NovelToon NovelToon
KUPU-KUPU TIGA SAYAP

KUPU-KUPU TIGA SAYAP

Status: tamat
Genre:Misteri / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bunga Anggrek Mawar Biru

Dua puluh tahun setelah pembantaian yang menghancurkan keluarganya, Dimas Brawijaya menemukan adiknya, Aluna, masih hidup—terkurung trauma di sebuah rumah sakit jiwa. Aluna terus menyanyikan lagu masa kecil mereka dan menuliskan satu kata yang sama di dinding: PEMBUNUH. Ketika Dimas dan saudara kembarnya, Digo, membawa Aluna pulang, serpihan ingatan kelam mulai muncul: pintu loteng, suara langkah di malam tragedi, dan ketakutan ekstrem pada seorang paman yang dulu mereka percaya. Sebuah diary ibu mereka membuka petunjuk mengerikan—bahwa pelaku mungkin adalah “orang dekat”. Kini, kebenaran masa lalu menunggu untuk dibuka, meski risikonya adalah menghancurkan sisa keluarga yang masih bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga Anggrek Mawar Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 3 — Nama-Nama di Dinding

Lorong menuju Ruang 13 kembali hening ketika Dimas memutuskan masuk sekali lagi. Sania sempat melarang, namun tatapan Dimas yang penuh tekad membuatnya mundur.

“Aku perlu melihat dinding itu lagi,” ucapnya tegas. “Ada sesuatu di sana.”

Sania menggigit bibir, lalu mengangguk. “Baik. Tapi jangan terlalu lama. Keadaannya sering tak stabil.”

Digo menunggu di kursi roda tak jauh di belakang, namun kali ini ia memilih tidak ikut masuk. “Aku belum siap,” katanya lirih. “Aku takut kalau aku masuk… aku akan merusak harapanku sendiri.”

Dimas mengangguk memahami, lalu menatap pintu ruang itu. Ruang yang tadi membuat hatinya hampir berhenti.

Ia mendorong pintu Ruang 13—angin dingin langsung menerpa wajahnya. Lampu kuning kusam bergetar pelan, menciptakan bayangan bergerigi yang menari di dinding.

Dan dinding itulah yang menarik seluruh perhatiannya kembali.

Semuanya sama seperti tadi.

DIMAS

DIGO

LIANA

DANIEL

MARCO

Nama-nama itu ditulis dengan ukuran berbeda-beda, tinta hitamnya menumpuk, beberapa huruf bahkan bertumpuk seperti Aluna menulisnya berulang-ulang dengan obsesi yang tak bisa dihentikan.

Tapi bukan itu yang membuat dada Dimas sesak.

Yang menyesakkan adalah kata yang memenuhi hampir seluruh dinding lain, memenuhi celah-celah kosong, menutupi nama-nama itu seperti lapisan darah:

PEMBUNUH

PEMBUNUH

PEMBUNUH

Dimas menutup mulutnya dengan telapak tangan, merasakan tenggorokannya mengering. Meski ia pernah menyaksikan lebih buruk dari ini dalam pekerjaannya, tidak ada yang terasa sekejam sekarang: melihat tulisan penuh kengerian yang keluar dari tangan adiknya sendiri.

Aluna duduk memeluk lutut di sudut ruangan, punggungnya menghadap dinding bertuliskan nama mereka. Bros kupu-kupu itu tergantung di jari telunjuknya, berayun pelan.

“Aluna…” panggil Dimas hati-hati.

Tidak ada jawaban. Hanya suara napasnya, pendek dan putus-putus.

Dimas maju beberapa langkah. Setiap langkah terasa seperti membuat lantai menjerit.

“Apa… apa kamu yang menulis semua ini?”

Aluna menggoyang-goyangkan tubuhnya pelan, seperti anak kecil yang berusaha menenangkan diri dalam ketakutan. “Mereka lihat… mereka lihat… jangan bilang…”

Dimas menunduk, membaca satu nama yang tertulis paling banyak selain dirinya.

MARCO.

Nama pamannya.

Dimas menelusuri dinding dengan pandangan penuh tanda tanya. Setiap huruf tampak ditulis dengan tekanan kuat—hingga tinta menembus cat tembok. Tidak tampak ada pola tertentu, tapi penempatannya tampak seperti… ledakan emosi. Trauma yang mewujud dalam bentuk kata.

“Liana…” bisik Dimas sambil menyentuh nama ibunya. Jari telunjuknya menyapu huruf-huruf itu seakan ia bisa merasakan suara ibunya kembali.

Di sampingnya terdapat nama ayahnya: "Daniel"

Dan di bawahnya, lagi-lagi, tulisan besar:

PEMBUNUH.

Dimas merasakan jantungnya seolah ditarik keluar. “Aluna… siapa pembunuhnya?”

Aluna berhenti bergoyang. Ia perlahan menoleh.

Perlahan sekali.

Tatapan itu kosong, tapi suara yang keluar membuat bulu kuduk Dimas berdiri.

“Dia… lihat…”

“Siapa?” Dimas mendekat. “Siapa yang lihat?”

Aluna meraih bros kupu-kupu itu dan menempelkannya ke dadanya, memeluknya erat. “Dia… lihat malam itu… lihat semua… kupu-kupu jatuh… ibu jatuh… ayah jatuh…”

Dimas merasakan napasnya tercekat.

“Aluna, dengarkan kakak. Apakah kamu tahu siapa yang membunuh mereka?”

Aluna menatap lurus ke arahnya. Tatapan itu tidak sepenuhnya waras—tapi bukan juga kosong. Ada sesuatu di baliknya. Sebuah ingatan yang dikunci. Sesuatu yang ia sembunyikan bahkan dari dirinya sendiri.

Tiba-tiba ia memejamkan mata kuat-kuat dan menjerit pelan.

“Jangan bilang! Dia bunuh! Dia bunuh! Dia bunuh!”

Dimas meraih kedua bahunya dengan lembut, tetapi Aluna meronta hebat. Sania langsung masuk, memegang Aluna dengan teknik yang sudah biasa ia lakukan untuk menghentikan pasien histeris.

“Mas Dimas, keluar dulu!” seru Sania.

Dimas menurunkan tangannya, hatinya remuk. Ia melangkah mundur, menatap dinding yang kini terasa seperti menatap dua puluh tahun kebencian yang tidak pernah terucap.

Begitu pintu ditutup, Dimas berdiri terdiam beberapa lama. Digo mengamati wajah adiknya dari kursi roda, dan ia tahu jawaban sebelum Dimas mengucapkannya.

“Kamu lihat dindingnya,” kata Digo pelan.

Dimas mengangguk perlahan. “Go… dia menulis nama kita semua.”

Digo menahan napas. “Ada namaku di sana?”

“Ada. Nama kita berdua, nama ayah dan ibu…” Dimas berhenti, suaranya mengecil. “Dan nama Marco.”

Digo menoleh cepat. “Marco? Paman Marco?”

Dimas duduk di sampingnya, menggenggam lutut dengan kedua tangan. “Dan ada satu kata yang ditulis berkali-kali, memenuhi dinding…”

Digo menelan ludah. “Kata apa?”

Dimas menatapnya dengan mata yang kini dipenuhi ketakutan lain—ketakutan pada jawaban yang mungkin sudah lama menunggu mereka.

“…pembunuh.”

Digo membeku. “Dia menulis Marco dekat tulisan itu?”

Dimas mengangguk.

Keheningan panjang menyelimuti lorong itu. Perasaan dingin menjalar seperti kabut dari lantai.

“Mas…” suara Digo bergetar, “kamu pikir… Aluna menulis itu karena dia ingat sesuatu?”

“Aku yakin,” jawab Dimas. “Dan aku rasa… dinding itu adalah petunjuk kita.”

Digo menggenggam roda kursinya lebih erat. Matanya berkaca-kaca tapi bukan hanya karena kesedihan—melainkan sesuatu yang lebih gelap.

“Mas… selama ini kita tidak pernah mencurigai siapa pun.” Ia menatap kosong ke depan. “Tapi Aluna… dia bukan akan menulis nama orang sembarangan di dinding trauma.”

Dimas menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Aku tidak tahu harus percaya apa. Tapi aku tahu satu hal…”

Digo menoleh perlahan.

Dimas melihat lurus ke mata kembarannya.

“…Aluna sedang mencoba memberi tahu kita sesuatu.”

Digo mengangguk pelan. “Dan kita harus mengerti sebelum terlambat.”

Mereka berdua diam.

Dan di dalam Ruang 13, terdengar suara pelan dari balik pintu—suara Aluna, bernyanyi lagi, seperti gumaman roh yang tersesat:

"Kupu-kupu terbang… sayapnya tiga…

Satu hilang malam itu… satu jatuh di jurang…”

Lagu itu bergema di lorong yang dingin.

Dan perlahan, dinding-dinding yang penuh tulisan itu terasa seperti sedang mengawasi mereka… menunggu mereka memahami pesan yang dikirim dua puluh tahun lalu.

1
Mega Arum
digo kah ?
Mega Arum
mampir thor..
Adi Rbg
terimakasih kakak dah update lagi!
Putri Nadia: sama-sama
total 1 replies
Adi Rbg
bagus
Putri Nadia: Terima kasih
total 1 replies
Nurhayati Hambali
liana itu ibu mereka atau kakak mereka thor??
Putri Nadia: ibunya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!