Mikael Wijaya, putra milyuner dari Surabaya Wijaya Agra mengalami kecelakaan di Dubai setelah memergoki calon istrinya berselingkuh. Kecelakaan fatal itu membuatnya hilang ingatan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Khawatir
Adelia masih menatap kepergian Kael yang nampak agak sempoyongan.
"Dia ngga akan apa apa?"Adelia jadi ragu, apakah dia akan menyusul Kael atau balik ke tempat Ayra yang menunggunya.
Tapi dia sudah lama membuat Ayra menunggu.
Semoga kamu ngga apa apa, batin Adelia setelah memutuskan akan ke tempat Ayra saja. Tapi perasaannya ngga tenang. Jantungnya berdebar cepat karena mengkhawatirkan Kael
Tapi Adelia tidak mungkin akan membiarkan Ayra sendiriannya. Hati sepupunya juga lagi bete.
"Lama banget? Dari mana? Ini jas siapa?" Ayra malah memberondongnya dengan banyak pertanyaan begitu Adelia tiba di depannya.
"Ceritanya panjang." Adelia melipat jas itu dan memasukkannya ke dalam goodie bag yang selalu dia bawa di dalam tasnya.
Dia pun meneguk minumannya, kemudian memakan kuenya, mengabaikan Ayra yang masih sabar menunggu jawabannnya
Perasaannya benar benar ngga tenang.
Dia pasti baik baik saja, kan?
"Del...... Cerita, dong." Akhirnya Ayra tidak sabar juga menunggu jawaban Adelia.
Adelia menghela nafas.
"Tadi ada cewe mabok ngga sengaja dorong aku." Adelia terdiam lagi untukmencari kalimat yang tepat.
Ayra masih menyimak.
"Aku menubruk Kael. Itu lho, temannnya Levi. Ini jasnya," sambung Adelia menjelaskan.
Ooo, batin Ayra. Kebetulan banget.
Hening.
"Jasnya mau kamu apain?" tanya Ayra sambil memotong cakenya.
"Dia minta aku laundrykan. Ya udah lah, terpaksa aku iya, kan."
Ayra tertawa pelan.
"Setelah itu mau kamu antar ke mana? Rumahnya atau ke tempatnya bekerja?"
Adelia melepaskan nafas kesal.
"Katanya suruh aja ojol antar ke tempat dia bekerja."
Ayra tertawa tergelak mendengar suara sewot sepupunya.
*
*
*
Kael memijat keningnya sambil berjalan ke parkiran.
Masa mabok baru minum sedikit, gerutunya.
Kael kemudian menyandar sebentar di badan mobilnya masih sambil memijat kepalanya.
TUK TUK TUK
Kael memukul kepalanya berulang kali.
Kenapa masih belum ingat juga, makinya dalam hati.
Dia menghembuskan nafas panjang sebelum membuka pintu mobil.
Tapi dia menahan sebentar pintu mobilnya, kemudian menatap ke arah pintu masuk bar.
Dia tersenyum dengan pikiran konyol yang tiba tiba saja terlintas begitu saja di kepalanya. Mengira Adelia akan muncul karena mengkhawatirkannya.
Dia tertawa miris. Yakin dia sekarang kalo nanti jasnya beneran akan diantar ojol.
Kael menginjak gasnya lebih dalam hingga mobilnya melaju kencang. Satu tangannnya masih memijat keningnya.
Rasanya bukan karena mabok alkohol, tapi lebih dari ini. Ingatannya yang belum juga kembali sangat mengganggunya.
Juga keluarganya yang sampai sekarang tidak mencarinya.
Kadang Kael berpikir dia memang tidak punya keluarga. Mungkin mereka semua sudah meninggal.
Karena tidak fokus, kecelakaan yang dulu pernah dia alami hampir terjadi lagi. Untungnya Kael hanya menyerempet pembatas jalan yang terbuat dari beton.
"Sh-ith!" makinya geram. Keningnya kebentur stir, semakin memperparah sakit di kepalanya. Dia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Beberapa orang menemuinya.
TOK TOK TOK
"Anda tidak apa apa?"
Kael tersentak. Dia menurunkan kaca jendela mobilnya. Ada beberapa orang laki laki mengerubunginya dengan tatap khawatir.
"Kening anda luka, mas," ucap laki laki paruh baya itu lagi.
Kael mengusap kening yang ditunjuk laki laki paruh dan melihat tangannya.
Ada noda darah.
"Saya tidak apa apa, pak. Hanya pusing saja," ucap Kael pelan.
Laki laki itu dan beberapa yang lainnya agak lega.
"Sebaiknya telpon temannya aja, mas. Bahaya nyetir dalam keadaan sakit," ucap yang lainnya.
"Iya, pak. Saya ngga apa apa."
Orang orang itu masih mengerubungi mobil Kael ketika laki laki itu tetap berkeras akan pulang.
"Kael?"
Flashback on
"Ada kecelakaan, ya?" tanya Ayra.
Dada Adelia berdebar.
"Ay, berhenti bentar," pinta Ayra panik.
"Ngapain, Del?" Tapi Ayra berhenti juga di belakang mobil yang sedang di kerubungi beberapa orang.
"Tadi itu.... si Kael kayak mabok. Cuma mastiin aja dia atau bukan. Aku hanya merasa bersalah aja sudah membiarkannya pergi dalam keadaan mabok."
Ayra menatapnya penuh selidik. Apalagi sepupunya buru buru melepas seatbeltnya.
"Ngga apa apa, 'kali, Del. Sepupu kita biasa aja mabok begitu," ucap Ayra agar Adelia tidak terlalu naif.
Adelia tersenyum bijak.
"Aku hanya mau mastiin bentar aja, ya. Siapa pun itu, kasian juga kalo ngga ditolong."
"Oke, oke." Ayra akhirnya membiarkan Adelia keluar dari mobilnya. Susah dikasih tau kalo jiwa malaikatnya udah keluar.
Ayra tetap berada di mobil menunggu.
Endflashback
Kael yang sedang berdebat dengan orang orang itu menoleh. Begitu juga orang orang itu.
"Teman mbaknya, ya?" tanya salah satu laki laki yang berada di sana.
Adelia mengangguk. Tatapnya beradu dengan tatap kaget Kael.
"Untunglah. Teman mbaknya terluka, tadi habis nabrak pembatas jalan, tapi tetap mau jalan lagi," lapor yang lainnya menjelaskan.
"Iya, mbak. Ditolong, ya."
"Terima kasih, ya, pak," ucap Adelia pada orang orang itu yang mulai pergi dengan wajah lega.
"Sama sama, mbak....."
Adelia menatap kepergian orang orang yang membuat hatinya terharu. Ternyata masih ada saja orang yang peduli. Walaupun ada beberapa yang merekam. Mungkin juga live.
Adelia berbalik menatap Kael yang masih menatapnya. Tangannya terulur.
"Apa?" tanya Kael bingung. Darah masih menetes di kepalanya. Tangan kanannya digunakan untuk menempelkan tisu di keningnya. Tisu itu sekarang sudah berwarna merah karena sudah menyerap darah. Kepalanya juga agak berdenyut sakit.
"Mana kunci mobil?" Adelia jadi gemas juga melihat kebengongan Kael.
"Buat apa?"
Tapi untungnya walaupun kepalanya sedang berdenyut, tangannya masih mengerti apa yang harus dia lakukan.
Setelah menerima kunci mobil dari Kael, Adelia menghampiri Ayra yang sudah keluar dari mobilnya.
"Si Kael?" tebak Ayra.
"Iya." Adelia menunjukkan kunci mobil Kael.
"Ikutin mobil itu, ya. Aku mau mampir ke klinik."
Ayra tersenyum penuh makna.
"Oke."
Adelia ngga pedulikan isi pikiran Ayra, dia berbalik dan melangkah agak cepat ke arah mobil Kael. Laki laki itu juga sudah keluar dari dalam mobil dan memperhatikan dia dan Ayra.
Kerika melihat Adelia melangkah mendekat, Kael berjalan ke arah pintu mobil di sebelahnya.
Sebelum masuk ke dalam mobil, Adelia melihat sepupunya dulu yang sudah berada di dalam mobil.
Kael hanya diam memperhatikan Adelia menjalankan mobilnya. Dalam hatinya masih merasa surprise, karena ngga menyangka bertemu dengan Adelia. Juga mendapatkan perhatiannya. Kael tersenyum sambil melihat ke arah luar jendelanya.
Dia masih mengusap darah di keningnya dengan tisu yang kini bekas tisu lama itu menumpuk di dalam kotak sampah kecil di dekatnya.
"Kita mau kemana?" tanya Kail karena dia baru ingat belum tau kemana tujuan Adelia membawa mobilnya.
"Klinik."
"Ke apartemenku aja." Kael menyebutkan nama apartemen mewah di Jakarta selatan.
"Lukamu harus diobati."
Kael mendengus, ingin membantah tapi dia malas berdebat.
Kyknya Kael ingat Adel deh