NovelToon NovelToon
Yun Ma Yang Menolak Takdir Novel

Yun Ma Yang Menolak Takdir Novel

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Identitas Tersembunyi / Kelahiran kembali menjadi kuat / Bepergian untuk menjadi kaya / Mengubah Takdir
Popularitas:10.7k
Nilai: 5
Nama Author: inda

Yun Ma, seorang gadis modern yang sedang menikmati cuti dari pekerjaannya yang melelahkan, tak pernah menyangka kematiannya di dasar sebuah sumur tua justru membawanya ke dunia lain. Saat membuka mata, ia terbangun sebagai Yun Mailan, putri sah Menteri Pendidikan Kekaisaran tokoh utama wanita dalam sebuah novel tragis yang pernah ia baca dan benci.

Dalam cerita asli, Yun Mailan dibenci ayahnya, dimanfaatkan kakaknya, dikhianati tunangannya, difitnah tanpa pembelaan, lalu mati sendirian dalam kehinaan. Mengetahui seluruh alur nasib tersebut, Yun Ma menolak menerima takdir.

Pada malam kebangkitannya, ia melarikan diri dari kediaman keluarga Yun dan membakar masa lalu yang penuh kepalsuan. Bersama pelayan setia bernama Ayin, Yun Mailan memulai hidup baru dari nol.

Berbekal pengetahuan masa depan, tekad kuat untuk bertahan hidup, dan sebuah liontin peninggalan ibunya yang menyimpan kekuatan tersembunyi, Yun Mailan bersumpah untuk bangkit. Suatu hari, ia akan kembali bukan sebagai korban

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Pagi itu, langit terlihat sangat cerah.

Awan putih berarak perlahan, sementara bunga-bunga bermekaran indah di taman sebuah perumahan yang tenang. Udara sejuk menyelimuti suasana, memberi kesan damai—seolah dunia sedang berada dalam kondisi terbaiknya.

Tidak jauh dari sana, di bawah rindangnya pepohonan, seorang gadis tampak duduk sambil memegang sebuah novel. Wajahnya jelas tidak setenang suasana sekitar. Keningnya berkerut, bibirnya menggerutu tanpa henti, dan sesekali ia menghela napas panjang dengan kesal.

Gadis itu bernama Yun Ma.

Seorang pekerja kantoran yang baru saja mengambil cuti panjang dari pekerjaannya yang melelahkan. Ia ingin hidup santai, setidaknya untuk sementara. Karena itulah, ia memutuskan menghabiskan waktunya dengan membaca novel—sebuah novel yang ia temukan secara tidak sengaja di toko buku tua beberapa hari lalu.

Awalnya ia mengira itu hanya bacaan ringan.

Nyatanya, novel itu sukses membuatnya emosi.

“Ini tokoh utama wanita apa karung samsak sih?” gerutu Yun Ma sambil membalik halaman dengan kasar. “Dihina, difitnah, diinjak-injak… dan dia cuma nangis?!”

Sejak pagi, entah sudah berapa kali ia memaki isi novel itu.

Tanpa Yun Ma sadari, buku yang sedang ia maki-maki dengan sepenuh hati itu perlahan mengubah takdirnya.

Saat ia masih tenggelam dalam cerita, tiba-tiba terdengar suara seorang wanita.

“Tolong…”

Yun Ma terdiam. Ia mengangkat kepala, menoleh ke kiri dan ke kanan.

Kosong.

“Halusinasi,” gumamnya, lalu kembali membaca.

Namun suara itu terdengar lagi.

“Tolong aku…”

Kali ini lebih jelas. Lebih pilu.

Yun Ma mulai merasa tidak nyaman. Ia menutup bukunya dan berdiri, berusaha mencari sumber suara itu. Suara tersebut seolah memanggilnya, menuntunnya untuk berjalan dan terus berjalan, melewati jalan setapak yang jarang ia lewati sebelumnya.

Tanpa sadar, langkahnya membawanya ke sebuah bangunan tua bersejarah yang jarang dikunjungi orang. Tidak jauh dari bangunan itu, berdiri sebuah sumur tua dengan dinding batu yang mulai ditumbuhi lumut.

Dan di sanalah, hal yang tidak diinginkan terjadi.

Entah bagaimana, langkah Yun Ma tersandung. Tubuhnya terhuyung, dan sebelum ia sempat berpegangan pada apa pun, kakinya terpeleset.

“A—!”

Tubuhnya jatuh lurus ke dalam sumur.

Air dingin menyambut tubuhnya. Yun Ma panik. Ia berusaha berenang, berusaha naik ke permukaan. Namun semakin ia bergerak, semakin kuat pula tarikan tak kasatmata menyeret tubuhnya ke bawah.

Ia merasa ditarik.

Lebih dalam.

Lebih gelap.

Napasnya habis. Kesadarannya perlahan menghilang.

Dan di dalam air itu, Yun Ma mati.

Namun kematian bukanlah akhir.

Saat ia membuka mata perlahan, rasa nyeri dan kaku menyelimuti seluruh tubuhnya. Tenggorokannya terasa kering, kepalanya berat, dan tubuhnya seolah baru saja dipaksa tidur terlalu lama.

Matanya benar-benar terbuka.

Langit-langit ruangan dengan ukiran kayu klasik menyambut pandangannya.

“Eh… aku di mana?” gumam Yun Ma sambil perlahan duduk.

Ia menatap sekeliling ruangan dengan panik. Tempat tidur besar, tirai tipis, perabot kayu kuno.

“Apa… di dalam sumur ada tempat tinggal?” pikirnya kalut. “Atau… jangan-jangan aku masuk kerja jin sumur?!”

Wajahnya pucat.

“Ya ampun… jangan bilang aku mau dijadiin ratu jin. Iya aku akui aku cantik, tapi jangan jin juga! Aku gak mau punya anak bertanduk!”

Yun Ma mondar-mandir dengan panik, tidak menyadari bahwa pintu kamar telah terbuka dan seseorang berdiri di sana dengan wajah terkejut.

“No… nona… nona sudah sadar?! Hiks… hiks…”

Namun Yun Ma sama sekali tidak mendengar. Ia masih sibuk dengan pikirannya sendiri.

“Tenang, Yun Ma. Ini pasti mimpi,” gumamnya sambil menepuk pipinya sendiri. “Abis jatuh ke sumur, terus ketemu istana jin… ASTAGA NGGAK!”

Plak.

“Aduh! Sakit! Berarti bukan mimpi!”

“No… nona—”

“AAA—JINNN!!” Yun Ma meloncat setinggi mungkin, refleks mengambil bantal terdekat dan melemparkannya ke arah suara itu.

“JANGAN MAKAN AKU! AKU KURUS! TULANG SEMUA! GAK ENAK DIMAKAN!”

Pelayan itu membeku. “Eh?! No—nona, saya—”

“JANGAN DEKET-DEKET!” Yun Ma mundur hingga punggungnya menabrak dinding. “Aku belum siap nikah lintas alam! Aku juga gak mau anak bertanduk! Apalagi yang warna ijo!”

“Nona… saya manusia…” seru pelayan itu panik

“BOHONG!” Yun Ma menudingnya dengan gemetar. “Jin sekarang pinter! Bisa nyamar!”

Ia menutup telinganya. “AKU GAK DENGER! AKU GAK DENGER! BALIKIN AKU KE DUNIA MANUSIAAAA!”

Pelayan itu langsung berlutut panik. “Ampun, nona! Saya hanya ingin memberi tahu bahwa Anda sudah sadar!”

“…hah?” kaget Yun Ma, Yun Ma mengintip dari balik jarinya. “Kamu… bukan jin?”

“Bukan, nona.” jawab pelayan itu

“…bukan siluman?” tanya Yun Ma

“Bukan.” jawab sang pelayan

Yun Ma memandang belakang tubuh pelayan itu “…gak punya ekor?”

“Tidak, nona.” jawab sang pelayan dengan expresi terkejut nya

Yun Ma menghela napas panjang dan duduk lemas di ranjang.“…Ya ampun. Malu banget.”

Ia duduk lemas di ranjang.“Tolong maklumi. Aku… gampang kaget.”

Pelayan itu menatapnya ragu. “…Nona barusan teriak jin, jin itu apa dan kenapa memiliki ekor?”

Yun Ma langsung menutup wajahnya dengan selimut. Ia menarik selimut menutupi wajahnya. “Anggap aja kamu gak denger apa-apa.”

Walau bingung, pelayan itu mengangguk patuh."Baik nona, hamba mengerti"

Yun ma terdiam cukup lama karena tiba tiba kepalanya pusing dan mendapatkan kilasan ingatan yang belum pernah iya lihat.

"Nona... Apa anda baik baik saja?" Tanya sang pelayan yang melihat Yun ma memenangi kepalanya

"Tidak... Aku tidak apa apa, tolong ceritakan apa yang terjadi padaku, kenapa aku disini dan siapa kau ?" Tanya Yun ma

Pelayan itu bingung dengan tingkah nonanya, "Nona maksudnya bagaimana... Apa nona melupakan semua kenangan nona karena jatuh ke sumur seminggu lalu, saya akan panggil tabib nona"

"ehh... Gak usah... Aku hanya sedang bingung saja, tenanglah aku baik baik saja jadi cepat ceritakan saja apa yang kau tau" ujar Yun ma

Sang pelayan memandang Yun ma dengan khawatir tapi Walaupun begitu khawatir pelayan itu tetap menurut , "Nama hamba Ayin nona, pelayan pribadi anda dan anda adalah putri sah dari Tuan besar Yun menteri pendidikan. Nona bernama Yun Mailan"

Yun Ma membeku, " ulangi lagi... Siapa namaku?"

“Nona bernama… Yun Mailan.” ujar pelayan itu

Dunia seakan berhenti berputar.

“Apa…?” bibir Yun Ma bergetar. Tangannya refleks mencengkeram selimut, jari-jarinya dingin.

“Kau… ulangi, apa aku salah dengar.”

Pelayan itu terkejut melihat perubahan wajah nonanya. “Nona adalah Putri Yun Mailan, putri sah dari Menteri Yun, Menteri Pendidikan Kekaisaran…”

Kepalanya berdengung hebat.

Yun Mailan.

Nama itu bukan nama asing. Sama sekali tidak asing. “Tidak… tidak mungkin…” Yun Ma menggeleng cepat, napasnya memburu. Jantungnya berdebar begitu keras hingga telinganya berdengung.

Bersambung

1
Shai'er
💪💪💪💪💪💪💪
Shai'er
👍👍👍👍👍
Shai'er
🙄🙄🙄🙄🙄
Shai'er
💪💪💪💪💪
Cindy
lanjut kak
Shai'er
👍👍👍👍👍👍
Shai'er
😱😱😱😱
Shai'er
💪💪💪💪💪
Shai'er
🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️
Shai'er
🤧🤧🤧🤧🤧
sahabat pena
bener ternyata mantan ya? mantan yg menyesal dan mengejar masa depan
sahabat pena
siapa itu? apa mantan tunangan nya ya
Naviah
lanjut thor
Shai'er
puyeng 😵‍💫😵‍💫😵‍💫😵‍💫
Shai'er
lha...... kenapa baru sekarang lu ngomong tentang keadilan 😏😏😏
Shai'er
hayoo loh😏😏😏
Shai'er
Ayin💪💪💪
Cindy
lanjut kak
Naviah
ini perang narasi kah 🤔 dan siapa itu Dewan bayangan
Naviah
semangat Ayin bertahan lah🙌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!