Hana seorang kariawan biasa yang harus menerima perjodohan dengan anak atasannya yang bernama Rico. Hana pun menyanggupi meski tak ada cinta antara mereka berdua. Ia rela berkorban asalkan atasannya bisa sembuh dan mau di operasi.
Namun, harapan tak selalu sesuai kenyataan. Sang atasan meninggal dunia di saat pernikahannya yang belum genap 24 jam.
Karena merasa tak ada lagi alasan untuk bertahan, akhirnya Rico memutuskan secara sepihak untuk bercerai.
Hana merasa terluka dan di campakkan. Namun, ia juga tak bisa memaksa untuk mencoba menjalani pernikahan mereka. Putusan perceraian keluar. Hana harus menjadi janda perawan.
Tiga bulan setelah perceraian, nasib buruk menimpa Hana hingga membuatnya hamil dan pergi sejauh mungkin.
Mampukah Rico menemukan Hana dan bertanggung jawab. Atau hanya penyesalan yang menghantuinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aluna sweet, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
First Night Sebagai Pasangan
Happy Reading
Malam sudah larut. Angin berembus lembut, menyinggahi dedaunan di halaman kecil penginapan tempat mereka menginap. Dari balik jendela, cahaya lampu kuning temaram menciptakan suasana hangat yang menenangkan. Di atas meja, masih tersisa aroma sedap dari makanan yang baru saja mereka santap.
Kini, Ryan dan Hana sedang menikmati makan malam yang sedikit kemalaman. Wajah keduanya masih menyimpan sisa tawa dari percakapan sebelumnya. Meski masih diselimuti rasa bahagia, tetap saja jika lapar datang, maka rasa lapar akan mengalahkan segalanya.
“Makan yang banyak,” ucap Ryan lembut sambil mengambilkan beberapa lauk dan sayur untuk Hana. Tangannya bergerak hati-hati, seolah takut membuatnya tumpah.
Hana tersenyum melihat perhatian kecil itu. “Kamu juga,” balasnya sambil menambahkan nasi ke piring Ryan. “Kau kerja seharian, pasti belum sempat makan siang dengan benar.”
Ryan mengangkat wajahnya, menatap istrinya yang kini tampak lebih lembut dan tenang dibanding beberapa bulan lalu. “Akhirnya kita bisa makan bersama seperti ini, tanpa tergesa-gesa, tanpa beban,” katanya pelan.
Hana mengangguk. Ada sesuatu di matanya yang menghangat, semacam rasa syukur yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
“Apa Aksa akan mencari kita?” tanya Ryan, mencoba membuka percakapan ringan.
“Aku rasa tidak. Sekarang dia pasti sudah terlelap bersama Ika,” jawab Hana sambil menaruh sendoknya. “Aku juga tidak menyangka Ika bisa datang, padahal waktu aku telepon katanya nggak bisa ninggalin kerjaannya.”
Ryan tersenyum, lalu meneguk air putih sebelum berkata, “Coba kamu beri usul dia untuk kerja di perusahaan ku saja. Biar bisa tinggal dekat dengan kita.”
“Hmmm, usul yang bagus.” Hana menyandarkan punggung ke kursi. “Nanti akan aku bicarakan sama dia. Ika butuh lingkungan baru, aku rasa dia akan betah di sini.”
Makan malam mereka berlangsung hangat. Sesekali tawa kecil keluar dari bibir keduanya, mengisi ruang dengan keakraban yang tulus. Setelah selesai, Ryan membantu membereskan meja, sementara Hana menata piring ke wastafel. Tidak ada pembagian tugas, hanya kebersamaan yang tercipta begitu alami.
Beberapa saat kemudian, mereka duduk di atas kasur. Kaki keduanya berselonjor santai, saling bersentuhan. Televisi di depan mereka menyala, namun tak ada yang benar-benar memperhatikannya. Suara lembut dari layar hanya menjadi latar hening yang nyaman.
Ryan menggenggam tangan Hana. Jemarinya besar, hangat, dan menenangkan. Ia menatap wajah istrinya yang kini mulai tampak lelah, namun tetap cantik dengan kesederhanaannya.
“Hana,” panggil Ryan pelan.
“Hm?” Hana menoleh.
“Boleh aku memelukmu malam ini?” suaranya lirih, seperti seseorang yang takut melukai perasaan lawan bicaranya.
Hana menunduk, pipinya memanas seketika. Ia tidak menjawab, hanya mengangguk kecil, dan itu sudah cukup bagi Ryan untuk memahami.
Ryan menariknya perlahan ke dalam pelukan. Dalam dekapan itu, tidak ada nafsu, tidak ada keinginan untuk memiliki — hanya kasih yang menenangkan, kasih yang membuat Hana akhirnya berani meneteskan air mata.
Ia tidak menangis karena sedih, melainkan karena rasa syukur yang menyesak di dada. Selama bertahun-tahun, Hana tak pernah merasakan pelukan yang memberi rasa aman. Dulu, setiap sentuhan adalah ancaman, setiap kedekatan adalah luka. Tapi malam ini berbeda. Dalam pelukan Ryan, ia merasa dilindungi, bukan dimiliki.
Ryan merasakan tubuh istrinya bergetar halus. Ia menepuk punggungnya pelan. “Kamu capek, ya?”
“Tidak, aku hanya…” Hana menarik napas panjang. “Aku hanya tidak menyangka bisa merasa seaman ini.”
Ryan tersenyum dan mencium ubun-ubun nya lembut. “Kamu nggak perlu takut lagi, Hana. Aku di sini bukan untuk mengambil apa pun darimu. Aku cuma ingin menemanimu. Sepenuhnya.”
Hana memejamkan mata. Kalimat itu seperti penawar bagi luka lama yang selama ini ia pendam.
Beberapa saat mereka diam. Hanya suara detik jam dan desiran angin dari ventilasi yang terdengar. Ryan masih memeluknya, sementara Hana mulai menenangkan diri dalam hangatnya pelukan itu.
“Malam ini dingin, ya,” bisik Hana.
“Kalau kamu kedinginan, aku bisa tambah selimut,” jawab Ryan sambil tersenyum kecil.
“Tidak perlu. Pelukanmu sudah cukup.”
Ryan terkekeh pelan. “Kamu mulai pintar merayu sekarang.”
“Bisa jadi karena guru yang ngajarin juga romantis,” jawab Hana sambil tertawa kecil.
Suasana di antara mereka berubah lebih ringan. Dari tawa kecil itu, dari tatapan yang saling beradu, lahir rasa yang tidak butuh banyak kata. Mereka berbicara tanpa suara, hanya dengan pandangan yang menenangkan.
Ryan menatap Hana dengan tatapan yang tak sekadar mengagumi, tapi juga menghargai. “Aku bersyukur, Hana. Tuhan mempertemukan aku denganmu,” katanya akhirnya.
“Jangan berlebihan,” Hana pura-pura merengut. Tapi di dalam hatinya, kalimat itu seperti bunga yang mekar perlahan.
Ryan menggeleng kecil. “Aku serius. Kamu tahu? Kadang aku berpikir, kalau saja aku tidak bersabar waktu itu, mungkin aku nggak akan pernah tahu rasanya dicintai seindah ini.”
“Dan kalau aku tidak berani membuka hati, aku mungkin masih hidup di masa lalu,” timpal Hana lembut.
Keduanya saling menatap lama. Hening, tapi penuh makna.
Ryan mengusap rambut Hana yang jatuh di pipinya. “Kamu tahu, aku nggak butuh apa pun malam ini selain kamu yang tenang dan bahagia.”
Hana menggenggam tangan Ryan yang berada di pipinya. “Aku bahagia, Ryan. Mungkin untuk pertama kalinya… aku benar-benar bahagia.”
Ryan tersenyum dan memeluknya lebih erat. “Kalau begitu, jangan lepas dari pelukan ini dulu.”
Malam semakin larut. Di luar, hujan rintik mulai turun perlahan, menciptakan suara lembut yang menenangkan. Ryan dan Hana masih terdiam dalam pelukan, membiarkan dunia di luar sana berjalan dengan sendirinya.
Untuk pertama kalinya, mereka tidak merasa perlu membicarakan masa lalu atau rencana esok hari. Malam itu, waktu berhenti sejenak untuk memberi ruang bagi dua hati yang sedang belajar mencintai dengan cara yang baru — perlahan, lembut, dan tanpa tuntutan.
“I love you,” bisik Ryan di telinga Hana.
“Me too, sayang,” balas Hana dengan suara nyaris tak terdengar.
Ryan tersenyum, menaikkan selimut menutupi tubuh mereka berdua. Ia mengecup kening Hana sekali lagi, lalu memejamkan mata.
Hana masih terjaga beberapa detik, menatap wajah Ryan yang kini mulai tertidur. Ada rasa hangat menjalar di dadanya. Ia menyadari, cinta sejati tidak selalu datang dengan gemuruh dan hasrat yang membara — kadang ia hadir lewat pelukan tenang, lewat tatapan penuh kasih, dan lewat keheningan yang membuat hati damai.
Hana menutup mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam rasa nyaman itu.
Malam itu, keduanya terlelap dengan senyum di bibir. Bukan karena kelelahan, tapi karena ketenangan yang akhirnya mereka temukan dalam satu sama lain.
.
Bersambung
Menulis bagian ini benar-benar menguras perasaan. Tapi semoga versi lembut dan penuh maknanya bisa sampai ke hati kalian.
Jangan lupa like, komen, dan vote nya ya ❤️
Terima kasih sudah membaca.
sprtny author ingin mmbuat hana kembali pd org lama yg justru menyakiti Hana. sedih.....
sprtny author ingin mmbuat hana kembali pd org lama yg justru menyakiti Hana. sedih.....