Li Fengran tidak pernah menyangka jika setelah mati, dirinya akan pergi ke dunia lain dan menjadi peserta kompetisi pemilihan ratu. Untuk melarikan diri, dia mencoba yang terbaik untuk gagal, namun perbuatannya justru menarik perhatian Raja dan Ratu Donghao dan membuatnya terlempar ke sisi Raja Donghao.
Hidup sebagai pendamping di sisi Raja, Li Fengran berhadapan dengan tiga siluman rubah yang terus mengganggunya dan menghadapi konflik istana serta Empat Wilayah.
Akankah Li Fengran mampu bertahan di istana dan membuang niatnya untuk melarikan diri? Akankah ia mengabaikan kasih sayang Raja dan memilih mengamankan dirinya sendiri?
*Cover by Pinterest
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhuzhu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TCQ 31: Balasan dari Langit
Mudah saja bagi Li Fengran untuk keluar istana karena dia punya token khususnya. Bahkan penjaga kekaisaran di empat arah gerbang istana semuanya langsung mempersilakan ia tanpa bertanya. Memiliki token semacam ini ternyata cukup menyenangkan.
Pemandangan di ibukota menyilaukan, terutama di musim semi. Li Fengran baru saja sampai, namun matanya sudah dimanjakan oleh pemandangan dan keramaian orang-orang. Penduduk ibukota ini lebih beragam, mereka berasal dari daerah berbeda dan sebagian lagi merupakan penduduk asli.
Li Fengran menghampiri sebuah stand penjual jepit rambut. Berbagai jenis jepit dan tusuk konde, termasuk aksesoris wanita lainnya berjejer rapi.
Dia mengambil satu, menelitinya sebentar sebelum beralih ke yang lain. Pemilik stand tersebut melihat pakaian yang dikenakan Li Fengran tampak mahal. Selain itu, gantungan giok di pinggangnya juga sangat unik.
Dengan segala keramahan akan keinginan untung banyaknya, pedagang itu merendah dan mengeluarkan keahliannya dalam marketing. “Selera Tuan sangat bagus. Jepit yang ada di tangan Tuan baru saja tiba dari pengrajin. Jika Tuan memberikannya pada wanita yang Tuan sukai, dia pasti akan senang.”
Seketika Li Fengran menilai tubuhnya sendiri. Dia memang memakai seragam Pemangku Pedang, tapi tidak bisakah pedagang ini membedakannya? Seragam ini setidaknya masih bisa menunjukkan bahwa dia adalah wanita.
“Aku seorang wanita,” ucapnya memverifikasi.
Pemilik stand terkejut malu. “Ah, maaf atas kecerobohan dan kebutaan mataku yang tidak mengenali Nona.”
Mata pemilik stand itu jatuh pada bagian dada Li Fengran dan Li Fengran mengikuti tatapannya. Astaga! Apakah dadanya sekecil itu? Di dunia modern yang nyata, Li Fengran punya yang lebih besar dari ini!
“Kamu! Huh, aku tidak jadi beli!” dengus Li Fengran sembari beranjak pergi.
Di sini dia berusia delapan belas tahun. Gadis lain yang seusianya mungkin sudah punya anak pada zaman ini. Tapi Li Fengran, tubuhnya bahkan belum berkembang dengan baik.
Meski tanda internalnya sudah matang, namun perkembangan fisiknya dinilai kurang. Ah, dia benar-benar sial. Ke mana tubuhnya yang subur dan berisi itu?
Lama ia berjalan, kemudian berhenti di depan sebuah restoran. Menengadahkan kepala, dia membaca tulisan di atasnya sekilas. Setelah memastikannya, ia kemudian masuk dan duduk di lantai atas. Pada sebuah ruang yang sudah disiapkan Nangong Zirui sebelumnya, Li Fengran menunggu dengan tenang.
“Raja begitu berniat mempersiapkan pertunjukkan untukku. Aku ingin tahu kejutan apa yang ingin ia berikan padaku,” gumam Li Fengran. Dari ruangannya terdapat sebuah jendela yang mengarah ke jalan di luar. Ruangan ini bersebelahan dengan ruangan lain yang sama-sama mahal. Tidak mungkin Nangong Zirui menyiapkannya setengah-setengah.
Kemudian, seorang pelayan restoran datang membawa makanan. Di atas nampannya terdapat sepucuk surat yang ditujukan pada Li Fengran. “Tuan, seseorang meminta saya memberikan surat ini kepada Anda.”
“Baiklah. Terima kasih.”
Dia membaca surat itu dan isinya membuatnya terkejut. Itu karena tulisan tangannya berantakan dan sulit dibaca. Mata Li Fengran sampai sakit membacanya.
Dilihat dari kertas dan jenis tinta yang digunakan, kemungkinan penulis surat ini adalah orang istana. Li Fengran pernah melihat jenis kertas dan tinta ini di Istana Qihua.
“Tulisan Raja tidak mungkin sejelek ini. Jika bukan Wang Bi, maka itu hanya bisa jadi Mo Wei.”
Sesuai isi surat tersebut, Li Fengran harus keluar tepat pada jam tiga sore. Kala itu, restoran sedang ramai. Dari ruangan sebelah, terdengar derit pintu yang cukup panjang. Begitu Li Fengran membuka pintu, dia melihat seorang gadis berusia dua tahun lebih muda darinya berjalan keluar bersama seorang pelayan.
“Kupikir cantik. Ternyata dia lebih rata dariku,” gumamnya.
Sekarang, saatnya beraksi.
“Aih, mengapa udara tiba-tiba pengap begini? Pelayan restoran, apa kalian tidak membuka ventilasi dan membiarkan energi kotor berkumpul di sini?” ucapnya tiba-tiba.
Suara itu membuat Li Shiyu terkejut dan diam di tempat. Dia dengan ragu menoleh ke belakang dan melihat Li Fengran sedang berdiri tepat dua meter darinya. Dia sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian gadis, menatap Li Shiyu dari atas ke bawah dan pura-pura terkejut.
“Adik? Mengapa kamu di sini?”
“Kak-Kakak?”
Li Shiyu memiliki temperamen yang aneh. Dia pendengki, namun itu tidak memberinya keberanian untuk menghadapi Li Fengran secara langsung. Saat ayahnya tahu masalah memberi racun, Li Shiyu sudah mendapat banyak penindasan dan cemoohan. Kini saat melihat orang yang diracuninya masih hidup dengan sehat, bahkan berdiri di depannya dengan congkak, dia marah.
Namun, ini adalah ibukota. Tempat ini bukan tempat yang bisa membuatnya berbuat sesuka hati. Di Dongchuan, ayahnya masih bisa menoleransinya, namun jika dia berbuat onar di sini, itu tidak mungkin. Dia hanya bisa menahan diri dengan kemarahan dan ketakutannya.
“Ayahmu mempertaruhkan nyawanya dan menyerahkan kekuasaannya untuk memohon pengampunan atas nyawamu. Kamu malah asyik makan di sini? Li Shiyu, suasana hatimu sangat baik, ya?”
“Ap-Apa maksud Kakak?” Li Shiyu tergagap.
“Jangan pura-pura bodoh di depanku. Kamu pikir aku tidak tahu perbuatanmu?”
Meskipun tidak dapat ditutupi, Li Shiyu tidak mengira kakak angkatnya akan mengatakannya secara langsung. Dia biasanya selalu menjaga perasaan ayah mereka dan mencari perhitungan saat tak ada orang. Namun hari ini, kakaknya ini datang dengan tampilan berbeda. Seolah-olah, dia telah berubah menjadi orang lain.
“Aku bukan orang yang bisa ditindas oleh gadis kecil sepertimu. Ayahmu menggunakan segalanya untuk menebus nyawamu dan membayar ganti rugi atas nyawaku. Apa kamu pernah berpikir, jika Raja tidak menahan amarahnya, maka kamu dan seluruh keluargamu akan mati?”
Li Shiyu menggigil. Kematian? Dia takut mati, dia tidak ingin mati.
“Apakah ayah selamat?” tanya Li Shiyu ragu. Orang bilang temperamen Raja Nangong aneh dan pemikirannya sulit ditebak. Demi memohon pengampunan atas nyawanya karena telah meracuni Pemangku Pedangnya, ayahnya mempertaruhkan segalanya. Li Shiyu tidak ingin kehilangan ayahnya, dia hanya membenci Li Fengran.
“Menurutmu?” Li Fengran menaikkan sebelah alisnya. Dia tampak sombong dan dingin jika berekspresi seperti itu. “Aku tidak akan datang kemari jika Raja tidak melepaskan ayah.”
“Li Shiyu, demi ayah, aku tidak akan memperhitungkannya lagi. Bukan berarti aku memaafkanmu. Ingat baik-baik, apa yang kamu perbuat ini, telah menghancurkan kehidupan orang lain!”
Terhadap orang yang sudah tidak memiliki apapun seperti Li Shiyu, Li Fengran tidak akan perhitungan lagi. Dia bukan tipe orang yang suka menindas orang yang sudah jatuh. Perbuatan Li Shiyu sudah membuatnya masuk kemari dan terjebak. Meskipun dia marah, tapi apa bedanya dia dengan Li Shiyu jika tetap mengejarnya?
Li Fengran hanya ingin tahu seperti apa rupanya dan apa yang dilakukan oleh gadis ini di ibukota. Ternyata, dia masih punya suasana hati untuk makan makanan enak dan bersenang-senang saat ayahnya memohon dengan mengorbankan segalanya di hadapan Raja Nangong. Anak ini, sungguh tidak berbakti!
“Jika kamu berani mencelakaiku dan ayah lagi, aku tidak segan-segan meminta Raja untuk menangkapmu dan menghukummu!”
Wajah Li Shiyu sudah memucat seperti mayat. Pelayan di sisinya sejak tadi membisu. Dia juga tidak menyangka, Li Fengran dapat menjadi orang yang begitu mendominasi. Kata-katanya walau tidak terlalu tajam, namun menyimpulkan ancaman yang begitu jelas.
Ya, dia sekarang adalah Pemangku Pedang, bukan lagi putri angkat Dongchuan. Perubahan identitasnya membuatnya memiliki karakter lain.
Tanpa mengatakan apapun, Li Shiyu yang ketakutan segera berbalik. Dia menuruni tangga dengan cepat. Akibatnya, kakinya menginjak gaunnya sendiri dan dia jatuh berguling-guling ke lantai bawah. Semua orang langsung menolehkan kepala mereka dan ikut menyaksikan adegan itu.
“Astaga! Adik, mengapa kamu berguling-guling di tangga?” tanya Li Fengran dari lantai atas.
“Kamu! Mengapa kamu mendorong nonaku?” si pelayan marah. Li Fengran mengernyit dan tertawa. Ah, rupanya pelayan ini ingin membalikkan situasi, ya? Ingin memfitnahnya? Tidak semudah itu!
“Aiya, pelayan kecil, apa matamu buta? Aku berdiri jauh dari tangga. Bagaimana bisa aku mendorongnya? Tanganku juga tidak panjang. Sebaliknya kamu, kamu yang berada paling dekat dengannya. Coba katakan, siapa yang lebih memungkinkan memiliki kesempatan untuk mendorongnya?”
Si pelayan hendak berkata, namun dia sadar tatapan semua orang sedang tertuju pada mereka. Orang-orang ibukota tidak seperti orang-orang Dongchuan, yang akan mundur begitu tahu identitas Li Shiyu. Si pelayan tidak menyangka kata-katanya dapat dibalikkan semudah itu oleh Li Fengran.
“Masuk akal. Pelayan kecil, bagaimana bisa nona itu mendorong nonamu? Aku melihat sendiri kalau nonamu berjalan terburu-buru dan tersandung,” ucap salah seorang pengunjung, yang kemudian disetujui oleh yang lain.
Si pelayan tidak terima dan ingin marah, tapi Li Shiyu kemudian menarik tangannya. Mereka sudah cukup malu, tidak boleh mempermalukan diri sendiri lagi. Li Shiyu dengan segala kemarahan dan rasa malunya berjalan membelah kerumunan, keluar dari restoran Wangyu sembari menahan rasa sakit dari memar di tubuhnya.
Li Fengran turun setelah beberapa saat dan menyaksikan Li Shiyu menghilang dalam keretanya. Dia berdecak dan menyeringai. “Cih, masih kecil saja sudah berhati jahat. Aku bersyukur karena ayah tidak mengirim wanita seperti itu sebagai utusan pemilihan.”
Mungkin, ini adalah balasan dari langit untuknya.
Saat Li Fengran menyelesaikan urusannya, dia melihat Mo Wei datang membawa sebuah kereta kuda. Pengawal itu mendatanginya dan memarkirkan kereta di depan restoran, lalu berjalan menghampiri Li Fengran.
“Mo Wei? Mengapa kamu di sini?” tanya Li Fengran.
“Yang Mulia khawatir kamu tidak bisa menemukan jalan pulang dan menyuruhku untuk menjemputku,” jawab Mo Wei.
“Ah, sudah waktunya pulang, ya. Eh, tunggu dulu, apa kamu bilang? Dia khawatir aku tersesat? Apa aku begitu bodoh sampai tidak tahu arah?”
Mo Wei hanya bisa mengangguk. “Bukankah begitu? Jika tidak, malam itu kamu sudah bisa melarikan diri dari istana.”
“Kamu sama menyebalkannya dengan Yang Mulia!”
Mo Wei tidak menanggapi dan hanya menjulurkan tangannya, meminta Li Fengran masuk ke dalam kereta.