Demi amanah terakhir sang kakak, Alana rela menikah dengan kakak iparnya, Gema. Namun selama enam tahun, Alana hanyalah pelengkap. Gema mengunci rapat hatinya, terjebak duka masa lalu, dan memperlakukan Alana hanya sebagai pengasuh berstatus istri. Bahkan sakit maag akut yang diderita Alana pun tak pernah Gema ketahui.
Beruntung, Alana wanita mandiri. Pemilik toko kue besar ini bertahan murni demi sang anak sambung yang menyayanginya sebagai Bunda.
Hingga suatu malam, pertahanan Alana runtuh bersama rasa sakit yang tak lagi bisa disembunyikan. Di saat Gema akhirnya berbalik ingin meraihnya, akankah sisa-sisa cinta Alana masih ada, atau justru sudah habis tak bersisa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HABISNYA CINTA SUAMIKU
Matahari siang merambat naik tepat ke puncaknya, memancarkan terik yang cukup membakar kota. Di dalam Lumiere Bakehouse, hembusan udara dingin berpendingin ruangan berpadu pas dengan aroma wangi kue basah dan mentega yang khas. Suasana toko sedikit lebih tenang setelah gelombang pembeli jam makan siang perlahan berkurang.
Di salah satu sudut area privat dekat ruang kerja Alana, sebuah meja bundar terisi oleh keceriaan kecil. Tania yang baru saja dijemput Pak Mamat dari sekolah, duduk bersandar nyaman di samping Alana. Seragam putih-merah yang dikenakannya masih melekat rapi, meski tas punggung bergambar kartun favoritnya sudah tergeletak di kursi sebelah.
"Bunda, tadi di sekolah gambar rumah Tania dipuji sama Bu Guru!" cerita Tania dengan mata berbinar-binar, kedua kaki kecilnya mengayun-ayun gembira di bawah meja. "Kata Bu Guru, gambarnya bagus banget terus warna taman bunganya cerah!"
Alana tersenyum amat lembut, rasa lelah yang menumpuk setelah konfrontasi dengan ibunya pagi tadi seolah menguap begitu saja setiap kali menatap binar bahagia di mata Tania. Jemari Alana mengusap poni tipis di dahi bocah itu, lalu merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
"Ya ampun, cantiknya Bunda pinter banget," puji Alana penuh kehangatan. Ia lalu meraih buku menu khusus dan beberapa nampan kecil berisi sampel kue kering buatan dapur hari ini. "Anak pinter mau makan siang apa? Bunda minta dapur buatkan pasta favorit Tania mau? Atau mau makan nasi omurice pakai sosis?"
"Mau omurice buatan Bunda!" sahut Tania cepat, lalu memeluk lengan Alana dengan manja. "Tapi Tania mau kue cokelatnya juga satu, boleh kan, Bunda?"
"Boleh sayang, tapi makan omurice-nya harus habis dulu, ya," tutur Alana seraya mengecup pipi tembam Tania dengan kasih sayang yang melimpah.
Bagi Alana, merawat dan mengasihi Tania bukanlah sebuah beban atau kepura-puraan. Meski bocah ini lahir dari rahim almarhumah kakaknya, kasih sayang yang Alana berikan murni keluar dari relung hatinya yang paling dalam. Tania adalah peneduh di tengah riuhnya luka yang Alana simpan sendirian.
Namun, momen kehangatan ibu dan anak itu mendadak terganggu oleh denting lonceng pintu utama toko.
Seorang pria bertubuh jangkung dengan kemeja kerja yang sedikit tergulung di bagian lengan melangkah masuk. Tatapan matanya langsung menyapu seisi ruangan sampai akhirnya tertuju pada meja di sudut tersebut. Pria itu adalah Gema.
Tiba-tiba, tanpa ada angin maupun hujan, Gema berdiri di sana sambil membawa dua kantong kertas besar berlogo salah satu restoran ternama di kota. Raut wajah pria itu tampak campur aduk ada rasa canggung, bersalah, namun juga terpancar harapan besar untuk bisa mencairkan suasana beku di antara mereka.
"Ayah!" seru Tania kaget sekaligus senang begitu menyadari kehadiran ayahnya. Bocah itu melambaikan tangan kecilnya. "Kok Ayah ke toko kue Bunda?"
Gema mengulas senyum tipis, melangkah mendekat ke meja mereka dengan perasaan yang amat gugup. "Ayah kan belum pernah makan siang sama Tania dan Bunda Alana jadi siang ini Ayah belikan makan siang spesial buat kita makan bertiga di sini."
Tania tampak riang mendapat kejutan itu. Bagi anak seusianya, kehadiran lengkap kedua orang tuanya di tengah hari adalah momen yang jarang terjadi.
Berbeda dengan Tania, tubuh Alana seketika membeku kaku. Tatapan matanya berubah dingin dalam hitungan detik. Namun, demi menjaga kebahagiaan Tania dan profesionalitas di depan para staf tokonya, Alana memaksakan sebuah senyuman tipis sebuah topeng kepura-puraan yang amat rapi.
"Mas Gema... kenapa repot-repot ke sini?" tanya Alana dengan suara teratur, tanpa sedikit pun nada emosi.
"Nggak repot kok, Alana," sahut Gema cepat, seolah takut Alana akan menyuruhnya pergi. Pria itu menaruh kantong makanan di atas meja. "Saya cuma ingin makan siang bareng kamu dan Tania."
Alana tidak membalas lagi. Ia berdiri perlahan, memanggil Maya untuk meminta beberapa piring porselen, sendok, serta garpu bersih. Dengan gerakan tenang dan cekatan, Alana membantu mengeluarkan kotak-kotak makanan dari dalam kantong kertas tersebut.
Makanan kelas atas tersaji di atas meja udang asam manis berukuran besar, cumi goreng tepung dengan saus tartar, kepiting soka renyah, dan kerang hijau saus padang. Aroma gurih bumbu seafood mendominasi meja kecil itu.
Alana menata piring untuk Tania, mengambilkan beberapa potong cumi goreng tepung yang tidak pedas dan sedikit nasi hangat. Ia juga menyiapkan piring untuk Gema dengan sangat sopan dan cekatan, layaknya seorang istri yang melayani suaminya di depan umum.
"Nah, ini buat Tania. Dimakan ya, Sayang," tutur Alana lembut seraya menggeser piring ke hadapan Tania.
"Makasih, Bunda!" sahut Tania dengan nada sedih tapi mata Bunda nya seolah-olah berkata dengan anak kecil itu. Dimakan Tania hargai Ayah.
Alana lalu menggeser piring satu lagi ke hadapan Gema. "Silakan, Mas."
Gema tersenyum gembira, merasa usahanya membawa makan siang mulai membuahkan hasil. Pria itu mengambil sendok dan mulai menikmati makanannya. "Kamu nggak makan, Alana? Ini saya belikan banyak sekali, cukup untuk kita bertiga."
Gema menatap piring di hadapan Alana yang masih bersih melompong. Wanita itu sama sekali tidak mengambil nasi, tidak menyentuh udang, cumi, apalagi kepiting yang tersaji melimpah di tengah meja. Alana hanya duduk tenang seraya memangku dagu, mengawasi Tania yang sibuk mengunyah.
Melihat Alana yang hanya diam membisu tanpa menyentuh makanan sedikit pun, senyum di wajah Gema perlahan memudar. Pria itu menghentikan suapannya, mengira Alana masih sangat marah padanya dan sengaja menolak makanan pemberiannya sebagai bentuk aksi mogok atau penolakan.
"Alana..." tegur Gema pelan, suaranya terdengar sedikit lesu dan kecewa. "Kamu masih marah sama saya? Tolonglah... setidaknya dimakan sedikit makanannya. Saya sudah sengaja luangkan waktu beli ini dan datang ke sini supaya kita bisa makan bareng."
Alana hanya menatap Gema dengan tatapan lurus, tanpa niat membalas atau membela diri.
Di tengah keheningan canggung itu, Tania yang sedang mengunyah cumi gorengnya tiba-tiba menghentikan sendoknya. Bocah polos itu menatap ayahnya dengan kening bertaut heran.
"Yah..." panggil Tania dengan kepolosan yang tanpa dosa. "Kalau makanan ini semua, Bunda kan emang nggak bisa makan."
Gema mengerutkan dahi, bingung dengan ucapan putrinya. "Loh? Kenapa nggak bisa makan, Tania? Ini kan enak banget."
"Bunda kan alerg sama seafood, Ayah!" ceroscos Tania polos. "Dulu waktu Bunda ketumpahan bumbu udang aja kulitnya langsung merah-merah gatal terus sesak napas. Bunda cuma bisa makan ayam sama daging. Ayah kok nggak tahu sih?"
Deg!
Kata-kata sederhana dari bibir mungil Tania menghantam dada Gema bagaikan gada besi yang amat berat. Pria itu seketika mematung. Wajahnya yang tadi menunjukkan raut kecewa kini mendadak pucat pasi.
Gema menatap makanan laut yang berjejer di meja, lalu beralih menatap Alana yang masih duduk tenang tanpa ekspresi.
"Oh... ya? Ayah... Ayah nggak tahu, Nak," gagap Gema dengan lidah yang mendadak kelu dan tenggorokan yang terasa sangat kering. Pria itu menatap Alana dengan mata membelalak penuh rasa bersalah dan malu yang membakar dada. "Alana... saya... saya benar-benar nggak tahu kalau kamu alergi makanan laut. Saya pikir..."
Belum sempat Gema menyelesaikan kalimat pembelaan dirinya yang menyedihkan itu, Alana memotongnya dengan suara yang begitu tenang, merdu, namun sarat akan racun kegetiran yang mematikan.
"Mungkin Ayah lagi rindu sama almarhum Mama Kirana, Nak," pangkas Alana pelan, matanya menatap Tania dengan senyuman tipis yang sangat menyayat hati. "Kan semua makanan ini adalah makanan kesukaan almarhumah Mama kamu."
Brak!
Secara kiasan, pernyataan Alana meruntuhkan seluruh sisa harga diri Gema hingga hancur berkeping-keping di atas lantai.
Gema membeku total. Napasnya tertahan di tenggorokan. Pria itu teringat... almarhumah Kirana memang sangat menyukai makanan laut. Setiap kali mereka makan di luar dulu, Kirana selalu memesan udang, cumi, dan kepiting. Tanpa sadar, saat berdiri di depan restoran tadi untuk membeli makan siang, memori bawah sadarnya hanya mengingat selera almarhumah istrinya dan sama sekali tidak pernah tahu atau mengingat apa makanan yang bisa dan tidak bisa dimakan oleh Alana, wanita yang telah mendampinginya selama enam tahun terakhir.
Tania yang mendengar ucapan Bundanya langsung menghentikan kunyahannya. Bocah kecil itu menatap deretan makanan di meja, lalu mengalihkan pandangannya pada wajah ayahnya yang pucat pasi.
Mata bulat Tania berkaca-kaca, memancarkan rasa kecewa dan marah yang amat jujur.
"Ayah kenapa jahat banget sih sama Bunda?!" seru Tania dengan suara bergetar menahan tangis. "Ayah beliin makanan yang bikin Bunda sakit! Ayah selalu aja ingatnya Mama Kirana! Bunda kan yang ngerawat Tania dan Ayah tiap hari. Kenapa Ayah nggak pernah ingat sama Bunda?!"
"Tania... bukan gitu maksud Ayah, Sayang..." bisik Gema panik, tangannya bergetar hebat saat mencoba meraih jemari putrinya.
Namun Tania menyentak tangan ayahnya pelan. Bocah itu menggeser piringnya menjauh, lalu berbalik memeluk pinggang Alana rapat-rapat seraya menyembunyikan wajahnya. "Tania nggak mau makan. Tania mau makan omurice buatan Bunda aja!"
Gema terduduk kaku di kursinya. Lidahnya benar-benar terkelu, tak sanggup lagi menyusun satu patah kata pun untuk membela diri. Rasa malu, hina, dan penyesalan yang amat teramat sangat menghantam dadanya tanpa ampun. Pria pengusaha sukses itu kini tampak begitu kerdil dan malang di depan anak dan istrinya sendiri.
Alana mengusap lembut punggung Tania yang terisak pelan, lalu menatap Gema dengan tatapan dingin tanpa dendam,sebuah tatapan kepasrahan dari seorang wanita yang sudah sama sekali tidak mengharapkan apa-apa lagi dari suaminya.
"Mas Gema sebaiknya habiskan makanannya," tutur Alana lirih namun sangat menghujam. "Kasian kalau dibuang. Saya mau antar Tania ke dapur dulu untuk buat omurice."
Alana berdiri, memapah Tania dalam dekapannya, lalu melangkah pergi meninggalkan Gema sendirian di meja bundar itu. Pria itu hanya bisa menatap punggung istri dan anaknya yang makin menjauh, dikelilingi oleh makanan mewah yang kini terasa bagaikan racun yang membunuh jiwanya perlahan.
kmana aja km 6 th ini🤔🤔🤔
justru alana sdh sangat siap melepas org" yg tak tau diri.....
brtahun lamanya brtahan dlm ksakitan.... akhirnya mmbuat kputusan yg bkal mnnghuncangkn jiwa suami egois dan tak tau diri😅😅
dia perempuan mandiri... sukses & hatinya baik...
tpi memang org" di skitrnya bneran buta mata dan hatinya....