Hani Ravenna Arclight memiliki IQ 278 dan hidup dengan dua wajah. Di balik layar dunia digital, ia dikenal sebagai The Velvet Phantom, hacker profesional yang bergerak tanpa jejak. Di dunia nyata, ia menyembunyikan identitasnya dan menjalani hidup sederhana di sebuah kampung, menutupi masa lalu dan nama besar keluarganya.
Pertemuannya dengan Darren Maximilian Vireaux mengguncang ketenangan yang ia bangun. Darren memaksanya kembali menghadapi dirinya sendiri bukan sebagai bayangan, melainkan sebagai Hani Ravenna Arclight yang sesungguhnya.
Di antara rahasia dan pilihan, Hani harus menentukan: tetap bersembunyi, atau berani kembali ke cahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon woonii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Vireaux Dominion atau Obsidian Veil
"Bawa pulang calon suami mu ke kampung ini" jawab Mutia santai, seolah tak peduli bahwa sang sahabat sudah memiliki calon suami atau belum.
...--------------------------------...
tak
Hani menyentil kening sahabatnya itu. "Rupanya kamu juga sama-sama gila kaya pemuda kampung ini"
Mutia meringis karena sentilan Hani yang cukup kuat. "Ya siapa tau kamu udah punya calon suami dikota, orang cantik seperti mu kan pasti laku" ucapnya.
Hani memutar malas bola mata nya, bisa bisa dia melupakan misinya karena sahabat absurd ini. "Ah sudahlah, sekarang bantuin aku untuk membereskan barang-barang ini"
Mutia hanya menurut akan perintah sahabat nya itu, mereka akhirnya meletakkan barang-barang Hani ke dalam kamarnya. "Jadi kamu kembali ke kampung ini untuk melatih fisikmu?" tanya Mutia ketika sudah selesai membereskan barang barang itu.
Hani menoleh ke arah Mutia yang sedang rebahan santai dikasur tidurnya, ia menyeret kursi didepan meja rias kemudian duduk disana. "Iya aku harus mempersiapkan diri mulai sekarang, selama bertahun-tahun ini aku terlalu santai tanpa persiapan." jawab Hani.
Mutia menghela nafas, mengapa menurut nya hidup sang sahabat sangat amat lah sulit. "Aku tidak tahu sesulit apa kehidupan mu itu, tapi yang jelas aku pusing memikirkan nya" ucap nya sembari menatap langit-langit kamar Hani.
Hani terkekeh kecil melihat Mutia, memang sahabat nya itu hanya mengetahui 10% tentang kehidupan Hani dan misteri lainnya masih tertutup rapat. "Aku juga ga nyuruh kamu untuk memikirkan kehidupan ku" balas Hani.
"Hmm iya deh, jadi kamu mau latian fisik sendiri atau bareng sama para pemuda-pemudi kampung ini?" tanya Mutia.
"Kaya nya lebih baik kalau aku latihan sendiri deh Mut, lagian para pemuda kampung udah gila kalau ketemu aku" jawab Hani sembari terkekeh lucu, sedari dulu memang para bujang desa banyak yang mengejar nya.
Mutia mengubah posisinya menjadi duduk. "Jadi kamu latian di rumah gitu?"
"Ga juga, mungkin aku latihan dihutan kampung ini. Kamu mau ikut ga?" tawar Hani.
"Wah gila kamu, masa harus latihan dihutan sih. Emangnya mau latihan apa sampe ke hutan?" ucap Mutia tak percaya.
"Latihan menembak dan bertahan diri dari hewan buas" jawab Hani santai, ia mengingat sewaktu ayahnya masih hidup selalu mengajaknya untuk berburu dihutan sekaligus mengajari nya cara menembak mangsa yang bergerak.
"Berarti bawa pistol ya? tapi emang kamu ga takut?" tanya Mutia yang bergidik ngeri.
Hani tersenyum tipis, dia lebih takut untuk tidak bisa bertahan demi keluarga nya dibandingkan takut dengan pistol dan hewan buas. "Untuk apa takut?" tanya balik nya.
Mutia melongo dan bingung akan menjawab apa, sahabat nya ini memang benar-benar mental baja menurutnya.
"Sudah lah mut, gausah melongo gitu kaya anak sepesial tau. Aku mau siap siap dan langsung pergi ke hutan." ucap Hani.
"Hah sekarang banget nih?" tanya Mutia yang selalu dikejutkan akan keputusan Hani.
"Kalo ga sekarang kapan lagi? aku ga punya banyak waktu untuk santai tanpa ada beban" jawab Hani yang kemudian pergi ke kamar mandi untuk mengganti pakaian nya
Mutia tampak termenung sembari menunggu sahabat nya itu keluar dari dalam kamar mandi. Beberapa waktu kemudian Hani keluar dengan menggunakan tank top dan dilapisi dengan jaket kulit bewarna hitam dan mengenakan celana panjang bewarna hitam, kini Hani tampak seperti pemburu liar.
"Wah kok jadi ga anggun lagi kaya tadi sih han" protes Mutia.
Hani tak bergeming, ia pergi duduk didepan meja rias nya kemudian mengganti style ikatan rambut nya menjadi kuncir kuda. "Perfect" satu kata yang keluar dari mulut nya.
Hani berdiri lalu menghampiri Mutia yang sedang menatapnya aneh, "Kamu mau ikut ga? seru lo seperti berpetualang" ajak Hani.
Mutia reflek menggeleng cepat. "Eh aku ga mau ikut, nanti badan slay ku ini lecet" tolaknya.
Hani sedikit terkekeh, rupanya ia harus latihan sendiri tanpa ada yang menemaninya. "Baiklah baiklah, kalau begitu aku harus pergi sekarang. Byee" ucap Hani yang langsung meninggalkan Mutia yang masih berada di dalam kamar nya.
Hani melangkah keluar, ia menuju arah belakang rumahnya. Tampak beberapa semak belukar dibelakang kandang sapi milik ayahnya, ia menyingkirkan semak semak itu dan terlihat sebuah jalan rahasia yang sedikit gelap.
Sedangkan Mutia buru buru meninggalkan rumah Hani ketika sang sahabatnya itu langsung pergi meninggalkan nya.
Hani berjalan melangkah ke jalan itu, tak lupa dengan membawa pistol kesayangan nya untuk latihan. Tanpa dia sadari anak-anak buah Darren yang diperintahkan untuk menjaga dan mengawasi setiap gerak gerik Hani melaporkan kegiatan tersebut kepada Jack.
•
•
Tepat di perusahaan Cakrawala Holdings, Darren sedang berkutat pada berkas di tangan nya. Dia menandatangani berkas-berkas penting diruangan nya.
Toktoktok
Seseorang mengetuk pintu ruangan Darren, "Masuk" ucap Darren tanpa mengalihkan pandangan nya pada berkas-berkas dihadapan nya.
Jack masuk ke dalam ruangan tuan nya, dengan cepat ia melangkah dan berdiri di depan Darren dengan tatapan menunduk. "Tuan saya ingin memberikan informasi mengenai nona Hani" ucap Jack.
Mendengar nama gadisnya di sebut membuat Darren langsung menghentikan pekerjaan nya dan langsung menatap serius ke arah Jack. "Apa gadisku baik-baik saja?" tanya nya.
"Para anggota bayangan yang memantau dari jauh mengabarkan bahwa beberapa menit lalu nona Hani keluar rumah dengan menggunakan pakaian serba hitam, rambut kuncir kuda, dan juga sepatu boots tuan. Nona Hani pergi ke arah belakang rumahnya dan menyingkirkan semak semak belukar yang tak jauh dari kandang sapi milik orang tua nya, rupanya di sana ada sebuah jalan rahasia yang anggota bayangan kita belum tau arah jalan itu. Tapi nona Hani masuk ke dalam jalur itu kemudian menutup kembali dengan semak semak dari dalam." Jack melaporkan seluruh informasi yang diberikan oleh anggota bayangan.
Darren menangguk mengerti. 'Jalan rahasia apa? dia benar-benar penuh misteri ' batin Darren. "Ikuti ke manapun gadisku pergi, aku tidak ingin dia terluka." ucap Darren.
dreett dreettt
drett
Getar ponsel milik Jack yang berada digenggaman nya, Jack melihat tertera nama Theo dilayar ponsel nya yaitu ketua dari anggota bayangan yang diperintahkan untuk menjaga Hani. "Tuan Theo menghubungi saya" lapor Jack pada Darren.
"Angkat, aku ingin mendengar nya" jawab Darren.
Jack segera mendekat dengan berdiri tepat dibelakang kursi kerja Darren kemudian mengangkat telepon tersebut dan mengaktifkan loudspeaker.
"Katakan" ucap Darren yang tidak sabaran.
Theo sedikit gelagapan ternyata yang mengangkat telepon nya adalah tuan Darren bukan asisten Jack. "Kami telah menyelidiki jalan rahasia yang dilalui oleh nona Hani, tuan. Ternyata jalan tersebut merupakan jalur ke arah hutan kampung dan sepertinya nona Hani juga membawa sebuah pistol yang diselipkan pada jaket nya" ucap Theo yang merupakan ketua anggota Obsidian Veil (unit elit rahasia milik Vireaux Dominion organisasi mafia Darren).
"Ikuti terus gadisku, jika sampai dia tergores maka kalian yang akan menanggung akibatnya" jawab Darren yang tidak segan-segan akan ucapannya.
"B-baik tuan" ucap Theo yang sedikit gugup, kini anggota Obsidian Veil tahu bahwa jika calon nyonya nya itu disentuh maka dunia akan terbakar oleh Darren.
Jack menyimpan kembali ponsel nya setelah melakukan panggilan. "Apa ada yang anda butuhkan selain ini tuan?" tanya Jack memastikan sebelum pergi meninggalkan ruangan Darren.
"Aku ingin kau terus memantau laporan mengenai kegiatan yang dilakukan gadisku, jangan sampai dia dalam bahaya. Kau mengerti?" ucap Darren yang menekankan kata diakhir kalimat.
"Mengerti tuan" jawab Jack kemudian membungkuk hormat dan pergi keluar dari ruangan Darren.
"Kau tidak akan pernah lepas dariku gadis kecil" ucap Darren menyeringai dengan senyum nya.
•
•
Hani kini sudah berada didalam hutan, tampak ada sebuah gubuk tua ditengah-tengah hutan tersebut yang dulunya sengaja dibuat oleh sang ayah untuk menyimpan beberapa pembekalan ketika sedang berlatih, hutan ini memang sangat jarang sekali dikunjungi oleh para warga kampung Hani karena terdapat banyak hewan buas yang sering memangsa para ternak warga.
Hani memperhatikan sekelilingnya, entah perasaan apa tapi ia yakin bahwa sedang ada yang mengawasi nya saat ini.
"Siapapun kalian yang mengawasi ku, aku harap kalian tidak mengganggu aktivitas ku" ucap nya yang sedikit keras, Hani curiga ini semua merupakan perbuatan dari om kutub nyebelin alias Darren.
Theo yang sedari tadi mengikuti pergerakan Hani sedikit tak percaya akan ucapan yang dilontarkan oleh gadis itu. 'Jadi dia mengetahui bahwa sedang diawasi? calon nyonya muda benar-benar luar biasa ' ucapnya dalam hati.
grrr... guk guk
guk
Suara seekor anjing liar memecah konsentrasi Hani, tampak anjing itu sedang berjalan ke arah nya. Para anggota bayangan siaga, mereka tidak ingin menjadi pelampiasan amarah Darren jika sampai calon nyonya nya itu terluka.
Hani terseyum penuh arti. "Awalan yang.... yah cukup untuk pemanasan, anjing liar yang memakan ayam ayam warga" ucap nya, lalu mengeluarkan pistol kesayangan nya dari dalam jaket kulit nya.
Anjing liar itu makin menjadi jadi dan langsung berlari ke arah Hani untuk menyerang, tetapi Hani tetap santai walaupun ia sedikit takut karena saat ini Raven tidak menguasai dirinya.
Hani mengelak berkali kali ketika anjing itu berusaha menggigit kaki nya, seluruh anggota bayangan diam namun sedikit tegang. Theo segera mengambil ponsel nya untuk merekam kejadian yang dialami Hani secara diam-diam.
' Jangan ambil alih diriku untuk sekarang Raven, kau benar-benar menyebalkan aku hanya ingin melatih fisik ku' batin Hani yang merasakan bahwa dirinya mulai dikuasai oleh Raven.
dor dor
Hani yang sudah puas puas bermain dengan anjing itu langsung menembak tepat sasaran hingga membuat anjing itu kejang-kejang.
"Huh tepat sasaran, kemana kemampuan Hani yang dulu? ataukah di ambil alih oleh Raven semua? aku rasa dulu aku sangat hebat jika bertarung, tapi karena Raven aku kehilangan kemampuan itu" ucap nya sembari meniup ujung pistol itu, dulu sebelum adanya Raven dalam dirinya Hani sudahlah sangat lihai dalam bertarung dan menembak.
dor
"Akhh" teriak seseorang anggota bayangan dari atas pohon yang terkena tembakan Hani.
"Huh sudah ku duga ada pergerakan disana" ucap Hani santai tanpa masalah.
Momen dimana Hani menembak anggota bayangan tertangkap jelas dikamera yang sedang Theo gunakan untuk merekam, Theo sedikit terkejut tetapi ia tidak masalah akan hal itu.
"HEI DENGARKAN AKU SEMUA, JIKA KALIAN BERANI MELAKUKAN PERGERAKAN SEDIKITPUN YANG MENGGANGGU PENGLIHATAN KU JANGAN SALAHKAN JIKA KALIAN MATI DISINI" teriak Hani ke semua orang yang mengawasinya, karena dia tau ada banyak mata yang sedang memperhatikan nya.
Para anggota bayangan menelan ludah dengan kasar, rupanya paras cantik Hani bisa berubah juga menjadi menyeramkan. Theo segera menghentikan aksi merekam kejadian itu setelah mendengar teriakan Hani, ia buru-buru mengirim video itu kepada sang tuan nya, kemudian diam tak berkutik dibalik pohon besar.
"Huh baguslah jika kalian mengerti, oh ya siapapun yang berada didekat ku aku ingin kalian menampakkan diri. SEKARANG!" ucap Hani.
Theo menelan ludah kasar karena sekarang posisinya yang paling dekat dengan Hani, walaupun sudah dilatih dan memiliki kemampuan bertarung yang handal tetapi entah mengapa Theo merasa takut.
Dengan langkah perlahan akhirnya mau tidak mau Theo menampakkan dirinya dan berdiri langsung didepan hadapan Hani dengan tatapan menunduk, para anggota bayangan yang lain hanya memperhatikan suasana yang sedikit tegang.
Hani tersenyum penuh arti ketika seorang pemuda dengan perawakan yang gagah muncul di hadapan nya, ia berjalan mendekati pemuda itu lalu mengitari tubuhnya.
"Buka bajumu" ucap Hani menatap datar pria didepan nya.
Seluruh anggota bayangan yang mendengarkan ucapan Hani sedikit melongo, apakah nyonya muda nya ini akan berbuat hal tidak senonoh disini? tanya mereka dalam benak masing-masing.
Theo menelan ludah nya kasar. "U-untuk apa?" tanya nya dengan gugup.
"Ck cepat buka atau ku robek bajumu" balas Hani dengan ancaman yang tak main main.
Theo akhirnya melepaskan baju nya dengan terpaksa dan menyisakan celana panjang yang dikenakan nya.
Hani dapat melihat tubuh gagah pemuda di depan nya itu, tetapi yang menjadi fokus adalah sebuah tato kepala Singa dan juga pedang menyilang dilengan kiri pemuda itu.
Hani menyentuh tato itu tanpa izin sang pemilik tubuh. 'Tato ini sama seperti om om kutub menyebalkan itu, jadi orang ini anak buahnya? ' batin Hani.
Theo diam hampir tidak bernafas karena sentuhan Hani yang mendadak, dia takut Darren akan memenggal kepalanya.
"Jadi kau anggota utama organisasi Vireaux Dominion atau anggota Obsidian Veil?" tanya Hani datar dengan tatapan intimidasi.