Novel mau bahagia denganku? sayang? Izin masuk ya, hallo kembali ke apel cantik!
Ayahnya berinvestasi hingga berhutang sampai 10 milliar, karena tak sanggup membayar pria itu malah menjual Aluna ke anak buah penagih hutang. Malam harinya pintu tanpa diketok, masuk nyelonong begitu saja, seorang pria melemparkan koper didepan meja yang berisi uang 10 milliar.
Kontrak pernikahan tak boleh dilanggar.
1. Tak ada kontak fisik
2. Dilarang jatuh cinta
3. Dilarang mengintip kehidupan pribadi masing-masing.
Durasi kontrak: 1 Tahun
Setelah masa kontrak selesai akan dibayar 1 Triliun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon apelcantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. Minta elus :()
Happy Reading guys! Aww sakit jangan dicubit ya... Nakal kalian😳

Napas Arkan bisa ia rasakan dari pundaknya, ia sedikit memandang ke belakang, lekas berdiri mencopot perlahan gaun yang dia pakai.
"Mas? Kamu bisa jauh dikit gak? Aku mau lepas gaun sedikit gak nyaman kalau dilihat... "
Arkan berdecak, pria itu tak jadi pergi kala matanya menangkap punggung kecil wanita itu yang lecet semua, Aluna yang merasa pria itu sudah pergi, malah kaget dengan sentuhan lembut darinya menyentuh punggungnya.
"Akh—"

Aluna mendekap bibirnya cepat, Arkan berdecak.
"Disentuh dikit aja udah desah, ga jelas. "
"Ma—mas itu juga yang salah tiba-tiba sentuh aku! Siapapun juga bakal kaget Mas! " kata Aluna kencang, dia melilit belakang pundaknya.
"Punggungmu... "
Aluna baru sadar kalau sekujur tubuhnya penuh lebam merah, ia menutupi semuanya tak ingin pria itu melihat bagian paling menyakitkan dari dirinya.
Aluna memejamkan mata perlahan, "Mas bisa mandi dulu. "
Arkan membola mata malas, "Disana ada kotak P3K, obati lukamu saya benci kalau lihat orang ada bekas-bekas merah di punggungnya. "
Aluna angguk kepala, setelah pria itu pergi akhirnya Aluna bisa terduduk dengan tenang—ia menyeka air matanya, gaun keramat yang dia pakai di hari pernikahan pertamanya sangat membuatnya rugi, seolah apa yang orang-orang harapkan bahwa menikah akan membawakan kebahagiaan.

Berbeda dengannya yang sekarang menatap lampu kamar dinding dengan mata kosong.
1 jam kemudian Arkan keluar dari kamar mandi dengan jubah mandi, pria itu mengeringkan rambut dengan handuk—langkahnya berjalan ke sisi ranjang, yang di sana ada segelas wine dan dua botol wine mahal.

Cepat-cepat Arkan menuangkan salah satunya ke dalam gelas berisi es batu lalu meneguknya cepat, setelah mandi meminum wine memang sangat mantap, pikir pria itu kembali menelan seteguk wine sampai terlihat jakunnya turun-naik saat dia meminumnya.

Aluna berdiri, dia mengambil handuk dan pakaian tidur, akan bergegas ke kamar mandi namun langkahnya terhenti saat Arkan yang sudah minum tiga gelas wine memberitahu sesuatu.
"Kita tidak boleh sampai keluar dari sini malam inj, saya takut kalau Kakek tiba-tiba masuk dan mengecek kita berdua, jangan sampai ada yang keluar hingga nanti pagi, mengerti Aluna? Pakai pakaian minim saja, nih. " ucap Arkan melemparkan baju dinas yang warnanya merah merona, sangat mencolok dengan kepribadian wanita itu.
Aluna terkejut, apa mereka akan melakukannya? Namun pikirannya ditepis oleh Arkan saat dia melanjutkan ucapannya.
"Jangan berpikir macam-macam, malam ini kita tidak melakukan apapun untuk memastikan saja kalau ada suruhan Kakek datang kesini untuk mengawasi diam-diam kita bisa mengantisipasi hal itu. "
Aluna meneguk ludah pelan, 'Oh rupanya hanya aku yang berpikir macam-macam.. haha... dasar jalang, memang pantas aku disebut jalang. ' pikirnya pelan, dia masuk ke dalam kamar mandi dan membanting pintu kencang tanpa ia sadari, Arkan sempat terkejut akan protes tapi wajahnya sudah merah karena alkohol.
Di bawah guyuran air hangat dari shower, Aluna merasakan setiap derasnya air yang membasahi tubuhnya, ia meringkuk ke bawah merasa dirinya sendiri terhina. Ia menaikkan kedua tangannya ke atas merasakan setiap melodi yang dia alunkan di dalam kamar mandi.

...****************...

Setelah memakai sesuai permintaan suaminya, ia melihat ke Arkan yang menghabiskan sisa botol alkohol terakhir, Aluna menutupi dirinya sendiri yang berpakaian baju dinas dengan handuk mandi. Ia akan melepasnya setelah sampai di atas ranjang.
Aluna pelan-pelan masuk ke dalam ranjang, tak mau pria itu sadar akan kehadirannya sudah mau tidur duluan, namun rupanya Aluna salah saat ia naik di atas ranjang berhiaskan bunga mawar pria itu menoleh ke belakang sambil bersendawa.

"Kenapa? Itu kau, hm? "
Aluna terkejut, dia lekas segera menenggelamkan dirinya di dalam selimut tebal, ia menutup cepat saat diam-diam tangan Arkan menghampiri wanita itu dan menyentuh punggungnya. Aluna terkejut saat pundaknya disentuh, dengan berbalut selimut Aluna yang seperti kimbap itu dimiringkan. Mata mereka saling bertemu saat itu, Aluna meneguk ludah.

"Clarissa... maafkan saya... "
"Cla—"
Aluna terperangah, ia bangun mendorong bahu pria itu sampai membentur ke belakang. Aluna mendesah berat, mendengar nama Clarissa saja sudah membuatnya malas apalagi Arkan berkata seperti itu padanya di malam pertama mereka, tentu saja siapa yang akan senang?
Aluna kembali tidur, dia merebahkan kepalanya mencoba menutup mata erat-erat. Arkan kembali menghampirinya, menggoyang-goyangkan dirinya saat sudah mau mencapai alam mimpi.
"Apa sih Mas?! Tidur jangan ganggu—"
"Akh! "
Kedua tangan Aluna dibekap, Arkan yang kepalang mabuk itu bersendawa kecil. "Kenapa kamu tidak mencintaiku... kenapa kamu meninggalkanku Clarissa... apa saya kurang di matamu? "

"Aku tidak tau! Jangan tanya aku!! " seru Aluna, dia memalingkan pandangan saat pria itu akan menciumnya. Napasnya tersengal-sengal saat ia berusaha menghindari pria itu yang beringas di atas dirinya.
"Mas tolong berhenti, kalau Mas begini setelah mabuk kenapa harus minum alkohol? "
Arkan tidak mendengarkan, dia mengusap pipi Aluna lembut—mendapat sentuhan yang tak pernah ia dapatkan selama bersama pria itu membuat matanya perlahan membuka, Aluna tak yakin kalau pria yang menindihnya sekarang adalah pria itu.
Mata pria itu turun ke bawah, membuka handuk mandi wanita itu, Aluna yang belum siap terkejut karena kulitnya sangat terlihat jelas saat menggunakan pakaian dinas.
"Mas... jauh! "
"Aku sayang kamu, aku rindu kamu... aku mohon elus aku sayang... "

"E—lus? " Aluna terkejut, dia kaget saat tangannya ditarik dipaksa mengelus kepala pria itu seperti anak anjing. Aluna terperangah dengan apa yang dia lakukan saat ini, 'Lembut sekali rambut Mas Arkan... nggak! Aluna tahan, apa yang kamu lakukan sebenarnya?! Tolak dia! ' Aluna melepaskan diri, tapi tangannya ditangkap lagi kali ini punggung tangannya dicium.

"Walau aku merasa ini mimpi, aku yakin kamu yang asli Clarissa... aku tau itu, kamu tidak akan pernah meninggalkanku... aku mohon kembalilah seperti dulu... aku rindu denganmu yang dulu... " seru Arkan, pria itu sampai memeluk Aluna erat dalam dekapannya.
Tentu saja Aluna terkejut, tangannya berusaha melepaskan pelukan pria itu yang nampak sangat erat hingga merobohkan keseimbangan mereka berdua, Aluna bersamaan dengan Arkan bila mabuk sangat kekanakan hingga membuat mereka jatuh bersama, mata mereka bertemu dan baru kali ini Aluna tersipu memerah saat pria itu memberikan senyum yang sangat manis padanya.
"Aku sayang kamu... "
"Clarissa—"
Namun nama terakhir itu seketika membuat harapan Aluna runtuh, bukan nama dia yang disebut?
Ah kenapa bisa Aluna kepedean sekali? Ia mengelus air matanya yang jatuh, tangannya kembali memeluk punggung pria itu yang tertidur di atasnya, 'Apa boleh aku berharap? Walau hanya semalam? ' pikir Aluna, dia memejamkan mata.
...****************...
Dari balik layar CCTV, tak cucunya tak kakeknya sama saja. Setelah layar dimatikan oleh Dion, Kakek Seo marah-marah di sana. "Kenapa kau matikan Dion! Lagi asyik-asyiknya—"
"Sudah Tuan, kembalilah ke kamar tidur Anda... "
"AKU MAU TAU PROSES CICIT KU DIBUAT!! "
Mendengarnya, Dion langsung tepuk jidat sendiri. Pria itu menarik kursi roda yang Kakek Seo pakai, walau masih memberontak ingin melihat lebih jauh peraduan malam pertama Aluna dan Arkan, dengan cerdiknya akhirnya Dion sempat menghalau kalau tidak pasti akan sangat gawat bila pria tua itu tau kalau mesra-mesraan cucunya hanyalah kebohongan.

...****************...
Dia mengusap matanya ketika membuka mata, ia melihat seorang wanita cantik dengan blus orange berada di sebelahnya, wanita elegan itu mengangkat dirinya ke dalam pangkuan.

Di depan mereka ada sekuntum bunga daisy, tangan wanita itu terulur memetik satu tangkai, untuk anaknya.
"Aluna... lihat cantik kan? "
"Iya Ibu! "
Ibu?! Aluna seketika terperanjat, ia menoleh ke belakang benar itu ibunya, dirinya segera memeluk sang ibu saking rindunya dirinya dengan wanita itu yang sudah berstatus mendiang.
"Ini Ibu? Ibu kan! Ibu aku... aku susah tanpa Ibu, aku kesulitan... "
"Kesulitan bagaimana Aluna? Ceritakan pada Ibu, Ibu akan menolongmu... "
Aluna geleng kepala, ia rasa ibunya tidak akan pernah membantunya sama sekali. Penderitannya selama bersama Arkan demi pernikahan kontrak itu, ia ingin menangis hanya di pelukan orang yang benar-benar menyayanginya.
"Bu... hiks—kembalilah Bu... aku ingin Ibu menyelamatkan aku... aku ingin dibawa Ibu pergi, "
"Hm? Memang Ibu kemana? " tanya wanita itu seolah pura-pura bodoh, Aluna menepis air matanya—ia yang masih kecil perlahan berubah menjadi versi dewasanya.
"Ibu sudah pergi! Aku mohon bawa aku sekalian kemanapun! Asal bersama Ibu tak apa—"
Aluna terdiam saat pipinya dielus pelan oleh wanita itu, ibunya tersenyum manis. "Cantik sekali putri Ibu... cantik sekali, putri kecil Ibu... Ibu juga ingin menghadiri pernikahanmu sayang, kalau saja Ibu bisa... "
"Ibu—aku tak mau menikah. "
"Kenapa? "
"Karena—"
"Ayahmu tak datang? "
Aluna terdiam, dia geleng kepala. Wanita itu mengecup pipinya pelan, "Sayangku... kamu sudah menemukan orang yang pas untukmu, perjuangkan dia ya? "
"Apa maksud Ibu? AKU MAU BERSAMA IBU SAJA! BAWA AKU BU! —"
Perlahan wajah ibunya memudar, Aluna ingin mengejar tapi dia terkejut saat ia masih dalam keadaan memeluk tubuh Arkan yang sudah berpindah tempat.
Arkan juga baru bangun dengan mengernyitkan alis, Aluna segera lekas bangun. Arkan membuka mata, "Apa yang kamu lakukan pada saya semalam?! "
"Ap—apa? "
"Kamu berbuat macam-macam kan! " seru pria itu, dia membuka celananya dan ia bersyukur masih aman. Aluna memejamkan mata erat, merasa pening sendiri.
"Mas itu yang aneh, semalam saat Mas mabuk pengennya dielus mulu... "
"Hah? " pipi Arkan langsung memerah, dia melemparkan bantal ke wanita itu hingga terjungkal ke belakang.
"Jangan alasan saja kamu! Mau mengecoh saya sepagi ini hah?! "
'Ck, dibilang kok ga percaya... ' pikir Aluna, dia memegang pinggangnya yang kesakitan.
Arkan segera berlari masuk ke dalam kamar mandi, Aluna mendesah berat dia mengingat mimpi semalam dengan mendiang sang ibu yang masih membekas. Aluna mengusap air matanya agar tidak jatuh seenaknya.
'Kenapa Ibu harus muncul kemarin malam di mimpi ku? Apa Ibu juga merestui pernikahanku ini dengan Mas Arkan? ' Pikirnya pelan, sambil menoleh ke belakang.
...****************...
Mereka berdua turun bersama melalui anak tangga, di tengah jalan Arkan memberikan lengannya. Aluna menangkap lengan itu dan melingkarkan tangannya.
Mereka berdua sudah rapi ala pasutri lain yang baru menikah, melihat keduanya muncul saja Kakek Seo langsung berdiri tapi jantungnya kumat seketika, Kakek Seo memilih kembali duduk daripada berulah di umurnya yang sudah tua.
"Akhirnya kalian datang juga... uhuk! Cepat, kalian makan! Cepat!! " seru Kakek Seo, mata kakek yang sudah tua tak perlu diremehkan melihat cupang kecil di leher Aluna kakek malah tertawa ga jelas.
Aluna tersenyum di hadapan Kakek Seo, melihat makanan yang tersaji di atas meja membuat perutnya keroncongan entah mengapa, apa karena lelah dengan kejadian semalam?
Kakek Seo di sela mereka sarapan malah membuat mereka kembali memuntahkan makanan mereka dari mulut, "Bagaimana Arkan? Enak kan pengalaman pertamamu? Dengan begitu kau tidak lagi perjaka sekarang! Hahaha! "
Aluna mencibir dari dalam hati, 'Perjaka? Tidak mungkin pasti Mas Arkan di belakang suka main dengan perempuan juga... ' ucap Aluna kembali menyuapkan nasi pulen di dalam bibir kecilnya.
Arkan tertawa, dia mengusap tangannya dengan tisu. "Ya begitulah Kek... banyak sekali yang harus kami rahasiakan dari Kakek karena ya begitulah harus kami sensor, "
Kakek tertawa menepuk lengan pengawalnya kencang, "Hahaha, kok rahasia-rahasiaan gitu sama Kakek sih Arkan! Gemas dehh!! "
Aluna tersenyum tapi punggungnya ditepuk dari belakang oleh pria itu, "Aww! Sakit! Punggungku sakit Mas! " seru Aluna spontan, dia mengelus pinggangnya yang memang benar-benar sakit karena kejadian tadi. Mendengar hal itu Kakek tambah mesam-mesem.
"Aduh Arkan, pasti kamu mainnya keras... "
"Tidak Kek, padahal tidak sekeras itu tapi Alunanya aja yang kecil... " goda Arkan, padahal jelas terdengar mengejek. Aluna berani membalas,
"Tapi kalau Kakek tau juga semalam Mas Arkan minta dielus mulu kepalanya... haha memang mas Arkan itu banyak kutunya ya..." reaksi masam Arkan jelas yang Aluna inginkan. Kakek tertawa, "Ya kalau itu Kakek sudah tau. "
Mendengar Kakek Seo berbicara seperti itu, keduanya langsung memandang pria tua itu. Lekas Kakek Seo segera mengalihkan ke hal yang lain. "Maksud Kakek, Kakek dulu juga mengalami hal seperti itu dengan nenekmu Arkan! Kakek jelas tau dong! "
Mereka berdua tak curiga sama sekali, percaya-percaya saja.
...****************...
Tiba-tiba seorang kurir datang membawakan pesanan dari client, membawa paket yang berukuran sangat besar. Ukurannya sebesar dua kaki, Kakek Seo juga penasaran semewah apa kado yang dibawakan, setelah Arkan membukanya mereka terkejut mendapati bahwa isi hadiahnya tak lain adalah manekin plastik yang didandani dengan pakaian tak pantas untuk diperlihatkan di depan publik.
Di balik rantai bra terdapat surat terselip, saat Aluna membukanya dia menyipitkan mata.
"Selamat ya atas pernikahan kalian... ups maaf kalau hadiah ini telat, seharusnya dipakai saat malam pertama ya? Tapi its oke, kamu bisa memakainya lagi Aluna sambil memutari badan Arkan seperti jalang kepanasan... hahahaha, padahal cuma nikah kontrak tapi menggatalnya sangat luar biasa sekali ya Aluna? Apa Kakek tau ya kalau kau itu jalang murahan dijual murah di kampus dulu, waw gempar nih.."
Arkan yang juga ikut membaca menarik kertas dari tangan dari wanita itu dan dia remas-remas sampai tak berbentuk.
Aluna mendesah kecil, pasti pengirim hadiah menjijikkan ini adalah Clarissa bukan? Kakek Seo mendekat, menanyakan perihal isi surat tersebut apalagi melihat bentukan hadiah yang sangat tak pantas tersebut jelas Kakek Seo penasaran siapa pengirimnya.
Arkan mengangkat tangan Aluna ke atas, "Kek kami ingin segera cepat honey moon... "
Aluna melotot, dia sampai menoleh. "Sekarang?! "
"Iya, sekarang. "
Kakek Seo tepuk tangan bahagia. "Kamu ini ya Arkan! Memang suka tergesa-gesa sampai pengen nambah ronde kedua ya! "
Arkan angguk kepala, "Ya Kek... kalau sekarang berangkat boleh kan? "
"Oh hohoho jelas boleh dong... " kedip-kedip sang kakek pada mereka berdua. Aluna menatap tak percaya bahwa honey moon mereka akan terbang lebih awal dari yang dijadwalkan.
'Kenapa tiba-tiba? '