Shania, seorang gadis modern, terjebak dalam tubuh Aurelia Valerius—istri dari Damian Valerius, jenderal tiran yang kejam dan membencinya. Mengetahui takdir aslinya akan berujung pada kehancuran dan penyiksaan, Shania memilih kabur diam-diam dan merintis hidup baru sebagai pembuat roti di sebuah kota kecil.
Sementara itu, Damian yang awalnya merasa lega mendadak tersiksa oleh kehampaan di rumahnya. Ketika ia berhasil menemukan sang istri yang kini hidup mandiri namun diliputi ketakutan mendalam, sang jenderal harus membayar mahal semua dosa masa lalunya untuk mendapatkan kembali hati wanita yang dulu ia abaikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 5
Udara di Kediaman Valerius tidak pernah benar-benar mencair. Bahkan ketika musim semi mulai mengetuk pintu perbatasan utara, dinginnya batu-batu marmer di koridor sayap barat tetap merayap menembus lapis demi lapis kain wol tebal yang dikenakan Shania.
Sudah lewat tengah hari, namun bayangan hitam dari peristiwa malam sebelumnya masih membekas di setiap jengkal saraf di dalam tubuhnya. Shania berdiri di depan jendela kamarnya yang berjeruji besi, menatap kosong ke arah halaman tengah yang luas. Pikirannya berdengung. Pria itu—Damian Valerius—memiliki insting seekor predator buas. Tatapan mata abu-abu badai itu tidak sekadar melihat; pria itu membedah, menguliti, dan mencari kelemahan di balik setiap helaan napasnya.
Shania meremas jemarinya sendiri di balik lipatan jubah abu-abunya yang longgar. Ia tahu, berdiam diri di dalam sangkar emas ini sambil menunggu hari eksekusi tiba sama saja dengan menyerahkan leher ke bawah mata kapak algojo. Ia butuh pelarian. Tapi pelarian butuh persiapan, dan persiapan butuh ketenangan mental yang saat ini hampir mustahil ia raih di tengah cengkeraman teror psikologis sang Jenderal.
Aku harus menyibukkan diri, batin Shania, menarik napas panjang untuk meredakan debar jantungnya yang menggila. Jika aku terus berdiam diri di kamar ini meratapi nasib, kepalaku benar-benar akan terpenggal sebelum musim dingin berikutnya.
Di dunia modern tempat ia berasal sebelum terlempar ke dalam tubuh Aurelia, satu-satunya tempat pelarian terbaik dari stres, tenggat waktu, dan keputusasaan adalah dapur kecilnya. Membakar mentega, menguleni adonan tepung terigu, dan mencium aroma ragi yang mengembang selalu berhasil menenangkan saraf-sarafnya yang tegang. Di dunia yang asing ini, keahlian kecil itu mungkin bisa menjadi satu-satunya jembatan penghubung menuju kemandiriannya kelak.
Dengan langkah hati-hati, Shania membuka pintu kamarnya selebar celah kecil. Koridor panjang itu sepi. Hanya ada suara angin luar yang mendesing pelan. Ia menyelinap keluar, menelusuri lorong-lorong batu yang remang-remang menuju bagian paling belakang dari kediaman utama—area domestik tempat para pelayan rendahan bekerja, jauh dari jangkauan pandangan para pengawal elit dan ruang kerja pribadi sang Jenderal.
Sayap belakang kastil memiliki atmosfer yang jauh berbeda. Di sana tidak ada kemewahan permadani merah atau ukiran emas yang menyilaukan mata. Yang ada hanyalah aroma kayu bakar yang terbakar samar, uap air hangat dari ruang cuci, dan lorong-lorong batu bata merah yang agak lembap.
Langkah kaki Aurelia terhenti di depan sebuah pintu kayu berukuran sedang yang tertutup separuh. Dari celah pintu itu, uap hangat dan samar-samar bau ragi menggantung di udara. Itu adalah dapur kecil yang biasa digunakan para pelayan untuk menyiapkan makanan ringan staf rendahan—jauh dari dapur utama istana yang diawasi ketat oleh kepala pelayan istana.
Aurelia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keberaniannya, lalu mendorong pintu itu pelan-pelan.
Di dalam ruangan yang tidak terlalu besar itu, seorang wanita paruh baya bertubuh gempal dengan celemek kain kasar sedang membelakangi pintu, sibuk menyortir sayuran di atas meja kayu panjang. Itu adalah Bibi Martha—pelayan tua yang beberapa kali terlihat iba padanya, meskipun sebagian besar pelayan lain memilih untuk menghindar sejauh mungkin dari Nyonya Besar Aurelia yang terkenal kejam.
Begitu pintu berderit pelan, Bibi Martha langsung berbalik. Wanita tua itu terkejut setengah mati, matanya membelalak lebar, dan dalam sepersekian detik, tubuhnya langsung membungkuk dalam-dalam dengan postur kaku ketakutan.
"N-Nona Muda...?" suara Martha bergetar, penuh kecemasan. Tangannya yang memegang seikat daun peterseli mendadak gemetar hebat. "Anda... Anda tersesat? Tempat ini... tempat ini kotor dan tidak layak untuk seorang Nona Besar..."
Shania buru-buru mengangkat kedua tangannya, gestur menenangkan yang sangat tidak biasa dilakukan oleh Aurelia di masa lalu. Ia tersenyum tipis, meski senyuman itu tampak rapuh di wajah pucatnya.
"Tidak, Martha. Aku tidak tersesat," jawab Shania dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, jauh dari nada tinggi penuh amarah yang biasa melekat pada diri sang nyonya. Ia melangkah masuk perlahan, menutup pintu di belakangnya agar tidak ada orang lain yang melihat. "Dan kumohon... tegakkan badanmu. Jangan membungkuk seperti itu padaku."
Martha semakin kebingungan. Selama bertahun-tahun mengabdi di Kediaman Valerius, Nona Aurelia tidak pernah berbicara dengan nada serendah dan sesopan itu. Wanita itu biasanya akan langsung melayangkan tamparan atau cacian pedas jika melihat pelayan melakukan kesalahan kecil. Perubahan drastis ini membuat bulu kuduk Martha meremang, mengira majikannya sedang merencanakan hukuman psikologis yang lebih mengerikan.
Melihat ekspresi ketakutan yang masih membayang di wajah pelayan tua itu, Aurelia menghela napas pelan. Ia tahu ia tidak bisa langsung mengubah persepsi orang-orang dalam semalam, tetapi ia harus mencoba.
"Martha, aku ke sini bukan untuk mencari masalah," lanjut Aurelia, suaranya terdengar tulus, memohon pengertian. "Aku... aku sedang merasa sangat suntuk di kamar. Aku ingin meminta izin... bolehkah aku menggunakan sudut kecil dari dapur ini? Hanya sebuah mangkuk, sedikit tepung, dan ragi."
Martha mengerjap-ngerjap, mengira pendengarannya bermasalah. "M-mangkuk? Tepung? Nona... apa maksud Anda? Dapur ini kotor, penuh arang, dan... Anda tidak pernah menyentuh pekerjaan kasar seperti itu seumur hidup Anda."
"Dulu mungkin tidak," jawab Aurelia lirih, pandangannya menerawang sejenak ke masa lalu yang kini terasa begitu jauh. "Tapi sekarang... aku ingin mencoba sesuatu yang berbeda. Aku ingin belajar membuat roti sendiri."
Setelah melalui perdebatan kecil yang penuh dengan kebingungan dan rasa tidak percaya dari sang pelayan tua—yang berkali-kali mencoba melarang namun pada akhirnya tidak kuasa menolak tatapan memohon dari wanita di hadapannya—Martha akhirnya mengalah. Pelayan tua itu menyiapkan sebuah meja kayu kecil di sudut ruangan yang agak terisolasi, menyediakan sedikit tepung gandum kasar, mentega sisa, air hangat, dan wadah kayu sederhana.
Aurelia mulai bekerja.
Gerakannya awalnya kaku. Jemari lentiknya yang terbiasa mengenakan cincin permata kini bersentuhan langsung dengan tekstur kasar tepung gandum. Ia mulai menuangkan air hangat ke dalam cekungan tepung, mencampurnya dengan ragi, lalu meremasnya dengan kedua tangannya.
Di tengah kesunyian kecil di sudut dapur itu, perlahan-lahan, bayangan kengerian tentang Damian, ancaman eksekusi, dan masa depan yang surut ke dalam kegelapan seolah sedikit demi sedikit terangkat. Aroma tepung yang khas bercampur dengan kehangatan ruangan membuat Aurelia terhanyut. Ia menutup matanya sejenak, membiarkan pikirannya kembali ke masa-masa tenang di dunia lamanya, di mana masalah terbesar dalam hidupnya hanyalah ujian esai yang belum selesai atau adonan roti yang gagal mengembang.
Ia mulai menguleni adonan itu dengan ritme yang teratur—tekan, lipat, putar, tekan kembali. Tenaganya tercurah sepenuhnya ke dalam setiap gerakan, menyalurkan segala rasa frustrasi, ketakutan, dan keputusasaannya ke dalam gumpalan adonan putih di hadapannya.
Tanpa ia sadari, waktu berjalan begitu cepat. Matahari sore mulai merosot turun di balik jendela kecil berjeruji, memantulkan cahaya jingga kemerahan yang menyoroti debu-debu beterbangan di udara dapur.
Di saat Aurelia tengah asyik membentuk adonan kecil di atas talenan kayu, pintu dapur belakang yang tadi tertutup rapat tiba-tiba berderit pelan... bukan, pintu itu tidak berderit, melainkan seseorang mendorongnya terbuka tanpa suara.
Sebuah bayangan tinggi menjulang, memblokir sisa cahaya senja yang masuk dari luar.
Aurelia yang merasakan perubahan drastis pada tekanan udara dan keheningan mendadak di ruangan itu, menghentikan gerakannya. Bulu kuduk di tengkuknya mendadak berdiri tegak.
Dengan napas tertahan dan jantung yang berdegup kencang seolah ingin meledak keluar dari rongga dadanya, Aurelia perlahan-lahan memutar kepalanya ke arah pintu masuk dapur.
Di sana, berdiri tegak dalam balutan mantel militer hitam pekat yang belum dilepas sejak dari perbatasan, Damian Valerius.
Pria itu tidak bergerak. Tubuhnya yang tinggi besar menghalangi seluruh jalan keluar dari sudut dapur tersebut. Sepasang mata abu-abu badai milik sang Jenderal menatap lurus ke arah Shania—bukan dengan amarah yang meledak-ledak, melainkan dengan tatapan tajam, sunyi, dan penuh selidik yang menghujam langsung ke dasar jiwa.
Tangan Aurelia yang belepotan tepung putih membeku di udara. Jemarinya gemetar hebat. Ia tidak bisa mengeluarkan suara, bahkan untuk sekadar menarik napas. Seluruh organ tubuhnya seolah lumpuh seketika di bawah hantaman aura intimidasi mutlak yang dipancarkan oleh pria yang berdiri hanya beberapa langkah darinya.
Damian tidak mengatakan sepatah kata pun. Pria itu hanya berdiri di ambang pintu, menatap wanita yang dulu sangat dibencinya itu dengan pandangan yang begitu dalam, seolah sedang mencoba membaca rahasia terbesar yang disembunyikan di balik gumpalan tepung di tangan istrinya.
Mereka terjebak dalam keheningan yang menyesakkan selama sekian detik yang terasa bagai keabadian. Aurelia menatap mata abu-abu itu dengan teror murni yang mencengkeram dadanya, sementara Damian perlahan melangkah maju satu langkah ke dalam dapur yang sempit, tatapannya semakin menajam menghujam manik mata Shania tanpa berkedip sedikit pun—
mampir diceritaku juga ya😊