aku juga merasakannya. Kadang aku bingung, tapi entah mengapa aku merasa lebih nyaman bersamanya sekarang. Rasanya seperti aku mengenal sisi lain dari dirinya yang dulu tersembunyi."

Kata-kata Gyantara begitu tulus dan manis, membuat hati Adelia terasa perih sekaligus hangat. Ia berharap benar-benar bisa menjadi wanita yang ia dambakan, berharap ia tidak harus selalu berbohong di setiap kata yang terucap.

Setelah Gyantara masuk ke ruang kerja untuk menandatangani berkas, tersisalah Adelia dan Rama berdua di teras. Udara pagi terasa sejuk, tapi keheningan di antara mereka terasa penuh makna.

Rama menatap lurus ke arah taman bunga yang tertata rapi, lalu berbicara dengan suara rendah yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua. "Saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, Nona. Dan saya tidak berniat mempermalukan Nona di depan Tuan Gyantara."

Adelia menahan napas, tangannya mencengkeram ujung gaun erat.

"Tapi saya sudah mengenal Adelin bertahun-tahun," lanjut Rama perlahan. "Adelin tidak pernah tersenyum selembut ini pada pelayan. Adelin tidak pernah meminta maaf jika tidak sengaja menyenggol orang lain. Adelin tidak pernah menatap dunia dengan mata yang penuh rasa ingin tahu sekaligus ketakutan seperti yang Nona lakukan sekarang."

Adelia menunduk dalam, air matanya hampir menetes. Ia ingin mengaku, tapi lidahnya terasa terkunci rapat.

"Saya tidak akan memaksa Nona berbicara sekarang," kata Rama lagi dengan nada yang jauh lebih lembut. "Saya hanya ingin Nona tahu... kalau suatu saat Nona butuh seseorang untuk mendengarkan, atau butuh bantuan untuk hal apa pun, saya ada di sini. Saya tidak akan menghakimi Nona."

Kalimat itu bukanlah ancaman, melainkan tawaran perlindungan yang tulus. Ada kebaikan di mata Rama, kebaikan yang membuat beban di pundak Adelia terasa sedikit lebih ringan. Ia mengangguk pelan, berusaha menahan isak tangisnya. "Terima kasih, Mas Rama."

Sore harinya, Gyantara mengajak Adelia berjalan-jalan di taman kota. Ia membelikan es krim kesukaan Adelin—rasa cokelat kacang yang dulu selalu gadis itu minta. Namun saat Adelia menerimanya, ia hanya memakan sedikit saja, lalu menatapnya ragu.

"Kamu tidak suka?" tanya Gyantara cemas. "Bukankah ini rasa favoritmu?"

"Suka kok," jawab Adelia cepat, lalu tersenyum malu. "Hanya saja... aku lebih suka rasa stroberi."

Gyantara tertawa kecil. Tawanya terdengar begitu tulus dan menenangkan. "Stroberi ya? Baiklah, mulai sekarang aku akan ingat. Kalau kamu yang kamu suka."

Ia kemudian memegang tangan Adelia erat, menggenggamnya dengan lembut. "Kamu tahu? Walaupun banyak hal yang berubah darimu akhir-akhir ini, entah kenapa aku justru merasa semakin dekat denganmu. Rasanya seperti aku baru benar-benar mengenalmu hari ini."

Perasaan itu membuat Adelia bingung. Di satu sisi ia takut ketahuan, di sisi lain ia begitu terharu karena Gyantara menerima apa pun yang tampak dari dirinya. Kebohongan ini terasa semakin manis, namun semakin menyakitkan untuk dipertahankan.

Malam harinya, Rama kembali ke kediaman setelah menyelesaikan urusan lain. Ia melihat lampu kamar Gyantara masih menyala, dan melihat bayangan mereka berdua yang saling berdekatan di balik tirai. Ia tersenyum tipis. Kecurigaannya sudah menjadi kepastian—wanita yang ada di sana bukanlah Adelin yang ia kenal. Namun melihat betapa bahagianya Gyantara, melihat betapa lembutnya gadis itu, ia memutuskan untuk diam dulu.

Ia akan menunggu waktu yang tepat. Ia akan melindungi mereka berdua dari jauh, membiarkan kebenaran terungkap dengan cara yang tidak menyakiti hati siapa pun lebih dari yang seharusnya. Karena di balik segala rahasia dan kebohongan itu, Rama melihat sesuatu yang berharga: sebuah perasaan tulus yang mulai tumbuh di antara dua orang yang seharusnya mungkin tidak saling mengenal.

Dan di dalam kamar, saat Gyantara memeluknya dari belakang dan membisikkan betapa beruntungnya ia memiliki istrinya, Adelia berjanji dalam hati. Ia akan berusaha menjadi istri yang baik selama ia masih diizinkan berada di sini. Ia akan menyimpan rasa ini sekuat tenaga, meski ia tahu suatu saat nanti ia harus membayar harga yang sangat mahal untuk momen-momen manis ini.

1
Tere Rere
watak Adelin menurun dari kedua orang tuanya yg otaknya cuman separuh 😡
Tere Rere
bersyukur masih ada Tama dan Julian di saat Adelia terpuruk🥹
Tere Rere
GYANTARA bangke😡
Tere Rere
Adelin jahat banget😡😭
Tere Rere
Adelin sialan😡
Tere Rere
ao ao😍🤭
Binar Jingga
Huhuhu 🥹
Tere Rere
yg pengen nangis cuslah baca ISTRI PENGGANTI karya Binar jingga. nyesek banget jadi Adelia🥹
Binar Jingga: Wah terimakasih kak atas supportnya🥹🤗
total 1 replies
Tere Rere
Adelia🥹
Hasbia n Hasbia nn
pusing bcanya😮‍💨
Binar Jingga: Pusing kenapa kak?🙏🏻
total 1 replies
Tere Rere
ada orang tua yang sangat jahat seperti si Belinda dan YHOSEP ini/Sleep/
Binar Jingga: Huhuhu jahat yah…. Semoga ini terjadi cuman d dalam novel saajaa
total 1 replies
tia
jangan banyak omong suami durhaka 😁
Binar Jingga: Mohon bersabar😂🤣🤣🤣
total 1 replies
tia
jgn mao kembali dulu Adelia ,,,biarkan di hukum penyelan 😁
tia
kapok suami durhaka 😁
tia
keluar gila banget
tia: siap thor
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!