Violet adalah gadis desa yang diusir oleh pacar setelah melahirkan bayinya, dia yang Luntang lantung dijalan tepaksa menjadi ibu susu seorang CEO tampan yang mendapatkan kutukan. Ternyata CEO itu adalah paman dari mantan pacar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7.
Anita yang seperti memiliki telepati, dia malah bisa menjawab pertanyaan yang sebelumnya dikatakan Marina dalam hatinya.
'Tentu saja aku tahu! Karena diruangan ini ada kamera CCTV yang terpasang dan semuanya sudah terhubung ke ponselku atas perintah Tuan Romeo.'
Tapi Anita memang murni ingin membantu Violet, walau tanpa bantuan Romeo pun.
Sebenarnya Anita sudah punya niatan untuk mengadopsi Violet karena sayang akan kepintaran kalau sampai berhenti sekolah.
Dia tahu semua orang disekolah ini dari awal sangat membenci Violet karena kepintarannya.
Dia memang berniat melindungi gadis itu.
"Kenapa malah diam? Aku itu tanya sama kamu?" Ucapan Anita langsung membubarkan lamunan Marina.
'Ini gara-gara Violet yang tebar pesona sama Kak Felix, gak ... Aku gak boleh biarkan! Aku harus membalasnya.'
Kedua tangan Marina nampak terkepal, bahkan wajahnya semakin suram saya mengingat dari awal Violet sengaja menampakkan dirinya didepan Felix.
'Bahkan hanya tamparan saja, dia pingsan.'
Marina merasa Violet sungguh memuakkan, hanya karena ditampar saja langsung pingsan.
Anita yang merasa gadis yang didepannya tidak menghormatinya, lantas dia pun menjewer telinga Marina.
"Kamu .... " Wajah Anita sekarang ini terlihat merah padam.
"Aduh Bu Anita, tolong ini sakit!" Marina kesakitan, dia berusaha untuk menjauhkan tangan Anita yang sekarang ini sedang menarik telinganya.
"Suruh siapa dari tadi kamu itu melamun!"
"Sama sekali gak dengerin apa yang ibu katakan!"
Karena kesakitan, air mata Marina pun luruh.
Anita yang tidak tega lantas melepaskan Marina.
Dia pun berjalan lebih dulu, tanpa menoleh lalu berkata, "apa yang tadi kamu lakukan pada Violet itu sungguh hal yang tidak pantas. Jadi aku akan memberikan hukuman yang pantas untukmu."
"Apa? Hukuman?" Beo Marina.
Akhirnya dia teringat, "gak ... Gak Bu Anita sama sekali gak bisa menghukum saya. Kalau saya dihukum Bu Anita juga sekalian dihukum karena menjewer telinga saya."
Anita menghentikan langkah kakinya.
"Aku menjewer telingamu, karena aku bicara kamu, tapi kamu sama sekali gak mendengarkan. Ditambah aku juga sudah berbicara dengan nada tinggi kamu juga masih gak dengar!"
"Oh, aku baru tahu keunggulanmu."
"Selain menjadi murid terbodoh di SMA Taruna, ternyata kamu pintar sekali membantah, oke aku akan menambah score mu."
Anita yang sudah malas menanggapi muridnya yang banyak bicara, dia pun berjalan lebih dulu tanpa memperdulikan Marina yang marah.
Marina lantas menghentak- hentakkan kakinya berkali- kali.
"Awas Bu Anita, aku akan mengadukan hal ini pada orang tuaku dan juga Om Samuel," teriak Marina seperti orang gila.
Tapi, Anita tidak menanggapi Marina.
Walaupun keluarga Marina disekolah ini memiliki saham, tapi hal itu tidak membuat Anita ketakutan.
Karena Romeo pasti akan membelanya.
Sementara itu, Marina memandang punggung Anita yang menjauh penuh kebencian.
Mengingat ketidakadilan yang dilakukan Anita padanya.
Dulu saat dia dekat dengan Violet, Violet juga pernah melakukan kesalahan.
Tapi Anita selalu memafkan Violet, tapi sekarang posisinya sungguh berbanding terbalik.
"Violet, aku akan membuat perhitungan padamu!"
Marina yang sangat membenci Violet menyalahkan semua masalah yang terjadi saat ini pada gadis itu.
..…..
Didalam UKS.
Netra Felix terus menatap ke arah wajah Violet yang sangat cantik, bahkan kulit Violet yang sangat putih bagaikan porselen terpantul dari kaca jendela.
Hal itu sungguh menambahkan kecantikan pada dirinya.
Bahkan membuat Felix tidak bisa berkata-kata, dia juga menelan ludahnya.
"Vio ... Maafkan aku! Kalau gak menikahi Marina, keluargaku gak bakal melepas anak kita," kata Felix seraya menggenggam tangan Violet.
Walaupun Felix playboy dan awalnya pacaran dengan Violet karena ingin memanfaatkan gadis itu atas kepintarannya.
Nyatanya Felix malah benat-benar jatuh cinta sama Violet.
Violet terbaring lemah di ranjang UKS SMA Taruna, tubuhnya pucat dan napasnya lemah.
Dokter yang memeriksanya mengatakan bahwa gadis itu kelaparan dan kadar gula darahnya sangat rendah, membutuhkan asupan makanan dan istirahat yang cukup.
Felix, yang tidak bisa beranjak dari sisi Violet, duduk dengan cemas di kursi di samping tempat tidurnya, memegang tangan Violet dengan lembut.
Yohan, yang baru saja memasuki ruangan dengan membawa baki berisi teh hangat dan beberapa potong kue manis, merasakan rasa kesal yang mendalam.
Matanya menatap Felix dengan tatapan yang penuh kebencian.
Setiap gerak Felix yang penuh perhatian kepada Violet membuat hati Yohan semakin terbakar.
"Kamu itu sudah membuangnya bahkan mengusirnya seperti sampah! Lebih baik enyah dari sini!" Kata Yohan dengan nada pedas.
Felix menoleh dan menatap Yohan dengan tatapan sinis.
"Apa urusanmu!" sahut Felix dengan nada meninggi.
Ucapan Felix langsung membuat Violet terbangun.
Dengan langkah berat, Yohan mendekati tempat tidur Violet dan meletakkan baki di meja sampingnya.
“Violet, kamu harus makan,” ucapnya dengan suara yang mencoba terdengar lembut, namun terasa ada ketegangan yang menyertainya.
Felix kembali menoleh menatap ke arah Yohan, memberikan Yohan pandangan tajam, “Aku yang akan memberinya makan, Yohan. Kamu tidak perlu repot.”
Yohan menggertakkan gigi, merasa amarahnya semakin memuncak.
Dia menatap wajah Violet yang lemah itu, dan kemudian membalas tatapan Felix, “aku gak repot, bukankah harusnya kau yang repot? Karena Bu Anita sudah membawa Marina ke ruang guru.”
Felix ragu sejenak, dia ingin menyusul Marina.
Tapi sesuatu didalam hatinya merasa sangat tidak rela meninggalkan Violet.
Dengan wajah acuh tak acuh, Felix berkata. "Marina bukan urusanku!"
"Tapi Violet adalah milikku, lebih baik sekarang kau keluar dari sini," imbuh Felix dengan nada dingin."
Sementara Violet yang sudah sadar ingin menjadi penengah antara Yohan dan Felix, tapi dia merasa tubuhnya sangat lemah dan tenggorokannya juga kering.
Mengingat dia yang tadi pagi sudah kehilangan banyak kalori karena menyusui bayi besar.
Suasana di ruangan itu menjadi tegang, dengan Felix yang terus memegang tangan Violet dan Yohan yang berdiri tegap, menahan amarah dan kecemburuannya.
Di tengah pertarungan mereka, Violet menatap kedua orang itu dengan pandangan yang bingung.
Mata Yohan memancarkan api kebencian saat menatap Felix yang tak bergeming dari sisi tempat tidur Violet.
Dokter yang sebelumnya telah menjelaskan kondisi Violet dengan serius, mulai