Dimas, pria berusia 42 tahun yang hidupnya hancur dan berakhir sebagai gelandangan setelah dikhianati. Saat segalanya tampak berakhir, ia terbangun kembali di tubuhnya yang berusia 18 tahun, ketika masih menjadi mahasiswa.
Di titik balik hidup itu, Dimas memperoleh anugerah misterius sebuah sistem yang memberinya kekuatan dan peluang finansial luar biasa. Berbekal ingatan pahit masa depan dan kekuatan baru, ia bertekad mengubah takdir, membalas para pengkhianat, serta membangun kembali kekayaan dan kekuasaannya dari nol.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Dimas kemudian mengusap bola voli itu sedikit karena seluruh permukaannya terasa licin oleh keringat. Ia menatap Raga, yang sudah menekuk lutut, siap menerima servis keras darinya.
Kaki Dimas terangkat. Ia berniat melakukan jump serve cepat lagi.
Dimas mengerahkan seluruh kekuatan tubuhnya sekali lagi. Tubuhnya melenting seperti karet ketika ia memukul bola.
Whump!
Kecepatan servis: 119 km/jam
Namun kali ini Raga sudah siap. Ia membaca arah bola lebih cepat, menurunkan badan, dan mengangkat kedua tangannya seperti yang diperintahkan nalurinya.
Pak!
Bola mengenai lengan Raga. Getaran keras membuat teknik receive-nya tampak sedikit goyah, namun bola tetap naik ke udara walau tidak tinggi. Karena timing Raga sedikit terlambat, bola hanya melambung sebentar sebelum turun.
Salah satu pemain belakang langsung maju, melompat, dan mengempaskan bola kembali ke lapangan Raga.
“Out!”
Wasit menyatakan bola keluar setelah menyentuh garis tipis. Raga dinyatakan kehilangan poin.
Raga melemparkan arm sleeve yang mulai robek dan menatap Dimas dengan kesal. Manajernya, yang duduk bersama Henry, berlari mengambilkan sleeve baru dan handuk kecil.
“Kau hampir bikin bola itu balik tajam barusan, bro. Kok malah marah?” kata Dimas sambil terkekeh.
“Hmph.” Raga tidak menjawab. Ia hanya mengambil perlengkapan barunya dari tangan manajer.
Karena ini hanyalah pertandingan ekshibisi antara Dimas dan Raga, mereka memang diberi kebebasan memamerkan keahlian di depan para tamu undangan.
Dimas adalah spesialis servis dan spiker, sementara Raga adalah libero andalan jadi keduanya harus menunjukkan kemampuan terbaik mereka.
“Jangan emosi. Fokus,” bisik manajer Raga sebelum mundur sambil membawa sleeve yang robek itu.
Raga berusaha menenangkan diri. Ia memejamkan mata sesaat sambil menggenggam tangannya, menarik napas panjang.
Di tribun VIP, para tamu terlihat serius. Mereka tidak menyangka akan menyaksikan duel sehebat ini hari ini. Kedua pemain itu benar-benar bertalenta.
“Pak, nama Anda siapa?” tanya Pak Edwin, Direktur Teknik Tim Nasional Junior, kepada Henry yang sejak tadi duduk tenang.
“Henry. Saya pelatih dari Universitas Indonesia” Henry berdiri sambil menjabat tangan Pak Edwin.
Edwin mengangguk dan tersenyum tipis, matanya tetap menatap lapangan.
“Anak itu sangat berbakat. Tapi dia masih butuh polesan, latihan rutin, dan feel permainan yang matang. Saya yakin dia tidak latihan serius lebih dari lima bulan,” kata Edwin sambil tersenyum kecil tanpa sekalipun menoleh ke Henry.
Henry mengerutkan alis. Meski benar bahwa Dimas sempat berhenti latihan selama lima bulan, tapi nada Edwin membuatnya bertanya-tanya. Apa dia sedang mencoba menurunkan nilai Dimas?
“Itu justru bagus,” sahut Bram, Manajer Rekrutmen Liga Pro Garuda, sambil tertawa kecil. “Dia seperti kertas kosong. Semakin mudah dibentuk.”
Kedua manajer umum itu jelas sedang bersaing memperebutkan Dimas dan Raga. Mereka berniat menawar keduanya setelah ekshibisi selesai.
“Maaf, boleh saya bertanya?” Henry akhirnya bersuara. “Kenapa Anda begitu yakin Dimas masih butuh latihan? Menurut saya dia hampir sempurna. Apa lagi yang kurang?”
“Lihat sendiri,” kata Pak Edwin sambil menunjuk lapangan, senyum tipisnya masih ada.
Dimas sudah bersiap dengan bola, sementara Raga masih berdiri dengan mata tertutup, seolah sedang bermeditasi.
Meditasi di tengah pertandingan? Padahal pemanasan seharusnya sudah cukup.
Dimas menarik napas. Karena kecepatan jump serve-nya semakin meningkat, ia sendiri merasa tubuhnya sangat nyaman bergerak.
Raga membuka mata, menepuk pipinya sendiri, lalu menempatkan diri di posisi menerima. Matanya kini tajam dan fokus.
Dimas mengangguk memastikan semua siap. Lalu ia kembali melompat tinggi, bersiap mengeluarkan servis terbaiknya bahkan sengaja mencoba mempermalukan Raga dengan kecepatan lebih tinggi.
Ia mengeksekusi jump serve itu dengan kekuatan penuh.
WHAAAP!!
120 km/jam
Bola mendarat sempurna di kedua lengan Raga. Ia harus menggunakan tenaga ekstrem untuk mengangkat bola itu kembali. Bola melambung tinggi, dan tak seperti sebelumnya, kali ini bola sama sekali tidak mengarah ke pemain belakang bola melesat jauh, menyeberangi seluruh lapangan dan mendarat tepat di garis belakang tim Dimas.
“Ace!”
Dimas menatap Raga tak percaya.
Raga menyeringai puas. Ia mengangkat lengan tangannya yang baru, menunjukkan teknik receive sempurnanya dengan bangga.
“Selesai! Demonstrasi hari ini cukup sampai di sini,” kata Jaenal Purwanto, kepala pelatih Depok Thunders, sambil bertepuk tangan.
Dimas menggertakkan gigi, sebenarnya ingin melakukan satu jump serve lagi, tapi ia menahan diri.
Ia pergi ke ruang ganti bersama para pemain lain. Raga tidak ikut. Para pemain mencoba memujinya, tapi api di dada Dimas belum reda.
Setelah mengganti pakaian dengan kaos biasa, ia menuju ruang pertemuan sederhana tempat para eksekutif tim sedang berdiskusi.
Ruangan itu hanya bermeja bundar dengan beberapa orang sudah duduk. Pelatih Henry langsung bangkit dan menghampiri Dimas.
“Kau baik-baik saja?” tanya Henry, kini sepenuhnya berperan sebagai manajer talenta muda yang berpotensi jadi atlet jutaan rupiah ini.
“Ya, saya baik-baik saja,” jawab Dimas. Padahal hatinya masih kesal karena pada momen terakhir Raga berhasil melakukan ace balasan.
“Justru itu rasanya jadi pemain sungguhan. Api dalam dirimu baru benar-benar menyala. Begitulah mental atlet hebat,” ujar Pak Edwin, Direktur Teknik Tim Nasional Junior, dengan senyum tipis.
“Aku… merasa tidak enak,” kata Dimas. Ia bisa merasakan aura kuat pria itu. Jelas bukan orang sembarangan.
“Edwin Wibowo. Senang bertemu denganmu, Dimas. Dan, yah… aku sudah mengalahkan tawaran dari klub Dakarta. Jadi sepertinya hanya kami yang tersisa.” Pak Edwin mengulurkan tangan.
Dimas berjabat tangan, bingung.
Beberapa menit sebelumnya…
“Sudahi pertandingan sekarang, Jaenal,” kata Pak Edwin sambil tersenyum.
“Mengapa?” tanya Bram, Manajer Rekrutmen Liga Pro Garuda, terkekeh. Ia sudah menebak Edwin punya rencana agar Dimas mengalami tekanan pertandingan sebelum nego kontrak.
“Ambil anak itu. Aku butuh spiker, bukan libero. Aku tidak akan menawar Raga. Jadi anggaranku utuh. Aku bisa keluar sampai Rp100 miliar kalau perlu,” kata Pak Edwin santai.
Bram terdiam sejenak, lalu mengangguk.
“Kalau begitu aku juga butuh libero. Lukman! Tawarkan Rp70 miliar ke Raga dan akhiri sandiwara ini!” perintah Bram sambil beranjak.
Kedua klub awalnya hadir untuk menawar Raga. Tapi Pak Edwin sama sekali tidak menginginkan Raga, membuat persaingan bergeser dan suasana berubah.
Bram menyebut angka Rp70 miliar keras-keras agar Pak Edwin mendengar sebagai pernyataan bahwa Raga sudah tak bisa disentuh lagi.
Kembali ke saat ini…
“Dimas,” kata Pak Edwin pelan, “aku akan memberimu tawaran yang tidak mungkin kau tolak. Kita akan membuat sejarah.”
“Begitukah?” Dimas menelan ludah. Ia tidak paham apa yang dimaksud Pak Edwin.
Pak Edwin mencondongkan tubuh, tersenyum tipis.
“Satu Triliun. Itu tawaranku.”
Ruangan mendadak sunyi.
Satu-satunya suara yang terdengar adalah napas orang-orang yang tertahan.
btw kenapa kolom komentarnya sepi yah