NovelToon NovelToon
Petualangan Mayanza

Petualangan Mayanza

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Penyelamat / Akademi Sihir
Popularitas:676
Nilai: 5
Nama Author: Novita Tory

Berawal dari membaca buku yang ditemukan di lemari tua, Mayanza mempunyai kekuatan merapal mantra.
Kesalahan mengambil bunga teratai emas..
Menentukan nasib di Kehidupan Mayanza

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novita Tory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Portal yang tersegel

Aku di kamarku sendiri, aku menutup mata.

Tenagaku habis untuk melintas portal.

Aku berjalan di hutan.

Aku tau ini mimpi.

Jubahku sobek, kudengar suara gemericik air.

Danau yang tenang di ujung sana ada air terjun yang deras.

Kudengar kicauan burung bersahut-sahutan.

Embun menyentuh kulitku yang kering.

Seperti nyata.

Aku duduk di pinggiran danau.

Kumasukan perlahan kakiku tanpa alas.

tidak jauh ada sekelompok teratai yang masih kuncup.

Kakiku di kelilingi ikan.

Makin lama ikan koi di danau berdatangan ke arah kakiku.

Aku melihat bunga teratai mulai mekar perlahan.

Kupandangi terus hampir mekar.

Aku terbangun.

Aku tidak lagi di kamarku.

Aku terbaring di lantai kasur sutra berwarna merah.

Aku terkejut saat membuka mata wajah Raja Yuko di hadapanku.

**

"Biarkan aku kembali" kataku, aku berontak.

"Kamu tidak ingin tau siapa yang melakukan ini padamu" kata Raja Yuko

"Siapa? " tanyaku

"Utusan Kakekmu" katanya

"Kakekku? Kakekku sudah meninggal" beraninya memfitnah kakek.

"Kau tidak mengenal kakekmu?" katanya.

"Tentu saja aku mengenalnya. Biarkan aku kembali. Aku memang salah mengambil teratai" aku meronta tanganku ditahan.

"karena kau yang memulai membuka gerbang kau harus menyelesaikan menutup semua portal itu lagi" kata Raja Yuko.

"Besok kita berangkat berperang lagi" katanya meninggalkanku menangis sendiri di kamar.

Kupandangi gelang kuhentakan di lantai agar terbuka tapi tidak satupun bisa melepas gelang itu dari tanganku.

Pergelangan tanganku berdarah.

Dayang datang lalu membalut lukaku.

Kami berada di Istana Zink, aku tidak ingin keluar kamar yang kuinginkan keluar dari Dunia Zink.

Kekuatanku di segel.

Sepertinya Raja Yuko sudah tau cara menyegel kekuatanku setelah membaca buku tua.

**

"Mayanza... Kita berjumpa lagi, apakah kamu sudah sehat" kata Putri Rena yang datang dengan dayangnya.

Aku juga duduk bagaikan seorang putri di ruang kamarku.

"Tidak terlalu baik" jawabku menatapnya lalu memalingkan wajah.

"Tanganmu terluka" dia menyentuh tanganku yang di perban.

Kutarik tanganku pelan, "Tidak apa-apa tidak terlalu parah"

"Bagaimana dengan perutmu?" Putri Rena bertanya.

kusentuh perutku, sudah membaik hanya saja terkadang lebih perih dari sebelumnya tiba-tiba" kataku jujur.

"Ini teh melati, ibu jauh-jauh meminta pengawal pergi ke utara untukmu" katanya.

Ibu yang dia maksud adalah Ibunda Ratu, ibu dari Raja Yuko dan Putri Rena.

Sejak aku bisa mengobati Putri Rena, Ibunda Ratu sangat baik padaku.

"Terima kasih" kataku menerima sekotak teh melati.

Kuserahkan dayang untuk menyeduhnya.

"Semoga perburuan kalian akan berakhir dan kamu bisa cepat pulang" kata Putri Rena.

"Memangnya siapa yang kami buru?" tanyaku.

"Raja Yuko tidak pernah cerita? "

Aku sinis dan menatap jendela yang terbuka, disana ada pohon plum yang berbunga.

"Tidak, bahkan yang memanahku saja aku tidak tau" kataku.

"Tidak mungkin... " wajah cemas Putri Rena.

"Yang memanahmu adalah Swanzi" katanya.

Aku tercekat.. Terdiam aku mencoba mengingat apa yang terjadi di Istana Nebula.

Kenapa Swanzi memanahku.

"Kenapa dia melakukan itu padaku? " kataku.

"Karena perang ini terjadi karena ulah manusia yang datang dari duniamu" kata Putri Rena tersenyum.

"Aku pamit... " katanya, melihat Raja Yuko dan tabib datang.

**

"Kondisinya membaik, sebentar lagi akan pulih" kata tabib pria tua yang datang.

Tabib istana, yang benar-benar tabib bukan tabib dengan ilmu sihir.

"Ramuan ini diminum" katanya.

Dari aromanya pahit.

Obat luka dalam.

Berarti mereka hanya menyembuhkan luka luarku.

Tabib keluar hanya aku dan Raja Yuko.

Dia menungguku minum obat yang tabib bawa.

Aku menciumnya aromanya tidak enak dan segera kuminum.

Hampir saja kumuntahkan.

Kuambil gula-gula yang sudah di siapkan di mangkuk kecil.

"Mana barang-barangku" kataku pada Raja Yuko.

"Aku tidak tau" katanya tidak perduli.

"Kendi berisi bunga teratai?" tanyaku.

"Hilang.. " katanya

"Maksudmu? "

"Kendi itu dibawa Swanzi" katanya.

"Apa!? Swanzi kemana? " tanyaku

"Dia kabur? " kataku lagi

"Kita pasti akan bertemu dengannya" kata Raja Yuko seperti yakin.

"Aku perlu teratai itu, untuk mengobati lukaku" kataku

"Tidak bisa, kau tidak bisa menggunakan kekuatanmu sekarang" katanya

"Kalau begitu minta pengawal memetik untukku" kataku memohon menunduk karena sakit.

"Kau memohon... " kata Raja Yuko mendekat, tersenyum penuh arti.

"Ya... Aku memohon agar aku sembuh" ucapku.

"Kalau kau memetik lagi banyak gerbang yang terbuka karena ulahmu" kata Raja Yuko

"Bu.. Bunga itu bisa saja tumbuh lagi dan berbunga... " kataku

"Apa kau tau bunga itu akan berbunga berapa lama lagi? " tanyanya.

Aku menggeleng kepala

"Seratus tahun lagi" jawabnya meninggalkan aku sendiri di kamar yang beraroma dupa kayu jati dan berlampukan lilin merah.

**

"Ibu... Ayah... Aku rindu" aku menangis ingin menyerah.

Makan malam diantarkan ke kamarku, ada daging ayam rebus, sayuran dan buah.

Aku tidak selera makan.

Tapi aku berpikir harus makan.

Aku harus mencari cara agar kekuatanku kembali, segel pasti mampu terbuka.

**

Malam ini sepi, tidak ada yang datang ke kamarku, aku segera tidur menutup mata.

"Dia sudah tidur" kudengar suara pelan dari luar kamar.

Aku berpura-pura tidur untuk tetap mendengar.

"Lukanya masih belum sepenuhnya pulih, dia tidak bisa ikut berperang besok"

"Dia harus ikut berperang" suara yang kukenal. Suara Raja Yuko.

"Tapi, Baginda itu sangat berbahaya"

"Aku hanya memakainya sebagai umpan" kata Raja Yuko.

Mereka pergi, aku membuka mata dan kuremas kasur kain sutra tempatku berbaring

"Kalian lihat saja nanti" ucapku dalam hati.

**

Masih pagi, aku meminta dayang untuk menyiapkan air mandi, air hangat yang sudah ditabur kelopak bunga mawar, aku berendam.

Saat mereka lalai aku diam-diam pergi mencuri kuda yang terikat di Istana timur.

Menyelinap pergi, di perjalanan berkali-kali kulentikan jariku membuka portal tidak terbuka.

Aku berkuda jauh masuk kehutan, untung aku masih ingat jalan menuju hutan.

Mobilku terpakir, dua Anaconda yang menunggu tidak terlihat di atas mobil, aku masuk mencari apapun yang tersisa, aku masukan alat-alat ke dalam tas belanja yang selalu kusimpan di dasboard mobilku, kugantung di bahu.

Aku melangkah ke danau melihat bunga teratai emas, kuingat awal aku mendapat kekuatan jariku berdarah menyentuh kalimat kuno diatas buku kayu, kulukai jariku dengan cutter, mengeluarkan banyak darah. Ku teteskan darahku ke air danau, awan berubah hitam pekat, gemuruh dan petir bersahutan.

Kupetik satu bunga Teratai emas di dekatku.

Aku tersenyum.

Kunaiki Kuda kembali ke Istana.

Diam-diam masuk ke kamarku, dan aku tau pasti semua orang ribut mencariku.

"Nona!" teriak dayang melihatku berganti pakaian di dalam kamar.

Dia keluar berlari berkata bahwa aku ada dikamar.

Raja Yuko masuk menarik lenganku dan aku jatuh di lantai. Karena melawan.

"Darimana saja!" matanya menatapku tajam

"Setelah mandi aku berjalan-jalan ke istana timur dan tersesat" kataku

"Aku tidak mungkin kembali ke tempatku, karena kau sudah menyegel aku dengan baik" jawabku menyindir, mataku basah menatap sinis.

Raja Yuko menatapku sinis,menatap luka pegelangan tanganku terbungkus perban, dan jariku yang terluka sudah kubungkus plester terasa nyeri.

Siang ini kita berangkat ke Utara.

"Untuk apa berangkat, aku tidak bisa ikut masih terluka" aku menunjuk perut dan tanganku yang terluka.

"Dayang akan menemanimu di kereta" jawabnya.

Aku sarapan, minum ramuan dan bersiap berangkat. Tetap patuh dengan perintah.

Pakaian telah disiapkan dayang,

Aku menggunakan jubah biru navi di dalamnya jubah putih polos dengan ukiran bunga teratai emas di sisi lehernya dan jubah hitam bulu tebal karena utara kabarnya banyak salju.

Seorang dayang menemaniku, aku juga diam-diam memasukan keranjang belanja yang isinya cairan spray cabe dari mobil, plester luka, kaos kaki, handpone, pisau lipat, cutter.

Tusuk konde emasku terpasang rapi terbuat dari logam yang keras, kapan saja bisa kugunakan membela diri.

Raja Yuko sudah menunggu di gerbang istana bersama panglima, mereka menatap awan gelap, hujan turun lebat.

Raja Yuko akhirnya masuk di dalam kereta bersama aku dan dayang. Pengawal beriringan berangkat.

Angin kencang dan cuaca buruk tidak menghalangi keinginan mereka untuk berangkat, peperangan apa lagi di depan sana.

Aku diam tidak perduli, saat ini aku hanya menginginkan aku bisa pulang hidup-hidup.

Kami duduk berhadap-hadapan di dalam kereta kayu.

"Jika kau ingin kembali, tunggu lah sampai semuanya ini berakhir" kata Raja Yuko

Berbicara seolah tau apa yang kupikirkan sejak tadi.

"Baik baginda.." jawabku sopan.

Tidak seperti biasanya.

"Apa yang terjadi padamu hari ini?" tanya Raja Yuko mendekat.

Kuda melaju cepat, aku bertahan di kursi kereta. Diluar hujan sangat lebat.

"Tidak terjadi apa-apa" jawabku tersenyum.

"Jika kamu kembali, keluargamu nasibnya akan terancam" katanya mengulangi kata-kata beberapa hari lalu.

Anggaplah aku patuh dan aku hanya mengangguk pelan.

Aku tidak ingin keluargaku bernasib buruk, aku ingin segera petualangan ini berakhir.

**

Hujan terlalu lebat kami berhenti di sebuah perkampungan, seperti tak berpenghuni.

Kami tetap di dalam kereta sementara pengawal dan yang lain berteduh di bawah rumah warga, kuda di ikat dan diberi makan.

Ketukan jendela kereta.

Jendela dibukakan.

"Paduka sebentar lagi sore, kita tidak bisa bertahan lebih lama apakah kita lanjutkan perjalanan" kata Panglima.

"Lanjutkan.." perintah Raja Yuko

Aku mulai merasa mabuk di dalam kereta kuhirup udara luar, kubuka jendela kusentuh air hujan itu.

Air hujan itu langsung meresap di kulitku, kubolak balik tanganku aku langsung menarik kembali tanganku.

Raja Yuko melihatnya jelas, menatapku.

Aku hanya tersenyum...

**

Wilayah utara sangat dingin, hujan sudah reda berganti salju..

Pengawal yang sudah kedinginan hujan, berbalik kedinginan salju.

Aku merapatkan jubah bulu, kereta kami tersangkut salju tebal, Kami semua turun dari kereta agar ditarik lebih ringan.

Aku melihat sekeliling...

Sepi...

Dayang memegang tanganku, aku memperhatikan langkahku, jubah tebal menyapu salju, aku berjalan pelan.

Hari sudah hampir gelap obor dinyalakan, kami berjalan beriringan.

Pengawal di depan memberi tanda.

Gerbang Kayu besar terbuka lebar...

"Naik..." Raja Yuko meraih tanganku naik ke Kuda menuju Gerbang depan yang terlihat kurang lebih jaraknya 200 meter.

**

𝘽𝙚𝙧𝙨𝙖𝙢𝙗𝙪𝙣𝙜...

1
Tory Ambay Satu
Mantap👍👍
Tory Ambay Satu
👍👍
Tory Ambay Satu
Semakin seru ceritanya👍
Novita Tory: terima kasih, dukung dan baca juga ceritaku yang lainnya ya🤭
total 1 replies
Tory Ambay Satu
Seru banget ya, Raja Yuko😍
Novita Tory: /Chuckle/🙏
total 1 replies
Novita Tory
🤭Aku memikirkan nasib ayam berwarna putih😅🥲
Tory Ambay Satu
Bagus banget alur ceritanya 👍
Novita Tory: Makasih...
total 1 replies
Tory Ambay Satu
Mantapp banget ceritanya👍
Novita Tory: makasih😊selamat membaca..
baca juga karyaku yang lain ya...
total 1 replies
Novita Tory
Lanjut untuk episode selanjutnya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!