Zhafira Nayara Humaira, gadis berparas cantik, namun yatim piatu. Memiliki kepribadian lembut, ramah dan tegas dalam bersikap. Kini sedang berkuliah lewat jalur beasiswa.
Tak sedikit Mahasiswa yang ingin menjadikan pacar tapi selalu ia tolak secara halus, karena ia tak ingin fokusnya terganggu. Hingga ia menerima Bryan, pria yang selalu ada untuknya. Mereka memutuskan untuk menikah siri dan tinggal di aparteman yang sama.
Setelah wisuda selesai, Bryan izin pulang ke Jakarta, Zhafira sering mual dan muntah. Di tengah ketidaknyamanan, Zhafira tak sengaja menyaksikan siaran langsung di TV. Brian, suaminya sedang melangsungkan pertunangan dengan wanita cantik, elegan.
Seketika dadanya seperti tertusuk jarum besar, perih dan menyakitkan. Bersamaan itu ia baru saja mengetahui kalau dirinya sedang hamil.
Bagaimana ia menghadapi kenyataan pahit itu? Mampukah ia bertahan demi nyawa yang dikandungnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tientien AQuariuzz Girllzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 VIDEO VIRAL
SELAMAT MEMBACA !!!
Kejadian yang berlangsung di restoran tadi siang ternyata telah direkam oleh banyak pengunjung dan kini videonya sangat menjadi viral di dunia media sosial.
Komentar warganet yang beragam, sebagian besar memuji keadilan Manager yang tak langsung menyalahkan Fira dan sebagian memuji saksi untuk mengungkapkan kebenaran kejadian itu. Sekaligus menyayangkan perbuatan empat gadis yang ingin menjebaknya.
"Brina..!" teriak orang itu.
Sabrina yang baru masuk ke dalam rumah, kaget karena teriakan yang cukup keras dari Papanya.
"Ada apa sih, Pa?" tanya Sabrina tak kalah keras.
Tuan Robert menatap tajam penuh kekecewaan terhadap putri tunggalnya.
"kamu sudah mempermalukan Papa dan seluruh keluarga besar kita! Coba lihatlah sendiri, perbuatanmu sudah viral tersebar luas di sosial media. Kamu sungguh menghancurkan nama baik Papa yang sudah Papa bangun dari dulu. Kalau memang ingin bersikap semena-mena pada orang lain itu lihat sekelilingnya! BODOH SEKALI!" bentaknya meledak menahan amarahnya.
Sabrina menggenggam tangannya dengan erat, ia semakin benci dan dendam dengan Zhafira. Karenanya dia dimarahi oleh Papanya, dan dipermalukan di seluruh dunia.
Dalam hatinya berkata, "Awas akan aku kasih pelajaran yang tambah berat lagi," ujarnya.
☆☆☆♡♡♡♡☆☆☆
Zhafran yang melihat kejadian di restorannya yang viral, segera menghubungi Managernya.
"Halo, Pak Haris! Bagaimana situasi di sana dan bagaimana keadaannya Fira?!" tanyanya sedikit khawatir, karena ia sedang berada diluar negeri bersama orang tuanya mengunjungi Abangnya yang tinggal di Luar Negeri.
Sementara itu, saat Fira diajak ikut serta, ia dengan tegas menolak. Katanya ia lebih memilih mencari pekerjaan tambahan untuk menambah uang sakunya, agar bisa menabung sebagai bekal keperluan nanti saat resmi masuk kuliah.
"Alhamdulillah aman, Tuan Zhafran. Fira tak apa-apa. Mungkin dia sangat shock, tiba-tiba di dorong sangat kuat. Sehingga dia hampir saja jatuh dan menatap meja yang lain. Untung saja ada orang yang membantunya," jawab Pak Haris, sedikit takut karena ia tau siapa Zhafira. Adik angkatnya Zhafran.
"Baik terima kasih informasinya, Pak. Lebih baik suruh Fira pulang dan istirahat di Kostnya!" perintah Zafran kembali kepada Pak Haris dengan nada tegas. Ia tak ingin Fira terlalu lelah dengan masalah hari ini.
Pak Haris pun segera menemui Fira di dapur sedang membuatkan minuman kepada pengunjung restoran. "Fira, sebaiknya kamu pulang ke Kost dan istirahat yang cukup. Hari ini adalah hari terberatmu, Tuan Zafran sudah memberikan pesan untuk menyuruh kamu pulang. Biar di sini yang lain yang mengerjakannya!"
Fira sempat mengernyitkan dahinya heran dan ia berusaha menolak, " Tapi, Pak..."
"Nggak ada tapi-tapian, Fir. Ini perintah dari Tuan Zafran. Atau kamu memilih nggak boleh kerja lagi!" seru Pak Haris dengan tegas, ia juga takut kalau tak melaksanakan perintah dari Tuannya itu, ia akan dipecat.
Akhirnya Fira mengalah dan izin pulang ke Kostnya. Sampainya di depan kostnya, ia langsung membuka pintu kostnya dengan menghela napas. Hari ini baginya hari yang penuh drama dan melelahkan.
Hapenya berbunyi ternyata Zafran yang telepon.
"Assalamualaikum, Zaf."
"Walaikumsalam. Kamu dimana sekarang?"
"Aku baru saja sampai rumah, Zaf. Tadi disuruh pulang sama Pak Haris. Katanya kamu yang menyuruhnya."
"Ya sudah kalau sudah sampai rumah. Mommy sangat mengkhawatirkanmu. Dia melihat video kamu yang viral itu,"
"Huh, itu kan karena Sabrina dan gengnya duluan yang cari masalah, Zaf. Bilang sama Mommy ya aku benar-benar tidak apa-apa kok!" ucap Fira tenang.
Zafran mengangguk, namun wajahnya masih tampak khawatir. "Baiklah, nanti aku sampaikan. Tapi kamu hati-hati ya di sana. Apalagi videomu sekarang sudah menyebar luas di mana-mana. Aku takut Sabrina jadi makin nekat dan berusaha mencelakai kamu, Fir. Ingat ya, jangan pernah pergi sendirian kalau sudah malam hari!" pesannya tegas penuh perhatian.
"Ya, aku akan ingat pesan kamu, Zaf. Ya sudah aku mau mandi dulu."
"Walaikumsalam."
Panggilan telepon telah berakhir, Fira ingin mandi lalu membuat makan malam.
Ia berjalan ke arah kamar mandinya, hapenya dari tadi berbunyi terus. Ia biarkan saja, nanti saja setelah mandi baru ia buka satu persatu pesan dari siapa.
Keesokan paginya, Fira bangun tepat saat adzan subuh berkumandang. Setelah selesai beribadah, barulah ia membuka ponselnya. Ternyata pesan-pesan itu dikirimkan oleh teman-teman sekelas dan ketiga sahabatnya.
Ia pun mulai menyiapkan sarapan sebelum berangkat bekerja ke restoran. Kali ini ia membuat nasi goreng kesukaannya.
Aroma tumis bumbu nasi goreng, tercium dari rumah kamarnya Fira. Tiba-tiba ada suara ketukan pintunya dari luar. Disusul suara cempreng Elena.
"Fir...Fira! Kamu sudah bangun kan? Ini aku sudah bisa mencium masakanmu yang wangi sekali. Woy Besty, Fira sayang!" teriaknya tanpa henti.
Fira di dapur hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Heran dengan si Elena, anak orang kaya tapi tak ada anggun-angunnya. Dan sikapnya itu sesuka hatinya sendiri.
"Iya sebentar, El. Aku matiin kompor dulu!" seru Fira sambil mematikan kompornya, lalu mencuci tangannya dulu sebelum membuka pintu untuk sahabatnya.
Ceklek
Pintu dibuka dari dalam, tampaklah Fira yang masih menggunakan baju tidur itu.
"Kenapa pagi-pagi sudah sampai sini? Kayak nggak ada kerjaan saja?" tanya Fira sedikit kesal, bayangkan baru jam enam sahabatnya itu sudah sampai di Kostnya
Elena yang ditodong pertanyaan begitu, ia hanya terkekeh, sambil masuk ke dalam Kostnya Fira. "Aku kan memang nggak ada kerjaan, Fir. Kamu lupa ya? Aku tuh khawatir banget padamu, Fir. Bayangkan saja aku chat dari sore baru dibalas subuh tadi. Siapa coba yang tak khawatir?" tanyanya balik ke Fira.
Fira merasa sangat bersalah mendengar ucapan sahabatnya. Ia sadar dirinya sudah membuat mereka merasa cemas dan khawatir mungkin sejak tadi siang."
"Maaf ya, El. Aku kemarin jam tigaan sudah disuruh pulang oleh Pak Haris. Katanya itu perintah dari Zafran, El. Sampainya diKost, aku merenungi apa salahku kepada Sabrina dan teman-temannya itu, Sehingga dia selalu membuat masalah dan memfitnahku?" tanya Fira dengan nada bingung.
Elena merasa kasihan kepada sahabatnya itu. "Itu sama sekali bukan kesalahanmu, Fir. Mereka saja yang memang selalu iri kepadamu. Sudah ya, jangan dipikirkan lagi. Lain kali kalau mereka berbuat begitu lagi, kamu harus berani lawan mereka," ujar Elena sambil menenangkan hati Fira.
"Ya sudah sana mandi dulu, aku bantu nyiapin sarapannya, sekalian aku numpang sarapan hehehehe!" perintah Elena sambil terkekeh.
Pukul setengah delapan, Fira bersiap berangkat menuju restoran. Ia diantar oleh Elena, sekalian Elena juga hendak pulang ke rumahnya.
Sesampainya di depan restoran, Fira turun sambil melambaikan tangan kepada Elena yang akan pulang ke rumahnya.
"Selamat pagi, semuanya," sapa Fira, saat masuk ke dalam Restoran.
"Selamat pagi, Fir. Bagaimana perasaanmu sekarang. Setelah kemarin kamu menjadi artis dadakan?" tanya temannya yang bekerja dibagian kasir.