Menikah dengan Ipar adalah sesuatu yang sumbang buat Aralia. Tetapi ia tidak bisa menolak permintaan Ibunya yang memohon dengan air matanya demi sang cucu.
Varga suami yang lembut tak bosan-bosan memperhatikan istrinya walau sang istri menolak perhatian itu. Bahkan berani memasuki hati pria lain, yang membuat perjalanan cinta mereka rumit.
Dapatkan Varga memenangkan hati istri atau akan menyerah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melindungi harga dirinya
Aralia meringkuk di balik selimutnya, air matanya masih saja menitik, hingga membuat hidungnya terasa mampet dan memerah.
Waktu sudah menunjuk di angkah 23:00 tapi Varga belum juga kembali, entah kemana pria itu berkencan dengan ponselnya.
Aralia menendang selimut yang menutupi tubuhnya, bangun dan menatap dirinya di dalam cermin. Urakan.
Menyedihkan batinya, mengusap hidungnya yang mampet. Ia berjalan melihat Bianca yang tertidur pulas dalam tempat tidurnya.
Ekpresinya sedih saat menatap bayi mungil yang tengah terlelap itu. Bayi berpipi gembul inilah alasannya menikahi Varga.
"Bianca andai kau tahu apa yang terjadi sekarang, apa kau masih memilihku menjadi ibumu?" gumamnya, menarik napas berat.
Aralia melangkah ke arah pintu balkon, menyibak tirai dan membuka pintunya. Menyender pada pembatas balkon menghirup udara malam.
Pikirannya masih bergelut pada masalah hari ini. Menatap lurus ke depan taman rumahnya , sembari mengingat kembali bagaimana Varga memohon cintanya.
Siapa aku? Mereka mengira aku ini malaikat. Mereka memohon tanpa memikirkan apa yang aku mau.
Aralia berdecih, mengingat semua yang terjadi padanya. Hidupnya yang semula ia kira bebas tiba-tiba berubah menjadi sebuah pembatasan.
Apa yang salah dengan hidupku?
Aralia tidak tahu harus berbuat apa malam ini, Varga belum juga pulang hingga dirinya harus memutar pikiran menjawab pertanya mertuanya saat makan malam.
"Kemana Varga?"
"Kamu sudah telpon?"
"Pekerjaan apa yang membuatnya harus bertahan di kantor hingga jam segini?"
Aralia lelah belum lagi mengenai Reven. Pria itu. Entah bagaimana kabarnya setelah Varga menendangnya tadi, apa dia baik-baik saja atau mungkinkah Reven terluka? Semuanya mengusik pikiran Aralia.
Kenapa aku jatuh cinta padanya Tuhan? Kenapa juga pria itu membalas cintaku? Andai semua itu tidak kau ijikan terjadi karena takdir yang kau putuskan padaku adalah hidup menggantikan posisi kakakku.
Kau sengaja mempermainkan hidupku?
Aralia melihat mobil Varga memasuki gerbang, ia menatap samar bayangan pria itu keluar dari mobilnya.
Tak lama kemudian terdengar pintu terbuka pelan. Aralia masih diam ditempatnya seolah tidak peduli dengan kedatangan pria itu.
"Apa yang kau lakukan malam-malam begini disini? Kau tidak tidur?" Tanya Varga menghampiri Aralia ke balkon setelah tak mendapati istrinya itu di atas kasurnya.
Aralia membalikkan badanya, melihat Varga yang berdiri di belakangnya.
"Kau?" Tanya Aralia kaget melihat tampilan Varga, kemeja kusut, rambut berantakan dan juga beberapa memar di wajahnya.
Aralia dapat memastikan kalau pria ini menemui Reven.
"Ya ..., seperti yang kau pikirkan. Aku memberinya pelajaran." ucap Varga seolah mengerti apa yang di pikirkan Aralia.
"Apa yang kau lakukan padanya? Kau melukainya? Sungguh?" Tanya Aralia dengan kemarahan yang siap meledak.
"Pelajaran! Terserah kau menganggapnya apa. Lagipula dia duluan yang menyerangku. Tapi jangan khawatir Ara. Aku tidak sejahat yang kau pikirkan, setelah aku melumpuhkan pergerakannya aku membawanya ke rumah sakit. Jadi jangan cemas dia pasti baik-baik saja."
"Apa? Kau gila! Kau tidak waras! Aku muak melihatmu." Aralia mendorong Varga, lalu bergegas masuk ke dalam kamar, mengambil kunci mobil yang ada di atas meja.
"Kau mau apa?" Tanya Varga, melihat kunci mobil di tangan Aralia.
"Kerumah sakit mana kau membawanya?"
"Kau mau pergi?" Tanya Varga bingung. "Wah ... Aralia. Sebegitu khawatirnya kau padanya? " Varga berdecak, menatap Aralia tercengang. "Kau lihat aku? Aku juga terluka dan kau bahkan tidak peduli." katanya lambat-lambat disetiap kata di yang ia ucapkan.
"Kau yang menginginkan itu terjadi padamu, bukan aku? Jadi kenapa aku harus peduli." Kata Aralia setengah teriak, giginya mengertak, melewati Varga keluar kamar.
"Ara!" Panggil Varga dengan suara keras hingga membangunkan Bianca dan menangis. Varga mengikuti langkah Aralia menuruni anak tangga menahan Aralia untuk tetap tinggal.
"Kau mau kemana?" Tanya Varga menarik tangan Aralia, menghentikan langkahnya dan membuat Aralia berbalik ke arahnya.
"Lepasin!" Ketus Aralia, menatap penuh amarah.
"Ada apa ini?" Seru Ele dari koridor lantai atas sembari menimang Bianca yang menangis.
Aralia terperanjat mendengar suara mertuanya.begitu juga dengan Varga. Pertengkaran mereka berhasil membangungkan seisi rumah.
"Varga? Aralia? Ada apa dengan kalian?" Tn. Roland menuruni anak tangga menghampiri pasangan yang tengah berseteru. Varga melepaskan tangan Aralia dan mengubah sikapnya tenang.
Ele mengelengkan kepala dan memilih membawa Bianca masuk kedalam kamarnya .
Tn. Roland, meringis melihat lebam di sudut mata dan bibir Varga.
"K-kau kenapa?" Tanya Tn. Roland bingung lalu menatap Aralia yang sudah menunduk takut.
"Ara?" Tanya Tn. Roland, meminta penjelasan atas apa yang terjadi pada larut malam ini.
Aralia terkesiap, ia memilin jari-jarinya, takut-takut mendongak menatap Varga.
"Maaf papa, aku —" ucap Aralia dengan nada gemetar.
"Tunggu!" Tn. Roland menyela. "Ayo kita duduk dan selesaikan masalah ini." Kata Tn. Roland memberi arahan supaya mereka duduk di ruang keluarga.
Aralia dan Varga mengikuti Tn. Roland ke ruang keluarga.
"Kalian duduklah." Katanya setelah ia mengambil posisi duduk di sofa tunggal.
Varga duduk dan begitu juga dengan Aralia, mereka membuat jarak di antara mereka pada sofa panjang yang bisa menampung tiga orang.
Tn. Roland menggaruk hidungnya, sungguh ia bingung melihat kedua orang di depannya itu.
"Jadi apa yang terjadi?" Tn. Roland bertanya seraya menyilangkan kakinya.
Ele ikut bergabung setelah menidurkan Bianca di kamarnya.
"Varga ...." Desis Ele, melihat putranya itu terluka.
Ele duduk di sofa yang lain. Menatap keduanya bergantian.
"Varga?" Panggil Tn. Roland dengan nada bertanya.
Varga menghela, melirik Aralia dari sudut matanya. Seolah menunggu reaksi Aralia.
"Aralia?" Melihat Varga terdiam, Tn. Roland bertanya pada menantunya.
Aralia diam, memilin jari-jarinya. Tn. Roland melihat kunci mobil yang terselip di kedua paha Aralia dan membuatnya semakin bingung.
"A-aaku minta maaf papa, ini semua salahku. A-aaku su—,"
"Varga minta maaf, sudah membuat keributan. Aralia marah karena aku pulang larut malam dan dalam keadaan begini." Sahut Varga mengendikkan bahu, melirik Aralia.
Aralia mengangkat kepalanya melihat ke arah Varga. Aralia gelisah dibuatnya.
"Lalu kenapa dengan wajahmu?" Selidik Tn. Roland.
Varga terdiam, berpikir sejenak lalu menyugar rambutnya asal.
"Ada salah paham antara aku dan teman dan itu membuat kami bertengkar."
"Sungguh? " Tn. Roland menaruh curiga. Matanya beralih pada kunci mobil yang ada pada Aralia.
"Kau bertengkar dengan temanmu, dan Aralia mau keluar rumah? Menurutmu apa itu masuk akal?" Tanya Tn. Roland, sekarang tatapannya tertuju pada Aralia.
"Kau tidak ingin mengatakan yang sesungguhnya, Ara? Menurut papa ini tidak masuk akal. Meskipun Varga pulang larut malam tapi saat kau melihat keadaanya bengini apa kau masih berniat ribut dan bukannya bersimpati?"
Aralia pucat pasi mendengar apa yang dikatakan ayah mertuanya.
"Kak Varga bertengkar dengan Re—,"
"Maaf papa, aku melakukan kesalahan." Varga menyela ucapan Aralia yang tergugu.
"Varga selingkuh," ucap Varga tenang.
Pengakuan Varga, membuat seisi tempat itu tercengang. Bola mata Aralia membulat, begitu juga dengan Ele, wanita itu terkejut dengan mulut terbuka. Sungguh ia tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
Tn. Roland berdiri, lalu menarik kerah baju Varga. Menampar keras rahang putranya itu.
Membuat histeris kedua wanita di ruang itu, Aralia bergerak menghampiri Varga yang menahan nyeri pada wajahnya.
"Tidak papa, jangan! " ucap Aralia ketakutan, membuat jarak diantara ayah dan anak itu.
"Dengan tenangnya kau mengakui kesalahanmu! Kau tidak tahu diri! Aku bahkan tidak pernah menatap wanita lain selain ibumu dan sekarang aku miliki putra yang tak memiliki harga diri. Ya ampun Tuhan dimana letak salahku mendidik anak ini. " ucap Tn. Roland menatap tajam Varga dengan aura suram. Bahkan Aralia yang jadi penghalang di antara mereka tak sanggup melihatnya. Lebih menyeramkan dari Varga saat pria itu marah.
Aralia hendak membuka mulutnya dan mengatakan yang sebenarnya, Tapi tatapan Tn Roland yang menakutkan membuat nyalinya menciut.
"Minggir Aralia, papa akan memberinya pelajaran." ucap Tn. Roland, berusaha meraih Varga tapi Aralia langsung berbalik dan memeluk erat Varga.
"Papa kumohon jangan pukul kakak lagi ...," Mohon Aralia dengan tangis tertahan mendekap suaminya itu. Varga menelan salivanya. Pelukan Aralia yang melingkar di pinggangnya membuatnya hatinya senang.
Apa harus begini Ara, supaya aku merasakan pelukanmu? Begitu isi pikiran Varga, mengabaikan mata tajam yang memandangnya.
"Aku kecewa sama kamu Varga, siapun yang menghajarmu hingga melukai wajahmu itu, aku harus berterima kasih padanya. Kau pantas menerimanya." Kesal Tn. Roland, meninggalkan tempat itu. Begitu juga dengan Ele. Ia menghela napas penuh sesal melihat putranya itu.
Melihat tempat itu hening, Aralia berlahan melepaskan pelukannya dan mendongak pada Varga.
Menarik napas berat, kemudian berdecak meninggalkan Varga di sana.
Varga mengikuti langkah Aralia dari belakang dan menutup pintu kamar. Melihat tempat tidur Bianca yang kosong.
"Bianca dikamar mama." Batinya penuh penyesalan.
"Dia tidak punya siapa-siapa kak, selain neneknya yang duduk diatas kursi roda. Itu sebabnya aku khawatir."
Varga lelah mendengarnya, setelah apa yang terjadi tadi, ia masih khawatir pada kekasihnya itu.
Varga menarik napas berat menatap Aralia yang duduk di tepi ranjang. Berjalan menghampiri dan, " Menyingkirlah!" katanya menggeser Aralia. Ia naik ke atas kasur dan membaringkan tubuhnya dan menjadikan kedua tangannya bantal.
Aralia menatap bingung pria yang sedang memejamkan matanya.
"Kak ...," panggil Aralia, suaranya lembut.
"Aku lelah Ara. Kalau kau ingin menghkhawtirkan kekasihmu itu, silakan." ucap Varga tanpa membuka matanya.
Aralia mengkulum bibirnya, menatap suaminya itu seksama.
Iya, aku memang sudah tidak waras. Batinya, berdiri lalu keluar kamar. Mendengar pintu terbuka, Varga membuka matanya. Ia benar-benar kecewa dengan sikap Aralia padanya.
Tak lama kemudian Aralia membawakan air es guna mengkompres luka memar Varga.
Aralia, menekan handuk kecil pelan-pelan pada bagian bibir Varga yang luka, membuat pria itu meringis pedih. Ia melakukannya berulang kali begitu juga dengan luka -luka yang lainnya.
"Terima kasih kak." Lirinya, menunduk merasa bersalah.
Varga terdiam, membuka matanya yang sedari tadi tertutup.
"Kenapa kakak lakukan itu? Harusnya kakak mengatakannya dengan jujur? Kalau Ara lah yang berbuat salah."
Varga menipiskan bibirnya, "Aku melakukan itu bukan untukmu Ara. Aku lakukan itu untuk melindungi harga diriku yang sudah kau injak injak semaumu." ucap Varga.
Aralia terdiam, menunduk, wajahnya takut-takut.
"Tidurlah, kau tidak perlu khawatir padaku." ucap Varga.
Aralia menyingkirkan wadah es itu ke atas nakas.
"Maaf," lirihnya lagi, mengambil bantal lalu berjalan ke arah sofa.
Varga mengepal tangannya, ia berharap Aralia akan tidur tetap di ranjang itu dan menemaninya.
Bodoh. Pikirnya, melirik Aralia yang kini meringkuk seperti bayi dalam rahim di atas sofa.
OBSESSIVE LOVE dan IPAR
*perselingkuhan suami dilaknat tapi perselingkuhan istri dianggap bisa saja
*suami selingkuh dibuat dapat balasan, menderita, mengemis maaf dan berjuang keras dapat kesempatan tapi istri selingkuh dianggap biasa saja dan semudah itu dimaafkan
*suami selingkuh, sikap istri tegas, minta cerai, pergi dan tidak mudah memaafkan tapi istri selingkuh. sikap suami bodoh, tidak punya harga diri, malah suami yang mengemis dan memohon istri tinggalkan selingkuhan nya dan semudah itu dimaafkan
*suami selingkuh kalian hadir lelaki lain yang perhatian pada sang istri tapi istri selingkuh, kalian hadirkan wanita lain tapi tetap saja dicap pelakor dan wanita murahan
*wanita selingkuhan diperlakukan kasar, hina dan dibinasakan tapi ptia selingkuhan istri diperlakukan sangat lembut dan malah seakan jadi korban
adil jalan pikir mu kalau sudah begini, miris sikap egois wanita dalam membuat novel
obsessive loves (suami selingkuh) dan ipar (istri selingkuh)
obsessive lover, suami selingkuh dilaknat, dapat balasan, menderita, mengemis maaf, berjuang membuktikan diri, berjuang keras dapat kesempatan, sikap istri tegas minta cerai, pergi dan tidak semudah itu memaafkan, kalian hadirkan lelaki lain yang peduli pada sang istri dan dianggap pria paling pengertian, wanita selingkuhan diperlakukan kasar, tidak ada baiknya, dihinakan dan akhirnya dibinasakan
banding dengan novel sendiri
ipar ketika istri selingkuh,perselingkuhan itu malah dianggap hal biasa saja, semudah itu dimaafkan, sikap suami kayak lelaki tidak punya harga diri dan bodoh, Terima saja diperlakukan kayak gitu dan malah dia yang mengemis dan memohon cinta pada istri najis tukang selingkuhnya, kalian hadirkan wanita yang perhatian pada sang suami tapi tetap saja kalian wanita murahan, dan diperlakukan kasar, pria selingkuhan diperlakukan lembut, solah dia korban juga, seakan perselingkuhan itu kalian benarkan
jika sudah begitu banggakah author dengan sikap yang sangat egois ini dalam berkarya
miris
*lihat begitu enaknya jadi pemeran utama wanita selingkuh dan semudah itu dimaafkan (coba kau banding dengan novel suami selingkuh, udah pasti dibuat dapat balasan menderita, mengemis maaf dan berjuang keras)
*saat novel suami selingkuh kau buat istri tegas pergi dan minta cerai tapi saat istri selingkuh suami dibuat kayak pria bodoh dan tidak punya pendirian Terima saja diperlakukan kayak gitu
*saat novel suami selingkuh kau hadirkan pria lain yang baik pada sang istri tapi pada saat istri selingkuh kalian hadirkan wanita lain tapi tetap saja dicap wanita murahan
*saat suami selingkuh, wanita selingkuhannya kalian cap wanita murahan tapi saat novel istri selingkuh, pria selingkuhan kalian buat seakan jadi korban
*saat suaki selingkuh kalian laknat, dan tidak ada pembelaan sama sekali tapi pada saat istri selingkuh kalian bela dengan alasan masih labil lah
pikiran munafik dari wanita dia dibawah kedalam novel maka jadilah novel yang munafik dan menjijikan
SKRG LO LGSUNG BRUBAH JDI KLINCI MANIS, KMARIN2 SLMA 11 BLN VARGA BRSIKAP MANIS, PRHATIAN DN SABAR, SLLU LO KETUSIN.. SEHARI PULANG DRI RS, LO MALAH MESRA2AN MA REVEN.. DN BETAPA GILANYA LO JDI TAMENG TUBUH BUAT REVEN PAS KPERGOK VARGA..
DN MLMNYA SETELH VARGA DUEL MA REVEN, LO MLH LBH KUATIR K REVEN.. SETELH APA YG CAYROL LAKUKAN, LO LGSUNG BRUBAH JDI KLINCI MANIS.
SAMPE SAAT INI, IBU LO SINISA, DN KDUA MERTUA LO, GK TAU KLAKUAN LO, SEMUA KBUSUKN LO DI TUTUPI OLEH SUAMI LOO, RELA DIMUSUHI DN TRSAKITI OLEH ORTU SENDIRI, DEMI JAGA HARGA DIRI DN NAMA BAIK LOO..
TU REVEN KSIH MMPUS SAJA.