Aluna adalah seorang gadis yang diangkat oleh keluarga kaya sebagai pengganti anak perempuan mereka yang hilang, Jesselyn. Meski hidupnya tampak bahagia, sebenarnya ia hanya diperlakukan sebagai bayangan dari Jesselyn.
Setelah dewasa Aluna dijodohkan dengan Davion Harold, yang lagi-lagi karena pria itu adalah pria yang dulu Jesselyn sukai. Apapun yang terjadi Aluna harus bertahan dalam pernikahan tersebut, itulah pesan kedua orang tua angkatnya.
Namun pernikahan itu membuat Aluna semakin tersiksa dan merasa tak diinginkan oleh siapapun. Pada akhirnya Aluna mengambil keputusan paling mengerikan di dalam hidupnya, coba keluar dari bayang-bayang Jesselyn dan hidup sebagai dirinya sendiri. Melanggar keinginan orang tua angkatnya untuk pertama kali.
"Dav, aku ingin kita cerai," ucap Aluna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PP Bab 26 - Lehernya, Pundaknya
Davion yang tengah duduk bersandar jadi menoleh pelan saat mendengar ucapan tersebut, dia menatap Aluna m memastikan dirinya tidak salah dengar.
Untuk beberapa detik pria itu hanya diam. Sorot matanya menyusuri wajah Aluna yang tampak pucat, kedua mata wanita itu masih sedikit memerah seolah baru saja menahan tangis. Namun yang membuat Davion terdiam bukanlah ekspresi rapuh itu, melainkan permintaan yang baru saja keluar dari bibir Aluna.
Berani-beraninya wanita ini meminta hal seperti itu.
“Dav…” ulang Aluna pelan, suaranya nyaris bergetar. “Bolehkah aku memelukmu?” pintanya lirih, saat ini hatinya benar-benar hancur. Aluna sungguh butuh sandaran.
Davion menyipitkan mata, lalu sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum sinis. “Jadi sekarang kamu menggunakan tubuhmu untuk membuatku berubah pikiran?” tanyanya dingin.
Aluna yang semula hanya ingin mencari sedikit kehangatan untuk meredakan hatinya yang hancur mendadak terdiam mendengar jawaban Davion.
Ia berkedip pelan, lalu menatap Davion dengan wajah polos yang benar-benar tak sedang berpikir. Otaknya terasa kosong.
“Apa bisa begitu?” tanya Aluna lirih.
Davion langsung terdiam.
Bahkan Haris yang sedang duduk di kursi depan sampai refleks menahan napas, takut salah dengar.
Aluna menggenggam ujung gaunnya pelan, lalu melanjutkan dengan suara kecil namun jujur. “Awalnya aku hanya ingin memelukmu...” ucapnya, menatap lurus pada Davion tanpa kepalsuan sedikit pun. “Tapi kalau itu bisa membuatmu berubah pikiran... maka aku akan melakukannya.”
Haris menelan ludah gugup di kursi depan, memilih menatap lurus ke jalan seperti patung hidup. Bahkan bernapas pun ia tahan agar tidak mengganggu suasana.
Sedangkan Davion menatap Aluna dengan pandangan yang sulit dijelaskan.
'Wanita ini benar-benar gila. Apa dia tidak punya harga diri?' batin Davion, saking habisnya kata-kata menghadapi Aluna. Rasanya Aluna bahkan lebih parah daripada Shanaya.
Davion tertawa pendek penuh ejekan. “Baiklah,” ucapnya kemudian sambil menyandarkan tubuh lebih nyaman. “Kalau begitu kita lihat bagaimana pelayananmu malam ini.”
Deg! Jantung Aluna langsung berdebar keras. Wajahnya yang semula pucat berubah memerah perlahan.
Selama ini selalu Davion yang memulai semuanya. Selalu Davion yang mendekati lebih dulu dan Davion yang terus mengambil kendali.
Aluna sama sekali tak pernah membayangkan bahwa suatu hari ia akan diminta menjadi pihak yang memulai.
Dan lebih dari itu, bagaimana caranya melayani suaminya?
Davion melihat jelas kepanikan yang muncul di wajah Aluna, dan entah kenapa itu membuat hatinya sedikit puas.
“Kenapa?” sindir Davion. “Takut?”
Aluna menunduk cepat, menggigit bibirnya pelan.
“Tidak,” jawabnya lirih meski suaranya jelas tidak meyakinkan.
Davion terkekeh rendah.
Mobil kembali melaju dalam keheningan sampai akhirnya tiba di Harold Kingdom.
Davion turun lebih dulu lalu berkata singkat, “Aku masih ada pekerjaan. Pulanglah lebih dulu.”
Setelah itu pria itu pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban.
Yang tersisa kini hanya Aluna dan Juana yang telah menunggunya di sana, yang akan menggantikan posisi Haris. Juana langsung menghampiri dengan sopan. “Mari Nyonya, saya akan mengantar Anda pulang.”
Aluna menganggukkan kepalanya kecil dan mobil pun mulai melaju meninggalkan area perusahaan. Namun di tengah-tengah jalan, Aluna mulai menemukan arah pikirannya sendiri...
"Sekretaris Juana,” panggilnya pelan.
“Ya, Nyonya?”
“Bisakah sebelum pulang kita pergi ke suatu tempat dulu?”
“Tentu.”
“Aku ingin ke butik...” ucap Aluna lirih, wajahnya memerah malu. “Butik pakaian dalam.”
Juana sempat membeku sepersekian detik. Namun ia cepat menunduk hormat. “Baik, Nyonya.”
Di sepanjang perjalanan menuju butik, pikiran Juana melayang ke mana-mana.
Dulu Tuan Davion pernah menyuruhnya membeli obat kontrasepsi darurat secara diam-diam. Dan sekarang Nyonya Aluna membeli lingerie sendiri?
Juana hampir tersenyum sendiri. ‘Ya ampun... jadi Tuan dan Nyonya ternyata sedang menikmati masa pengantin baru mereka dulu sebelum punya anak... romantis sekali,’ batin Juana ikut senang.
Setibanya di butik mewah khusus pakaian dalam, Aluna berjalan masuk dengan langkah kecil penuh rasa gugup.
Seumur hidupnya ia belum pernah melakukan hal seperti ini.
Dulu semua pakaian yang ia pakai dipilihkan Sarah. Semua harus sopan, semua harus sesuai bayangan Jesselyn.
Dan kini untuk pertama kalinya Aluna memilih sesuatu untuk dirinya sendiri.
Pramuniaga butik langsung menyambut ramah. “Selamat datang, Nyonya. Ada yang bisa kami bantu?”
Wajah Aluna langsung memerah sampai telinga. “A-aku ingin melihat lingerie.”
“Baik, Nyonya. Silakan ke sini.”
Juana yang berdiri tak jauh dari sana memperhatikan dengan senyum kecil saat Aluna dibawa melihat berbagai pilihan.
Tatapan Aluna menyapu deretan kain satin, renda halus, dan berbagai model pakaian yang membuat wajahnya semakin panas hanya dengan melihatnya.
“Apa ini tidak terlalu terbuka,” gumamnya malu.
“Tidak sama sekali, Nyonya,” jawab pegawai itu ramah. “Ini model yang paling banyak disukai pasangan suami istri.”
Aluna menggigit bibir.
Lalu setelah berpikir cukup lama, ia menunjuk satu set lingerie berwarna hitam lembut dengan renda tipis elegan.
“Yang itu,” katanya pelan.
Juana yang melihat pilihan itu sampai hampir terbatuk. ‘Nyonya ternyata cukup berani juga.'
Saat butik selesai membungkus barangnya, Aluna memegang paper bag kecil itu erat-erat di tangan kanan.
Wajahnya merah pada dan jantungnya terus berdebar kencang.
Dan sepanjang perjalanan pulang ke apartemen, satu pikiran terus memenuhi kepalanya. Bagaimana caranya dia menghadapi Davion malam ini?
Sepanjang perjalanan pulang, jemari Aluna tak pernah lepas dari paper bag kecil berisi lingerie yang ia beli. Telapak tangannya bahkan sampai sedikit berkeringat karena gugup.
Aluna sungguh tidak tahu apa yang sedang ia lakukan sekarang.
Namun satu hal yang Aluna tahu dengan jelas, malam ini ia ingin berusaha. Entah demi memenuhi tantangan Davion, demi membalas bantuannya, atau mungkin demi membuktikan pada dirinya sendiri bahwa untuk sekali ini ia mampu mengambil keputusan atas hidupnya sendiri.
Sebelum tiba di apartemen, Aluna meminta Juana berhenti di sebuah toko bunga yang mereka lewati. Ia membeli beberapa buket bunga segar dengan berbagai warna, lalu membawanya pulang bersama.
Begitu sampai di apartemen, Juana membantu membawa semua barang masuk hingga ke dalam.
“Nyonya membeli bunga juga?” tanya Juana ramah sambil menaruh beberapa bungkusan di meja.
Aluna mengangguk kecil. “Aku ingin apartemen ini terasa lebih hidup.”
Juana tersenyum lembut. “Pilihan yang sangat bagus, Nyonya.”
Setelah semuanya selesai diturunkan, Juana pun pamit pergi meninggalkan apartemen.
Dan begitu pintu tertutup, suasana hening langsung menyelimuti tempat itu.
Kini hanya ada Aluna seorang diri.
Ia berdiri cukup lama di tengah ruang tengah yang luas, memandangi apartemen yang sebenarnya sudah sangat mewah, namun terasa terlalu dingin dan kosong. Mungkin karena selama ini tempat itu hanya dihuni seorang Davion yang bahkan mungkin jarang benar-benar tinggal di dalamnya.
Tanpa menunda lagi Aluna mulai membuka buket-buket bunga yang tadi ia beli.
Dengan hati-hati ia memotong batangnya satu per satu, lalu merangkainya ke dalam tiga buah vas kaca besar yang tersedia di apartemen. Satu ia letakkan di meja ruang tamu, satu di meja ruang tengah dan satu lagi di meja kecil dekat lorong menuju kamar.
Begitu selesai, suasana apartemen langsung terasa berbeda. Aluna tersenyum kecil melihat hasilnya. "Jadi seperti ini rasanya merawat rumah sendiri, sangat menyenangkan," gumamnya lirih, senyum lebarnya tak pernah hilang.
Namun belum selesai sampai di sana, Aluna segera masuk ke dapur. Ia mulai menyiapkan makan malam dengan bahan-bahan yang ada di lemari pendingin. Meskipun kemampuan memasaknya tidak sehebat chef profesional, setidaknya ia tahu beberapa menu rumahan sederhana yang cukup layak.
Hari ini Aluna memasak dengan jauh lebih serius dari biasanya.
Setiap hidangan ia tata dengan rapi di atas meja makan. Lilin kecil ia tambahkan sebagai hiasan. Piring dan gelas ia susun sempurna seperti jamuan makan malam sungguhan.
Semua ia lakukan sambil terus menahan debar jantung yang sejak tadi tak kunjung reda.
Karena setelah ini bagian paling menegangkan akan dimulai.
Langit di luar jendela perlahan berubah jingga lalu gelap, menandakan waktu pulang kerja Davion semakin dekat.
Aluna pun bergegas masuk ke kamarnya.
Paper bag dari butik masih terletak di atas ranjang. Hanya melihatnya saja sudah membuat wajah Aluna memanas lagi.
Dengan tangan sedikit gemetar, ia membuka bungkus itu perlahan lalu mengeluarkan lingerie hitam pilihannya. Kain satin lembut dan renda tipis itu terlihat begitu cantik, tapi juga sangat minim.
Aluna menelan ludah.
“Ya Tuhan...” bisiknya pelan sambil menatap pakaian itu. “Apa aku benar-benar akan memakai ini?”
Namun setelah mengingat ucapan Davion siang tadi, Aluna memejamkan mata sejenak lalu menarik napas panjang.
Perlahan ia mulai mengganti pakaiannya. Saat tubuhnya akhirnya terbungkus lingerie hitam tersebut, wajah Aluna langsung merah padam begitu melihat pantulan dirinya di cermin.
Lehernya, pundaknya, hingga sebagian tubuhnya terlihat jauh lebih terbuka dari biasanya. Renda hitam yang membingkai kulit putihnya justru membuat dirinya tampak sangat berbeda dari Aluna yang biasa.
Lebih dewasa dan jauh lebih menggoda. Aluna bahkan sampai menutup wajahnya sendiri karena malu.
“Bagaimana aku bisa muncul di depan Davion seperti ini,” gumamnya panik.
Namun tetap saja, ia memaksakan diri untuk berani.
Dengan tambahan robe satin tipis sebagai penutup luar, Aluna keluar dari kamar lalu duduk di sofa ruang tengah.
Tangannya terus saling menggenggam erat di pangkuan.
Jantungnya berdetak sangat keras hingga rasanya ia bisa pingsan kapan saja.
Dan tak lama kemudian terdengar suara pintu apartemen terbuka.
Davion akhirnya pulang.
Langkah kaki pria itu masuk ke dalam ruangan, namun baru dua langkah ia langsung berhenti.
Tatapannya menyapu seluruh apartemen. Bunga baru yang tertata indah di meja ruang tamu. Begitu masuk ia melihat lilin kecil menyala di meja makan.
Alis Davion langsung berkerut. “Apa lagi ini," gumamnya pelan.
Lalu pandangannya bergerak dan berhenti tepat pada Aluna yang berdiri menyambutnya. Davion menatap penampilan wanita itu dari atas kepala, turun ke lehernya, Pundaknya, sampai ke ujung kakinya.
Wajah merah menyala, kedua tangan mencengkeram ujung robe yang ia kenakan dengan gugup.
“Dav... aku menunggumu."
Belajar untuk membiarkan Aluna merasakan hidup sendiri tanpa tekanan dari siapapun dan menjadi dirinya sendiri...
Tetaplah dukung dan terus berada disisinya walaupun kalian terpisah tunjukan bahwa cinta yang tulus itu mulai tumbuh dihatimu ...
Nah apakah disini Aluna dan Davion bisa bersama? sedangkan Aluna sdh nyaman hidup seperti ini, Davion setelah bertemu Aluna mungkin sdh tidak bermain wanita lagi. Tapi entahlah dulu sampai tahap mana dia bermain, Yang pasti Aluna sdh tidak peduli lagi. Mungkin akan sedikit tersentuh kalau Davion berhasil membawa Aluna bertemh keluarga kandungnya kembali.