Pratama Attarilah Putra Wijaya (Tama), adalah seorang yang usil dan jahil. Sejak kecil dia sering menjahili anak dari sahabat ibunya, Kiara. Akankah kejahilan itu terus berlanjut dan menumbuhkan cinta?
Mikhaila Azzariyah Putri Wijaya(Mikha), dia lahir lebih lambat 2 menit dari saudara kembarnnya Tama. Mikha yang memiliki sifat lugu dan polos bertemu dengan seorang pemuda bernama Dion Sebastian yang memiliki sifat jutek dan temperamental. Dan suatu kesalah pahaman membuat mereka terpaksa harus menikah. Akankah keduanya saling jatuh cinta, ketika ternyata di hati Dion sudah ada wanita lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samudra lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30
Sesuai permintaan Mikha, Dion menjalankan mobilnya menuju ke bioskop. Begitu sampai disana, Dion sedikit kesal karena harus mengantri untuk membeli tiket. Dari awal mengantri sampai dia mendapatkan tiket itu, mulutnya tak henti-hentinya mengoceh. Mikha hanya terkekeh melihatnya. Mikha tidak menyangka kalau suaminya akan rela mengantri demi dirinya, hal yang belum pernah dia lakukan, sekalipun untuk kekasih artisnya, Cantika.
Dulu setiap menonton film bersama Cantika, dia selalu meminta agar bioskop itu di kosongkan. Dia tidak pernah mau menonton bersama banyak orang. Tapi Mikha, dia berbeda. Meskipun dia anak orang kaya, dia tidak pernah sekalipun memanfaatkan kekayaan orang tuanya untuk mendapatkan kenyamanan saat menonton film. Menurutnya, akan lebih menyenangkan jika bisa menonton bersama banyak orang. Bahkan dia juga sudah terbiasa untuk mengantri.
"Ini!" Mikha memberikan soft drink kepada suaminya.
"Terimakasih," ucap Dion seraya menerima soft drink dari tangan istrinya.
"Apa ini pertama kalinya kamu mengantri?" tanya Mikha kepada suaminya.
Dion mengangguk, "Iya."
Dion semakin mengagumi sosok Mikha, dia begitu berbeda dengan wanita manapun yang dia kenal. Meskipun dari keluarga berada bahkan kaya raya, Mikha tidak sekalipun memanfaatkan kekayaan orang tuanya untuk kepentingan pribadi. Meskipun dia terlihat manja saat bersama orang tuanya, tapi saat di luar dia akan menjadi sosok yang mandiri.
Dion tersenyum saat mengingat awal pertemuannya dengan Mikha. Gadis itu malah rela bekerja di perusahaannya, demi melunasi hutangnya. Bahkan dia selalu menerima perlakuan apapun darinya.
"Ayo, masuk!" ajak Mikha.
Sepasang suami istri itu mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung bioskop. Mereka mulai menonton film yang di putar di layar lebar di depannya dan ternyata film yang mereka tonton adalah film horor.
Dion sudah tersenyum kegirangan, dia membayangkan kalau istrinya akan ketakutan saat menonton film tersebut kemuadian memeluknya.
"Kenapa dari tadi kamu senyum-senyum sendiri?" tanya Mikha, dia merasa aneh dengan sikap suaminya.
"Tidak ada apa-apa," jawab Dion di sertai dengan senyum misteriusnya.
Mereka kembali mengalihkan pandangannya ke layar yang ada di depan mereka. Film bergenre horor itupun mulai di putar. Dion kembali tersenyum, dia sudah merasa siap jika nanti tiba-tiba Mikha memeluknya karena ketakutan.
30 menit telah berlalu, Dion menatap wajah istrinya yang tampak serius menonton film di depannya. 1 jam juga kini juga telah berlalu, namun yang Dion harapkan tidak kunjung terjadi. Istrinya malah begitu asyik menikmati setiap ketegangan yang terjadi di film tersebut. Kadang dia menjerit, kadang malah tertawa karena film horor tersebut juga di bumbui dengan aksi komedi pemerannya. Dan akhirnya film itu benar-benar telah usai.
Mikha terlihat bahagia saat ke luar dari dalam gedung bioskop tersebut, berbeda dengan Dion. Kekasalan nampak jelas diwajahnya, dia begitu kesal karena yang dia bayangkan tidak satupun terjadi.
"Cowok nyebelin kamu kenapa?" tanya Mikha saat melihat suaminya hanya diam saja.
"Tidak apa-apa," jawab Dion dengan nada datar.
Keduanya kini sudah berada di dalam mobil. Dion masih dengan sikap anehnya yang diam seribu bahasa.
"Kenapa lagi sih dia?" batin Mikha yang melihat sikap suaminya yang aneh.
Selama perjalananpun, Dion masih tetap diam.
Mobil yang Dion kendarai kini memasuki kawasan parkir apartemen mereka. Mereka bergegas turun saat mobil tersebut telah terparkir sempurna.
Mikha berjalan masuk ke dalam kamar, diikuti Dion di belakangnya.
"Kenapa ikutan masuk?" tanya Mikha.
"Kenapa? Bukankah ini juga kamarku?" kata Dion cuek. Dia malah merebahkan dirinya di atas tempat tidur.
"Tapi aku mau mengganti bajuku dulu, aku tidak terbiasa tidur dengan memakai pakaian lengkap," jawab Mikha. Dia berjalan ke arah lemari dan mencari piyama yang biasa dia pakai saat tidur.
Karena Dion tidak mau keluar dari kamar, Mikha terpaksa mengganti pakaiannya di kamar mandi. Usai memakai piyamanya, Mikha ke luar dari kamar mandi.
"Kenapa masih berdiri?" tanya Dion saat melihat istrinya yang hanya diam di dekat ranjang.
"Sini!" suruh Dion sambil menepuk tempat kosong di sebelahnya.
Walau ragu, Mikha menuruti perintah suaminya. Dia ikut merebahkan tubuhnya di samping Dion.
Mikha terkejut saat tangan Dion, tiba-tiba melingkar di perutnya. Mikha berusaha menyingkirkan tangan itu dari perutnya, namun nyatanya tangan itu semakin erat memeluknya.
"Diam dan tidurlah! Atau aku akan meminta hakku sekarang!" ancam Dion yang semakin mengeratkan pelukannya.
Akhirnya Mikha membiarkan Dion tidur sambil memeluk dirinya.
*****
Keesokan harinya ...
Mikha terbangun saat mencium bau masakan di hidungnya. Dia segera bangun dan mencari sumber dari mana bau masakan itu tercium.
Dia begitu terpana saat tahu siapa yang sedang memasak di sana.
Dion!
Pengusaha muda yang terkenal dingin dan angkuh, sedang memasak di depannya.
Beberapa kali dia mengedipkan, bahkan saking tidak percayanya dengan apa yang dia lihat, Mikha mencubit lengannya sendiri.
"Aw, sakit. Jadi ini benar-benar bukan mimpi?" batin Mikha.
Mikha berjalan mendekat ke arah Dion dan melihat semua makanan yang tersaji di sana.
"Ini semua masakanmu?" tanya Mikha tak percaya.
"Kenapa belum mandi? Harusnya mandi dulu baru ke sini."
"Maaf, aku langsung ke sini saat mencium bau masakanmu," ucap Mikha. "Kalau begitu aku mandi dulu deh."
Langkah Mikha terhenti karena tarikan tangan Dion. Dion menarik Mikha ke dalam pelukannya.
"Bukankah, kemarin kamu ingin menjajal kemampuanku dalam berciuman?"
Dion memaksa Mikha agar menghadap ke arahnya.
"Tunjukkan padaku sekarang!" suruh Dion yang semakin mengeratkan pelukannya.
Jantung Mikha semakin berdetak karuan, apalagi saat Dion semakin mendekatkan wajahnya ke arahnya. Namun lagi-lagi keinginannya untuk menjajal kemampuan istrinya tersebut harus dia urungkan karena bau masakan gosong di sebelahnya. Dion lupa kalau sebelum Mikha datang, dia baru saja memasukkan telor ke dalam wajan.
Dion langsung melepaskan Mikha dan segera mematikan kompor tersebut. Mikha segera mengambil kesempatan itu untuk melepaskan diri dari suaminya dan kembali ke kamarnya untuk mandi.
Dion tersenyum melihat tingkah istrinya yang masih malu-malu terhadapnya.
******
Seperti hari-hari sebelumnya, Zeno selalu menjemput Kiara untuk berangkat kuliah bersama. Zeno bahkan hapal semua jadwal kuliah kekasihnya. Sejak resmi menjadi pacar Kiara, Zeno tidak pernah membiarkan Kiara untuk berangkat ataupun pulang kuliah tanpa dirinya.
Sama seperti hari ini, padahal Kiara sudah menyuruh Zeno untuk tidak menjemputnya, karena rencananya dia akan berangkat bareng Bundanya yang kebetulan hari itu akan menjadi pembicara di seminar yang akan di adakan di kampusnya. Namun Zeno terang-terangan melarangnya dan tetap menyuruhnya untuk berangkat ke kampus bersamanya. Alhasil, dia terpaksa menuruti keinginan Zeno.
Kiara segera turun dari dalam mobil milik Zeno, saat mobil tersebut berhenti di halaman parkir kampusnya.
Di saat itulah Kiara melihat Meisya yang juga baru saja ke luar dari dalam mobil milik Tama.
Seketika rasa sesak kembali menghampiri dada Kiara. Tapi dia berusaha menyembunyikannya dengan mengulas senyum di wajahnya.
"Kelihatannya Tama dan Meisya semakin akrab ya?" tanya Zeno.
"Iya," jawab Kiara singkat.
Kiara langsung menghentikan langkahnya saat mendengar Meisya menembak Tama. Dia berbalik dan menatap ke arah Tama dan Meisya.
"Tam, Aku benar-benar menyukaimu bahkan sejak pertama kali kita bertemu. Kamu maukan menjadi pacarku?"
Iya, Meisya dengan sangat pede dan berani menembak Tama tanpa basa-basi. Tama menatap ke arah Kiara yang memang berada tidak jauh dari tempatnya berada. Mata keduanya kali ini bertemu dan saling mengunci.
"Tam, apa kamu mau menerima cintaku ini?" kembali Meisya mengungkapkan perasaannya.
"Aku..."
**🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Hai reader, terimakasih ya sudah selalu setia menunggu update-tan author dan maaf kalau author sering telat up ✌️. Nah, kira-kira Tama mau gak ya menerima perasaan Meisya?
Jangan lupa untuk selalu tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan vote sebanyak-banyaknya ya. Terimakasih🤗🤗**