NovelToon NovelToon
Zuraida & Si Kembar

Zuraida & Si Kembar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Ibu Tiri
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Kuswara

Hanya karena menolong seorang pria Zuraida difitnah sampai diusir dari desa dan dinikahkan dengan pria itu. Pria yang menjadikannya seorang ibu bagi kedua anak laki-laki.

Bagaimana Zuraida yang dari desa menjalani hidup di kota di tengah rasa tidak suka anak-anak tiri dan pihak keluarga suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kuswara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Kening Ibu Guru mengernyit. Di antara tumpukan buku tulis semua murid hanya ada satu nama yang tak pernah mengumpulkan. Sean. Ini sudah yang kelima kalinya. Tak ada jawaban pasti yang diberikan Sean, anak itu tak bicara sepatah kata pun.

Ibu Guru bangkit, berjalan menghampiri Sean yang duduk di bangku paling belakang.

"Tak mengumpulkan lagi?."

Sean hanya diam. Di meja pun tak ada buku tulis atau pensil.

"Jam istirahat temui ibu di ruangan."

Masih belum merespon. Tapi Ibu Guru berlalu pergi dari hadapan Sean.

Waktu istirahat sudah mau hampir habis tapi Sean tak kunjung menemui Ibu Guru. Ibu Guru ke ruangan, Sean tak ada di antara teman-temannya yang sedang bermain.

"Ke mana perginya Sean?," lirihnya. Mencoba mencari ke kelas A di mana kembarannya berada. Tak ada juga, Sena terlihat sedang asyik bercanda dengan anak yang lain.

Ibu Guru kembali ke kelas tepat sesaat Sean memasuki kelas. Tak lagi menegur Sean dari mana atau kenapa tak menemuinya. Ibu Guru melanjutkan sisa jam pelajarannya sampai waktunya selesai.

Dalam perjalanan menjemput ke sekolah, Zuraida bicara di telepon dengan seseorang.

"Baik, nanti akan saya cari tahu apa penyebabnya. Terima kasih sudah mengabari."

Zuraida melajukan kendaraannya semakin kencang lagi supaya cepat sekolah. Sean dan Sena yang sudah menunggunya diminta segera memasuki mobil. Zuraida langsung membawa mereka pulang.

Zuraida mendatangi kamar si kembar di saat Sean dan Sena bermain di luar. Semua buku Sean masih bersih tanpa ada goresan apa pun. Membandingkan dengan buku Sena yang mulai dipenuhi beberapa tulisan huruf-huruf dan angka.

Sebagai seorang ibu tiri yang belum dekat dengan Sean dan Sena, Zuraida cukup kesulitan untuk mengorek informasi tentang Sean dari Sena atau dari Sean sendiri.

Rasanya tak mungkin juga bertanya pada suaminya yang akhir-akhir ini sangat sibuk dengan pekerjaan sampai pulang larut malam terus.

*

Teman sebangku Sean yang mulai tahu perilaku buruk Sean yang tak pernah mencatat apa pun di buku tulisnya tentang apa yang diajarkan Ibu Guru. Mengajak beberapa teman untuk mengerjai Sean.

"Sini bukumu!," sambil menarik buku Sean dari hadapan Sean.

"Mau diapain bukuku?," tanya Sean pada temannya saat mulai menulis sesuatu di dalam bukunya.

"Kamu baca saja sendiri," kemudian melemparnya ke. hadapan Sean. Sean hanya diam di hadapkan pada tulisan-tulisan besar itu.

Kemudian terdengar tawa mengejek dari teman-temannya yang lain.

"Kamu nggak bisa baca, ya?." tebak yang menulis.

"Sean hanya diam.

"Kamu bener-bener nggak bisa baca, Sean?," tanyanya lagi dengan nada yang mengejek.

"Woiiiii...teman-teman," seru teman yang memprovokasi.

Teman-teman yang ada di kelas mulai merespon suara temannya. Memperhatikan Sean yang sudah menundukkan wajahnya di antara teman-teman yang mengelilinginya.

"Ada apa, Bagas?." Tanya teman ikut provokasi.

"Sean nggak bisa baca, HA...HA...HA..."

Hinaan itu diakhiri gelak tawa yang kemudian diikuti oleh teman satu kelas.

"Sean nggak bisa baca...Sean nggak bisa baca...Sean nggak bisa baca..." (Baca nada dan irama anak-anak yang sedang meledek 😘).

Kepala Sean semakin tertunduk, hilang dalam ejekan teman-teman satu kelas yang terus menyoraki sambil mendekat lalu membuat lingkaran. Terus menerus mengejek Sean yang sedikitpun tak ada membalas.

"Hentikan! Hentikan!," Ibu Guru memasuki ruang kelas. Seketika lingkaran itu bubar, kembali ke kursi masing-masing.

"Bu Guru Sean nggak bisa baca makanya nggak pernah ngumpulin tugas." Celetuk Bagas di keheningan kelas setelah ada Ibu Guru.

"Huruf aja Sean nggak tahu," celetuk teman lain menimpali.

"Sudah...sudah..." Ibu Guru menengahi supaya Sean rak terus-terusan menjadi hinaan teman-temannya.

"Nanti Sean bisa belajar lagi di rumah atau sama Ibu Guru juga boleh." Lanjutnya.

Bel pulang sudah terdengar, Ibu Guru sudah meninggalkan kelas karena ada keperluan. Kesempatan itu tak disia-siakan oleh Bagas dan teman-temannya. Mereka menahan Sean yang hendak keluar kelas dengan menarik tas Sean.

Mengeluarkan buku-buku Sean lalu disobek dari bagian tengah.

"Itu bukuku!," teriak Sean mencoba mengambilnya.

"Daripada buku-buku ini tak berguna lebih baik buat bikin pesawat terbang atau perahu saja, Sean." Sambil terus merobeknya, dibagikan pada teman-temannya untuk dibuat pesawat terbang atau perahu.

Alhasil kelas itu dipenuhi kertas-kertas berbentuk pesawat dan perahu. Ada juga beberapa sobekan-sobekan yang berserakan di lantai karena gagal membuatnya.

Sean tak dapat menyelematkan kedua bukunya. Menyisakan sampul yang dimasukkan lagi ke dalam tasnya oleh Bagas. Setelah itu Sean boleh keluar kelas dengan diteriaki.

"Sean anak bodoh...nggak bisa baca...nggak bisa nulis. Sean anak bodoh...Sean anak bodoh..."

Karena tak tahan dengan teriakan ejekan teman-temannya Sean berlari. Tak melihat lagi apa pun. Berlari sekencang mungkin jauh dari mereka.

Bugh

Tubuh keduanya sama-sama terpental namun yang lebih jauh tentunya Sean.

"Awwww..." sama-sama meringis.

"Kamu ini kenapa Sean?," yang ditabrak rupanya Sena.

Sean segera bangun, menatap Sena yang masih dalam posisi duduk di lantai.

"Kamu dari mana saja? Aku mencarimu ke mana-mana nggak ada."

"Yang lain udah tahu aku nggak bisa baca tulis."

Sena terperanjat kaget, langsung bangun. Menarik tubuh Sean menjauh dari sekolah.

"Apa mereka mengolok-olokmu?."

"Menurutmu?." Ketus Sean sangat marah.

"Aku makin benci Zuraida, aku juga benci daddy. Karena mereka aku diolok-olok."

"Kamu diapain aja sama teman-temanmu?."

Sean tak menjawab, hanya mengingat olok-olokan mereka yang mengatainya.

"Mana lagi Zuraida? Tumben sekali belum ada." Sean celingukan mencari sosok yang menjemputnya.

"Kita pulang aja," Sean sudah mengambil langkah. Sena mengikuti.

Baru juga mereka tiba di jalan raya muncul mobil Zuraida. Zuraida segera menepi, ia menghampiri anak-anaknya.

"Maaf, saya terlambat menjemput. Tadi ada kecelakaan, jalanan jadi macet." Jelasnya.

Baik Sean maupun Sena tak ada yang merespon. Kedua anak itu langsung masuk ke dalam mobil. Zuraida mengikuti den kembali melajukan kendaraannya.

"Lebih bagus lagi kalau kamu yang kecelakaan, Zuraida." Murka Sean sambil melemparkan tas ranselnya ke arah kepala Zuraida hingga mengenainya.

"Astagfirullah, Sean." Zuraida sampai mengucap.

"Ini semua karena kamu!," bentaknya sambil menendang belakang kursi yang diduduki Zuraida.

"Astagfirullah, Sean." Zuraida kembali mengucap.

"Boleh marah tapi jangan sampai melukai diri sendiri atau orang lain. Kita ini sedang dalam kendaraan, aku mengemudi." Terus fokus pada kemudi.

"Biar saja! Biar kamu mati! Karena kamu aku diolok-olok." Bukan sekali tendangan itu dilayangkan Sean. Namun berkali-kali. Sangat tak nyaman dibuatnya.

Sena hanya menonton saja. Yang pasti Sena akan selalu mendukung kembarannya.

Karena merasa tak aman Zuraida menepikan kendaraannya. Menoleh ke arah Sean yang langsung disambut oleh tumbler yang melayang ke wajah Zuraida mengenai pelipis hingga sobek berdarah.

Bersambung

1
Mai_mai
cepat lah ketahuan tentang sena kalo bisa pindah sekolah saja
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjuut thor cerita bagus bgt .
𝐈𝐬𝐭𝐲
sena udah salah jalan semoga orang tuanya segera menyadarinya... dan Sena masih bisa di selamatkan kalo bisa pindah dari sekolahan itu...
Soraya
q mampir thor lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!