Setelah membunuh Liu Sheng,pembunuh orang tuanya, Xu Hao justru menemukan teka-teki yang lebih besar: segel mematikan pada jiwa Liu Sheng. Segel serupa juga ia temukan pada musuh-musuh tingkat tingginya. Segala petunjuk mengarah ke Dataran Tengah, tempat asal Klan Xu yang perkasa. Dengan bakat aslinya yang dicuri, orang tuanya yang difitnah sebagai pengkhianat, dan pengusiran kejam dari klan, Xu Hao kini menyamar memasuki dunia yang jauh lebih berbahaya. Di sana, sebagai murid baru di Sekte Gunung Jati dengan identitas palsu, ia harus menyelidiki konspirasi gelap di balik pembunuhan keluarganya, menghindari deteksi kerabatnya sendiri yang mungkin adalah dalangnya, dan membangun kekuatan dari nol di tanah di mana Dao Awakening-nya saja hampir tak berarti. Siapa sebenarnya "Tuan dari Atas" yang memasang segel itu? Dan bisakah Xu Hao membalas dendam tanpa mengungkapkan identitas aslinya yang akan membuatnya jadi buruan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabut di Kaki Gunung
Dua hari perjalanan tersisa di Hutan Berdarah terasa lebih berat dari sebelumnya. Insiden dengan dua kekuatan besar itu meninggalkan atmosfer tegang yang menggantung seperti kabut beracun. Bahkan monster-monster hutan seakan ikut merasakannya, menjadi lebih agresif atau justru bersembunyi lebih dalam, meninggalkan keheningan yang mengancam.
Geng Tao memimpin dengan wajah seperti pahatan batu. Ia memilih rute yang semakin berliku, menghindari area terbuka, terkadang bahkan membuat mereka merangkak di bawah akar-akar raksasa yang membusuk. Kotak segel itu tak pernah lepas dari pelukannya, seolah benda itu adalah nyawanya sendiri.
Xu Hao mengikuti dengan patuh, namun pikirannya bekerja tanpa henti. Pertemuan singkat dengan aura Klan Xu telah mengaduk-aduk semua emosi yang selama ini ia kunci rapat. Amarah yang dingin, dendam yang membara, dan satu pertanyaan yang menggelitik: seberapa kuat sebenarnya cabang Klan Xu di daerah ini? Dan bagaimana hubungannya dengan Sekte Gunung Jati yang akan ia datangi?
"Kita berhenti di sini," kata Geng Tao tiba-tiba, memotong lamunan Xu Hao. Mereka berada di sebuah tebing kecil yang menghadap ke lembah sempit. Di kejauhan, puncak sebuah gunung yang tampak "terpotong" dan diselimuti kabut kehijauan sudah mulai terlihat samar.
"Istirahat. Besok kita akan keluar dari hutan dan memasuki Wilayah Netral menuju Gunung Jati. Malam ini, kita jaga bergiliran dengan ketat. Aku punya firasat tidak baik."
Lian dan Du mengangguk, wajah mereka lelah namun waspada. Mereka mendirikan perkemahan sederhana di balik batu-batu besar, tanpa api. Makanan yang mereka santap adalah ransum kering dan air dari kantong air.
Xu Hao mendapat giliran jaga pertama. Ia duduk di atas sebuah batu, memandangi kegelapan hutan yang seolah hidup dan bernapas. Suara-suara aneh berdesis dari kegelapan, tapi tidak ada yang mendekat. Mungkin aura dua kekuatan besar tadi masih tersisa.
Setelah beberapa jam, Geng Tao menghampirinya, menggantikan jaga. Ia tidak langsung pergi, melainkan duduk di samping Xu Hao, memandangi arah gunung yang sama.
"Kau tenang sekali, Haosu," ucap Geng Tao tiba-tiba, suaranya rendah. "Bahkan setelah insiden tadi. Kebanyakan tunawisma baru akan gemetaran atau banyak bicara."
Xu Hao menoleh, bertemu tatapan pria itu yang mencoba menembus samarannya. "Apa gunanya panik? Panik hanya mendatangkan kematian lebih cepat."
"Bijaksana," gumam Geng Tao. "Tapi kadang kala, ketenangan yang berlebihan justru mencurigakan. Seperti kau menyembunyikan sesuatu."
Udara di antara mereka tiba-tiba menjadi berat. Xu Hao bisa merasakan energi Geng Tao mengalir pelan, siap meledak.
"Setiap orang di Dataran Tengah menyembunyikan sesuatu, Tuan Geng," jawab Xu Hao perlahan, tidak terpancing. "Termasuk Tuan dan kotak itu. Itu bukan urusanku. Aku di sini untuk menyelesaikan pekerjaan, mendapat bayaran, dan pergi."
Geng Tao mengamatinya lama. Kemudian, sebuah senyuman tipis yang dingin muncul di bibirnya.
"Kau benar. Tapi izinkan aku memberikan peringatan. Besok, saat kita mendekati Pos Penjagaan Barat, jangan lakukan hal yang bodoh. Sekte Gunung Jati sedang di ujung tanduk. Mereka akan mencurigai semua orang, terutama orang asing yang menunjukkan kemampuan tidak biasa. Jika kau mencoba sesuatu… kematianmu akan sangat cepat, dan aku tidak akan membela seorang tunawisma yang baru kukenal."
"Peringatan yang aku hargai," kata Xu Hao, mengangguk. "Aku tidak berniat mencari masalah. Aku hanya ingin mengantarkan paket ini dan pergi."
"Bagus." Geng Tao berdiri. "Istirahatlah. Besok adalah hari yang menentukan."
Peringatan Geng Tao tidak berlebihan. Begitu mereka keluar dari Hutan Berdarah pada pagi hari keempat, pemandangan yang terbuka adalah padang rumput luas yang mengering, diapit oleh perbukitan tandus. Di ujung padang rumput itu, sebuah menara batu kecil berdiri, dikelilingi pagar kayu dan beberapa bangunan sederhana. Itulah Pos Penjagaan Barat Sekte Gunung Jati.
Namun, yang lebih mencolok adalah kondisi pos itu. Pagar kayu tampak baru diperbaiki dengan tergesa-gesa, ada bekas-bekas hitam seperti terbakar di beberapa bagian. Beberapa patok peringatan dengan simbol segitiga berwarna merah ditancapkan di tanah di sekitar area, membentuk formasi peringatan.
"Lihat itu," bisik Lian, suaranya bergetar. "Sepertinya baru saja terjadi pertempuran."
Geng Tao mengerutkan keningnya. "Tetap tenang. Jangan menarik perhatian. Ikuti aku."
Mereka berjalan mendekati pos dengan langkah terukur, tangan jauh dari senjata. Sebelum mencapai gerbang pagar, dua orang penjaga melompat dari menara, mendarat di depan mereka dengan ringan. Keduanya mengenakan jubah hijau tua dengan lambang sebuah pohon jati di dada. Aura mereka kuat, setingkat Core Formation puncak, dan mata mereka penuh kewaspadaan serta kelelahan.
"Berhenti! Identifikasi diri dan tujuan!" seru salah satu penjaga, seorang pria muda dengan bekas luka di pipi.
Geng Tao maju selangkah, membungkuk hormat.
"Salam, Saudara Penjaga. Namaku Geng Tao, pemimpin rombongan pengantar dari Asosiasi Jalan Tenang. Kami membawa kiriman untuk Tetua Hong dari Sekte Gunung Jati, sesuai kontrak." Ia mengeluarkan sebuah lempung giok dari sakunya, menunjukkan segel di atasnya.
Penjaga itu mengambil lempung giok, memeriksanya dengan saksama. Matanya lalu beralih ke kotak segel di tangan Geng Tao, lalu menyapu pandangannya ke wajah Lian, Du, dan terakhir, Xu Hao.
"Tetua Hong sedang tidak berada di pos. Beliau berada di markas besar di gunung," kata penjaga itu, suaranya datar. "Kalian bisa menyerahkan barang itu padaku. Aku akan mengirimkannya."
Geng Tao sedikit ragu. "Tuan, kontraknya mengatakan harus diserahkan langsung ke tangan Tetua Hong atau wakilnya yang berwenang. Bukan kepada penjaga pos."
Penjaga itu mendadak memasang wajah masam. "Situasi sedang tidak normal. Kami tidak bisa membiarkan orang asing mendekati gunung. Serahkan, atau pergi."
Suasana tegang. Geng Tao tampak berpikir keras. Kontrak adalah kontrak, tapi menantang sekte di depan pos penjagaan mereka adalah bunuh diri.
Tiba-tiba, Xu Hao melangkah maju. Ia membungkuk pada penjaga itu. "Maaf, Tuan Penjaga. Bolehkah aku berbicara?"
Semua mata tertuju padanya, termasuk mata Geng Tao yang berbinar keheranan dan sedikit kemarahan.
"Siapa kau?" tanya penjaga itu, sinis.
"Namaku Haosu, anggota rombongan pengantar. Sebelum berangkat, majikan kami memberikan pesan lisan khusus untuk Tetua Hong, terkait isi kotak ini. Pesan itu hanya bisa disampaikan langsung. Jika tidak, makna kiriman ini bisa hilang," ucap Xu Hao dengan suara tenang namun meyakinkan.
Xu Hao memanfaatkan informasi dari percakapan di kedai dan nalurinya sendiri. Kotak ini pasti sangat penting jika harus dikirim langsung ke Tetua Hong.
Penjaga itu mengernyit. "Pesan lisan? Kenapa tidak dicatat di lempung giok?"
"Karena sensitif," jawab Xu Hao singkat. "Majikan kami tidak mempercayainya pada media yang bisa dibaca orang lain."
Geng Tao sekarang melihat Xu Hao dengan ekspresi berbeda. Ia cepat menangkap permainannya.
"Benar, Tuan Penjaga. Kami diinstruksikan demikian. Jika tidak memungkinkan bertemu Tetua Hong, kami harus membawa kembali kotak ini. Tapi itu akan merugikan kedua belah pihak."
Penjaga yang satunya, yang lebih tua, mendekat dan berbisik sesuatu di telinga penjaga pertama. Mereka berdiskusi singkat dengan suara rendah.
Akhirnya, penjaga pertama menghela napas.
"Baik. Satu orang boleh masuk, hanya satu, untuk mengantarkan kotak dan menyampaikan pesan. Yang lain menunggu di sini. Dan orang itu," ia menunjuk Xu Hao, "kau. Karena kau yang mengklaim tahu pesannya."
Geng Tao terlihat tidak senang, tetapi ia mengangguk. "Setuju. Haosu, lakukan tugasmu dengan baik."
Xu Hao mengangguk. Ia mengambil kotak segel dari Geng Tao. Kotak itu terasa dingin dan berat, terbuat dari kayu hitam dengan segel lilin merah di pinggirnya.
Ia mengikuti kedua penjaga melewati gerbang pagar. Di dalam, suasana lebih tegang. Beberapa anggota sekte lainnya terlihat sedang duduk atau berdiri dengan wajah muram, beberapa terluka ringan. Ada suasana kekalahan dan kewaspadaan tinggi.
Penjaga tua itu memimpin Xu Hao ke sebuah ruangan batu kecil di dalam menara. "Tunggu di sini. Aku akan mengirimkan pesan ke gunung. Jika Tetua Hong bersedia, seseorang akan menjemputmu."
Ia pergi, meninggalkan Xu Hao sendirian di ruangan yang nyaris kosong, hanya ada sebuah meja dan dua bangku batu. Xu Hao menempatkan kotak di atas meja, lalu duduk. Ia menutup mata, menyebarkan kesadarannya dengan sangat halus, hanya sebatas ruangan ini. Ia mendeteksi beberapa formasi pengintai sederhana, tapi tidak ada yang mengancam.
Waktu berlahan. Sekitar satu jam kemudian, langkah kaki terdengar. Seorang lelaki paruh baya dengan jubah hijau lebih halus, rambut diikat rapi, dan mata yang tajam memasuki ruangan. Aura-nya kuat, setingkat Soul Formation tahap akhir, mendekati Soul Transformation.
"Kaulah Haosu? Pengantar pesan lisan untuk Tetua Hong?" tanyanya, suaranya berwibawa namun terasa lelah.
Xu Hao berdiri, membungkuk. "Benar, Tuan. Dan ini kotak yang harus diserahkan langsung ke tangan Tetua Hong."
"Tetua Hong sedang dalam pertemuan penting di aula utama. Beliau mengutusku, Tetua Cheng, untuk menerima kiriman ini. Apa pesan lisan yang harus kausampaikan? Katakan padaku."
Xu Hao melihat mata Tetua Cheng yang mencoba menembusnya. Ia mengambil risiko. Dari dalam jubahnya, ia mengeluarkan slip giok peninggalan Xu Tianmu, yang diberikan bibinya Xiou Jianxin padanya.
"Pesan lisan itu adalah: 'Pohon jati tumbuh dari benih tua. Akarnya masih mengingat hujan pertama.' Dan ini," ia menyerahkan slip giok itu, "adalah tanda pengenal."
Wajah Tetua Cheng berubah drastis begitu melihat slip giok itu. Ia meraihnya dengan tangan sedikit gemetar, memeriksa tulisan dan pola energinya. Matanya membelalak, lalu menatap Xu Hao dengan intensitas yang membuat ruangan terasa sesak.
"Dari mana kau mendapatkan ini?" tanyanya, suaranya bergetar.
"Pesanku hanya untuk Tetua Hong," teguh Xu Hao, tidak gentar.
Tetua Cheng menghela napas dalam, lalu mengangguk pelan. "Baik. Ikuti aku. Tetua Hong akan menemui mu."
Ia membawa Xu Hao keluar dari pos, naik ke sebuah kereta angkut kecil yang ditarik oleh sejenis burung besar berbulu abu-abu. Mereka meluncur ke atas, menuju gunung yang puncaknya tersembunyi kabut.
Perjalanan naik memakan waktu setengah jam. Mereka melewati beberapa pos pemeriksaan lagi, masing-masing dijaga ketat. Semua penjaga terlihat tegang, dan Xu Hao melihat lebih banyak bekas pertempuran di sepanjang jalan. Tampaknya Sekte Gunung Jati benar-benar dalam keadaan terkepung.
Akhirnya, mereka tiba di sebuah pelataran luas di sisi gunung. Sebuah bangunan megah bergaya paviliun dengan atap berlapis dan pilar-pilar merah berdiri di hadapan mereka. Ini adalah markas besar sekte.
Tetua Cheng membawa Xu Hao melewati pelataran yang sepi, masuk ke dalam paviliun, menuju sebuah ruang penerimaan. Di sana, seorang lelaki tua berjanggut putih panjang, duduk di atas kursi tinggi. Wajahnya keriput, matanya bijak namun kini dipenuhi kelelahan dan kekhawatiran. Aura-nya… Void Fusion tahap awal. Lemah, terasa seperti ada retakan, seolah baru saja melalui pertempuran berat.
Inilah Tetua Hong.
"Tuan Hong Xiansheng," kata Tetua Cheng dengan hormat. "Orang ini, Haosu, membawa kiriman dan… ini." Ia menyerahkan slip giok itu.
Tetua Hong menerimanya. Begitu jarinya menyentuh giok itu, tubuhnya bergetar hampir tak kasat mata. Ia memandang slip giok itu lama, matanya berkaca-kaca, lalu menatap Xu Hao.
"Di mana kau mendapatkan ini?" tanyanya, suaranya serak.
"Seseorang yang sangat dekat dengan pemilik asli giok itu menyuruhku menyerahkannya pada Tuan, sebagai tanda pengenal dan permintaan bantuan," jawab Xu Hao, tetap berhati-hati dengan kata-katanya.
"Orang itu… apa kabarnya?" bisik Tetua Hong.
"Masih hidup. Tapi terpisah. Dan menunggu," jawab Xu Hao singkat.
Tetua Hong menutup matanya, menarik napas panjang. Ketika ia membukanya kembali, semua kelemahan tadi tersapu, digantikan oleh ketajaman seorang pemimpin. "Cheng, tinggalkan kami. Jaga pintu. Jangan biarkan siapa pun mendekat."
"Tapi, Hong Xiansheng…"
"PERGI!"
Tetua Cheng membungkuk cepat dan pergi, meninggalkan Xu Hao sendirian dengan Tetua Hong.
"Sekarang," kata Tetua Hong, suaranya rendah. "Katakan yang sebenarnya. Kau bukan sekadar pengantar. Darah apa yang mengalir dalam tubuhmu? Dan apa hubunganmu dengan Xu Tianmu?"
Pertanyaan itu seperti petir di siang bolong. Xu Hao menahan gejolak di hatinya. Teknik penyamaran Xiou Jianxin ternyata tidak cukup sempurna di hadapan seorang Void Fusion yang mengenal baik Xu Tianmu dan mungkin merasakan sedikit kemiripan.
"Xu Tianmu adalah pamanku," akhirnya Xu Hao mengaku, dengan tenang. Ia tahu kebohongan tidak berguna di sini.
"Namaku sebenarnya adalah Xu Hao. Anak dari Xu Yaoting dan Xiou Xian."
Ruang itu menjadi sunyi sejenak. Tetua Hong memandangnya dengan mata yang seakan bisa menembus jiwa. "Xu Yaoting… adik Xu Tianmu yang diusir itu. Jadi kau… kau adalah anak itu. Yang bakatnya dicuri."
"Benar."
"Dan kau datang ke sini… untuk apa? Membalas dendam? Itu bunuh diri. Kau baru mencapai Foundation Establisment awal. Di sekte kecil, itu hanya level murid luar..."
"Aku tahu," jawab Xu Hao. "Aku tidak datang untuk langsung menghancurkan Klan Xu. Aku datang untuk bertahan hidup, menjadi kuat, dan… mencari informasi tentang pamanku, Xu Tianmu. Bibiku, Xiou Jianxin, percaya dia ditangkap oleh Klan Xu."
Tetua Hong menghela napas panjang, penuh beban. "Xiou Jianxin… dia masih hidup. Itu kabar baik di tengah semua kabar buruk." Ia berdiri, berjalan mendekati jendela, memandang ke arah kabut di luar.
"Tianmu… dia adalah sahabatku. Kami bertemu puluhan tahun lalu. Dia yang memberikan bantuan besar pada sekte kami saat kami hampir bangkrut. Slip giok ini adalah janji. Janji bahwa jika ada keturunannya yang membutuhkan, kami akan membantu."
Ia menoleh pada Xu Hao. "Dan sekarang kau di sini. Di saat yang paling buruk. Sekte Gunung Jati sedang sekarat."
"Karena konflik dengan cabang Klan Xu?" tanya Xu Hao.
"Ya. Cabang Klan Xu di Kota Besar Angin, dipimpin oleh seorang bernama Xu Zhan, Void Fusion tahap menengah yang serakah. Mereka ingin mencaplok satu-satunya tambang Kristal Hukum kecil milik kami, Tambang Nadi Hijau. Sudah terjadi beberapa pertempuran kecil. Kami kalah. Banyak murid kami terluka atau tewas. Sekte-sekte lain takut membantu karena takut pada Klan Xu. Kami jadi terisolasi."
"Dan kiriman tadi?" Xu Hao menunjuk kotak di meja.
"Itu adalah upeti terakhir kami," kata Tetua Hong dengan nada getir. "Sebagian besar Kristal Hukum cadangan kami, ditambah beberapa bahan langka, sebagai 'permohonan maaf' dan upaya untuk menyogok Xu Zhan agar memberi kami waktu… atau setidaknya, tidak membasmi kami sepenuhnya. Kami mengirimnya melalui pihak ketiga agar tidak terlihat terlalu putus asa."
Xu Hao mencerna informasi itu. Sekte Gunung Jati benar-benar di ujung jurang. Dan ia baru saja tiba, membawa slip giok janji dari masa lalu yang mungkin sudah tidak berarti bagi mereka yang sedang berjuang untuk hidup.
"Jadi… apa yang akan Tuan Tetua lakukan terhadapku?" tanya Xu Hao langsung. "Memenuhi janji pada pamanku, atau menyerahkanku pada Klan Xu sebagai tanda perdamaian?"
Tetua Hong memandangnya tajam. "Xu Tianmu adalah sahabatku. Dan janji adalah janji. Tapi… sekte ini adalah tanggung jawabku. Lima ratus nyawa bergantung pada keputusanku."
Ia berjalan mendekati Xu Hao. "Aku akan memberimu tempat berlindung. Kau bisa tinggal di sini, menyamar sebagai murid baru atau pelayan. Tapi dengan beberapa syarat. Pertama, jangan pernah membocorkan identitas aslimu kepada siapa pun. Kedua, jangan gunakan teknik atau menunjukkan kemampuan yang bisa mengaitkanmu dengan Klan Xu utama. Ketiga… kau harus bekerja untuk sekte. Membantu kami bertahan. Karena jika Sekte Gunung Jati jatuh, kau juga akan jatuh bersamanya."
Xu Hao mengangguk. Itu adil. Bahkan lebih dari yang ia harapkan. "Aku setuju. Tapi aku juga punya syarat. Aku butuh akses ke perpustakaan sekte, untuk mempelajari dasar-dasar dunia ini. Dan aku butuh kebebasan untuk berlatih dengan caraku sendiri, selama tidak menarik perhatian."
"Bisa diatur," kata Tetua Hong. "Kau akan kumasukkan sebagai murid luar, dengan bakat sedang. Nama Haosu bisa tetap kau pakai. Aku akan menugaskanmu pada Tetua Cheng. Dia akan mengawasimu."
"Dan tentang pamanku? Ada informasi?"
Tetua Hong menggeleng, wajahnya suram. "Tidak ada kabar resmi. Tapi dari sumber-sumber samar, memang ada desas-desus bahwa Xu Tianmu, si pemberontak dari garis utama, ditangkap bertahun-tahun lalu dan dikurung di salah satu penjara rahasia Klan Xu. Lokasinya tidak diketahui. Bahkan untuk mengetahuinya, butuh kekuatan dan pengaruh yang jauh lebih besar dari yang kita miliki sekarang."
Itu konfirmasi yang pahit, tapi tidak mengejutkan. Xu Hao mengangguk, menerimanya. "Aku mengerti. Terima kasih atas perlindungannya, Tetua Hong."
"Jangan berterima kasih dulu," ucap Tetua Hong, suaranya berat. "Kau mungkin baru saja melompat ke dalam perahu yang sedang tenggelam. Tapi… mungkin juga, kedatanganmu adalah tanda. Xu Tianmu selalu membawa keberuntungan."
Ia membuka kotak segel itu. Di dalamnya, bertumpuk Kristal Hukum menengah dan tinggi, serta beberapa batang logam berkilau.
"Lihat ini. Harta terakhir kami untuk menyuap musuh. Memalukan."
Xu Hao memandangi tumpukan kekayaan yang akan diberikan pada musuhnya. Sebuah ide mulai terbentuk di kepalanya, berbahaya dan agak gila. Tapi di dunia ini, di posisinya sekarang, mungkin hanya tindakan berbahaya yang bisa membuka jalan.
"Tetua Hong," ucap Xu Hao perlahan. "Bagaimana jika… upeti ini tidak kita berikan pada Xu Zhan?"
Tetua Hong menatapnya, bingung. "Lalu untuk apa? Kita tidak punya pilihan lain."
"Kita gunakan untuk memperkuat pertahanan sekte. Atau… untuk membeli bantuan dari pihak ketiga yang tidak takut pada Klan Xu. Atau," mata Xu Hao berbinar dengan cahaya dingin, "untuk memancing perangkap bagi Xu Zhan."
Tetua Hong terdiam. Ia melihat mata muda di depan itu, mata yang penuh dengan ketenangan berbahaya dan kecerdikan membara, sangat mirip dengan sahabatnya dahulu. Namun, ada sesuatu yang lebih gelap, lebih bertekad, di dalamnya.
"Kau berbicara seperti orang yang sudah terbiasa dengan pertempuran dan intrik, Nak," gumam Tetua Hong. "Tapi ini berbeda. Ini Klan Xu. Satu kesalahan, dan kita semua musnah."
"Kita sudah di ambang kehancuran, bukan?" balas Xu Hao. "Kadang, satu-satunya cara untuk bertahan adalah dengan menyerang terlebih dahulu. Tentu saja, bukan serangan langsung. Serangan dari dalam, dari bayangan."
Percakapan mereka berlanjut hingga larut malam. Di ruangan itu, seorang tua yang lelah dan seorang muda yang penuh dendam mulai merajut sebuah rencana yang nekat. Rencana yang mungkin akan menyelamatkan Sekte Gunung Jati, atau justru mempercepat kematiannya.
up up up