Grace Eloise seorang wanita lulusan mahasiswi tingkat atas yang sekarang sudah menjadi seorang dosen jurusan kedokteran di suatu kampus terbilang cukup elit tidak kalah terkenal dari kampus lainnya.
Wanita satu ini tidak kenal lelah karena hidupnya sangat keras sehingga dia menjadi orang yang mampu berdiri di kakinya sendiri.
Dikatakan keluarganya juga tidak terlalu mewah karena ayahnya bekerja di suatu bar kecil ibunya telah tiada dan sekarang hidup mereka sudah terbilang cukup lumayan akan tetapi sang ayah hanya menghabiskan uangnya hanya untuk berjudi dan mabukan.
Grace pernah melarikan diri dari rumah karena begitu marahnya terhadap sang ayah sebab dia sangat tidak di hargai sebagai seorang anak.
Bukankah anak perempuan sangat bermanja dengan ayah mereka?
Namun tidak untuk Grace, dia hanya tahu mencari uang untuk melanjutkan kehidupan mereka.
Sampai suatu ketika dia bertemu lagi dengan mantannya di sebuah cafe brsma seorang wanita.
Yuk ikuti kisahnya... 😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aiiwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bola Basket?
...『⇒Bab 31⇐』...
Bhukk
Duakhh
Braakkkk
"Kalau kau berani menyentuhnya lagi kau akan habis di tanganku, mengerti kau!"
Kepalan tangan yang kuat itu ingin melanjutkan kembali hantamannya sedangkan Jihan hanya menganga saja tidak menduga kedua preman itu habis babak belur di buat oleh satu orang.
"Hentikan Gibran, cukup!" bujuk Grace seketika ia menahan kepalan tangan tersebut dan menatap Gibran secara tegas.
Yapp, lelaki yang menghajar keduanya ialah Gibran bahkan sedikitpun ia tak ada terluka sementara kedua lelaki yang datang ke rumah Grace sudah bonyok.
"Enyah kau!" geramnya Gibran berkata demikian dan akhirnya ia melepaskan lelaki yang ingin di hantamnya itu.
Mereka berdua pun berlari dalam keadaan sudah habis luka-luka.
"Brengs*k kau! tunggu saja pembalasan dariku, cuihh!" teriaknya pula sembari membabi buta yang keluar dari mulutnya memaki Gibran.
Gibran, Grace serta Jihan hanya mendengar teriakan tersebut.
Ketika keduanya pergi Jihan langsung menatap ke arah Gibran dan mengingat wajah Gibran untuk sesaat ia teringat bahwa ia pernah melihat Grace dan Gibran berboncengan.
"Kau..."
"Permisi," turut Gibran dengan bungkukan badan pula ke arah Jihan.
Greppp
Gibran langsung meraih tangan Grace secara erat dan membawanya begitu saja sementara Jihan hendak ingin mengajak Gibran masuk namun Gibran sudah pergi bersama Grace.
Langkah kaki yang cepat serta genggaman tangan yang begitu erat membuat Grace semakin bingung pada sikap Gibran itu apalagi wajah Gibran sangat di penuhi aura kemarahan.
Zraapp
Hanya dengan dua tangannya Gibran mengangkat Grace naik ke motornya layaknya seperti anak kecil dan memakaikan Grace helm lalu ia pun naik ke motornya juga tak lupa pula ia memakai helm di kepalanya serta meraih telapak tangan Grace lalu ia arahkan ke pinggangnya pula tanpa berkata apapun ia langsung melajukan motornya.
Brmmm
Jihan sedari jauh melihat kedekatan mereka dan ia menatap dengan rasa tidak sukanya.
"Aku harus sampaikan ini pada Laras! sebelum semuanya terlambat," gumam Jihan terus berceloteh dan ia menutup kembali pintu rumahnya.
.
.
.
Sempat Gibran berhenti di sebuah apotik tak berapa lama ia melanjutkan kembali perjalanan mereka mengarah ke sebuah taman memang khusus tempat bersantai.
Sesampainya mereka di parkiran Gibran membuka helmnya sendiri dan tersenyum tipis melirik dari samping mengarah pada Grace yang terlihat membuka helmnya juga.
Gibran turun dari motornya sedangkan Grace masih terduduk tampak terdiam usai melepas helmnya.
"Khem, apa kau mau aku gendong lagi untuk turun?" tegur Gibran seketika sengaja berkata demikian.
"Ah, ti- tidak! aku bisa turun sendiri," jawab Grace terdengar kelabakan sementara Gibran tersenyum kecil mengalihkan wajahnya sebab ia melihat Grace begitu lucu di saat sedang gugup.
Grace sekarang sudah berdiri tepat di samping Gibran lalu keduanya saling terdiam tanpa berkata apapun.
Gibran lebih dulu berjalan di depan Grace namun tak lupa ia meraih tangan Grace supaya ikut berjalan di sampingnya maka dari itu Grace coba mengikuti kemauan Gibran saat ini.
Setelah beberapa menit mereka berjalan hingga saat ini sudah berada di kawasan taman dan mendapati bangku panjang besi bercat putih tampak bangku tersebut berbentuk ukiran.
Gibran langsung menuju bangku tersebut.
"Kita duduk di sini saja," turut Gibran pula. "Ayo duduk lah," lanjut Gibran lagi.
Grace pun duduk dan melihat sekitarnya ternyata tampak ramai dari biasanya bahkan ada sebagian keluarga yang membawa anak mereka untuk bermain di taman, adapula anak remaja sedang bermain gitar bersama temannya.
Srakk
Srkkk
Gibran tampak membuka sebuah plastik dan meraih kapas serta alkohol yang dia beli di apotik sebelumnya.
"Bagian bibirmu berdarah jadi aku akan mengobatinya," cakap Gibran sembari membasahi kapas menggunakan alkohol sedangkan Grace merasa enggan menjawab "tidak" sudah pasti Gibran akan berkecil hati.
Grace hanya membalas dengan senyuman simpul ketika mendengar ucapan Gibran tadi.
"Tahan sedikit ya karena akan terasa perih," kata Gibran pula lalu ia menggeser tubuhnya sedikit lebih dekat ke arah Grace supaya memudahkan dirinya untuk mengobati luka tersebut.
Kini Gibran berada tepat lebih dekat di depan mata Grace bahkan Grace menjadi canggung ketika kedua matanya sangat jelas menatap wajah Gibran.
"Ssshhh," suara berdesis keluar dari mulut Grace di saat Gibran menyeka darah di pinggir bibir Grace.
"Apa begitu perih?" tanya Gibran terdengar tidak tega ketika Grace merasakan sakit itu.
Grace anggukkan kepala tanpa bersuara.
"Tahan sedikit saja biar lukanya membaik," cakap Gibran terdengar membujuk.
"Iya," jawab Grace singkat namun ia berikan senyuman hangat di wajahnya itu.
"Aku akan lanjutkan," kata Gibran lagi masih dalam kondisi menyeka darah tersebut.
Seusai ia bersihkan kemudian ia oleskan salap menggunakan katembat supaya olesan tersebut merata di lukanya.
"Kenapa kau membohongiku?" tanya Gibran sejenak ketika ia masih mengoleskan salap secara pelan.
"Ha?" kagetnya Grace di saat Gibran berkata demikian.
"Aku tanya, kenapa kau berbohong padaku?" mengulang kembali namun kini tangan Gibran berhenti bergerak dan hanya menatap tegas ke arah Grace dengan wajah datarnya.
Syuuuungggg
Brukkkk
Sebuah bola basket tepat mengenai kepala belakang Gibran dan saat ini suasana sangat terbilang hening karena bibir mereka berdua saling menempel serta kedipan bulu mata lentik mereka berdua jelas saling bersentuhan hingga deguban jantung serasa ingin meledak pula.
Sentuhan bibir yang tak terduga itu membuat mereka terdiam membeku dalam sekejap keduanya masih bertatap muka.
"Ma- maaf, aku tidak sengaja! sungguh aku minta maaf," riuh seorang anak lelaki usia remaja tersebut mendekat ke arah mereka dan membungkukan badannya terdengar mengakui kesalahannya.
Syuttt
Kedua bahu Gibran di dorong begitu saja oleh Grace ketika anak tadi menegur mereka.
"I- iya tidak apa! lain kali lebih berhati-hati lagi," cakap Gibran membalas ucapan anak lelaki itu namun ia sudah sesekali mengelus pundak lehernya sementara Grace memegangi bibirnya sendiri serta mengalihkan wajah pula.
"Terimakasih kak, aku minta maaf sekali lagi."
Lelaki itu bungkukan badan kembali lalu Gibran membalas dengan isyarat telapak tangannya dengan begitu anak lelaki tersebut pun berlalu pergi karena Gibran tak memperlebar kesalahannya.
"Khem." Gibran berdehem sedangkan wajahnya tampak melihat ke arah lain seolah ia masih merasa canggung untuk membuka suaranya.
"Ha."
"Ha!"
Keduanya malah saling menyahut begitu saja dan menatap satu sama lain.
"Kau bilang apa?" tanya Grace pula tampak jelas gugup di wajahnya.
"T- tidak ada," gelengan kepala Gibran secara ia juga merasa canggung sama halnya yang di rasakan oleh Grace.
Seharusnya Gibran ingin membahas masalah Grace yang berbohong padanya sebab Grace mengatakan berada di rumah namun nyatanya Gibran melihat Grace turun dari taksi. Gibran sudah menunggu Grace tepat di dekat rumah Grace karena ia sangat cemas ketika Grace mengatakan kurang fit maka dari itu ia datang namun Grace tidak mengangkat panggilan darinya.
Dengan kejadian barusan yang terjadi pada mereka kini Gibran enggan lagi ingin membahasnya apalagi rasa canggungnya masih terasa di tambah jantungnya yang berdetak hebat sedari tadi tak terhenti.
"Kita pulang saja, aku akan mengantar mu!" seketika Gibran berdiri dan berjalan begitu saja secara cepat hingga meninggalkan Grace di belakangnya.
Grace membuang nafas panjang berulang kali hingga memukul bagian dadanya sebab terasa amat sesak ia rasakan kemudian ia pun menyusul Gibran setelah perasaannya sedikit lebih tenang.
^^^To be continued^^^
^^^🍁 aiiWa 🍁^^^
...Kutipan :...
Cara yang paling mendasar dan kuat untuk terhubung dengan orang lain adalah dengan mendengarkan, cukup dengarkan. Mungkin hal terpenting yang bisa kita berikan kepada orang lain adalah perhatian kita. ~ Grace Eloise.
kisah perjuangan seorang Grace wanita hebat dan tangguh yang menjalani kehidupannya dg ayahnya dg kekuatannya sendiri...
sangat suka dg cerita seorang wanita tangguh yg sll di suguhkan author u para readers dg jalur cerita yg sangat menarik u di baca...
semangat ya thor u semua karya2 mu yg luar biasa. God bless always.
anak tiri di sayang sayang anak kandung di sia sia kan... sungguh ayah yg tidak bertanggung jawab terhadap anaknya
ngakak aq beb boy dpet baju ocha, warna apa sih.. jan bilang pink boy🤣🤣
untung aja OCHA msh selamat, bhya gk bisa renang