Putri Aurelia dari Kerajaan Oakhaven menghabiskan seluruh hidupnya seperti burung di dalam sangkar emas, terisolasi di menara kaca istana yang megah. Namun, kedamaian semu itu berakhir ketika ia menginjak usia dua puluh satu tahun. Demi menyelamatkan kerajaannya yang mulai runtuh dan menghentikan perang tiga dekade yang berdarah, Aurelia terpaksa menjadi tumbal politik. Ia harus bertunangan dengan Pangeran Cassian dari Kerajaan Valenica di Utara—seorang panglima perang yang dikenal kejam, dingin, dan dijuluki "monster medan perang."
Pertemuan pertama mereka di Aula Agung langsung memicu percikan ketegangan. Alih-alih tunduk pada intimidasi sang Pangeran yang memiliki tatapan sepekat badai, Aurelia justru menyambutnya dengan keberanian dan lidah yang tajam. Keteguhan hati Aurelia justru memikat rasa ingin tahu Cassian, yang terbiasa menghadapi kepatuhan yang membosankan.
Di balik kemegahan rencana pernikahan mereka, bahaya besar sedang mengintai. Aurelia tidak hanya harus beradaptasi dengan calon suaminya yang penuh teka-teki, tetapi ia juga harus belajar bertahan hidup di tengah dinding istana yang dipenuhi intrik politik, racun, dan pengkhianatan. Ini adalah kisah tentang dua jiwa dari dunia yang bertolak belakang, yang harus memilih antara saling menghancurkan atau bersatu demi menyelamatkan sebuah kekaisaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Septianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 : Seruan Di Kota Perbatasan
Pembersihan Penghianat
Gerbang besi Pos Greenstone terbuka lebar dengan derit berat yang memecah keheningan malam. Barisan depan Legiun Serigala Perak melangkah masuk dengan kedisiplinan yang menakjubkan. Tidak ada sorak-sorai kemenangan yang arogan, tidak ada penjarahan. Prajurit-prajurit Utara itu bergerak bagaikan bayangan hitam yang teratur, langsung mengambil alih titik-titik pertahanan krusial di atas dinding benteng di bawah arahan Jenderal Boros.
Di dalam aula utama pos penjaga yang kini telah dialihfungsikan menjadi markas sementara, kehangatan perapian Selatan terasa begitu asing bagi Cassian. Ia berdiri di dekat jendela, memperhatikan interaksi antara prajuritnya dan para pembelot Oakhaven di halaman bawah.
Aurelia masuk ke dalam ruangan setelah menyelesaikan pertemuan panjang dengan Kapten Vance dan para perwira lokal. Wajahnya tampak letih, namun matanya memancarkan kepuasan yang dingin.
"Vance mengonfirmasi apa yang kita duga," kata Aurelia, berjalan mendekati meja tempat peta wilayah tengah Oakhaven digelar. "Pamanku sedang berada di Istana Matahari, ibu kota Oakhaven. Luka bahunya akibat pedangmu terinfeksi oleh hawa hangat Selatan. Dia menggunakan tabib-tabib hitam dan sihir terlarang untuk bertahan hidup. Tetapi yang lebih penting, dia telah menetapkan status darurat militer di seluruh negeri."
Cassian berbalik, melipat kedua tangannya di depan dada. "Artinya, dia tahu kita akan datang. Apakah dia mengumpulkan pasukan baru?"
"Ya. Dia memaksa setiap distrik untuk mengirimkan pemuda mereka sebagai milisi wajib militer," Aurelia mengepalkan tangannya di atas meja. "Dia menggunakan narasi bahwa Utara datang untuk membantai dan memperbudak rakyat Selatan. Jika kita tidak menghancurkan kebohongan itu sekarang, kita akan menghadapi tembok manusia yang terdiri dari rakyatku sendiri di setiap kota yang kita lewati."
Cassian melangkah mendekat, sepasang mata badainya menatap tajam pada titik berikutnya di peta—sebuah kota dagang besar bernama Oakhaven Utara yang bertindak sebagai lumbung pangan sekunder sebelum mencapai ibu kota.
"Kita tidak bisa membiarkan dia mengonsolidasikan kekuatan rakyat," ujar Cassian dingin. "Kita harus bergerak lebih cepat dari rumor yang dia sebarkan. Kota berikutnya adalah ujian sesungguhnya. Pos Greenstone hanyalah sebuah benteng militer, tetapi kota Oakhaven Utara berpenduduk padat. Kita membutuhkan lebih dari sekadar penyerahan diri secara sukarela dari seorang kapten."
*•*
*•*
Rencana Operasi Senyap
Keesokan paginya, aliansi Mawar dan Serigala melanjutkan pergerakan mereka. Namun, alih-alih berbaris dengan genderang perang yang bertalu-talu, Cassian membagi pasukannya. Dua divisi utama tetap bergerak di jalur utama sebagai pengalih perhatian, sementara ia, Aurelia, dan lima ratus prajurit elite bergerak lebih cepat melalui jalur perbukitan untuk mencapai pinggiran kota Oakhaven Utara sebelum pasukan utama terlihat.
Tiga hari perjalanan membawa mereka ke perbukitan yang menghadap langsung ke kota tersebut. Dari kejauhan, kota Oakhaven Utara tampak megah dengan arsitektur atap jerami tebal dan dinding-dinding batu putih khas Selatan. Namun, suasana di sana tampak mencekam. Spanduk hitam Duke Valerius berkibar di setiap sudut menara penjaga, dan gerbang kota ditutup rapat, dijaga oleh pasukan garda khusus Duke yang dikenal sebagai Garda Gagak Hitam.
"Garda Gagak adalah pasukan tentara bayaran yang dibayar mahal oleh Valerius," bisik Aurelia saat mereka mengintai dari balik rimbunnya hutan ek di perbukitan. "Mereka tidak memiliki loyalitas pada takhta, hanya pada emas. Kita tidak akan bisa membujuk mereka seperti kita membujuk Kapten Vance."
"Kalau begitu, mereka harus mati," sahut Cassian tanpa keraguan. "Tetapi kita harus memastikan kematian mereka tidak memicu kepanikan warga kota. Jika warga mengira musuh sedang membantai isi kota, mereka akan mengangkat senjata melawan kita."
Aurelia menoleh ke arah Cassian, sebuah rencana taktis mulai terbentuk di kepalanya. "Garda Gagak mengontrol pasokan air kota melalui menara distribusi di sebelah utara dinding kota. Jika kita bisa melumpuhkan menara itu dan membuka gerbang utara secara diam-diam saat tengah malam, kita bisa memasukkan pasukan khususmu untuk mengeliminasi Garda Gagak di barak mereka sebelum mereka sempat mengorganisasi pertahanan warga."
Cassian mengangguk, menyetujui. "Dan bagaimana dengan warga kota? Begitu mereka tahu Garda Gagak musnah, mereka akan bingung."
"Di situlah peranku," jawab Aurelia tegas. "Begitu gerbang terbuka dan Garda Gagak dilumpuhkan, aku akan menuju alun-alun kota untuk berbicara langsung kepada rakyat. Mereka mengenalku. Mereka tahu aku adalah putri dari Raja yang mereka cintai."
Malam Penghakiman
Tengah malam tiba bersamaan dengan turunnya kabut tipis dari perbukitan—sebuah keberuntungan cuaca yang sangat disukai oleh para prajurit Utara.
Cassian memimpin penyusupan ke menara distribusi air. Bergerak bagaikan hantu di kegelapan, ia dan para prajurit Nightstalkers memanjat dinding batu menara menggunakan tali pengait. Penjaga-penjaga Garda Gagak yang sedang berjaga atau mabuk di pos mereka dieliminasi satu per satu dengan presisi yang mengerikan. Belati-belati Utara yang dingin memotong napas mereka sebelum sempat ada suara peringatan yang keluar.
Sementara itu, Aurelia menunggu di dekat gerbang utara bersama detasemen kecil Oakhaven yang dipimpin oleh Kapten Vance. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut akan kematian, melainkan karena kecemasan akan masa depan tanah airnya.
Krieeek...
Pintu kecil di gerbang utara terbuka dari dalam. Seorang prajurit Utara memberi isyarat bahwa jalur telah aman. Cassian telah berhasil menguasai mekanisme gerbang.
"Maju," perintah Aurelia dengan nada berbisik namun penuh otoritas.
Lima ratus prajurit elite Utara dan Oakhaven merangsek masuk ke dalam jalan-jalan sempit kota yang sepi. Mereka bergerak menuju barak utama Garda Gagak yang terletak di dekat pusat administrasi kota. Penyergapan berlangsung cepat dan brutal. Suara dentingan pedang dan teriakan tertahan menggema di dalam barak yang gelap saat Cassian dan pasukannya membantai para tentara bayaran yang terkejut dari tidur mereka. Duke Valerius telah kehilangan taring terkuatnya di kota ini dalam hitungan jam.
Fajar Harapan
Ketika matahari fajar mulai menyemburkan cahaya keemasan di atas langit kota Oakhaven Utara, lonceng besar di alun-alun kota tiba-tiba berdentang dengan ritme yang lambat dan agung—bukan ritme tanda bahaya perang, melainkan ritme penyambutan kerajaan.
Warga kota yang ketakutan perlahan keluar dari rumah mereka, bersenjatakan apa adanya seperti cangkul dan pisau dapur, mengira kota mereka telah jatuh ke tangan monster Utara yang kejam. Namun, pemandangan yang menyambut mereka di alun-alun membuat mereka terpaku.
Ratusan mayat Garda Gagak Hitam bertumpuk di sudut alun-alun, dilucuti senjatanya. Di tengah alun-alun, berbaris rapi prajurit-prajurit Utara berzirah besi hitam, namun mereka tidak menyerang. Mereka berdiri tegak sebagai barisan pengawal bagi sosok yang berdiri di atas panggung tinggi alun-alun.
Putri Aurelia berdiri di sana. Jubah bulu hitamnya berkibar ditiup angin pagi, dan tiara safirnya berkilau terkena sinar matahari fajar. Di sampingnya, Pangeran Cassian berdiri dengan pedang besar yang disarungkan, memancarkan aura perlindungan yang mutlak.
"Rakyat Oakhaven Utara!" suara Aurelia bergema di seluruh penjuru alun-alun yang kini mulai dipenuhi ribuan warga yang penasaran dan bingung. "Paman saya, Duke Valerius, adalah seorang pembohong dan pengkhianat! Dia mengatakan bahwa Utara datang untuk menghancurkan kalian, namun lihatlah di sekeliling kalian! Yang dihancurkan semalam hanyalah para monster bayaran yang memeras dan menindas kalian!"
Bisik-bisik kebingungan mulai berubah menjadi gumaman haru saat warga mengenali wajah sang Putri.
"Ayahku, Raja kalian, saat ini sedang sekarat karena racun yang diberikan oleh Valerius secara perlahan di Istana Matahari!" lanjut Aurelia, matanya berkaca-kaca namun suaranya tetap tegas bagai baja. "Aku kembali bukan sebagai musuh, tetapi sebagai Putri kalian yang sah, bersama dengan suami dan sekutuku dari Utara, untuk membebaskan tanah ini dari cengkeraman tiran! Siapa di antara kalian yang akan berdiri bersamaku untuk menyelamatkan Raja kita?!"
Keheningan sesaat melanda alun-alun. Kemudian, seorang pandai besi tua menjatuhkan palunya ke tanah dan berlutut dengan air mata mengalir di pipinya yang kotor oleh jelaga.
"Hidup Putri Aurelia! Hidup darah sah Oakhaven!" teriak pria tua itu.
Seketika, teriakan itu menular bagaikan api di padang rumput kering. Ribuan warga kota menjatuhkan senjata darurat mereka, berlutut secara massal, dan meneriakkan nama Aurelia dengan gemuruh yang menggetarkan dinding-dinding kota.
Cassian melangkah maju ke samping Aurelia, meletakkan tangan hangatnya di atas pundak istrinya. "Kota ini milikmu lagi, Aurelia. Dan dengan jatuhnya Oakhaven Utara, jalan menuju Istana Matahari kini benar-benar terbuka tanpa ada satu pun rakyat yang menghalangi kita."
Aurelia menatap suaminya, sebuah senyuman tekad terukir di wajahnya. Langkah kedua telah berhasil diinjak, dan kini, bayangan menara Istana Matahari sudah mulai terbayang di cakrawala, menanti badai pembalasan yang sesungguhnya di babak-babak berikutnya.
*•*
*•*
*•*
*•*
*•*
ehh iya kalo ada waktuu mampir jugaa yaa ke novel kuu "Tak Semua Tangis Memiliki suara"