"Mas... apakah kamu tidak mencintaiku, walaupun hanya sedikit?" tanya Indah dengan suara bergetar.
Namun jawaban yang ia terima menghancurkan hatinya.
"Lupakan saja, Indah. Aku tidak mencintaimu. Hatiku hanya untuk dia."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Marisa putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 5 - utang nyawa
Pagi itu tepat pukul delapan, aku bergegas menuju rumah sakit sesuai jadwal kerjaku. Langkahku terburu-buru namun tetap pasti—seorang dokter harus selalu tepat waktu. Sesampainya di sana, suasana rumah sakit terasa jauh lebih ramai dari biasanya. Ternyata ada kabar darurat: terjadi kebakaran gedung di kawasan itu, dan banyak korban dilarikan ke sini. Lorong-lorong penuh orang yang berlalu-lalang, suasananya begitu sibuk dan mendesak.
"Hari ini aku harus semangat," batini ku. "Ada banyak pasien yang butuh pertolongan."
Bagiku, menjadi dokter bukan sekadar profesi. Setiap kali aku melakukannya dengan ikhlas, rasa lelah seakan tak pernah singgah. Bagiku, ini adalah cara untuk menolong sesama—tanpa memandang siapa mereka, dari mana mereka berasal.
Aku berkeliling memeriksa setiap kamar rawat satu per satu dengan teliti. Hingga langkahku terhenti di satu ruangan. Di sana, seorang pria sedang duduk di samping tempat tidur, menatap ibunya yang sedang beristirahat. Itu Rizki—putra Tante Maya. Terlihat betapa besar kasih sayangnya pada ibunya, ia tak pergi ke mana-mana, terus menunggu di samping tempat tidur.
Aku menatapnya sejenak. Rizki... dia memang tampan, namun ada sesuatu yang berubah. Sejak kita dewasa, rasanya ada jarak di antara kita. Dulu waktu kecil, kita sering bermain bersama, begitu akrab. Tapi sekarang... kenapa rasanya begitu canggung?
Aku mengetuk pintu pelan.
Tok... tok...
"Permisi, Tante."
"Dokter Indah..." Tante Maya tersenyum melihatku.
"Iya, Tante. Hari ini Indah yang periksa ya," jawabku lembut sambil mengecek kondisi ibunya. "Kabar baik, Tante. Kesehatan Tante sudah mulai membaik. Tapi untuk sementara, pola makan harus dijaga ya. Kurangi makanan yang tinggi gula."
"Baik, Indah. Terima kasih banyak ya. Tante janji akan jaga pola makan mulai sekarang."
Rizki yang sedari tadi diam tiba-tiba berbicara pada ibunya. "Bu, Rizki pamit ke kantor sebentar ya."
"Ya sudah, hati-hati di jalan."
Saat berpapasan denganku, Rizki hanya melirik sekilas—tanpa menyapa, tanpa senyum. Langkahnya terus berjalan pergi.
"Dia begitu cuek sekali..." gumamku pelan dalam hati. "Sungguh berbeda dengan Rizki yang dulu aku kenal."
Tante Maya seolah membaca pikiranku. "Tante senang sekali kamu sering ke sini, Indah."
"Itu sudah tugas Indah, Tante. Melayani dan merawat pasien adalah kewajibanku."
"Tante sudah lama tidak bertemu kamu, lho. Dulu Tante sering melihat kalian bermain bersama waktu masih kecil. Tumbuh bersama, lalu tiba-tiba kamu pindah..."
"Iya, hehe. Dulu keluargaku pindah rumah, jadi Tante jarang melihat Indah lagi."
"Kamu sekarang makin cantik saja, Indah. Lain kali kalau Tante sudah sembuh, Tante mau mampir ke rumahmu ya. Sudah lama sekali Tante tidak bertemu ibumu. Dia teman baikku dulu."
"Tentu saja boleh, Tante! Tapi tunggu Tante benar-benar sembuh dulu ya, baru kita bisa jalan-jalan ke mana-mana."
"Indah... Tante benar-benar sudah lama sekali tidak berjumpa dengan ibumu."
"Indah pamit dulu ya, Tante. Harus periksa ruangan lain juga. Semoga Tante cepat pulih sepenuhnya."
"Terima kasih, Indah. Hati-hati."
Sesampainya di kantor, Rizki segera duduk di kursi kerjanya dan meneliti berkas laporan pameran yang akan datang. Namun keningnya langsung berkerut melihat susunan acara yang begitu berantakan dan tidak rapi. Acara ini akan disaksikan langsung oleh para sponsor penting—bagaimana bisa disajikan seburuk ini? Padahal tinggal dua hari lagi acara akan dimulai.
Menatap berkas-berkas yang tak beraturan itu, kepalanya terasa pening. Ia segera menekan tombol telepon internal, memanggil asistennya.
"Anton, masuk ke ruanganku sekarang juga."
Tak lama kemudian, Anton masuk dengan langkah sigap. "Ada perintah apa, Pak?"
"Lihat laporan ini," ucap Rizki sambil menunjuk tumpukan berkas di mejanya, suaranya terdengar tegas dan tak puas. "Susunan acara berantakan sekali. Acara tinggal dua minggu lagi, dan ini hasilnya? Saya ingin seluruhnya direvisi, diperbaiki, dan dirapikan. Saya tidak mau acara pameran ini terlihat kacau di mata para sponsor."
Anton menunduk sopan namun jujur. "Maaf, Pak. Selama Bapak tidak masuk kantor kemarin, laporan ini disusun oleh Nona Hana. Dan sepertinya tidak ada yang berani memeriksa atau mengoreksinya."
Rizki menghela napas panjang, menahan kekesalan. "Baiklah. Sekarang kamu yang kerjakan. Revisi semuanya, rapikan sebaik mungkin. Saya tidak mau ada kekacauan sedikit pun di acara ini. Mengerti?"
"Siap, Pak. Segera saya kerjakan," jawab Anton mantap sebelum pamit keluar.
Anton baru saja melangkah keluar ruangan, saat pintu kembali terbuka. Nona Hana masuk perlahan, menentang secangkir kopi panas. Wajahnya tersenyum manis penuh perhatian.
"Sayang... aku membawakan kopi kesukaanmu," ucapnya lembut sambil meletakkan cangkir di meja.
Rizki menatapnya sekilas, berusaha menutupi rasa kesal yang masih tersisa di dadanya. Ia tahu siapa yang menyusun laporan berantakan itu—Hana. Namun melihat wajahnya, Rizki tak sanggup marah.
"Kamu kenapa, Sayang? Sepertinya ada yang mengganggu pikiranmu," tanya Hana lembut.
"Tidak apa-apa," jawab Rizki pelan, berusaha tetap tenang.
"Proyek pameran itu... laporan yang aku kerjakan tadi sudah kamu lihat belum? Bagus tidak?" tanyanya penuh harap.
Rizki mengangguk pelan. "Bagus kok. Tapi ada beberapa hal yang perlu diperbaiki lagi. Lain kali kalau kamu merasa kesulitan, serahkan saja bagian itu ke Anton ya."
"Tidak apa-apa, Riz. Aku bisa kok menyelesaikannya sendiri," jawabnya dengan nada bangga.
Rizki hanya diam, menahan rasa kesal yang sebenarnya. Ia tahu laporan itu berantakan, tapi di hadapan Hana, kemarahannya selalu luluh.
Hana tiba-tiba bersemangat, mengeluarkan ponselnya. "Sayang, aku tadi lihat di platform belanja ada tas keluaran terbaru... Desainnya cantik sekali!" Ia memperlihatkan layar ponsel berisi tas bermerek mewah yang harganya fantastis. "Kamu suka tidak? Bagus sekali kan?"
"Kamu menyukainya?" tanya Rizki lembut.
"Iya, sangat suka... Tapi sayang, harganya mahal sekali," jawabnya berpura-pura sedih.
Rizki tersenyum tipis. "Kalau begitu ambil saja, Han. Nanti aku suruh Anton transfer uangnya ke kamu."
Wajah Hana seketika berseri-seri. "Terima kasih, Sayang! Kamu memang yang terbaik untukku!"
"Sama-sama. Ya sudah, aku masih ada pekerjaan di sini. Kamu kembali ke ruanganmu dulu ya."
Hana pun melangkah pergi dengan senyum lebar di wajahnya.
Hana bukan sekadar sekretaris biasa. Dulu, lima tahun lalu, Rizki pernah mengalami kecelakaan yang nyaris merenggut nyawanya—dan Hana-lah orang yang pertama kali menolongnya, yang merawatnya saat ia paling lemah dan tak berdaya. Sejak saat itu, Hana selalu ada di sisinya, setia dan tak pernah meninggalkan. Ia mencintai Rizki dengan sepenuh hati, dan karena itu pula Rizki tak pernah sanggup menyakiti hatinya. Baginya, Hana adalah wanita yang telah menyelamatkan hidupnya, dan ia berhutang nyawa padanya.