Han Chuan adalah seorang anak desa yang ceria dan penuh semangat. Ia menghabiskan hari-harinya dengan melukis pemandangan dan bermain bersama teman-temannya di bukit kecil dekat desa. Hidupnya sederhana dan bahagia hingga suatu hari, segalanya berubah menjadi mimpi buruk. Saat sedang bermain bola bersama teman-temannya, langit tiba-tiba menggelap. Suara raungan aneh menggema dari hutan, dan makhluk-makhluk iblis menyerang desa tanpa ampun. Anak-anak yang bermain bersamanya menghilang satu per satu, ditelan oleh iblis saat di bersama ibunya. Ketika Han Chuan turun dari bukit, yang tersisa hanyalah pemandangan mengerikan desa hancur, dan jasad para penduduk berserakan. Dalam keputusasaan, ia juga menyaksikan ibunya yang ternyata seorang dewa yang turun tangan melawan para iblis. Namun malang, sang dewa tewas ditusuk dari belakang dan tubuhnya dilahap utuh oleh iblis. Rasa sakit dan amarah yang tak tertahankan membangkitkan kekuatan tersembunyi di dalam diri Han Chuan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FAUZAL LAZI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Di saat Ling Shura menahan Xue Lin dan Wan Ju, Han Chuan masih terus menyerang ular iblis ilusi yang bergerak ke arahnya sambil mengarahkan tanduknya lurus ke depan. Melihat serangan itu, Han Chuan langsung menghindar dengan sangat cepat ke samping tubuh ular, lalu mengangkat pedangnya.
“Teknik rahasia, Tebasan Musim Gugur!” teriak Han Chuan sambil mengayunkan pedangnya dengan kuat.
Dari ayunan itu, bilah energi langsung melesat ke arah ular iblis ilusi dengan kecepatan tinggi dan berhasil mengenainya. Serangan tersebut menghantam tubuh ular dan menggores permukaan sisiknya, memercikkan energi spiritual ke segala arah.
Ular iblis ilusi itu langsung meraung keras sambil menahan benturan. Amarahnya meledak setelah melihat sisiknya terluka. Ia mengayunkan ekornya dengan sangat cepat, menciptakan tekanan yang mengguncang seluruh gua. Tanah dan dinding batu bergetar hebat setiap kali ekor itu berusaha menghantam Han Chuan.
Namun, tidak satu pun serangan ekor tersebut mengenai Han Chuan. Dengan Teknik Gerakan Guntur miliknya, tubuh Han Chuan terus berpindah posisi dalam sekejap, meninggalkan bayangan samar dan percikan energi petir di udara. Hal itu justru membuat ular tersebut semakin marah.
Ular iblis ilusi itu kemudian membuka mulutnya lebar-lebar dan langsung menerjang, berusaha menerkam Han Chuan. Melihat serangan itu, Han Chuan menghindar ke sisi kiri sambil terus menebaskan pedangnya tanpa henti. Setiap tebasan mengenai tubuh ular, membuatnya menjerit kesakitan dan memancarkan energi gelap dari luka-lukanya.
Namun, ular itu segera menyerap energi spiritual melalui tanduk barunya. Energi gelap berputar di sekitar kepalanya, dan luka-luka di tubuhnya perlahan menutup kembali. Melihat hal itu, Han Chuan mulai merasa tertekan.
“Sial, sepertinya tebasan pedang biasa tidak terlalu berpengaruh padanya,” gumam Han Chuan dengan rahang mengeras.
Ia segera mengangkat pedangnya. Energi spiritual dalam tubuhnya melonjak dan mengalir deras ke pedang tersebut, membuat bilahnya bergetar dan memancarkan tekanan yang berat.
“Teknik rahasia Lukisan Dalam Pedang, Tebasan Pembelah Langit!” teriak Han Chuan dan langsung mengayunkan pedangnya dengan kekuatan penuh. Sebuah bilah energi besar berwarna kuning keemasan, bercampur bercak hitam, melesat ke arah ular iblis ilusi dengan daya hancur yang mengerikan.
Ular yang melihat serangan yang melesat kearahnya dia mengangkat tanduknya dan menahan serangan dari Han chuan.
Benturan energi pun terjadi, menciptakan benturan energi yang mengguncang gua dan membuat gelombang energi spiritual menyapu ke segala arah.
Ular iblis ilusi tidak sanggup menahan tebasan pedang Han Chuan. Tubuh besarnya terlempar ke belakang dan menghantam dinding gua dengan suara benturan keras. Batu-batu kecil runtuh, debu beterbangan, dan ular itu tergeletak lemas, sisiknya retak di beberapa bagian, namun masih berusaha mengangkat kepalanya.
Han Chuan mendarat dengan napas berat. Ia menghapus keringat di wajahnya, lalu menatap tajam ke arah ular yang masih berusaha bangkit.
Sementara itu, Ling Shura masih terlibat pertarungan sengit melawan Xue Lin dan Wan Ju.
“Tch, sangat merepotkan menghadapi kalian berdua sekaligus tanpa melukai kalian,” gumam Ling Shura sambil menggeser kakinya.
Tinju Wan Ju yang dilapisi api melesat ke arahnya. Ling Shura langsung mengangkat pedangnya dan menahan pukulan itu. Benturan terjadi, api berhamburan, dan getaran kuat menjalar ke lengannya.
Di saat Ling Shura masih menahan serangan Wan Ju, Xue Lin sudah menarik busurnya. Tatapannya kosong, lalu anak panah dilepaskan. Anak panah itu melesat cepat, membelah udara dan mengarah lurus ke arah Ling Shura.
Ling Shura melirik ke samping dan membelalakkan matanya.
“Sial, tidak sempat menghindar,” gumamnya pelan.
Namun tepat sebelum anak panah itu mengenainya, sebuah pedang besar melesat dari samping dan menghantam anak panah tersebut. Anak panah itu terpental dan hancur di udara. Ling Shura memanfaatkan celah itu untuk menendang Wan Ju ke belakang, lalu segera mundur dan menoleh ke samping.
“Long Shen, kau dari mana saja?” tanya Ling Shura sambil berdiri di sampingnya.
Long Shen mendengus sedikit kesal dan menatap kedepan “Aku malas membicarakannya. Yang lebih penting sekarang, kenapa mereka bisa seperti ini?”
“Nanti aku jelaskan. Sekarang bantu aku menahan mereka dan jangan sampai melukai mereka,” jawab Ling Shura dengan nada serius.Long Shen langsung mengangguk dan menatap mereka berdua..
Secara bersamaan, Xue Lin dan Wan Ju kembali melesat ke arah mereka. Long Shen mencabut pedang besarnya, lalu memasukkannya kembali ke sarung. Ia menggenggam pedang kecilnya dan melesat ke arah Wan Ju. Dengan satu ayunan cepat, ia menghantam Wan Ju menggunakan sisi tumpul pedang.
Wan Ju berhasil menahan serangan itu, tetapi tubuhnya terdorong beberapa langkah ke belakang. Long Shen tidak memberi kesempatan. Ia menarik pedangnya kembali dan menghantam dada Wan Ju dengan pukulan keras. Tubuh Wan Ju terpental dan menghantam dinding batu dengan suara berat.
Di sisi lain, Ling Shura telah membentuk segel tangan. Jimat memanjang melesat dan membelit tubuh Xue Lin, mengikatnya dengan kuat hingga ia tidak bisa bergerak. Ling Shura menoleh dan melihat Wan Ju yang masih berusaha bangkit. Ia segera melemparkan jimat lain. Jimat itu melilit tubuh Wan Ju dan membuatnya kaku di tempat.
Ling Shura mengangkat tubuh Xue Lin yang tersungkur dan meletakkannya di samping Wan Ju.
“Sekarang kita apakan mereka?” tanya Long Shen sambil melihat sekeliling. “Di mana Han Chuan?”
Ling Shura menghela napas pendek. “Aku akan masuk ke dalam kesadaran mereka. Mereka dikendalikan melalui ilusi ular iblis ilusi yang sedang dilawan Han Chuan,” ujarnya sambil menunjuk ke arah Han Chuan yang berdiri berhadapan dengan ular iblis ilusi yang baru saja bangkit dan menatapnya tajam.
“Kau bantu dia. Biarkan aku yang mengurus ini,” lanjut Ling Shura.Long Shen mengangguk dan langsung berlari ke arah Han Chuan.
Ling Shura menatap Xue Lin dan Wan Ju yang terikat. Ia kembali membentuk sebuah jimat dan melemparkannya ke udara. Jimat itu hancur dan berubah menjadi perisai energi berwarna biru yang mengelilingi mereka bertiga.
“Sekarang aku akan membawa kembali kesadaran kalian,” gumam Ling Shura pelan.
Ia berdiri di depan mereka. Energi spiritual berwarna merah bercampur kuning berputar deras di kedua tangannya. Tekanan energi menyebar di sekitarnya. Ling Shura membentuk segel tangan dengan cepat.
“Teknik rahasia, Jimat Ilusi Jiwa, Pelepasan Kesadaran Mutlak,” ucapnya tegas.
Tiga jimat berwarna emas menyala dan melayang di udara. Dua di antaranya melesat dan menempel di kepala Xue Lin dan Wan Ju. Tubuh mereka langsung diam sepenuhnya.
Ling Shura mengambil jimat terakhir yang masih melayang. “Ini mungkin akan memakan waktu sedikit lama,” gumamnya.
Ia duduk bersila dan menempelkan jimat itu di dahinya. Tubuhnya langsung diam, dan kesadarannya memasuki alam batin.
Di sisi lain gua, ular iblis ilusi mengaum keras. Energi gelap kembali berputar di sekitar tanduknya saat ia menyerap energi spiritual. Tekanan berat memenuhi ruangan, membuat udara terasa semakin menyesakkan.
“Gawat. Satu-satunya cara menghentikannya adalah dengan memotong tanduk di atas kepalanya,” gumam Han Chuan sambil berdiri tegak dan menggenggam pedangnya dengan erat.
“Han Chuan, kau tidak apa-apa?” tanya Long Shen yang telah tiba di sampingnya.
“Aku tidak apa-apa. Apa yang sedang dilakukan Ling Shura?” tanya Han Chuan sambil melirik ke arah Ling Shura.
“Dia sedang berusaha membebaskan kesadaran mereka,” jawab Long Shen sambil menatap ular iblis ilusi.
Sebelum Long Shen sempat berkata lagi, Han Chuan sudah melesat ke depan. Pada saat yang sama, ular iblis ilusi juga bergerak cepat sambil membuka mulutnya lebar-lebar.
Han Chuan melompat dan menjadikan tubuh ular sebagai pijakan. Tubuhnya berputar di udara, lalu ia mengayunkan pedangnya ke arah tanduk ular dengan seluruh kekuatannya. Percikan api bermunculan saat pedang Han Chuan beradu keras dengan tanduk ular iblis ilusi, disertai getaran kuat yang mengguncang seisi gua.