Kesempurnaan adalah ilusi.
Dan Tasya Andarini hidup dari ilusi itu.
Sebagai mahasiswi teladan dengan masa depan yang sudah tersusun rapi, Tasya percaya bahwa disiplin dan kendali adalah segalanya. Sampai dosen pembimbing memaksanya berpasangan dengan Dimas Ramadhan—playboy kampus dengan reputasi buruk, kecerdasan tersembunyi, dan masa lalu yang tak pernah benar-benar ia tinggalkan—untuk mengerjakan skripsi eksperimental yang menentukan kelulusan mereka.
Sejak awal, mereka saling membenci.
Tasya muak dengan sikap Dimas yang sembrono, tatapan tajam yang terlalu berani, dan cara bicaranya yang selalu menguji batas.
Dimas, sebaliknya, terganggu oleh sikap Tasya yang dingin dan perfeksionis—namun tak bisa mengabaikan ketegangan yang muncul setiap kali ia berdiri terlalu dekat.
Di antara deadline, aturan, dan hasrat yang tak lagi bisa disangkal, Tasya harus memilih: mempertahankan kesempurnaan yang rapuh, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta tanpa izin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khang Adhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Usaha Tasya
Dimas akhirnya terpaksa mengikuti langkah Tasya menuju lantai kamarnya. Lorong apartemen tampak sepi—jam di ponsel menunjukkan pukul sebelas malam. Keduanya melangkah pelan, nyaris tanpa suara, memastikan tak ada siapa pun yang memperhatikan.
“Dim, dobrak pintunya,” bisik Tasya sambil waspada mengamati sekitar.
“Lo gila?” desis Dimas kesal. “Kalau gue dobrak, orang-orang bakal ngira kita maling.”
“Terus mikir dong gimana caranya pintu ini kebuka,” balas Tasya, tak kalah menekan.
“Argh,” gerutu Dimas. Ia menjauh sebentar, lalu kembali dengan sepotong kawat tipis di tangannya.
Ujung kawat itu ia masukkan perlahan ke lubang kunci. Tangannya bergerak hati-hati, memutar dengan tekanan minim—takut kawatnya patah di dalam.
Klek.
Suara kecil itu terdengar seperti dentuman di telinga mereka.
Pintu terbuka.
Mereka masuk perlahan. Kamar itu kosong. Tak ada pakaian, tak ada sepatu, tak ada satu pun barang elektronik yang dulu memenuhi ruangan. Semuanya lenyap, rapi—seolah Tasya tak pernah tinggal di sana.
Tasya terduduk lemas di lantai.
“Ayo, Sya,” bisik Dimas sambil mengintip ke lorong. “Kita nggak bisa lama-lama di sini.”
“Gue emang ditakdirin hidup miskin,” gumam Tasya getir. Air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan.
“Sya… ada security,” desis Dimas tiba-tiba.
Ia segera menutup pintu perlahan. Keduanya berdiri mematung di baliknya.
Langkah kaki terdengar mendekat. Jantung mereka berpacu. Gagang pintu bergerak, lalu ditekan ke bawah.
Tasya dan Dimas saling berpandangan. Napas mereka tertahan—tak ada celah untuk kabur.
“Pak, maaf… saya mau minta bantuan,” tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan dari kamar seberang.
Langkah kaki itu berhenti, lalu perlahan menjauh.
Dimas membuka pintu sedikit, mengintip dengan risiko penuh.
“Sya, sekarang!” bisiknya tegas.
Ia langsung menarik tangan Tasya. Mereka berlari pelan menyusuri tangga darurat, menuruni anak tangga satu demi satu hingga akhirnya mencapai pintu keluar apartemen dengan napas terengah.
“Jangan pernah lo lakuin ini lagi kalau nggak mau mendekam di sel,” kelakar Dimas sambil menyerahkan helm ke tangan Tasya.
Tanpa menoleh lagi, mereka segera pergi meninggalkan tempat itu.
Keesokan paginya, Tasya dan Nina meluncur ke sebuah kafe di kawasan utara kota untuk menemui saudara Tasya. Namun setibanya di sana, pintu kafe itu masih tertutup rapat.
“Lo yakin ini tempatnya?” tanya Nina dari balik kemudi.
“Terakhir gue ke sini dua tahun lalu,” jawab Tasya sambil memperhatikan perubahan desain interior yang tampak dari balik kaca.
Mereka menunggu hampir satu jam, hingga beberapa pegawai mulai berdatangan dan membuka pintu kafe. Tasya segera turun dari mobil dan menghampiri mereka.
“Mas, maaf, ini bener kafenya Pak Restu Adibrata?” tanya Tasya.
“Iya, Mbak,” jawab salah satu pegawai.
“Kalau Pak Restu biasanya datang jam berapa ya?”
“Beliau udah hampir seminggu nggak ke sini, Mbak. Ada perlu?”
Belum sempat Tasya menjawab, sebuah Mercy hitam berhenti di belakang mobilnya. Seorang pria berambut putih, mengenakan jas dipadu celana jeans dan kacamata hitam, turun dari mobil bersama seorang wanita muda.
“Tasya!” panggil Restu sambil melepas kacamatanya.
Tatapannya menyapu Tasya dari ujung kepala hingga kaki, lalu ia langsung mengajak Tasya masuk ke dalam kafe bersama Nina dan wanita itu.
“Maaf, Om, aku datang nggak ngabarin dulu,” ucap Tasya pelan. “Om pasti udah denger soal semua yang terjadi.”
Restu menyimpan kacamatanya, lalu mengambil sebatang rokok dari saku jas.
“Papi kamu kemarin nelpon Om,” katanya sambil menyalakan rokok. “Om nggak bisa ngapa-ngapain, Sya. Wataknya keras. Mau Om ini kakaknya sekalipun, percuma.”
“Aku ke sini sebenarnya…” Tasya menghela napas, menatap Restu ragu. “Kalau boleh, Om bisa nerima aku kerja di sini? Jadi waitress, bersih-bersih juga nggak apa-apa.”
Restu terdiam. Pandangannya beralih ke wanita muda di sampingnya.
“Antar dia ke bank sekarang,” katanya singkat sambil berdiri.
“Om, aku nggak minta uang,” Tasya menahan langkahnya. “Aku cuma mau mandiri, nggak bergantung lagi sama fasilitas Papi.”
“Om nggak bisa bantu kamu dengan cara itu, Sya,” ucap Restu pelan sambil mengusap kepala Tasya. “Masalahnya udah terlalu berat.”
“Apa gara-gara Dimas, Om?” tanya Tasya lirih.
Restu tersenyum tipis. “Harusnya kamu ngerti sendiri alasannya. Bukan dari mulut Om.”
Ia melangkah pergi, lalu berhenti sejenak di depan pintu. “Suatu hari kamu bakal paham kenapa semua ini kejadian.”
Restu menoleh ke wanita muda tadi. “Abis ini balik ke kantor. Siapin bahan meeting siang.”
“Baik, Pak,” jawab wanita itu.
Ia lalu menoleh ke Tasya. “Saya Ranti, asisten pribadi Pak Restu.”
Mereka berjalan menuju bank tak jauh dari kafe. Di sana, Ranti mengajak Tasya duduk dan menyerahkan bolpoin.
“Mbak Tasya tulis aja nominal yang dibutuhin. Nanti saya laporin ke Pak Restu.”
Tasya terdiam. Kepalanya penuh pertimbangan. Ia tahu, meminta terlalu banyak hanya akan menyeret masalah baru.
“Boleh aku pinjem ponselnya?” pinta Tasya. “aku mau ngomong langsung sama Om.”
Ranti mengangguk dan menyambungkannya.
“Om, aku nggak bisa nerima ini semua,” ucap Tasya dari balik telepon.
“Itu tabungan Om pribadi, bukan uang keluarga Adibrata,” jawab Restu lembut. “Tulis aja sesuai kebutuhan kamu.”
“Tapi Om—”
“Om cuma bisa bantu sejauh ini, Sya.”
Telepon berakhir. Ranti kemudian menuliskan nominal di selembar kertas: Rp25.000.000.
“Pak Restu minta saya kasih segini dulu. Kalau kurang, Mbak bisa hubungi saya.”
Tasya mengikuti Ranti ke teller. Dengan hanya berbekal KTP dan SIM, ia membuka rekening baru untuk menyimpan uang itu.
“Tolong sampaikan ke Om, aku janji bakal balikin semuanya begitu dapet kerja,” ucap Tasya setelah selesai.
Ranti mengangguk lalu berpamitan. Tasya kembali ke mobil, tempat Nina menunggu.
“Gimana?” tanya Nina penasaran.
“Kita jalan aja, Na,” jawab Tasya sambil melirik ke arah kafe. “Gue takut ada orang bokap ngeliat.”
Di perjalanan, Tasya menceritakan semuanya—tentang uang itu dan rencananya membeli ponsel, laptop, serta mencari kos sendiri.
“Menurut gue, beli HP dulu,” kata Nina sambil menyetir. “Itu penting buat skripsi lo dan lo bisa komuniskasi dengan Dimas. Laptop pake punya gue dulu aja. Lagian di lantai tiga masih ada kamar kosong, jadi gue bisa ngawasin lo sampe skripsi lo kelar.”
Tasya menoleh, matanya berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya sejak semua itu terjadi, ia merasa tidak sepenuhnya sendirian. Perasaan itu membuat dadanya hangat, meski realitas tetap menuntutnya untuk segera berpijak.
Hari itu juga, Tasya mengajak Nina ke mal untuk membeli ponsel. Tanpa banyak pertimbangan, ia memilih ponsel Android kelas menengah dengan harga dua jutaan.
“Lo yakin pilih ini, Sya?” tanya Nina heran. “Masih ada yang lebih bagus.”
“Gue harus bertahan hidup, Na,” jawab Tasya singkat, matanya mantap menatap etalase.
Lengan Nina refleks meraih pundaknya. Ada rasa nyeri yang samar di dadanya—Tasya yang dulu tak pernah melihat label harga, kini menghitung setiap rupiah dengan cermat. Namun Nina tahu, ini bukan soal gengsi. Ini soal bertahan.
Setelah urusan ponsel beres, Nina langsung menemui pemilik kos untuk menanyakan kamar di lantai tiga.
“Waduh, Dek Nina,” ujar Pak Darman sambil menggeleng. “Bapak nggak tahu kalau Dek Tasya mau pindah ke sini. Kamarnya udah keisi.”
“Yah, nggak bisa dibatalin gitu, Pak?” Nina mencoba menawar.
“Nggak bisa, Dek. Yang nempatin keponakan bapak. Dia udah bayar setahun penuh.”
Dengan sedikit kecewa, Nina dan Tasya kembali berkeliling, mencari kos yang lokasinya tak terlalu jauh dari kampus. Tasya kini tak punya kendaraan, jadi jarak jadi pertimbangan utama.
“Nah, gue dapet, Sya,” kata Nina sambil menunjukkan layar ponselnya. “Tapi sewanya lumayan tinggi.”
“Gue nggak butuh yang mewah, Na,” jawab Tasya pelan. “Yang penting ada internet. Gue harus kebut skripsi.”
Padahal hatinya sempat tergoda. Namun kali ini, ia tahu betul setiap keputusan punya harga yang harus dibayar.
Akhirnya, Tasya memilih sebuah kos sederhana di belakang kampus. Bangunannya tua, lorongnya sempit, tapi jaraknya cukup dekat untuk ditempuh dengan berjalan kaki.
“Lo yakin mau ambil kos di sini?” Nina mengernyit, menatap sekitar dengan ragu.
“Gue yakin,” jawab Tasya sambil tersenyum tipis.
Nina terdiam. Ia tahu reputasi tempat itu—penghuninya beragam, hidup tanpa banyak aturan, dan sering jadi bahan bisik-bisik mahasiswa kampus. Bukan tempat yang aman, apalagi untuk Tasya yang baru saja terlempar dari kehidupannya yang lama.
Namun Tasya sudah melangkah masuk, seolah tak ingin menoleh lagi.
Di dalam tasnya, kartu ATM baru terasa berat. Tasya tak tahu, bantuan Om Restu yang hari ini menyelamatkannya—perlahan akan menarik perhatian orang-orang yang seharusnya tak lagi ingin ia temui.
Dan jauh di tempat lain, sebuah nama mulai disebut kembali. Pelan, tapi pasti.