NovelToon NovelToon
Kebangkitan Sang Awakener Terkuat Di Akhir Zaman

Kebangkitan Sang Awakener Terkuat Di Akhir Zaman

Status: sedang berlangsung
Genre:Hari Kiamat / Zombie / Misteri / Horor
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: novelisnewbie

Arga mati di tangan zombie Tier 7 setelah 10 tahun bertahan di kiamat. Namun, dia terbangun kembali ke 30 hari sebelum wabah Necrovirus Sapiens melanda dunia. Di tubuhnya yang masih muda dan lemah, dia membawa pengetahuan 10 tahun: lokasi kejadian penting, resep ramuan awakener, cara membuat senjata tier tinggi, dan nama-nama pengkhianat yang akan menghancurkan umat manusia.

Akankah Arga mampu mewujudkan impiannya? Ataukah Arga akan gagal kembali? Ikuti terus perkembangan ceritanya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novelisnewbie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 26: Senja Dua Pemburu, Konvoi yang Terbelah

Tidak ada jalan yang benar-benar lurus menuju sebuah rahasia. Semakin dekat seseorang pada kebenaran, semakin banyak persimpangan yang sengaja diciptakan untuk membuatnya tersesat. Arga memahami kenyataan itu sejak pertama kali memutuskan mengikuti konvoi tersebut, tetapi bahkan ia tidak menyangka lawannya telah menyiapkan permainan yang begitu dalam.

Konvoi melaju selama hampir dua jam tanpa menunjukkan perubahan berarti. Jalan raya perlahan berganti menjadi jalur pegunungan yang berkelok, diapit hutan pinus dan tebing batu yang menjulang di kedua sisi. Dari balik kemudi mobil sipilnya, Arga menjaga jarak dengan disiplin, membiarkan kendaraan lain sesekali memotong di antara dirinya dan iring-iringan agar keberadaannya larut di tengah lalu lintas biasa. Dengan cara itu, ia tetap dapat mengawasi target tanpa memberi alasan bagi siapa pun untuk mencurigai keberadaannya.

Brummm...

Deru mesin kendaraan bergema ketika jalan mulai menanjak, memantul di antara lereng-lereng batu yang membatasi jalur pegunungan. Sensor Dimensi tetap aktif dalam jangkauan sempit, cukup untuk mengawasi denyut energi konvoi tanpa menarik perhatian Awakener lain. Sesekali Arga mengalihkan pandangan ke kaca spion untuk memastikan tidak ada kendaraan yang secara konsisten membuntutinya, sementara pikirannya terus menghitung setiap kemungkinan yang dapat muncul di depan.

Puluhan kilometer kemudian, jalan utama bercabang menjadi beberapa jalur militer yang hanya diketahui segelintir orang. Tepat di persimpangan itulah sesuatu yang tampaknya telah dipersiapkan sejak awal akhirnya terjadi. Seluruh iring-iringan bergerak serempak, lalu terbelah menjadi tiga rombongan berbeda dengan koordinasi yang nyaris sempurna, seolah setiap kendaraan telah berlatih menjalankan manuver itu berkali-kali.

Decit...

SUV di bagian depan membelok ke kiri bersama sebuah truk logistik dan satu ambulans. Pada saat yang sama, rombongan kedua mengambil jalur lurus dengan komposisi kendaraan yang hampir identik, sedangkan rombongan ketiga memasuki jalan sempit menuju lereng gunung. Bahkan nomor kendaraan, posisi pengawal, hingga pola pergerakannya sengaja dibuat semirip mungkin sehingga pengamat biasa akan kehilangan arah hanya dalam hitungan detik.

Namun Arga tidak memusatkan perhatian pada bentuk kendaraan maupun susunan formasi. Ia memejamkan mata sesaat dan membiarkan Sensor Dimensi bekerja, membedah setiap denyut energi yang tersembunyi di balik lapisan baja kendaraan. Dalam keheningan itu, tiga resonansi buatan muncul hampir bersamaan. Dua di antaranya terasa janggal, seolah seseorang memaksakan pancaran energi kristal agar menyerupai kendaraan asli. Resonansi tersebut cukup meyakinkan bagi Awakener biasa, tetapi tidak memiliki ritme alami sebagaimana kehidupan yang sesungguhnya.

Sementara itu, satu truk tetap berada dalam keheningan yang mustahil. Tidak ada aura, tidak ada resonansi, bahkan tidak ada denyut sekecil apa pun. Arga membuka mata perlahan, lalu senyum tipis terukir di sudut bibirnya ketika seluruh teka-teki itu mulai menemukan jawabannya.

"Kalian sengaja mengujiku..." gumamnya sambil membelokkan setir mengikuti jalur ketiga. "Kalian ingin tahu apakah aku mengandalkan informasi... atau sesuatu yang bahkan belum kalian pahami."

Mobilnya tetap melaju santai tanpa sedikit pun menunjukkan tanda-tanda mengejar. Ia membiarkan beberapa kendaraan sipil menjadi penghalang alami di antara dirinya dan konvoi, sementara truk tanpa aura terus bergerak di kejauhan bersama pengawalan yang justru tampak lebih ringan dibandingkan dua rombongan lainnya. Kesabaran selalu menjadi senjata yang jauh lebih mematikan daripada tergesa-gesa.

Di dalam kendaraan komando bergerak yang berada jauh dari jalur utama, Raven berdiri di depan layar digital yang memperlihatkan posisi ketiga konvoi secara waktu nyata. Garis-garis berwarna hijau bergerak stabil sesuai rencana, sedangkan laporan dari setiap rombongan terus berdatangan tanpa henti. Suasana ruang komando tampak tenang karena seluruh operasi berjalan nyaris sempurna.

"Konvoi Alfa aman."

"Bravo aman."

"Charlie juga aman."

Operator menoleh kepada Raven dengan senyum puas. "Seluruh umpan berhasil. Tidak ada tanda penyusupan."

Raven tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap tertuju pada layar yang dipenuhi titik-titik bergerak. Justru karena semuanya terlihat terlalu sempurna, nalurinya mulai membisikkan peringatan yang sama seperti ketika pertama kali memburu Ghost Collector.

Tok... tok...

Jemarinya kembali mengetuk meja perlahan sebelum akhirnya berhenti. Ia telah mempelajari Ghost Collector selama berminggu-minggu dan memahami bahwa lawannya bukan tipe orang yang bertindak berdasarkan keberuntungan. Jika seseorang seperti itu benar-benar menghilang begitu saja, kemungkinan terbesar justru menunjukkan bahwa ia sedang bergerak melalui jalur yang tidak mampu mereka lihat.

"Majukan pergantian rute enam menit," ucap Raven tanpa mengalihkan pandangan.

Operator tampak bingung. "Tetapi jadwal itu sudah diuji berkali-kali."

"Justru karena itu."

Perintah segera dijalankan. Seluruh titik pergantian jalur diam-diam dimajukan beberapa menit tanpa mengubah pola pergerakan yang terlihat dari luar. Dari sudut pandang orang biasa, konvoi tetap tampak berjalan sesuai rencana, padahal susunan waktunya telah berubah secara halus demi menguji siapa pun yang diam-diam mengikuti mereka.

Raven kemudian menyilangkan kedua tangannya sambil memandang layar utama. Suaranya terdengar tenang, tetapi setiap kata yang keluar membuat ruangan perlahan diliputi keheningan.

"Dia tidak menggunakan kamera."

Tidak seorang pun menyela.

"Bukan penyadapan."

Para analis hanya saling bertukar pandang.

"Dan jelas bukan informan."

Barulah Raven mengalihkan pandangannya kepada seluruh tim di belakangnya. "Kalau begitu..." suaranya terdengar lebih pelan daripada sebelumnya, "...dia pasti memiliki cara lain untuk membedakan yang asli dari yang palsu."

Kalimat itu menggantung di udara, membuat seluruh ruangan terdiam. Untuk pertama kalinya sejak menerima misi memburu Ghost Collector, Raven mulai mempertimbangkan kemungkinan yang selama ini dianggap mustahil. Lawannya mungkin memiliki kemampuan Awakener yang bahkan belum pernah tercatat di seluruh arsip Organisasi Hitam.

Sementara itu, matahari mulai turun di balik punggung pegunungan. Cahaya jingga membelah sela-sela pepohonan ketika truk tanpa aura akhirnya meninggalkan jalan utama dan memasuki sebuah fasilitas logistik kecil yang tersembunyi di antara tebing batu. Dari kejauhan bangunan itu tampak sangat sederhana, hanya terdiri atas gudang beton, dua menara pengawas, dan beberapa antena komunikasi yang berdiri tanpa mencolok. Tidak ada sesuatu yang terlihat cukup penting untuk dijaga sedemikian ketat, justru itulah yang membuat tempat tersebut terasa semakin mencurigakan.

Arga memarkir mobilnya hampir dua kilometer dari lokasi, lalu bergerak mendekat memanfaatkan kontur hutan agar tidak memasuki garis pandang penjaga. Langkahnya ringan dan terukur, menyatu dengan suara dedaunan yang bergesekan ditiup angin sore. Setiap gerakan diperhitungkan agar tidak meninggalkan jejak yang mudah dibaca.

Krek...

Ranting kecil patah di bawah sepatunya. Arga segera menghentikan langkah, menunggu beberapa detik hingga suasana kembali tenang sebelum melanjutkan penyusupan. Sensor Dimensi menyapu seluruh kawasan seperti riak air yang mengalir tanpa suara, memperlihatkan delapan belas manusia biasa, empat Awakener Tier 1, serta satu Awakener lain yang auranya ditekan sedemikian rapat hingga nyaris menghilang.

Namun yang paling menarik perhatian bukanlah manusia-manusia itu. Perhatiannya justru tertuju pada benda yang berada di dalam truk tanpa aura tersebut. Bentuknya memanjang dengan seluruh permukaan diselimuti lapisan logam gelap yang sama sekali tidak memancarkan resonansi, bahkan menciptakan ruang hampa di sekelilingnya seolah semua energi kristal dipaksa lenyap sebelum sempat keluar.

Arga mempersempit fokus Sensor Dimensi hingga pelipisnya mulai berdenyut. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat ketika akhirnya ia berhasil menangkap bentuk benda itu secara lebih jelas.

"Itu bukan peti..."

Melalui celah kecil di dinding gudang, ia akhirnya melihat benda tersebut dengan mata kepalanya sendiri. Sebuah modul logam eksperimental sebesar lemari berdiri kokoh di tengah ruangan, dipenuhi pipa pendingin, kabel serat optik, dan inti kristal yang berputar perlahan di bagian tengahnya. Seluruh ruangan dipenuhi getaran rendah yang membuat udara di sekitarnya tampak beriak.

Hummmmm...

Hanya dalam beberapa detik, Arga langsung memahami fungsi alat tersebut. Itu bukan senjata, bukan pula generator biasa, melainkan prototipe pertama teknologi penekan resonansi kristal. Seluruh kendaraan tanpa aura selama ini ternyata memanfaatkan perangkat tersebut sehingga mampu menyembunyikan energi Awakener maupun kristal dari deteksi normal.

"Project Genesis..." bisiknya.

Jika alat itu berhasil disempurnakan, maka keunggulan terbesar Sensor Dimensinya akan berkurang drastis. Untuk pertama kalinya sejak kembali ke masa lalu, Arga melihat ancaman yang benar-benar mampu mengimbangi salah satu kemampuan terkuat yang dimilikinya. Tanpa membuang waktu, ia menggerakkan tangan perlahan sementara Ruang Dimensi mulai beresonansi, berniat mengambil modul itu sebelum sempat dipindahkan ke tempat lain.

Namun tepat ketika kemampuan itu hampir diaktifkan, seluruh bulu kuduknya mendadak berdiri. Sensor Dimensi berdenyut keras, bukan karena zombie, bukan pula karena kristal, melainkan karena keberadaan seseorang yang sengaja menyembunyikan auranya dengan tingkat kendali yang hampir sempurna. Tanpa ragu Arga langsung membatalkan aktivasi Ruang Dimensi, sementara naluri bertarungnya menjerit memberi peringatan.

"Ada seseorang..."

Di puncak bukit yang menghadap fasilitas logistik tersebut, seorang pria berdiri tanpa bergerak sedikit pun. Tubuhnya menyatu dengan bayangan pepohonan, sementara teropong beresolusi tinggi berada di depan matanya. Raven tidak sedang mencari manusia, melainkan mencari ketidakwajaran. Ia mengamati pola gerakan penjaga, arah angin, bahkan perilaku burung-burung yang beterbangan di sekitar hutan.

Lalu ia melihat sesuatu yang tidak mampu ditangkap orang lain. Bukan sosok, bukan pula bayangan, melainkan perubahan yang terlalu kecil untuk dianggap penting. Seekor burung tiba-tiba mengubah arah terbang tanpa sebab yang jelas, daun-daun semak bergoyang sesaat ketika angin sedang berhenti, dan rumput di lereng tampak tertekan sejenak sebelum kembali tegak seperti semula.

Senyum tipis perlahan muncul di wajah Raven.

"Itu dia..."

Pada saat yang sama, Sensor Dimensi Arga kembali menangkap denyut samar dari arah puncak bukit. Aura itu ditekan begitu rapat hingga nyaris tidak ada, tetapi tetap meninggalkan riak kecil yang hanya mampu dirasakan oleh seseorang dengan sensitivitas luar biasa. Arga perlahan mengangkat kepalanya. Jarak mereka masih ratusan meter, pepohonan menghalangi pandangan, dan kabut tipis mulai turun menutupi lereng pegunungan. Tidak seorang pun dapat melihat wajah lawannya, tetapi keduanya mengetahui satu kenyataan yang sama.

Di balik bayangan itu ada seseorang yang selama ini mereka cari.

Arga menarik napas panjang lalu mundur selangkah tanpa memaksakan penyusupan. Tatapannya tetap tertuju ke arah puncak bukit, sementara instingnya memastikan bahwa bergerak lebih jauh hanya akan menguntungkan lawan.

"Jadi..." gumamnya pelan sambil terus menatap kegelapan di lereng, "...pemburunya akhirnya datang sendiri."

Di atas bukit, Raven menurunkan teropong untuk pertama kalinya sejak operasi dimulai. Senyum yang terukir di wajahnya tidak lagi sekadar menunjukkan rasa penasaran, melainkan kepuasan seorang ahli strategi yang akhirnya membuktikan bahwa instingnya tidak pernah salah.

"Akhirnya..." katanya lirih, "...aku berhasil membuatmu muncul."

Tidak ada pedang yang terhunus, tidak ada peluru yang ditembakkan, dan tidak ada bentrokan yang memecah kesunyian pegunungan. Namun sejak senja itu, dua ahli strategi yang selama ini hanya saling membaca jejak akhirnya benar-benar mengetahui bahwa lawan mereka bukan sekadar bayangan. Permainan telah berubah. Kini mereka tidak lagi bertarung melawan dugaan, melainkan melawan seseorang yang berpikir sama tajamnya. Dalam duel seperti itu, satu kesalahan kecil saja sudah cukup untuk menghancurkan seluruh papan catur.

1
arya_v2
lanjutkan terus ceritanya💪🏻
Rene
kalo dia mau jadi Awakener seharusnya gak terlalu butuh obat"an biasa kan?
Rene
ada cctv🤭
Rene
harusnya dikutil aja dikit dikit🤭 kan punya ruang dimensi
novelisnewbie: sikap macam apa itu, nanti kena pelanggaran kalo ngutil barang umum, tapi kalo ngutil punya villain gpp sih🤣
total 1 replies
Rene
kalo ngomong paling dibilang orang gila🤣
Rene
buat top up🤭
Rene
jelas lah bjir, cuma sebulan, bisa apa🤭 apalagi posisinya kismin
Rene
nah, mending bantai aja mereka dulu, mumpung masih jadi cunguk🤭
Rene
ya gak papa mau nagis lagi juga🤭
Rene
subrek, mungkin aku bakal ngikutin seri ini, soalnya lagi nulis genre kiamat juga🤭 semangat thor
Rene: siap💪
total 2 replies
Rene
mampir dulu🤭
Blueria
mantap, latar Indonesia 💪
novelisnewbie: iyaa karena saya udah muak sama pemerintah jadi saya buat aja genre kiamat biar kalang kabut tuh pemerintahnya wkwk, btw terimakasih banyak semoga betah👍
total 1 replies
adib
bagus..
novelisnewbie: terimakasih banyak 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!