Di dunia Murim yang dikuasai oleh sekte-sekte besar dan tipu daya, Mu Jin hanyalah seorang tukang kayu dari desa terpencil. Hidupnya berubah total ketika desanya dibantai dalam satu malam oleh pasukan yang tak dikenal.
Tanpa tenaga dalam dan tanpa latar belakang beladiri, Mu Jin memulai perjalanan panjang ke utara. Di tengah perjalanan, dia berhadapan dengan kenyataan kejam dunia Murim: orang kuat menindas yang lemah, keadilan hanyalah topeng, dan dendam adalah satu-satunya hal yang membuatnya terus melangkah.
Sementara itu, di Puncak Awan Putih, Lu Chen, sosok yang dipuja sebagai pelindung keadilan, menggerakkan pengaruhnya di balik layar. Di utara, pemberontakan perlahan menguat di bawah pimpinan Lin Yu, anak haram yang ditolak oleh dunianya sendiri.
Di antara salju, darah, dan konspirasi, seorang tukang kayu biasa terus berjalan. Tanpa mengetahui apakah dia akan menjadi pahlawan, monster, atau hanya satu lagi mayat di jalanan Murim.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ginza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 02 Lu Chen
Rintik hujan di perbatasan timur tidak pernah membasuh kotoran. Airnya hanya memutarbalikkan lumpur, membongkar bangkai-bangkai tikus rawa dan serpihan tulang dari tanah yang dangkal.
Mu Jin melangkah pincang. Pergelangan kakinya terkilir saat melompati parit dua hari lalu, namun dia tidak berhenti. Pedang besi hitam di punggungnya terasa makin berat, seolah-olah besi polos itu menyerap seluruh kelembapan dan rasa sakit di sepanjang jalan. Dia bukan lagi sekadar tukang kayu yang berduka. Dia adalah racun mati rasa yang berjalan tanpa tujuan selain terus melangkah ke arah utara, ke tempat para raja dan pembawa keadilan berkuasa.
Di tepi jalan setapak yang diapit tebing cadas, berdiri sebuah kedai arak kumal berbahan papan lapuk. Bau arak beras murah yang basah dan bau keringat manusia menyengat hidung dari jarak puluhan meter. Mu Jin mendorong pintu bambu yang berderit nyaring.
Di dalam, suasana remang dan menyesakkan. Asap dari tembakau kotor menggantung tebal di bawah atap. Beberapa kelompok pengembara, pedagang senjata celengan, dan pendekar kelas dua duduk mengelilingi meja-meja kayu yang bernoda darah kering.
Mu Jin mengambil tempat di sudut paling gelap, di samping pilar kayu yang dimakan rayap. Dia meletakkan pedangnya di atas meja dengan bunyi buk yang kaku. Senjata itu tidak memiliki ukiran indah atau batu permata, hanya besi tebal yang kasar. Sangat mencolok di antara pisau-pisau tipis dan pedang berkilat milik para pengembara di sana.
Seorang pelayan berwajah picik meletakkan mangkuk tanah liat berisi air hangat dan sepotong roti keras yang sudah berjamur tanpa mengucap sepatah kata pun. Mu Jin melemparkan tiga koin tembaga terakhirnya. Itu adalah koin terakhir dari hasil menjual kayu bakarnya di desa sebelah sebelum dia benar-benar meninggalkan hidup lamanya.
"Kau mendengar kabar dari benteng utara?"
Suara parau dari meja tengah memecah dengung angin di luar. Seorang pria berkulit gelap dengan bekas luka tebasan memanjang dari pelipis hingga leher sedang menuangkan arak ke mangkuk rekannya.
"Soal anak haram itu lagi?" balas rekannya, seorang pria kurus yang memegang sepasang pisau lempar. "Bukankah Raja Utara sudah mengeluarkan hukuman gantung untuknya?"
"Hukuman gantung?" Pria berbekas luka itu tertawa mengejek, suara tawanya menyerupai gesekan batu gilingan. "Siapa yang mau menggantungnya? Tiga ratus prajurit berkuda dari klan utama dikirim ke Lembah Serigala bulan lalu untuk membawanya pulang hidup atau mati. Kau tahu apa yang kembali?"
Orang-orang di meja sekitar mulai memelankan suara mereka. Di dunia Murim, desas-desus dari utara selalu berbau darah dan takhta.
"Hanya kuda-kudanya," bisik pria berbekas luka itu, memajukan tubuhnya. "Tiga ratus kuda kembali tanpa penunggang. Tanpa kepala. Pria itu, si Lin Yu, memotong leher mereka satu per satu di tengah badai salju. Katanya, darah prajurit klan utama sampai membekukan sungai."
"Dia gila," gumam pria kurus, mengusap lehernya sendiri secara tidak sadar. "Dia cuma anak haram dari pelayan rendah. Darahnya kotor. Bagaimana bisa seorang tanpa garis keturunan murni memiliki tenaga dalam sesadis itu?"
"Itu karena dia tidak bertarung seperti seorang bangsawan," timpal seorang pedagang tua di meja lain yang ikut menyela. "Lin Yu tidak mempelajari jurus pedang istana yang indah dan anggun. Dia tumbuh di rawa-rawa pembantaian utara. Dia bertarung seperti binatang kelaparan. Ada desas-desus bahwa dia membunuh gurunya sendiri demi merebut Pedang Es Hitam."
Mu Jin mendengarkan dalam diam. Dia mengunyah roti kerasnya perlahan, merasakan tekstur tawar dan pahit di lidahnya. Nama Lin Yu tidak berarti apa-apa baginya. Anak haram, pembantai, calon penakluk utara. Semua itu hanyalah dongeng berdarah bagi orang-orang yang bercita-cita tinggi. Namun, ada satu hal dari cerita itu yang mengusik sarafnya: kejamnya dunia bagi mereka yang dianggap tidak berharga.
"Dia punya satu impian gila," kata pria berbekas luka itu lagi, kini suaranya lebih pelan, sarat dengan ketakutan yang nyata. "Aku mendengar ini dari seorang kurir rahasia yang melarikan diri dari wilayah perbatasan. Lin Yu pernah bersumpah di atas tumpukan tengkorak tetua bangsawan utara. Dia tidak hanya ingin merebut takhta ayahnya."
"Lalu apa?"
"Dia ingin meratakan seluruh Murim. Dia bilang, sistem sekte, klan darah murni, dan para pahlawan suci yang bertopeng keadilan, semuanya hanyalah sampah yang harus dibakar habis. Dia ingin menyatukan utara, lalu membawa pasukannya meruntuhkan dataran tengah. Dia ingin menjadi satu-satunya hukum di bawah langit."
Pria kurus meludah ke lantai. "Cita-cita pemimpi gila. Para Pendekar Suci dari Sekte Besar di Dataran Tengah tidak akan tinggal diam. Pendekar Pedang Suci Lu Chen saja bisa menghancurkan sepuluh orang seperti Lin Yu hanya dengan satu kibasan lengan!"
Lu Chen.
Nama itu menghantam dada Mu Jin bagai pukulan godam. Mangkuk tanah liat di tangannya retak karena remasan jarinya yang mendadak mengencang.
Kedai yang tadinya riuh dengan bisik-bisik soal pangeran gila dari utara mendadak terasa makin sempit bagi Mu Jin. Orang-orang di sini memuja Lu Chen. Bagi mereka, Lu Chen adalah gunung batu yang melindungi mereka dari kejahatan. Mereka tidak tahu, atau tidak peduli, bahwa di bawah pondasi kedamaian yang diagungkan itu, ada abu dari ribuan orang tak berdosa yang dibakar hidup-hidup.
"Lin Yu mungkin gila," gumam pedagang tua itu ragu-ragu, "tapi di utara, rakyat jelata dan para budak mulai menyebut namanya dalam doa mereka. Bagi mereka yang tertindas, iblis yang menawarkan kesetaraan jauh lebih baik daripada pahlawan suci yang menganggap mereka seperti lalat."
"Diam kau! Jangan bicara sembarangan!" gertak pria berbekas luka sambil melirik ke arah pintu, seolah takut ada mata-mata sekte yang mendengar. "Jika orang-orang Sekte Bulan Merah mendengar kau membandingkan Lu Chen dengan iblis utara itu, lehermu akan dipajang di gerbang kota besok pagi!"
Suasana kedai mendadak canggung dan tegang. Pembicaraan itu terhenti seketika, digantikan oleh suara hujan yang makin deras menimpa atap seng dan kayu.
Mu Jin berdiri perlahan. Dia menarik pedang beratnya dari atas meja, mengikatkan talinya kembali menembus dadanya yang kurus. Dia tidak meminum airnya, tidak menghabiskan rotinya.
Para pengembara di kedai menatapnya sekilas, menatap seorang lelaki kusam berpakaian kotor yang membawa pedang kaku tanpa mahir memegangnya. Bagi mereka, Mu Jin hanyalah calon mayat lain yang akan membusuk di pinggir jalan perbatasan.
Mu Jin mendorong pintu kedai dan kembali melangkah ke dalam badai malam.
Di kepala Mu Jin, dua nama kini terpatri. Lu Chen, sang pahlawan yang menghancurkan dunianya demi sebuah dogma. Dan Lin Yu, si anak haram dari utara yang desas-desusnya mulai membakar ketakutan di hati para penguasa.
Mu Jin tidak peduli apakah Lin Yu akan menjadi raja atau iblis. Dia hanya tahu bahwa jalan menuju utara kini makin kelam, dan bayangan perang besar yang dibawa oleh nama Lin Yu akan menjadi kekacauan yang sempurna baginya untuk mendekati sang Pendekar Pedang Suci.