Han Chuan adalah seorang anak desa yang ceria dan penuh semangat. Ia menghabiskan hari-harinya dengan melukis pemandangan dan bermain bersama teman-temannya di bukit kecil dekat desa. Hidupnya sederhana dan bahagia hingga suatu hari, segalanya berubah menjadi mimpi buruk. Saat sedang bermain bola bersama teman-temannya, langit tiba-tiba menggelap. Suara raungan aneh menggema dari hutan, dan makhluk-makhluk iblis menyerang desa tanpa ampun. Anak-anak yang bermain bersamanya menghilang satu per satu, ditelan oleh iblis saat di bersama ibunya. Ketika Han Chuan turun dari bukit, yang tersisa hanyalah pemandangan mengerikan desa hancur, dan jasad para penduduk berserakan. Dalam keputusasaan, ia juga menyaksikan ibunya yang ternyata seorang dewa yang turun tangan melawan para iblis. Namun malang, sang dewa tewas ditusuk dari belakang dan tubuhnya dilahap utuh oleh iblis. Rasa sakit dan amarah yang tak tertahankan membangkitkan kekuatan tersembunyi di dalam diri Han Chuan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FAUZAL LAZI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Han Ling yang mendengar teriakan Han Chuan langsung berbalik dan menatap ke arah Bai Mo. Ia mengatupkan kedua tangannya di depan dada sebagai tanda hormat.
“Bai Mo, aku turut berduka atas kematian keponakanmu,” ucap Han Ling dengan nada serius. Di matanya terlihat sedikit rasa kasihan terhadap nasib Bai Ling yang berakhir dimakan iblis.
Bai Mo menghela napas panjang. Ia menatap Han Ling sejenak, lalu mengangguk pelan.
“Mungkin ini sudah menjadi takdirnya,” ucap Bai Mo dengan suara berat. “Konferensi pemburu iblis memang penuh risiko. Dia bersikeras ingin ikut, berarti dia sudah siap menerima akibatnya.”
Setelah berkata demikian, Bai Mo kembali duduk dan mengangkat cangkir tehnya. Tangannya sedikit bergetar sebelum akhirnya ia meminum teh tersebut untuk menenangkan pikirannya.
Sementara itu, Yan Long hanya bisa terdiam. Tatapannya kosong menatap halaman istana, menyadari tidak satu pun anggota keluarganya kembali.
“Hah… setelah ini aku harus mendidik murid-murid dan keluarga yang ku pimpin dengan lebih keras lagi,” gumamnya pelan, ekspresinya dipenuhi penyesalan.
Di atas singgasana, Yun Ruan melirik sekilas ke arah halaman istana. Kemudian ia menoleh ke arah pelayan pribadinya.
“Shin Yi, umumkan pemenangnya dan bagikan hadiahnya,” perintah Yun Ruan dengan suara datar namun berwibawa.
Shin Yi segera melangkah maju ke tengah halaman istana. Di hadapan tiga keluarga besar yang menatap penuh perhatian, ia menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan.
“Selamat kepada Han Chuan dari keluarga Han,” ucap Shin Yi dengan suara lantang yang bergema ke seluruh halaman istana. “Ia resmi menjadi pemenang Konferensi Pemburu Iblis dan berhak menerima hadiah yang telah dijanjikan, yaitu Sumsum Dewa.”
Shin Yi mengeluarkan sebuah botol dari kantong ruang miliknya. Botol berwarna putih giok itu memancarkan cahaya keemasan yang kuat, dan energi spiritual murni langsung menyebar ke sekeliling halaman, membuat udara terasa bergetar halus.
Dengan sedikit dorongan energi spiritual, botol tersebut melayang di udara dan melesat ke arah Han Chuan.
Han Chuan mengulurkan tangan dan menangkap botol itu dengan mantap. Ia menatapnya sekilas, memperhatikan cahaya keemasan yang berputar di dalam botol.
“Ini akan sangat berguna di masa depan,” gumamnya pelan sebelum menyimpan botol tersebut ke dalam kantong ruang miliknya.
Shin Yi kemudian melirik ke arah Han Ling yang sedang memperhatikan putranya dengan senyum bangga.
“Han Ling, selamat atas kemenangan putramu,” ucap Shin Yi dengan nada tenang.
Han Ling mengangguk pelan sambil tersenyum tipis sebagai balasan.
Shin Yi kembali menghadap ke seluruh halaman istana. “Selamat kepada pemenang, dan jangan berkecil hati bagi yang belum mendapatkan hadiah. Hari ini juga menjadi penutup Konferensi Pemburu Iblis yang telah berlangsung selama dua hari. Dengan ini, konferensi resmi dinyatakan selesai.”
Mereka berlima yang berhasil bertahan dengan selamat tersenyum puas,dan menatap satu sama lain dan menatap ke arah han chuan dan bertepuk tangan atas kemenangan nya.
Sementara itu Bai mo dan Yan long meninggalkan halaman istana dan kembali ke kediaman masing-masing dengan ekspresi wajah mereka yang sedikit tidak puas.
Sementara itu Han Chuan dan yang lainnya juga turun dari tiang nama dan berjalan meninggalkan halaman istana.
Han Ling yang melihat putranya turun segera menghampirinya dengan langkah mantap dan senyum penuh kebanggaan.
“Kamu memang anak yang luar biasa, Han Chuan,” ucap Han Ling sambil menepuk bahu putranya. “Kamu berhasil membuat bibimu bangga.”
Han Chuan tersenyum kecil dan menatap ayahnya. “Aku masih merasa diriku belum seberapa, Ayah. Aku masih jauh dibandingkan Bibi Han Ming yang sudah menjadi dewa,” jawabnya dengan rendah hati sambil menggaruk kepalanya.
Melihat sikap putranya, Han Ling hanya tersenyum dan kembali menepuk bahunya dengan ringan.
“Di mataku, kamu sudah sangat kuat. Kamu adalah anak paling berbakat yang kumiliki,” ucapnya dengan penuh keyakinan.
“Selamat, Han Chuan. Kamu memang hebat,” ucap Xue Lin sambil menghampiri dan tersenyum tulus.
Han chuan dan Han Ling yng mendengar suara tersebut menoleh ke arah Xue Lin secara bersamaan,Han chuan yang mendengar ucapan selamat itu menganguk pelan dan tersenyum ke arahnya.
“Sepertinya aku harus berusaha lebih keras lagi,untuk melampaui mu” sahut Wan Ju yang datang menghampiri mereka dan menepuk bahu Han Chuan dengan semangat.
Han chuan yang mendengar itu hanya mengangguk pelan"kalau kau berusaha lebih keras aku juga akan berusaha lebih keras agar kau tidak bisa melampaui ku"jawab Han Chuan saat mendengar ucapan wan ju dan akhirnya mereka bertiga tertawa ringan dan manetap satu sama lain.
Han Chuan menatap mereka berdua lalu mengatupkan kedua tangan nya dan mengucapkan terimakasih atas ucapan selamat yang diangguki oleh Xue Lin Dan wan Ju sambil berbicara ringan dan bercanda satu sama lain.
Melihat putranya sibuk berbincang dengan teman-temannya, Han Ling akhirnya berbalik dan meninggalkan mereka. Ia kembali menuju kediaman keluarga Han untuk menyampaikan kabar baik ini kepada seluruh anggota keluarga.
Setelah berbincang sebentar, Wan Ju melirik ke arah langit. Matahari sudah condong ke barat dan cahayanya mulai meredup.
“Sudah mau sore. Aku harus kembali ke Akademi Heiyun,” ucap Wan Ju sambil menatap Han Chuan dan Xue Lin. “Aku takut teman teman kita yang lain menghawatirkan keadaan kita.”
Han Chuan mengangguk pelan. “Kalau ada yang menanyakan keadaan kami, bilang saja kami baik-baik saja,” ucapnya dengan nada tenang.
Wan Ju mengangguk sebagai balasan. Tanpa ragu, ia berbalik, menuruni tangga halaman istana, lalu berlari dengan sangat cepat,Energi spiritualnya berdenyut halus di bawah telapak kakinya, membuat gerakannya ringan dan cepat hingga tubuhnya segera menghilang dari pandangan.
Han Chuan sempat melirik ke arah Wan Ju yang pergi. Setelah itu, ia menoleh ke samping menatap Xue Lin yang berdiri di sebelahnya.
“Aku mau pulang. Kamu mau kembali ke akademi atau ke tempat tinggal mu?” tanya Han Chuan sambil menatapnya.
Xue Lin memegang dagunya sejenak, berpikir. “Sepertinya aku pulang ke tempat tinggal ku,” jawabnya sambil tersenyum tipis.
“Kalau begitu kita bisa jalan barengan,” ucap Han Chuan. “Lagi pula, tempat tinggal mu dekat dengan keluarga Han.”
Xue Lin mengangguk setuju. Mereka pun melangkah meninggalkan halaman istana berdampingan, berjalan santai sambil berbincang ringan.