Kiara cuma punya satu impian di sekolah barunya: lulus dengan tenang tanpa drama.
Sayangnya, takdir malah melemparnya tepat ke lingkaran kehidupan Khafi Mahendra—cowok paling jahil, menyebalkan, dan susah ditebak di SMA Cahaya Permata.
Dua kepala batu. Dua pendirian kuat. Satu hubungan tanpa komitmen yang dipenuhi provokasi. Ketika benci menjadi satu-satunya bahasa yang mereka pahami, seberapa jauh mereka bisa saling menghindar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon theonlywaaannn_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 : Topeng Yang Terlepas
Bel pulang sekolah akhirnya berdering nyaring, memecahkan keheningan kelas yang terasa menyiksa sejak pagi. Begitu guru melangkah keluar, Khafi langsung menyambar ponselnya. Sebuah pesan dari Mamanya baru saja masuk: Kiara sudah berada di kamar rawat dan terpasang infus. Proses administrasinya dibantu penuh oleh Mama Khafi, namun gadis itu masih belum siuman dari tidurnya.
Tanpa membuang waktu, Khafi berdiri dan berjalan kaku menuju meja Kiara. Ia meraih tas sekolah gadis itu, lalu mengambil hoodie miliknya yang tergeletak di atas kursi.
"Gue ikut ke rumah sakit!" cerca Neona cepat, matanya masih merah bengkak.
Mendengar hal itu, beberapa anak kelas mulai berkerumun. "Kita ikut jenguk sekalian dong, Khaf! Satu kelas kalau bisa!" usul salah satu teman mereka.
Rian segera menengahi, memegang pundak beberapa anak kelasnya. "Jangan dulu, ya. Kiara baru dapet kamar dan kondisinya belum stabil. Biar Neona aja yang mewakili kita hari ini. Nanti kalau Kia udah mendingan, baru kita koordinasi buat jenguk bareng."
Pandu mengangguk setuju, merangkul bahu Kevin. "Bener kata KM. Jangan ramai-ramai dulu, kasihan anaknya butuh istirahat."
melihat Neona yang sangat cemas dan tidak tega meninggalkannya sendirian, Kevin akhirnya berinisiatif memberinya tumpangan. Pada akhirnya, yang berangkat menuju Rumah Sakit adalah Geng Pojokan—Khafi, Pandu, Kevin, Ferdi—ditambah Neona.
Beruntung, saat mereka tiba, jam besuk rumah sakit masih dibuka.
Di lorong depan kamar rawat, Mama Khafi berdiri bersandar di dinding. Wajah wanita paruh baya itu tampak sembab; ia terlihat menghela napas berkali-kali menahan sedih. Saat menyambut kedatangan anak-anak, Mama menceritakan bahwa sejak tadi ia mencoba menghubungi kedua orang tua Kiara lewat ponsel gadis itu, namun tidak ada satu pun panggilan yang diangkat.
Hingga akhirnya, Bi Yanti—asisten rumah tangga keluarga Kiara yang berhasil dihubungi—datang tergesa-gesa membawa tas berisi pakaian ganti dan keperluan lainnya.
Neona melangkah pelan masuk ke dalam kamar. Matanya merebak melihat Kiara terbaring lemah di atas ranjang, sudah berganti pakaian pasien bergaris pucat dengan selang infus menancap di punggung tangan kirinya. Neona mendekat, mengusap lembut jemari dingin sahabatnya itu sebentar sebelum akhirnya pamit pulang karena tidak ingin mengganggu istirahat Kiara. Kevin, yang merasa bertanggung jawab menjaga Neona pamit untuk mengantarnya pulang terlebih dahulu.
Sementara saat Neona berada di dalam tadi, Khafi menghampiri Mamanya di luar. Dengan raut wajah sendu, Mamanya menjelaskan singkat bagaimana Kiara dibiarkan sendirian di rumah besar itu tanpa ada yang merawat saat demamnya mulai naik.
"Tadi Bi Yanti cerita... kemarin Mamanya Kiara malah pergi ke acara arisan dan pilates. Kiara dibiarin sendirian di rumah dari kemarin tanpa makan."
Mendengar penjelasannya, rahang Khafi seketika mengetat keras. Tangan yang memegang tas Kiara mengepal erat. Ada rasa amarah yang membakar dadanya—marah pada situasi, dan marah pada orang tua yang tega membiarkan gadis sekecil itu menanggung sakitnya sendirian.
"Ma, Mama pulang dulu aja sama Pandu, sama Ferdi," bisik Pandu pelan, mengusap lembut lengan Mama Khafi. "Biar Bi Yanti yang di dalam, nanti Khafi juga nemenin sebentar sebelum pulang. Mama kan dari pagi belum istirahat."
Mama Khafi mengusap bahu anak bujangnya pelan, mengangguk setuju sebelum akhirnya pamit pulang diantar Pandu dan Ferdi.
Pintu berderit pelan saat Khafi melangkah masuk. Kini, tersisa Khafi dan Bi Yanti di dalam ruangan yang dominan beraroma obat-obatan itu.
Khafi melangkah mendekati brankar. Ia berdiri mematung di samping ranjang, menatap lekat-lekat wajah pucat Kiara yang tertidur pulas. Helaan napas berat lolos dari bibirnya. Tangannya terulur ragu, lalu perlahan mengusap punggung tangan Kiara yang bebas dari infus. Tangannya terasa begitu dingin dibandingkan kulit panas gadis itu.
Bi Yanti yang berdiri di sudut ruangan tampak bingung dan canggung. Merasa diperhatikan, Khafi menarik tangannya pelan lalu menoleh, mencoba bersikap sopan.
"Sore, Bi... Saya Khafi, temannya Kiara dari sekolah," sapa Khafi dengan suara rendah.
"Oh... iya, Den Khafi. Makasih banyak ya udah bantu Neng Kia dari tadi pagi..." jawab Bi Yanti dengan suara yang bergetar haru.
Khafi berdiri kaku di samping ranjang, menatap Kiara yang terpejam dengan selang infus di tangannya. "Bi... emang tadi pagi Kiara nggak kelihatan sakit pas mau berangkat?"
Bi Yanti menghentikan kegiatannya, matanya berkaca-kaca. "Duh, Den... Bibi mah udah nahan-nahan Neng Kia dari jam enam pagi!" cerita Bi Yanti dengan suara gemetar.
"Bibi bilang, 'Neng, jangan sekolah dulu, badan Neng demam tinggi gini, Muka Neng juga pucat!' Tapi Neng Kia tetep kekeh mau pakai seragam."
Khafi mengepalkan tangannya. "Terus kenapa Bibi biarin?"
"Mana bisa ditahan kalau Neng Kia udah keras kepala, Den," lirih Bi Yanti, mengusap air matanya dengan ujung lengannya.
"Neng Kia malah senyum ke Bibi sambil bilang, 'Nggak apa-apa kok, Bi. Di rumah sepi, Kia pusing kalau sendirian terus. Mending di sekolah ada temen-temen.' Bibi mau nangis dengarnya, Den. Wong dari kemarin makan aja cuma masuk dua sendok bubur tadi pagi, habis itu muntah lagi."
Dada Khafi terasa sesak mendengarnya. Rasa amarahnya makin membakar. Gadis mungil di depannya ini nekat sekolah dengan tubuh membara hanya karena takut merasa kesepian di rumahnya sendiri.
"Bibi izin keluar sebentar ya, Den. Mau coba telepon Ibu sama Bapak lagi di luar, siapa tahu kali ini diangkat," pamit Bi Yanti kemudian.
"Iya, Bi. Silakan."
Begitu pintu tertutup rapat, keheningan menyergap, kelopak mata Kiara bergerak-gerak pelan. Gadis itu mengerjap beberapa kali, menyesuaikan matanya dengan cahaya lampu rumah sakit. Pandangannya yang kabur perlahan fokus.
Bukan Mamanya. Bukan pula Papanya.
Sosok pertama yang ia lihat adalah Khafi —yang berdiri menjulang di samping ranjangnya sambil bersedekap dada.
Kiara linglung sejenak. Namun ingatan soal kejadian di lapangan, saat dirinya ambruk di dalam dekapan cowok itu, mendadak berputar cepat di kepalanya. Rasa malu luar biasa langsung menyerbu dadanya. Kenapa harus di saat serapuh dan seterbuka ini, musuh abadinya tahu segalanya?
Kiara berusaha membuang muka, menelan ludahnya yang pahit dan kering.
Melihat ekspresi canggung dan wajah memerah gadis itu, Khafi mendengus pelan. Namun sudut bibirnya terangkat tipis.
"Jelek banget muka lo," ejek Khafi datar.
Mendengar kata-kata menyebalkan yang sangat familier itu keluar dari mulut Khafi, benteng ketegangan di antara mereka mendadak runtuh. Rasa canggung Kiara menguap seketika, berganti dengan rasa kesal yang amat sangat khas dirinya.
"Apaan sih lo?! Datang-datang malah ngajak ribut!" semprot Kiara dengan suara parau dan serak. Ia mencoba menegakkan duduknya, tetapi rasa pusing mendadak menghantam kepalanya bagai dihantam palu berat.
"Eits! Nggak usah sok kuat," cegah Khafi cepat. Tangannya bergerak refleks menahan bahu Kiara, menyuruh gadis itu kembali berbaring.
"Lo baru pingsan di lapangan dan hampir bikin satu sekolah geger. Bisa diam nggak?"
Kiara menepis tangan Khafi pelan, lalu membuang muka ke arah jendela.
Dengan cepat Khafi mengambil gelas air putih yang sudah ada di nakas rumah sakit itu. "Minum dulu, suara lo habis jadinya kayak suara tikus kejepit."
Kiara yang memejamkan matanya menahan pusing mendengus malas, ia membuka mata dan reflek membuka mulut juga saat tangan Khafi mengarahkan sedotan. hampir setengah gelas berhasil ia teguk, napasnya terhela lega begitu air mengaliri tenggorokannya yang kering.
Kiara menatap Khafi yang sedang merapikan gelas itu kembali, tidak terasa matanya mulai terasa panas lagi. "Siapa yang suruh lo ke sini? Mana Bi Yanti? Ona di sekolah gimana?"
"Bi Yanti lagi keluar dulu bentar. Neona udah pulang dianter Kevin, tadi sempat kesini. Lagian tas lo, hoodie gue, sama semua barang lo ada di gue," jawab Khafi sambil menarik kursi di samping brankar dan mendudukinya santai.
"Nggak usah nyari Mama atau Papa lo. HP lo dipegang Bi Yanti dari tadi, tetep gak diangkat."
Kata-kata Khafi yang polos tanpa basa-basi itu bagaikan sembilu yang menusuk tepat di dada Kiara. Gadis itu menggigit bibir bawahnya rapat-rapat, menahan air mata yang mendadak menumpuk di pelupuk mata.
"Gue nggak nanya," cicit Kiara pelan, suaranya makin gemetar.
Khafi menghela napas panjang. Melihat bahu mungil itu bergetar halus, rasa kesal dan amarah yang sempat membakar dadanya perlahan melunak menjadi rasa kasihan yang amat sangat.
"Kiara," panggil Khafi, suaranya yang biasa tengil mendadak berubah menjadi lembut dan bernada berat. "Nggak usah sok rapi bikin kebohongan kalau ujung-ujungnya bakal kayak gini. Kenapa lo bohong ke Mama gue kalau lo lagi quality time sama Mama lo?"
Kiara mematung. Wajahnya makin menegang. "Bukan urusan lo, Khaf,"
"Jelas urusan gue! Gara-gara lo nekat sekolah dengan badan panas kebakar gitu, lo bikin orang sekelas panik! Lo bikin Mama gue nungguin lo di RS dari pagi sampai matanya bengkak!" gertak Khafi pelan, menekankan kata-katanya.
"Kenapa, sih? Takut dibilang kasihan? Takut kelihatan lemah di depan orang lain?"
Air mata yang disembunyikan Kiara akhirnya keluar juga di hadapannya, membasahi bantal rumah sakit.
"Iya! Gue emang lemah! Puas lo?!" tangis Kiara pecah, meski suaranya tertahan karena tenggorokannya yang sakit.
"Gue cuma nggak mau kelihatan kayak kasihan di depan semua orang! Gue cuma pengen ke sekolah biar nggak merasa kayak orang gila di rumah yang sepi itu! Kenapa sih lo harus tau semuanya?!"
Kiara terdiam. Tatapan ketakutan dan luka mendalam di mata Kiara membuat tenggorokannya sendiri terasa tersumbat. Melihat bahu gadis itu yang semakin bergetar, serta bibir yang digigit agar isakannya tertahan, Khafi akhirnya menarik bahu Kiara pelan agar mendekat ke arahnya. Lengan Khafi terulur pelan agar tidak menyenggol selang infus untuk melingkari bahu Kiara. Dengan telapak tangan besarnya, Ia membawa kepala Kiara agar menyadar ke dadanya.
Kiara menumpahkan semua sisa tangis dan kesalnya di sana, usapan dan tepukan yang konsisten ia rasakan dari rambut belakang sampai bahunya.
"Sorry..." Bisikan pelan itu terdengar di sampai telinganya bersahutan dengan isakan dan cengkraman erat di samping hoodie pemuda itu.
Setelah dirasa tenang, Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Khafi merogoh saku hoodie-nya, mengambil selembar tisu kering, lalu mengulurkannya tepat di depan wajah Kiara.
"Nih. Lap dulu air mata lo. Jelek banget kayak bebek nangis," ucap Khafi kaku, berusaha menutupi kecanggungannya sendiri.
Kiara menyambar tisu itu dengan kesal, mengusap pipinya kasar. "Lo nyebelin banget, tau nggak?"
"Tau," jawab Khafi santai.
Tangannya lalu terulur mengambil gelas berisi air itu lagi di atas nakas, menyodorkannya ke depan bibir Kiara. "Nih, minum lagi. Tenggorokan lo udah kayak ampelas gitu suaranya."
Kiara menatap gelas itu, lalu melirik Khafi dengan ragu.
"Kenapa? Takut gue racunin?" decak Khafi gemas. "Tadi udah lo minum sampai setengah gelas ya ini!" ucapnya rada tersinggung.
Mau tak mau, Kiara menurut. Ia menerima gelas itu dan kali ini meminumnya perlahan di bawah pengawasan ketat Khafi.
Saat tegukan demi tegukan masuk, keheningan di antara mereka tak lagi terasa menakutkan atau penuh kepura-puraan. Untuk pertama kalinya, benteng pertahanan Kiara hancur total—dan anehnya, ia merasa sedikit lega karena orang yang menyaksikan kehancuran itu adalah musuh abadinya sendiri.