Dia meninggal dalam kesengsaraan, dikhianati oleh suami dan sahabatnya sendiri. Tapi takdir memberinya tiket pulang ke masa lalu. Siren terbangun kembali di tubuh mudanya, lima tahun sebelum tragedi itu menghancurkan hidupnya. Kali ini, dia bukan lagi istri penurut yang naif. Dengan ingatan utuh tentang setiap kebohongan Fadli dan setiap rencana jahat Nia, Siren bersiap memainkan skenario baru. "Kalian pikir aku lemah? Tunggu saja sampai kalian melihat siapa yang sebenarnya memegang kendali." Di kehidupan barunya, Siren tidak hanya fokus menghancurkan karir dan rumah tangga Fadli, tetapi juga membangun imperiumnya sendiri. Di tengah permainan kucing-kucingan yang penuh sarkasme dan ketegangan ini, hadir Arya Wijaya—konglomerat dingin yang di kehidupan sebelumnya ia abaikan. Arya bukan sekadar pelarian. Dia adalah sekutu cerdas yang menyadari perubahan drastis pada Siren. Bersama Arya, Siren mengubah air mata menjadi senjata, dan rasa sakit menjadi bahan bakar untuk bangkit. Siap-siap m
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
UNDANGAN
Kantor pos eksklusif di kawasan Menteng terasa hening. Hanya ada suara mesin stempel yang berdentum ritmis dan aroma kertas mahal. Aku berdiri di depan meja konter, memegang tumpukan amplop berwarna emas mengkilap dengan inisial SGR (Siren Green Residence) tercetak timbul di tengahnya.
Arya berdiri di sampingku, memeriksa daftar alamat di tablet-nya dengan teliti.
"Pastikan semuanya tercatat," ucap Arya tanpa menoleh. "Setiap tanda tangan penerima harus didokumentasikan. Kita butuh bukti bahwa mereka menerima undangan ini secara pribadi."
"Sudah, Pak," jawab petugas pos dengan sopan, meski matanya sesekali melirik ke arah kami dengan rasa penasaran. Siapa gerangan yang mengirim undangan sekelas ini ke alamat-alamat pinggiran kota?
Aku mengambil satu amplop, menatap tulisan tangan di depannya: Kepada Yth. Ibu Ratna Pratama. Tulisan itu elegan, tegas, dan dingin. Sama seperti isi surat di dalamnya.
"Mereka akan panik," gumamku sambil menyelipkan amplop itu ke dalam tas tangan kulit hitamku. "Menerima undangan dari 'korban' yang kini menjadi pengembang properti ternama. Itu akan menghancurkan ego mereka lebih efektif daripada teriakan apa pun."
Arya akhirnya menoleh, senyum tipis bermain di bibirnya. "Panik adalah reaksi awal. Rasa takut adalah reaksi kedua. Dan penyesalan... itu adalah reaksi terakhir yang akan mereka rasakan saat melihat gedungmu berdiri megah di atas tanah yang dulu mereka anggap tidak berharga."
"Apakah kita terlalu kejam?" tanyaku, meski nada suaraku tidak menunjukkan keraguan sedikit pun.
"Kejam?" Arya mengangkat alis. "Kita hanya memberikan mereka kesempatan untuk menyaksikan sejarah. Jika mereka memilih untuk tidak datang, itu hak mereka. Tapi jika mereka datang... well, itu berarti mereka masih punya sisa-sisa keberanian. Atau mungkin, keserakahan."
Kami keluar dari kantor pos. Matahari siang terik menyinari wajah kami. Mobil hitam kami sudah menunggu di pinggir jalan. Sopir membukakan pintu.
Sebelum masuk, ponselku berdering. Nama Dimas muncul di layar.
Aku tertawa kecil. "Lihat? Reaksi pertama sudah dimulai. Belum bahkan dua jam sejak kurir berangkat, dia sudah menelepon."
Arya menggelengkan kepala, tersenyum geli. "Angkat saja. Biarkan dia mendengar ketenanganmu. Itu akan membuatnya semakin gelisah."
Aku menekan tombol terima dan mengangkat ponsel ke telinga. Suaraku datar, tanpa emosi.
"Halo, Mas Dimas."
"Siren!" Suara Dimas terdengar tinggi, hampir berteriak. Napasnya memburu. "Apa maksudmu mengirim undangan ini? Kamu mau apa? Mau mempermalukanku di depan umum? Di depan calon investor asing yang akan kamu undang nanti?"
"Tidak ada rencana mempermalukan siapa pun, Mas," jawabku tenang. "Ini adalah acara peletakan batu pertama proyek terbesar saya. Sebagai keluarga—walau hubungan kita sudah retak—saya merasa wajib mengundang Anda. Lagipula, tanah itu dulunya milik Anda. Rasanya tidak etis jika Anda tidak hadir saat fondasinya diletakkan."
"Jangan berpura-pura baik!" desis Dimas. "Saya tahu isi kepalamu! Kamu ingin saya melihat bagaimana Anda sukses di atas penderitaan saya! Anda ingin saya menyesal!"
"Jika Anda menyesal, itu bukan karena keinginan saya, Mas," potongku tajam. "Itu karena pilihan hidup Anda sendiri. Judi online, utang menumpuk, dan menjual aset warisan dengan harga murah. Saya hanya membeli apa yang Anda jual. Transaksi itu sah secara hukum. Undangan ini juga sah secara sosial."
Hening di seberang sana. Dimas tampak kesulitan mencari kata-kata.
"Lalu... apa yang harus saya lakukan?" tanyanya akhirnya, suaranya lebih rendah, terdengar lelah dan kalah.
"Hadirilah," jawabku singkat. "Duduk di kursi paling depan. Pakai baju terbaik Anda. Dan saksikan bagaimana wanita yang dulu Anda hina kini membangun kerajaan di atas puing-puing kehancuran Anda. Itu saja."
"Dan jika saya tidak datang?" tantang Dimas, meski suaranya gemetar.
"Maka saya akan menganggap Anda mengakui kekalahan total," balasku dingin. "Dan saya akan mendonasikan kursi VIP Anda kepada yayasan korban kekerasan domestik. Nama Anda akan disebut dalam pidato pembukaan sebagai 'donatur anonim' yang mendukung pemberdayaan wanita. Bagaimana? Tertarik menjadi pahlawan diam-diam?"
Dimas terdiam lama. Aku bisa membayangkan wajahnya yang merah padam karena marah dan malu.
"Baiklah," gumamnya akhirnya, suaranya parau. "Saya akan datang. Tapi ingat, Siren... jangan harap saya akan bertepuk tangan untukmu."
"Saya tidak butuh tepuk tangan Anda, Mas," jawabku sambil tersenyum miring. "Saya hanya butuh kehadiran Anda sebagai saksi sejarah. Sampai jumpa di acara nanti."
Klik.
Aku menutup telepon, lalu memasukkannya ke dalam tas. Arya sudah duduk di dalam mobil, menatapku dengan ekspresi bangga.
"Brilian," ucapnya saat aku masuk. "Memberinya pilihan antara menjadi penonton atau menjadi 'pahlawan palsu'. Keduanya menjebak egonya."
"Dia tidak punya pilihan lain," jawabku sambil mengatur posisi duduk. "Jika dia tidak datang, dia akan dianggap pengecut oleh istri dan keluarganya. Jika dia datang, dia harus menelan ludah melihat kesuksesanku. Win-win situation for me."
Arya tertawa kecil, lalu memberi isyarat pada sopir untuk berangkat.
"Menuju mana sekarang, Nyonya Direktur?" tanya sopir.
"Ke lokasi proyek," jawabku. "Saya ingin memastikan tiang pancang pertama sudah siap. Besok adalah hari besar. Dan saya ingin segala sesuatunya sempurna."
Mobil melaju mulus membelah kemacetan Jakarta. Di dalam kabin yang sejuk, aku merasa tenang. Badai emosional dengan keluarga mantan suami akhirnya mencapai puncaknya. Besok, di bawah sorotan kamera dan tatapan ratusan tamu, babak final dari drama keluarga ini akan dipentaskan.
Dan kali ini, aku bukan lagi aktris figuran yang menangis di latar belakang. Aku adalah sutradara utama. Dan skripnya... ditulis dengan tinta emas kemenangan.
"Arya," panggilku tiba-tiba.
"Ya?"
"Terima kasih. Untuk semua ini. Untuk strategi, untuk dukungan, dan... untuk cinta."
Arya meraih tanganku di atas konsol tengah, menggenggamnya erat. Matanya menatapku dengan kelembutan yang tak terhingga.
"Jangan berterima kasih pada saya, Siren," bisiknya. "Berterima kasihlah pada dirimu sendiri. Karena kamu yang berani bangkit. Saya hanya menyediakan panggung. Kamu yang menari di atasnya dengan anggun."
Aku tersenyum, membalas genggaman tangannya. Di luar jendela, gedung-gedung pencakar langit Jakarta menjulang tinggi. Tapi bagiku, gedung tertinggi bukanlah yang terbuat dari beton dan kaca. Melainkan gedung harapan yang baru saja kubangun di dalam hatiku.
Besok, dunia akan tahu nama Siren. Bukan sebagai korban. Tapi sebagai pemenang.