"Patah hati yang menyakitkan itu, ketika kita menunggu ketidakpastian."
(Sinta Putri Adam)
---------------------------------------------------------------------------
Tidak ada cinta. Namun, anehnya ku sematkan dia di setiap doa ku.
Lucu bukan? tapi itulah kenyataannya.
Enam tahun, ku jaga hati untuk dia yang dulu datang dengan janji manis. Memberikan sepucuk surat cinta dan cincin sebagai tanda ikatan. Hingga hari, di mana berjalan dengan cepat, kami bertemu. Namun, enam jam aku menunggu seperti orang bodoh, dia tidak datang. Jika sudah begini kemana harapan itu pergi. Aku kecewa, sakit, dan merasa bodoh.
"Aku membenci mu Muhamad Farel Al-hakim."
"Aku membencimu."
Ikutin kisahnya yuk hu...
IG: Rahma Qolayuby
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rahma qolayuby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Kita bertemu lagi ...
Sesampai nya di rumah Adam Hawa. Sinta langsung membersihkan diri. Hari ini cukup melelahkan bagi Sinta. Tapi, ada sebuah kebahagiaan terpancar di balik wajah lelah itu.
Sinta sangat senang dan juga masih malu jika mengingat dirinya salah sasaran memaki orang. Sinta sangat bahagia begitu tahu bagaimana kondisi Farel saat ini.
Dulu, mungkin mereka memendam rasa dalam diam. Tidak bertemu bahkan saling lempar kabar. Tapi, kali ini berbeda. Di mana mereka bisa berkomunikasi. Melempar kabar satu sama lain. Menjalani seperti selayaknya sepasang ke kasih. Walau belum ada ikatan di antara mereka. Tapi, keduanya terikat oleh rasa.
"Aku sudah sampai, kak. Alhamdulillah dengan baik."
Ketik Sinta membalas pesan Farel yang tadi belum sempat ia balas. Jantung Singa berdebar hebat. Baru kali ini Sinta saling melempar pesan dengan seorang laki-laki. Rasanya begitu bahagia. Sinta akan terus setia menunggu ke pulangan Farel.
Hubungan mereka pun nampak mencair. Tidak ada kata saya dan anda. Sekarang berganti aku dan kamu. Perubahan ang mengalir begitu saja tanpa mereka sadari. Sedalam itu perasaan mereka. Sungguh kisah cinta yang sangat unik.
Bibir Sinta terus terus tersenyum memancarkan bagaimana suasana hatinya sekarang. Wajah Sinta memerah melihat pesan yang di kirim Farel. Mereka hanyut saling melempar pesan. Tak terasa hari sudah mulai larut. Sinta tak menyangka jika Farel mempu membuat aktivitas Sinta sedikit berubah. Karena sudah larut, Sinta memutuskan tidur membiarkan pesan itu masuk begitu saja.
Farel pun mengerti ketika tak ada balasan lagi dari Sinta. Farel yakin, Sinta pasti sudah istirahat. Farel pun memutuskan istirahat juga.
Mereka berdua tidur saling berhadapan walau jarak dan ruang berbeda.
Kuatnya cinta ketika kita saling percaya. Lancar komunikasi dan saling mengerti. Rasanya terdengar indah. Namun, terkadang sulit bagi sebagian orang menjalaninya. Ego! Yang terkadang memecah semaunya.
...
Pagi, Sinta sudah bersiap pergi ke rumah sakit. Wajahnya begitu cerah secerah mentari pagi. Senyumnya terus melekat membuat anak-anak saling pandang. Sinta memang selalu tersenyum tapi kali ini senyumannya terasa berbeda.
Seri cinta terlihat kentara membuat anak-anak ikut bahagia. Kebahagiaan Sinta kebahagiaan anak-anak juga. Begitupun sebaliknya, kesedihan Sinta kesedihan mereka juga.
Walau anak-anak selalu penasaran dengan sosok Farel yang bisa menjungkir balikan hidup Sinta.
Jalan cukup padat membuat Sinta memelankan laju mobilnya cukup pelan. Ibu kota selalu saja tak pernah lelah dengan asap kendaraan dari berbagai macam versi. Saking padatnya membuat pejalan kaki pun harus menggeser lebih ke pinggir menghindari panasnya mesin kendaraan yang menguap.
Seperti nya Sinta akan telat hari ini.
Suara sirine ambulance terdengar nyaring membuat Sinta menoleh ke belakang.
"Apa ada kecelakaan di depan?"
Monolog Sinta menatap ambulance yang mulai menjauh. Sinta pikir hanya kemacetan seperti biasa. Nyatanya ada sebuah kecelakaan di ujung sana hingga kemacetan semakin padat.
Dering ponsel membuat Sinta tersentak. Dengan cepat Sinta mengangkatnya.
"Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Iya?"
"Dok. Maaf dokter berada dimana? Kenapa belum sampai? Rumah sakit membutuhkan dokter. Banyak korban kecelakaan."
"Innalillahiwainnailaihirojiunn. Saya masih di jalan. Saya tidak bisa keluar dari kemacetan."
Sinta meremas stir mobil bingung harus berbuat apa. Maju tak bisa mundur apa lagi. Di rumah sakit pasti sedang riuh penuh ketegangan. Apalagi tadi sempat mendengar bagaimana dokter Bela panik.
Sinta memutar otak agar bisa keluar dari kemacetan. Sinta harus segera pergi ke rumah sakit. Sinta keluar dari mobil membiarkan mobilnya begitu saja.
"Pak, bisa saja pinjam motornya. Saha harus segera ke rumah sakit?"
Izin Sinta pada pengendara ojeg online. Sang pengendara hanya bisa melongo menatap penampilan Sinta.
"Maaf, tapi saya bawa penumpang mba."
"Aduh, bagaimana ini. Saya harus segera ke rumah sakit. Banyak pasien yang membutuhkan saya."
"Anda dokter?"
Sinta langsung mengangguk cepat. Dia tak punya banyak waktu lagi.
"Mas, anterin mba dokternya saja."
"Tapi, mba nya bagaimana?"
"Mba dokter ini lebih membutuhkan. Anterin mas."
Tukang ojeg online hanya bisa mengangguk pasrah. Lebih pasrah membiarkan Sinta membawa motornya. Semua orang yang terjebak kemacetan metapa aksi Sinta yang heroik. Sampai tukang ojeg online harus berpegangan ke jas yang di pakai Sinta.
Untung Sinta memakai jas dokternya hingga aksi Sinta di maklumi oleh polisi yang mengamankan kecelakaan tadi membiarkan Sinta lewat. Sinta bersyukur dan berterima pada mba yang rela turun demi Sinta bisa sampai ke rumah sakit.
"Ini ongkosnya. Terimakasih banyak, mas."
Ucap Sinta tergesa-gesa. Langsung berlari kencang masuk kedalam rumah sakit. Tukang ojol hanya bisa melongo melihat uang seratus ribu yang ada di tangannya. Padahal tadi mba yang pertama sudah memberikan tarif order nya. Tapi, Sinta malah memberikannya lagi.
"Rezki."
Gumam Tukang ojol sambil mengelus dadanya yang masih jantungan akibat ulah Sinta tadi.
Begitu sampai, Sinta langsung pergi ke ruang UGD di mana di sana sangat berisik sekali oleh suara-suara rintihan kesakitan. Sinta langsung melakukan tugasnya sebagai seorang dokter.
Tiga jam sudah rumah sakit begitu heboh. Kini kembali tenang karena korban kecelakaan sudah di tangani semua.
"Alhamdulillah, sudah selesai."
Gumam Sinta menggunting sisa benang yang di gunakan untuk menjahit kaki korban kecelakaan yang sobek.
"Di usahakan jangan banyak bergerak dulu. Mungkin, beberapa menit lagi akan terasa ngilu."
Ucap Sinta memberitahu. Ketika di jahit memang tidak terasa sakit. Tapi, efek obat bius nya yang berangsur menghilang dan berubah menjadi sakit.
"Berbaringlah, itu lebih baik."
"Baik dok. Terimakasih."
"Sama-sama. Ngomong-ngomong hanya kamu yang sendirian di sini. Di mana keluarga kamu?"
Tanya Sinta karena sejak tadi korban kecelakaan ini tidak di temani siapapun. Hingga terakhir juga di tangani. Itupun karena Sinta melihat korban yang duduk diam tidak bicara apapun. Bahkan menutupi lukanya. Andai Sinta tak melihat ada darah di lantai mungkin Sinta juga mengira jika pemuda SMA itu baik-baik saja.
"Kakak saya sedang dalam perjalanan ke sini, dok."
"Baik lah. Karena kamu tidak ada yang menemani. Biar saya yang akan menemani sampai keluarga kamu sampai."
Putus Sinta. Sinta memang selalu seperti itu. Merasa kasihan melihat pasien siapa saja yang sendirian. Maka Sinta akan menemani sampai ada keluarganya datang, baru Sinta akan pergi.
"Maaf, saya merepotkan. Terimakasih, tapi dokter pasti sedang sibuk?"
"Alhamdulillah tidak. Kan kamu pasien terakhir saya. Paling nanti sore baru sibuk lagi memeriksa."
Sang korban kecelakaan tidak bisa menimpali lagi. Dia memilih diam saja membiarkan Sinta menemaninya.
Srek!
Pembatas ranjang di buka kasar membuat Sinta terkejut.
"Astaghfirullah. Dek. Kaki kamu."
Panik seorang wanita muda melihat adik nya berbaring dengan kaki yang di perban. Hatinya hancur mendengar kabar jika adiknya juga ternyata korban kecelakaan.
"Istighfar, kak. Aku baik-baik saja."
"Kakak tuh khawatir, tahu. Jangan sok kuat. Kebiasaan deh. Sebenarnya apa yang terjadi, sampai kamu bisa begini?"
"Kak, kecilkan suara kakak. Malu, apalagi ada dokter."
Wanita muda itu seketika menatap sekeliling. Benar saja, orang-orang memandang dirinya hingga matanya bertemu dengan mata Sinta.
"Ka-kamu ..,"
Sinta tersenyum lembut melihat siapa kelurga pasien nya. Ternyata mba tadi yang mengalah membiarkan Sinta memakai jasa ojol yang sudah di pesannya.
"Kita bertemu lagi. Terimakasih tadi sudah membiarkan mas ojol nya pergi dengan saya."
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih...