NovelToon NovelToon
Di Dunia Orang Bodoh, Akulah Sang Jenius

Di Dunia Orang Bodoh, Akulah Sang Jenius

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Pelukis Mimpi

Arya Pratama dikeluarkan dari sekolah. Nilai jelek, masa depan hancur, semua orang bilang dia tidak berguna. Tapi hari itu, dia menyadari sesuatu yang mengubah segalanya — bukan dia yang bodoh... seluruh dunia yang bodoh.

Apoteker tidak bisa hitung tambah-kurang. Profesor universitas menulis rumus yang salah selama ratusan tahun tanpa ada yang sadar. Juara catur dunia bisa dikalahkan dalam sepuluh langkah. Di dunia ini, pengetahuan SMA biasa adalah kekuatan tertinggi — dan Arya adalah satu-satunya orang yang memilikinya.

Dari siswa yang dibuang, dia naik menjadi legenda yang tidak pernah menunjukkan wajah aslinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelukis Mimpi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 1: Siswa Buangan

"Kamu resmi dikeluarkan."

Pak Kepala Sekolah SMA Budi Utama mendorong dua lembar kertas ke depan Arya Pratama. Stempel biru yayasan sudah menempel di sudutnya.

SURAT KEPUTUSAN PEMBERHENTIAN PESERTA DIDIK.

"Nilaimu paling bawah. Absensimu buruk. Guru-guru sudah menyerah," lanjut pria itu. Nadanya pelan, tapi tiap kata seperti palu. "Bapak tidak mau kamu membuat masalah setelah ini. Tanda tangan penerimaan surat, bawa pulang, minta orang tuamu datang kalau masih ingin protes."

Arya melihat buku rapornya di meja. Angka merah memenuhi kolom matematika, fisika, kimia, sejarah.

Semua orang bilang ia bodoh.

Mereka tidak pernah tahu, setiap kali Arya membuka buku, kepalanya sakit bukan karena ia tidak paham.

Terlalu banyak yang salah di dalam buku itu.

Tetapi siapa yang akan percaya siswa buangan?

"Saya mengerti, Pak," jawab Arya akhirnya.

"Bagus." Pak Kepala Sekolah mengetuk surat itu dengan jari. "Kalau kamu mau masuk Paket C atau sekolah yang lebih... sesuai, Bapak bisa beri rekomendasi."

Lebih sesuai.

Tempat untuk orang gagal.

Arya mengambil surat itu.

Begitu pintu ruang kepala sekolah terbuka, tiga siswa di koridor langsung menoleh. Mereka melihat map cokelat di tangan Arya, lalu tertawa.

"Dikeluarin beneran?"

"Ya jelas. Nilainya begitu terus."

"Kasihan ayahnya. Kerja proyek capek-capek, anaknya malah dibuang sekolah."

Langkah Arya berhenti setengah detik.

Tiga siswa itu langsung diam, tapi senyum mereka belum hilang.

Arya menoleh. Matanya datar.

Anak yang tadi bicara menelan ludah. "Apa?"

Arya tidak menjawab. Bukan karena takut. Ia hanya tahu satu hal: kalau ia memukul orang hari ini, yang akan dipanggil ke sekolah adalah Ayah.

Dan Ayah sedang sakit.

Ia berjalan pergi.

Di gerbang sekolah, satpam menatapnya dengan kasihan. "Pulang cepat, Mas Arya?"

"Iya, Pak."

Tidak ada gunanya menjelaskan.

Arya pulang ke Perumahan Cempaka dengan map cokelat dijepit di bawah lengan. Di depan rumah kontrakan mereka, sandal kerja Ayah sudah ada di teras.

Pulang cepat dari proyek berarti buruk.

Arya membuka pintu.

Di ruang tamu sempit, Budi Pratama duduk di kursi plastik dengan kaus proyek masih melekat di badan. Wajahnya pucat. Begitu melihat Arya, ia mencoba berdiri, tetapi batuk keras lebih dulu mengguncang dadanya.

"Arya?" Budi mengangkat kepala. Suaranya serak. "Kok sudah pulang, Nak?"

"Dari sekolah," kata Arya.

Budi terdiam. Pandangannya jatuh ke map cokelat. "Itu apa?"

Arya meletakkannya di meja.

Budi membuka surat itu. Jari kasarnya berhenti di bagian tanda tangan orang tua.

"Mereka... memberhentikan kamu?"

"Iya, Yah."

Budi menutup surat itu. Ia tidak marah. Justru itulah yang membuat dada Arya lebih sesak.

"Ayah tahu kamu bukan anak nakal," kata Budi pelan. "Mungkin sekolahnya saja tidak cocok. Nanti Ayah coba bicara. Kalau perlu Ayah ambil lembur lagi."

"Jangan." Suara Arya keluar lebih cepat dari yang ia duga.

Budi menatapnya.

Arya menurunkan nada. "Ayah sedang sakit. Jangan tambah lembur."

"Cuma flu sedikit."

Seolah ingin membuktikan kata-katanya, Budi malah batuk keras. Bahunya terguncang. Arya segera mengambil gelas teh, tetapi teh itu sudah dingin. Di rak kecil dekat dapur, kotak obat mereka kosong. Hanya ada satu strip paracetamol bekas dan minyak kayu putih tinggal setetes.

"Obat Ayah habis?"

Budi tersenyum lemah. "Besok juga sembuh."

Arya tidak menjawab. Ia memasukkan surat pemberhentian itu kembali ke map, lalu mengambil dompet lusuh dari laci. Uangnya tidak banyak. Beberapa lembar dua puluh ribuan, selembar lima ribuan, dan koin yang bunyinya terlalu ramai untuk jumlah sekecil itu.

"Aku beli obat dulu."

"Arya, tidak usah. Uangnya buat makan malam."

"Aku hitung cukup."

Budi tampak ingin membantah, tetapi batuk lagi. Akhirnya ia hanya mengangguk. "Hati-hati, Nak."

Arya keluar ketika langit mulai berubah oranye. Di tangannya, map cokelat masih ia bawa tanpa sadar. Surat itu seperti bayangan yang mengikuti, mengingatkan bahwa hari ini ia resmi jatuh ke dasar.

Apotek terdekat berada dua gang dari rumah, di sebelah toko pulsa dan warung pecel lele. Lampu neon putihnya berkedip-kedip. Di rak kaca, obat flu, vitamin, salep, dan masker ditata rapi dengan label harga yang beberapa bagiannya miring.

Seorang apoteker perempuan berusia tiga puluhan berdiri di balik meja. Namanya tertulis di pin kecil: Rina.

"Cari apa, Mas?" tanyanya.

"Obat flu untuk orang dewasa. Demam, batuk, badan pegal."

Rina mengangguk serius, lalu mengambil dua kotak obat dari rak. "Yang ini untuk demam. Yang ini untuk batuk. Diminum setelah makan."

Arya melihat label harganya.

Rp 25.000.

Rp 18.000.

"Totalnya berapa, Bu?" tanya Arya.

Rina mengambil kalkulator kecil berwarna abu-abu. Ia menekan tombol dengan hati-hati, seolah sedang menjinakkan alat yang berbahaya.

Tik. Tik. Tik.

Ia menatap layar, lalu berkata, "Lima puluh dua ribu."

Arya berkedip.

"Maaf, Bu. Dua puluh lima ribu tambah delapan belas ribu?"

"Iya." Rina mengangguk mantap. "Lima puluh dua."

Arya menatap dua kotak obat itu, lalu kalkulator di tangan Rina. Mungkin ia salah dengar. Mungkin ada biaya tambahan.

"Ada biaya plastik atau administrasi?"

"Tidak ada, Mas. Dua obat saja."

Rina menekan kalkulator lagi. Kali ini lebih lambat. Angka di layar sempat terlihat dari posisi Arya: 25, lalu 18, lalu entah tombol apa yang ia tekan setelahnya. Rina mengerutkan dahi.

"Eh... tiga puluh lima ribu?"

Arya diam.

Rina tampak tidak yakin. Ia mengambil pulpen, menarik selembar kertas nota, lalu menulis angka besar-besar.

25.000

18.000

Garis.

Ia menatap susunan itu seperti melihat soal ujian nasional. Pulpen di tangannya bergerak ke kanan, ke kiri, lalu berhenti. Keringat kecil muncul di pelipisnya.

"Sebentar, Mas. Kalau lima ditambah delapan..." Ia menggigit bibir. "Tiga belas. Berarti tulis tiga, simpan satu. Lalu dua tambah satu..."

"Empat puluh tiga ribu," kata Arya.

Ruangan apotek mendadak terasa terlalu sunyi.

Rina mengangkat kepala pelan-pelan. Matanya membesar.

"Apa?"

"Totalnya Rp 43.000, Bu." Arya menunjuk nota tanpa menyentuhnya. "Dua puluh lima ribu tambah delapan belas ribu. Lima tambah delapan tiga belas, tulis tiga simpan satu. Dua tambah satu tambah satu sama dengan empat. Jadi empat puluh tiga."

Rina menatap nota. Lalu menatap Arya. Lalu kembali ke nota.

Wajahnya berubah. Ekspresinya lebih dekat pada orang yang baru melihat seseorang mengangkat lemari dengan satu tangan.

"Mas..." Suaranya mengecil. "Mas hitung itu di kepala?"

Arya hampir tertawa. Pertanyaan itu terlalu tidak masuk akal untuk dianggap serius.

"Iya."

"Tanpa kalkulator?"

"Itu cuma penjumlahan."

Rina mundur setengah langkah. Punggungnya menyentuh rak obat di belakangnya hingga beberapa kotak vitamin bergoyang. Ia memandang Arya dengan campuran takut, kagum, dan bingung.

"Mas jangan bercanda. Orang biasanya pakai alat. Kalau tidak pakai alat bisa salah."

"Tapi Ibu pakai alat tadi juga salah."

Kalimat itu keluar datar. Tidak mengejek. Justru karena terlalu datar, Rina seperti makin terpukul. Ia buru-buru menekan kalkulator lagi, kali ini mengikuti arahan Arya: dua, lima, nol, nol, nol, tambah, satu, delapan, nol, nol, nol, sama dengan.

43000.

Angka itu menyala di layar kecil.

Rina menutup mulutnya.

"Masya Allah..."

Arya meletakkan selembar lima puluh ribuan di meja. "Kembaliannya tujuh ribu."

Rina membeku lagi.

"Tujuh?"

"Lima puluh ribu dikurangi empat puluh tiga ribu."

Rina mengambil uang dari laci dengan gerakan kaku. Ia menghitung lembar dua ribuan, seribuan, lalu berhenti, bingung sendiri. Arya menunjuk pelan.

"Dua ribu tiga lembar dan seribu satu lembar."

"Oh. Iya. Iya, benar."

Saat uang kembalian itu berpindah ke tangan Arya, Rina tidak lagi melihatnya seperti pelanggan. Ia melihatnya seperti sesuatu yang tidak seharusnya ada di apotek kecil pinggir gang.

"Mas sekolah di mana?" tanyanya tiba-tiba.

Jari Arya mengencang di map cokelat.

SMA Budi Utama. Bekas siswa. Baru dikeluarkan hari ini karena dianggap terlalu bodoh.

Kalimat itu hampir keluar, tetapi ia menelannya kembali.

"Tidak penting, Bu."

Arya memasukkan obat ke kantong plastik, mengangguk singkat, lalu keluar dari apotek.

Udara malam Kota Buana menyambutnya dengan bau gorengan, asap motor, dan tanah basah. Dari warung sebelah, suara orang tertawa terdengar biasa saja. Lampu jalan menyala setengah redup. Dunia berjalan seperti tidak ada apa-apa.

Arya berhenti di bawah tiang listrik.

Di tangan kirinya ada kantong obat untuk ayahnya. Di tangan kanannya, map cokelat berisi surat yang menyatakan ia tidak layak lagi duduk di bangku SMA Budi Utama.

Beberapa jam lalu, surat itu terasa seperti bukti bahwa hidupnya hancur.

Sekarang, setelah melihat seorang apoteker dewasa gemetar karena penjumlahan Rp 25.000 dan Rp 18.000, arti surat itu mulai retak.

Arya menoleh ke arah apotek. Dari balik kaca, Rina masih memandangi kalkulatornya, lalu mencoba menulis ulang hitungan di nota, seperti sedang mempelajari ilmu rahasia.

Jantung Arya berdetak lebih pelan.

Selama ini, ia selalu mengira dirinya yang tertinggal. Ia tidak cocok dengan pelajaran, tidak cocok dengan guru, tidak cocok dengan cara orang-orang di sekitarnya berpikir. Semua orang berkata ia bodoh, dan dunia begitu kompak mengatakannya sampai ia hampir percaya.

Tapi bagaimana jika masalahnya bukan di kepalanya?

Bagaimana jika sejak awal, ukuran yang dipakai dunia ini memang rusak?

Arya menatap surat pemberhentian di tangannya. Sudut bibirnya tidak tersenyum, tetapi matanya mulai berubah.

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak lama, kata "bodoh" tidak lagi terasa seperti cap di dahinya.

Ia berjalan pulang perlahan, membawa obat, uang kembalian tujuh ribu, dan satu pertanyaan yang tidak mau pergi.

Sebenarnya, siapa yang bodoh di dunia ini?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!