Arkana Rafandra Pramana, seorang ketua OSIS di sebuah sekolah bonafit. Ia memiliki wajah yang sangat tampan dan banyak diidolakan oleh kaum hawa. Di samping itu, ia adalah putra dari Arsenio Raymond Pramana, pemilik perusahaan nomor satu di Indonesia. Di saat hidupnya merasa damai, tiba-tiba dikacaukan oleh seorang gadis yang sangat bar-bar. Senja ... ya nama wanita itu adalah Senja. Seorang gadis manis yang merupakan adik kelas Arkana. Senja memiliki pribadi yang ceria dan mampu menarik perhatian seorang Arkana. Namun, sayangnya perjalanan cinta mereka tidak bisa mulus, karena Arkana dijodohkan dengan gadis bernama Hanna, putri dari sahabat papa dan mamanya. Arkana dengan sangat terpaksa menerima perjodohan, karena hutang budi, dimana mamanya Hanna pernah menyelamatkan nyawa mamanya Arkana. Arkana benar-benar dilema, terjebak di antara dua pilihan. Antara cintanya atau balas budi.Apakah, Arkana bisa bersatu dengan Senja? ataukah dia memang ditakdirkan berjodoh dengan Hanna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosma Sri Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Begal
Waktu berjalan begitu cepat. Tidak terasa sudah sebulan lamanya Senja sekolah di SMA Angkasa. Semuanya berjalan dengan baik. Walaupun Senja masih sering mendapatkan bully secara verbal. Bukan hanya dari Hanna, tapi juga dari beberapa siswa yang lain. Tapi, Senja sama sekali tidak peduli. Tujuannya hanya satu, sekolahnya bisa berjalan dengan baik.
Selain itu, setelah pulang sekolah, Senja akhirnya bisa bekerja di sebuah Cafe sebagai pelayan yang kebetulan membutuhkan tenaga paruh waktu. Hanya saja, Senja harus pulang malam-malam. Apalagi kalau malam minggu, bisa dipastikan Senja akan pulang sangat malam sekali karena malam Minggu biasanya cafe tempat dia bekerja akan ramai dikunjungi oleh banyak orang muda.
Di saat Senja sedang sibuk mengantarkan kopi ke meja tamu, dari arah pintu tampak masuk Empat orang pemuda yang sangat tidak asing untuk Senja. Mereka berempat tidak lain adah Arkana dan ketiga sahabatnya.
Senja sontak memutar tubuhnya, berharap empat pemuda itu tidak melihat keberadaannya.
"Aduh, bagaimana ini? Kenapa mereka harus ke sini sih?" Senja menggerutu di dalam hati.
Dengan buru-buru, Senja pun beranjak pergi, berharap empat kakak kelasnya itu tidak melihatnya.
Dari arah meja, tempat di mana Arkan dan ketiga sahabatnya duduk, terlihat Sabiru mengangkat tangannya, memanggil Pelayan. Senja yang sudah melihat melalui lirikan matanya, berpura-pura tidak melihat, berharap ada pelayan lain yang menghampiri meja kakak-kakak kelasnya itu.
"Senja, itu di meja nomor 15, memanggil pelayan. Kamu saja yang ke sana ya!" pinta seorang gadis yang usianya hanya satu tahun lebih tua dari Senja. Gadis itu sering dipanggil Nara, dan nasibnya tidak jauh beda dari Senja
"Bisa kamu saja, Kak? Soalnya mereka itu kakak-kakak kelasku. Dan salah satu dari mereka, orang yang sering aku ceritakan ke Kakak. Boleh kan?" Senja, memasang raut wajah memelas.
"Aduh, bisa aja sih. Tapi, masalahnya aku mau ke toilet. Aku sudah sesak pipis, sementara pelayan-pelayan yang lain, lumayan sibuk," tolak Nara dengan halus dan merasa tidak enak hati. "Kalau tidak, kamu coba pakai masker ini saja!" Nara memberikan sebuah masker berwarna hitam dari saku apron yang dia pakai.
"Ya udah deh, Kak. Mudah-mudahan mereka tidak mengenalku nanti," Senja menerima masker dari tangan Nara, lalu memakainya.
"Pelayan mana nih, pelayannya?" seru Kevin, mulai kesal.
"Ma-maaf, Mas. Tadi lagi sedikit sibuk." Senja kini sudah berdiri tepat di samping meja yang diduduki oleh ke empat pemuda itu.
"Mas, Mas ini mau pesan apa?" Senja memasang posisi siap mencatat pesanan.
"Aku mau pesan Latte yang rasa original saja, dan kamu apa Ka?" Sabiru menoleh ke arah Arkana, yang dari tadi menatap Senja dengan alis bertaut. Raut wajah yang bisa dilihat jelas, menyiratkan kecurigaan.
"Oh, aku pesan Americano saja," sahut Arkana tanpa melepaskan tatapannya dari Senja. Bisa dipastikan kalau jantung Senja sekarang sudah berdetak, jauh dari kata normal.
"Aku sama saja sama teman saya ini, Mba," Kevin menunjuk ke arah Sabiru.
"Aku juga, Americano deh, kali ini. Bosan dengan cappucino," sambung Aldo.
"Baiklah, biar saya bacakan sekali lagi pesanannya ya, Mas. Dua Latte rasa original dan dua Americano. Untuk makanannya?" tanya Senja lagi, berusaha untuk profesional.
"Aku roti bakal saja," sahut Sabiru.
"Aku Cinnamon roll," timpal Kevin.
"Aku, juga Cinnamon roll," sambung Aldo.
"Kalau aku, Croffle dengan topping Vanilla ya," kini giliran Arkana yang bicara.
"Baiklah, ditunggu pesanannya ya, Mas. Aku tinggal dulu!" Senja berbalik dan melangkah untuk mengambil pesanan ke empat kakak kelasnya. Gadis berusia 16 tahun itu, mengembuskan napas, lega karena tidak ada di antara kakak kelasnya itu tidak ada yang mengenalnya.
"Aku merasa kalau pelayan tadi itu, Senja," celetuk Arkana. "Kalian bertiga merasa gitu juga nggak sih?" lanjutnya lagi.
Sabiru dan dua sahabatnya yang lain saling silang pandang, bingung. "Masa sih?" Sabiru menautkan kedua alisnya.
"Kenapa kami tidak menyadarinya ya?" timpal Kevin berusaha mengingat, sosok pelayanan barusan.
"Ya, mungkin kita tidak menyadarinya karena kita tidak sedang memikirkan Senja. Kalau Arkana, mungkin pikirannya sekarang dipenuhi sama Senja, makanya ketika dia melihat yang mirip sedikit dengan Senja, langsung dia kira itu Senja," sahut Sabiru yang secara tersirat menyelipkan sebuah ledekan.
Tawa, Kevin dan Aldo sontak pecah, hanya Arkana yang mendengkus kesal.
"Sialan!" umpat laki-laki, berusaha 18 tahun itu.
"Tapi, entah kenapa aku sangat yakin kalau pelayan tadi itu, Senja," bisik Arkana pada dirinya sendiri.
Tidak perlu menunggu terlalu lama, pesanan empat pemuda itu akhirnya datang. Namun, sayangnya yang membawa bukanlah Senja, melainkan Nara.
"Pesanannya sudah semua kan, Mas. Apa ada lagi yang lain?" tanya Nara, setelah dia menaruh semua pesanan ke atas meja
"Sudah tidak ada lagi, Mbak. Nanti kalau mau pesan lagi, Mbak akan kami panggil," bukan Arkan yang menjawab melainkan Sabiru. Sementara Arkan menatap Nara dengan alis yang bertaut tajam.
"Kalau begitu, saya permisi ya, Mas." Nara berbalik dan beranjak pergi.
"Tuh kan benar. Dia bukan Senja. Arkan saja yang merasa kalau semua perempuan yang ada sedikit kemiripan dengan Senja, langsung mengira itu Senja," lagi-lagi Sabiru dengan sengaja meledek Arkana.
"Kamu bisa diam, nggak? Aku yakin kalau yang baru saja mengantarkan pesanan kita bukanlah pelayan yang mencatat semua pesanan kita. Kalian bertiga, tidak bisa membedakan suaranya ya? Jelas-jelas, suaranya berbeda," cetus Arkana, kesal.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jam sudah menunjukkan hampir pukul 11 malam. Arkana dan ketiga sahabatnya sudah berpencar karena akan pulang ke rumah masing-masing
Arkan melajukan motornya dengan kecepatan sedang, membelah jalanan yang sudah sepi.
Pikiran pemuda itu masih menerawang mengingat salah satu pelayan yang sangat dia yakini kalau itu adalah Senja.
"Stop!" tiba-tiba sekelompok pemuda bersenjata tajam mencegat motor Arkana.
Tbc